APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DIGILIR PREMAN (Istriku Dibawa Kabur)

DIGILIR PREMAN (Istriku Dibawa Kabur)

Hidup Jovan hancur seketika saat keluarga dan harga dirinya direnggut. Lewat petunjuk dari sebuah surat misterius, ia terseret ke dalam pusaran dendam masa lalu yang kelam. Demi melacak keberadaan istrinya yang hilang misterius, Jovan harus bangkit dan melampaui batas kemampuannya saat melarikan diri. Inilah perjuangan keras seorang pria demi mengungkap kebenaran pahit di balik pengkhianatan besar yang telah merusak seluruh hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Tadaaaa!" seru Tasya riang, mengenakan dress ketat warna pastel dan kacamata hitam besar. "Kita tahu lo lagi sendirian. Yuk hangout! Brunch cantik trus cari cowok lucu-lucu!"

Widia tersenyum sopan. "Iya, Tan. Kita gak lama kok. Kangen aja ngobrol-ngobrol."

Tania menahan senyum canggung. "Duh, maaf banget ya. Hari ini aku bener-bener gak bisa. Lagi kurang enak badan, kayaknya masuk angin..."

Tasya mendengus. "Masuk angin? Hellooo... lo bukan nenek-nenek, Tania! Ayo doong, udah lama kita gak 'ngasah magnet brondong'. Inget gak waktu kita ke coffee shop di Sentul, yang baristanya sampe lupa nge-froth susu saking sibuk mandangin lu?"

Tania tertawa pelan, berusaha menjaga nada suara tetap normal. "Gue inget. Tapi serius, hari ini gue pengen istirahat aja dulu. Besok-besok deh, gue traktir lagi."

Widia mengangguk maklum. "Ya udah, kalau gitu kita gak maksa. Tapi jangan lama-lama ngilang, ya. Kangen kamu."

Tasya menatap tajam sambil menyipitkan mata. "Hmm... jangan-jangan ada yang disembunyiin nih?"

Tania berakting terkejut. "Lah, emangnya gue siapa, James Bond?"

Tasya terkekeh geli. "Yah, pokoknya next time lo harus ikut. Kalo enggak, gue bom rumah lu pake brondong sekompi! Hahaha!"

Mereka tertawa bersama, meski Tasya tampak sedikit kesal karena gagal menyeret Tania keluar rumah. Setelah berpamitan dan melambaikan tangan, kedua sahabat itu pun akhirnya pergi.

Begitu pintu tertutup, Tania bersandar sejenak. Tubuhnya terasa lelah dalam sekejap. Ia berjalan ke arah kamar mandi, mengetuk pelan.

"Udah pergi," katanya dingin.

Pintu kamar mandi terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Ricko yang sedikit pucat.

"Siapa itu?" bisiknya.

"Temen-temen aku," jawab Tania tanpa ekspresi.

Ricko menunduk, mengangguk kecil. Lalu mengenakan sepatunya, dan melangkah ke arah pintu tanpa berkata apa-apa.

Sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, Tania bersuara, datar tapi menusuk: "Lain kali, kalau mau kabur... jangan simpan sepatu di rumah istri orang."

Ricko menoleh. Tak ada senyum. Tak ada canda. Hanya tatapan yang menyerah pada kenyataan. Dan akhirnya... ia pun pergi.

Sementara itu di dalam mobil SUV hitam milik Widia, aroma parfum mewah bercampur samar dengan bau kopi dingin dari cup yang tergeletak di cupholder. Widia fokus menyetir, tapi dari ekor matanya, ia tahu Tasya tampak gelisah sejak keluar dari rumah Tania.

"Lu kenapa sih, Sya? Dari tadi nyengir-nyengir sendiri kayak nemu dosa masa lalu," tanya Widia sambil menyalakan lampu sein kanan.

Tasya menyandarkan tubuh ke jok sambil menghela napas panjang. "Lu lihat gak tadi di dekat kursi tamu? Ada sepatu belel, warna item dekil, kayak punya tukang bangunan."

Widia tertawa kecil. "Ya ampun, bisa aja lu. Mungkin itu sepatunya Kang Ledeng atau orang PLN. Rumah segede gitu pasti banyak yang keluar-masuk."

Tasya menggeleng cepat, nada suaranya mulai penuh keyakinan. "No no no, Wid. Gue hafal banget itu. Itu sepatu Ricko. Gue pernah lihat dia pake itu waktu nemenin Tania ke bengkel mobil."

Widia melirik cepat ke arah Tasya. "Ricko? Emang siapa sih Ricko? Gue gak kenal..."

Tasya mengangkat alis, gaya bicaranya makin dramatis.

"Ricko itu... dulunya preman. Serius. Terus kayak dijinakin gitu sama Ferdy. Dulu sempet berantem hebat, katanya Ferdy mukul dia sampe KO. Abis itu malah jadi akrab, kayak dianggkat adik gitu, ngerti gak? Sekarang malah sering jagain Tania sama anak-anaknya kalau Ferdy ke luar kota."

