APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dijodohin With Gus

Dijodohin With Gus

Anindya Alisya Syahreza kerap memicu kemarahan guru akibat ulah nakalnya di sekolah. Bersama Lita dan Gilang, ia gemar membolos hingga merundung adik kelas. Khawatir dengan kenakalan tersebut, orang tua Anindya mengirimnya ke pondok pesantren milik sahabat sang ayah. Siapa sangka, keputusan itu justru membawa babak baru dalam hidupnya. Di lingkungan pesantren yang asing ini, Anindya malah terlibat dalam persaingan asmara dua Gus bersaudara yang sama-sama bertekad memikat hatinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Brak!

Suaranya begitu keras terdengar oleh para pengunjung, Anindya dan Lita pun juga ikut mendengarnya.

"Suara apaan tuh?" Tanya Lita langsung berdiri dan menghampiri arah suara.

"Eh-eh, mau ke mana lo?! Ngapain ngurusin bukan urusan kita juga." Anindya menghembuskan napas lalu membiarkan Lita pergi begitu saja menuju ke arah suara.

Memang pada dasarnya Lita itu keras kepala, jadi tidak perlu memberikan nasihat padanya, buang-buang tenaga saja. Mending nungguin makanan sambil memainkan ponselnya.

Tak lama kemudian, Gilang datang bersama waiters yang membawakan sebagian makanan dan minuman yang dipesan Gilang.

"Sampai juga lo, lama banget sih persen makanan doang." Anindya menggerutu sebal.

"Eh, nyaii. Gue ini masih baik ya sama elu pada—eh! btw Lita ke mana?" Gilang menggerakkan kepalanya ke atas satu kali, seolah bertanya pada Anindya.

"Ngilang dia. Kepo banget sama suara keras tadi," Jawab Anindya sembari memilih-milih makanan yang akan ia makan. Sudah Hafal sekali Gilang soal makanan kesukaan Anindya sama Lita.

"Lah bego banget dah! Kan suara tadi asalnya dari gue, terus sekarang tuh anak ke mana?" Gilang mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Orang-orang bahkan sudah tidak berkumpul lagi seperti tadi ketika ia tidak sengaja ditabrak oleh seorang lelaki. Lalu pertanyaannya di mana Lita sekarang?

"Mana saya tahu, saya kan tempe." Balas Anindya bodo amat.

Gilang hendak emosi, namun ia langsung sadar dan mengusap dadanya sabar menghadapi lawan bicaranya seperti Anindya. Lah, memang Anindya!

"Perasaan dari tadi lo suka banget khawatirin Lita deh. Apa jangan-jangan—" Anindya menyipitkan matanya menatap lurus Gilang yang mulai salah tingkah dilihatnya seperti itu.

"Jangan-jangan apa?! Gue nggak ada apa-apa yah sama curut kayak Lita!" Balas Gilang cepat, sebelum pikiran Anindya berpikiran yang 'iya-iya' kepadanya.

"Loh, emang siapa yang bilang lo sama Lita ada apa-apa?"

Gilang jadi kelimpungan sendiri. "Ya... Nggak ada sih." Jawabnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Lah iya, terus kenapa lo sampe bilang kayak gitu? Apa benar lo ada apa-apa sama Lita yah, ngaku!" Anindya menunjuk Gilang yang hanya diam saja.

"Kita itu udah jadi pren dari orok Gilang, lo masih mau main rahasia-rahasia sama gue?" Tanya Anindya, lagi.

"Halo gaess!! Kembali lagi bersama Lita... Ngomong-ngomong kalian bahas rahasia-rahasia apaan sih," Cerocos Lita datang-datang.

Gilang bisa bernapas lega selamat dari pertanyaan maut Anindya, namun kenapa pula si Lita nanya segala. Gilang gemes jadinya.

"Tanya noh sama orangnya." Anindya menunjuk pada Gilang.

Pandangan Lita beralih pada Gilang. "Apa, Lang?"

"Nama gue Gilang, G-i-l-a-n-g Gilang. Bukan lang-lang, dikira gue bolang apah," Ucap Gilang mengeja namanya. Lagaknya Gilang sedang mengalihkan pembicaraan.

"Udah biasa manggil gitu gue, nggak bisa diubah. Anggap aja panggilan kesayangan dari gue," Kata Lita mengedipkan sebelah matanya pada Gilang.

"Sa ae lu," Ucap Gilang menoyor kepala Lita pelan.

"Sakit tahu!" Lita mengelus bagian kepalanya.

Anindya hanya tertawa dengan kelakuan absurd mereka berdua.

"Kali ini gue baik, tapi nggak tahu kalau besok. Bisa-bisanya gue nabrak meja orang mana lagi bawa makanan banyak, tapi btw orang yang gue tabrak baik banget sumpah," Kata Gilang.

"Lebay deh lo." Anindya menepuk lengan Gilang.

"Emang beneran loh. Bayangkan aja kalo lo jadi laki-laki itu, udah gue tabrak, bajunya jadi kotor kan ketumpahan makanan yang gue bawa, terus dia yang gantiin makanan gue padahal dia nggak salah." Ujar Gilang kemudian duduk di tengah-tengah Anindya dan Lita.

"Terserah Lo deh, Lang. Yang penting gue bisa makan dan kenyang." Anindya tak perlu ambil pusing atas ucapan Gilang.

"Wihh..." Lita menatap berbinar menatap makanan dan minuman tertata rapi di meja. Terdapat croffle, beef bowl, milk tea, cinnamon roll, dan kwetiau.

"Tahu banget lu makanan kesukaan kita." Celetuk Anindya mengambil beberapa makanan. Gilang hanya berekspresi sangar dengan bangganya.

"Enak nggak nih?" Lita mengambil beef bowl lalu memakannya.

"Kamu nanya?" Ejek Gilang. Ia baru saja menemukan trend baru di Tik-tok nya.

"Mulai deh lo, iya gue bertanya-tanya!" Lita jadi gemas.

Gilang tertawa terbahak. "Nggak, gue bercanda."

Usai memakan habis makanan, Mereka bertiga tiba-tiba merasa ngantuk karena kekenyangan. Lagi pula juga sudah tidak mempunyai tujuan lagi mau ke mana.

Mereka bertiga memutuskan untuk pulang. Tak lupa membayar makanannya. Kini ketiganya sudah di parkiran hendak memasuki mobil Gilang, namun sebelum itu pergerakan mereka dihentikan oleh intrupsi Anindya.

"EH, STOP!!" Ucap Anindya.

"Kenapa?" Tanya Lita mengerutkan keningnya.

"Kata pak ustadz..."

"Apa?" Tanya Gilang tidak sabaran.

"Barang siapa yang ketinggalan?"

"Terus?" Tanya Lita yang juga makin penasaran karena Anindya tak kunjung melanjutkan perkataannya.

"Barang siapa yang ketinggalan?!" Ucap Anindya sedikit meninggikan suaranya karena temannya tidak peka-peka juga.

"Oh ya, tas gue ketinggalan..." Lita membulatkan matanya dan berlari kembali ke Kafe itu lagi.

Sembari menunggu Lita, Anindya bersama Gilang mencari tempat duduk disekitarnya.

"Woi!"

"Nah, itu Anaknya." Gilang menoleh ke arah Lita, begitu juga Anindya.

"Cepet banget lu." Anindya sedikit heran.

"Orang gue cuma ngambil tas doang, kaga berak dulu di sana." Lita mengangkat sebelah tangannya menunjukkan tasnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar...

Suara adzan terdengar jelas ditelinga Anindya.

"Sholat dulu kuy." Ajak Anindya langsung berjalan menuju mushola yang ada di dekat Kafe.

"Tumben." Gilang keheranan.

"Kan emang kewajiban seorang muslim itu sholat bukan?"

"Iya deh, ukhti."

"Ya iyalah ukhti, dari dulu emangnya gue ukhta?"

"Canda bos."

"Ayok sholat, karena sholat adalah suatu kewajiban yang harus kita kerjakan. karena kita butuh sholat, bukan Allah yang membutuhkannya." Terang Anindya sesekali bersenandung ria menuju mushola.

"Kalian tahu nggak?" Tanya Anindya menatap kedua temannya yang kini menggelengkan kepalanya.

"Amal ibadah yang lebih dulu di hisab adalah sholat."

"Kok Lo tau?" Tanya Gilang mulai antusias dengan arah pembicaraan Anindya.

"Keinget aja yang dikatakan Ayah sama Bunda sebelum gue tidur masa kecil."

"Daya ingat lo bagus juga." Gilang berucap sembari menyilangkan tangannya didepan dada.

"Gue udah tau sih, tapi lupa. Dan sekarang lo ingetin lagi" Respon Lita tersenyum bangga dengan perubahan Anindya yang dimulai dari hal kecil.

"Makanya ayo sholat dulu sebelum pulang." Ajak Anindya menggandeng tangan Lita dan Gilang menuju masjid.

"Bukannya kita bukan mahram ya." Celetuk Gilang menatap tangannya yang digandeng Anindya.

"Ups! Oh iya ya. Hehe." Balas Anindya dengan wajah watadosnya.

***

"Tenang rasanya kalau udah sholat." Celetuk Gilang merentangkan kedua tangannya. Berjalan menuju mobil.

"Langsung pulang aja habis ini," Ucap Anindya sembari menyelipkan rambut bayinya di belakang telinga.

"Terserah kalo gue mah." Balas Gilang.

"Gue ngikut," Kata Lita .

"Ups! maaf," Ujar seseorang dengan sengaja menyenggol lengan Anindya.

"Elo." Anindya membulatkan matanya terkejut oleh laki-laki yang menyenggol lengannya.