Widia mulai terlihat penasaran. "Preman? Yang kayak sinetron-sinetron itu?"

Tasya mengangguk. "Modelannya tuh... gagah, tinggi, badan kekar tapi urakan. Gaya ngomongnya males-malesan, tapi senyumnya... aduh. Kayak bisa ngeluluhin emak-emak majelis juga."

Widia tertawa geli, tapi nadanya mulai bercampur khawatir. "Hmm... lu curiga Tania dan Ricko ada main?"

Tasya mendesah, matanya menerawang ke depan. "Gue gak nuduh sih, tapi Tania tuh... ya lu tau lah. Diam-diam menghanyutkan. Mantan-mantannya aja, rata-rata preman semua. Mungkin dia punya selera yang unik. Kalo kata lu, suka aroma jalanan... tapi dalam kemasan parfum mahal."

Widia tak menjawab, tapi sorot matanya mulai berubah. Ia tahu Tania bukan tipe sembarangan, tapi... perasaan seorang wanita seringkali lebih tajam dari logika.

Mobil pun melaju perlahan, menyisakan bayang-bayang kecurigaan yang mulai tumbuh liar di pikiran mereka.

"Wid, belok kanan, itu tuh mini market. Gue mau beli sesuatu," kata Tasya tiba-tiba sambil menunjuk minimarket kecil di pinggir jalan.

Widia menoleh sebentar ke arah yang ditunjuk. "Lah, tadi bilang kenyang, gak pengen ngapa-ngapain."

"Ini beda," sahut Tasya cepat, matanya tajam mengamati area parkir di depan toko.

Mobil pun berhenti, dan mereka turun berdua. Baru dua langkah masuk ke dalam minimarket, Tasya tiba-tiba menarik lengan Widia dan berbisik pelan tapi penuh semangat.

"Lihat deh... tuh yang jaga parkir. Yang jaketnya belel tapi pantes dipakai model."

Widia menoleh pelan. Seorang pria berperawakan tegap, berkulit sawo matang dengan sorot mata tajam dan jambang tipis berdiri santai di pinggir trotoar. Jaket jeans tua yang lusuh dipadu celana kargo lusuh seakan tak mengurangi pesonanya. Malah sebaliknya.

"Siapa tuh?" tanya Widia, setengah kagum setengah curiga.

"Nizar," jawab Tasya pendek, tapi matanya masih tak lepas dari pria itu. "Katanya sih preman ini keturunan Arab. Tapi yang pasti... itu salah satu tukang parkir favoritnya Tania."

Widia mengangkat alis. "Hah? Maksudnya?"

Tasya mengangguk mantap. "Dulu katanya teman SMA-nya. Tania sering banget belanja ke sini. Bukan karena butuh belanjaan, tapi karena si Nizar itu. Ya... begitulah. Tania kan emang punya 'selera jalanan' yang eksklusif, arab lagi, hehehe."

Widia tertawa pelan, menutupi mulutnya. "Jadi lu ngajak gue ke sini cuma buat nunjukin si Nizar itu?"

"Ya, kali aja lu minat juga. Sekaligus pembuktian bahwa teori gue tentang Tania itu valid," sahut Tasya sambil meraih satu botol minuman ringan dari rak. "Tania tuh modelnya suka cowok-cowok yang... apa ya, keras di luar, tapi katanya manis di dalam. Kayak es krim di balik jaket kulit."

Widia melirik lagi ke luar. Nizar memang menarik. Ada aura liar yang membius, tapi juga semacam kesedihan di balik tatapan kosongnya.

"Gak bohong sih... yang kayak Nizar itu emang punya daya tarik sendiri," gumam Widia setengah hati.

Tasya mengangguk puas. "Nah kan. Gak heran kalau Ricko sekarang jadi... ya begitulah. Si Nizar dulu sempat ditawarin kerja bareng sama Ferdy juga, tapi orang kaya mereka, mana mau jadi 'anak buah'."

Widia tertawa geli. "Drama banget hidup Tania ya. Teman SMA-nya jadi preman, disikat. Preman adik-adikan suaminya, disikat. Jangan-jangan anak-anak yang sering kumpul di sana juga disikat. Kan ada yang keliatannya agak bengal calon preman gitu..."

"Oh, namanya Rizky? Kayaknya sih gak, dia keliatanya susah dijinakin. Liar banget, kerjaannya aja balapan liar, hehehe."

"Alah, apa sih yang gak bisa buat Tania, hehehe." Widia meragukan pendapat Tasya.

Mereka pun membayar dan kembali ke mobil, meninggalkan mini market dengan sejuta bisik-bisik dan praduga yang makin mengental. Sorotan mata Tasya tak lepas dari bayangan masa lalu Tania-yang ternyata lebih kompleks dari yang pernah mereka bayangkan.

"Gila, itu selangkangan si Nizar gede banget, Sya!" bisik Widia yang disambut tawa ngakak Tasya.