"Lo kok bisa disini juga?" Tanya laki-laki itu.

"Ini tempat umum, bukan milik Lo."

"Masa sih?" Katanya mengejek.

"Apaan sih Lo, Hafiz." Anindya memukul lengan Hafiz ringan.

"Hahaha, kangen lo ya sama gue..." Tebak Hafiz pede tingkat akut. Pasalnya mushola yang Anindya kunjungi dekat dengan apartemen yang Hafiz tempati.

"Nggak ya, gue cuma ke Kafe! Enak aja." Pekik Anindya.

"Hilih! Mana mau tersangka itu jujur," Kata Hafiz.

"Jangan halangi jalan gue Apizzz! Gue mau pulang." Anindya greget sekali.

"Kalau nggak mau?"

"Minggir! Lo apaan sih, kalau mau ngusilin Anindya besok aja disekolah gue jabanin." Lita merasa gerah dan lengket badannya, ingin cepat-cepat pulang kemudian mandi.

"Orang kayak gini terobos aja." Gilang mulai tak sabaran.

Anindya dan kedua temannya meninggalkan Hafiz yang tersenyum smirk dibelakangnya.

"Tunggu gue disekolah besok, Anindya."

"Bodo amat! Gue nggak denger," Balas Anindya jengkel.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DI JODOHKAN DENGAN PAK GURU
9.6
Alvino Rakha Satyawidjaya, pewaris tunggal raksasa properti Asia, lebih memilih mengabdi sebagai guru sederhana. Sementara itu, Rachelia Amora Dirgantara, siswi populer di SMA Cakrawala, tengah bahagia berpacaran dengan Leonel Grestavio. Namun, asmara Rachel hancur berantakan begitu mengetahui dirinya akan dijodohkan. Kejutan besar menanti saat ia menyadari calon suaminya adalah gurunya sendiri di sekolah. Kini, ia terjebak dalam dilema antara cinta dan takdir.
Sampul Novel Di Ranjang Majikanku
8.3
Binar baru memulai pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga di kediaman keluarga kaya raya. Namun, ia justru tidak sengaja menyaksikan sang tuan sedang memuaskan diri di kamar. Ketegangan meningkat saat Binar kembali tertangkap basah menguping pertengkaran sang majikan dengan istrinya. Kemarahan pria itu memicu serangkaian kebetulan yang tak terduga. Binar pun kini semakin terjerat dalam pusaran hubungan terlarang yang melibatkan dirinya dan sang majikan.
Sampul Novel Ghost Writer
8.3
Kehidupan asmara perkotaan berpadu dengan intrik dunia kepenulisan bayangan. Cassandra, seorang penulis jenius, terus dimanfaatkan oleh Ayu, klien setianya yang miskin bakat. Namun, sahabat Cassandra yang bekerja sebagai editor melihat keistimewaan tersebut. Sang editor kini berupaya keras meyakinkan Cassandra untuk keluar dari bayang-bayang Ayu dan berani bersinar dengan namanya sendiri demi meraih kesuksesan yang sesungguhnya.
Sampul Novel Istri Rahasia Tuan CEO Dingin
8.0
Pasca kepergian orang tuanya, dunia Deana runtuh. Ia kini terhimpit utang besar dan dikejar-kejar preman yang mengancam nyawanya. Di tengah keputusasaan, Deana berniat menjual kesuciannya kepada Marvin, seorang pria asing. Tak disangka, Marvin malah menyodorkan kesepakatan lain demi melunasi semua utang tersebut: Deana harus mengandung dan melahirkan anaknya. Solusi instan ini justru menyeret Deana masuk ke dalam lingkaran konflik baru yang jauh lebih pelik.
Sampul Novel Merindu Suamimu
9.1
Pertemuan kembali Fino dan Melisa setelah lama terpisah membangkitkan lagi perasaan cinta yang pernah ada. Namun, situasi kini tak lagi sama dan jauh lebih rumit. Status Nadia sebagai istri sah Fino menjadi tembok besar yang menghalangi bersatunya cinta lama mereka. Melisa kini dihadapkan pada pilihan untuk kembali terluka, sementara Fino dituntut berani mengambil risiko besar demi membayar penyesalan masa lalunya.
Sampul Novel Pelangi Di Atas Singasari
8.6
Mahesa, anak dari Arjuna dan Ken Rukmini, terseret dalam konspirasi Kerajaan Pedang Wangi di tengah ancaman Joyorono serta militer Mong. Bersama Niken Wulandari, ia memilih bermitra dengan Mong untuk melibas lawan, tetapi justru berujung dikhianati. Demi melindungi tanah airnya, Mahesa wajib membongkar misteri masa lalu dan menghidupkan daya magis pusaka Wesi Wangi. Di sela intrik takhta, ia pun menyadari bahwa pemimpin sejati harus meredam ego demi keselamatan rakyat.