^*^

Ferdy duduk di sudut sebuah café berkonsep industrial minimalis. Aroma kopi dan kayu panggang menguar di udara. Di depannya, Aldo, rekan bisnis sekaligus sahabat lamanya, tampak resah, memainkan sendok di dalam gelas es kopi yang belum disentuh.

"Lu jam berapa ke Bandungnya?" tanya Aldo pelan.

"Gak tahu, gue nunggu kabar dari Harry dulu. Lu tahu sendirkan gimana dia. Nyuruhnya gue berangkat pagi, sampai jam segini belum juga datang."

"Hahaha, tapi Harry kan emang special. Tapi gue seneng, Fer, gue mau curhat dikit," ucap Aldo wajahnya ngedadak mendung namun serius.

"Sebenarnya gue nggak enak ngomong gini, Fer," lanjut Aldo lirih. "Tapi akhir-akhir ini, istri gue kayak beda. Dan... dia jadi sering nyebut-nyebut nama Alfian. Kakak gue sendiri."

Ferdy menaikkan alis. Ia menyesap kopinya pelan. "Lu yakin? Jangan cuma karena rasa curiga, terus lu jadi mikir yang enggak-enggak. Apalagi itu saudara lu sendiri."

"Gue tahu, makanya gue belum mau ngecek hape dia atau nyari-nyari bukti. Tapi naluri gue bilang, ada yang nggak beres."

Ferdy mengangguk pelan, mencoba menimbang. "Gue ngerti, Do. Tapi percaya sama gue, lebih baik lu konfirmasi baik-baik. Jangan langsung nuduh. Kadang istri kita bisa jadi dekat sama keluarga kita karena nyari kenyamanan, bukan karena hal yang kita takutkan."

Aldo mengangguk pelan. Tapi matanya tetap kosong, pikirannya melayang entah ke mana.

Tak lama kemudian, dua orang lagi datang-Raka dan Dimas, rekan mereka yang lain. Suasana pun berubah jadi lebih hidup. Canda tawa mulai mengisi meja, diselingi obrolan soal proyek renovasi hotel yang tengah mereka kerjakan di Bandung.

"Eh, Fer, kemarin arsitek dari Singapura itu nelpon gue," kata Raka. "Dia bilang desain lu yang baru itu keren. Clean banget, katanya."

Ferdy tersenyum kecil, merasa sedikit terhibur. "Alhamdulillah. Mudah-mudahan cocok sama konsep natural-industrial yang mereka minta. Ya, walau itu karyanya Razman, gue cuma rekom doang."

"Udah pasti cocok, lah. Razman emang jagonya mainin elemen ruang dan cahaya," timpal Dimas sambil mengangkat gelasnya. "Nasibnya aja belum ketemu yang cocok, mudah-mudah design itu jalan pembuka untuk karie dia selanjutnya."

Obrolan pun mengalir ringan tanpa beban seperti biasa,

Dimas melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu berdiri sambil merapikan jas semi formalnya.

"Bro, gue cabut dulu ya. Ada meeting sama klien jam dua. Katanya sih rewel banget soal detail kontrak," ujarnya sambil menepuk bahu Ferdy.

"Gas, Dim. Semoga lancar," sahut Ferdy, menjabat tangan Dimas dengan hangat.

Raka dan Aldo pun melambaikan tangan saat Dimas melangkah keluar dari café. Setelah itu mereka bertiga kembali larut dalam obrolan, kali ini dengan nada yang lebih santai. Topik bergeser ke masa kuliah, kenangan lama, dan rencana investasi ke depan.

"Do, lu serius mau bangun vila di Batu?" tanya Raka.

"Iya, niat sih. Tapi ya itu... kalau urusan rumah tangga gue bisa tenang dulu," jawab Aldo, setengah senyum setengah menghela napas.

Ferdy hanya menepuk pelan punggung sahabatnya. "Pelan-pelan aja. Jangan biarkan masalah pribadi ngeganggu mimpi lu."

Makan siang mereka pun selesai dalam suasana akrab. Ferdy merapikan kemeja, lalu meneguk air mineralnya yang tinggal setengah.

"Gue cabut dulu ya, Harry udah jalan duluan," ucap Ferdy sambil tersenyum kecil.

"Salam buat si Boss Harry, kapan-kapan ajak gue bisnis dong," kata Raka.

Aldo menambahkan, "Dan makasih, Fer. Lu udah dengerin uneg-uneg gue."

Ferdy hanya mengangguk dan menepuk bahu mereka satu-satu sebelum melangkah keluar dari café. Sinar matahari siang menyambutnya dengan sangat terik.

^*^

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ahli Waris yang Terlupakan
8.6
Akibat kelalaian Emily saat transaksi, keluarga mafia kami kehilangan obat-obatan berharga. Demi melunasi utang, pihak saingan menuntut sandera. Ironisnya, ayah dan tunanganku sepakat mengirimku demi melindungi adik tiriku yang terluka. Mengabaikan pengkhianatan mereka, aku bersedia pergi dalam lima hari. Sebelum pergi selamanya, aku membagikan kasino kepada adik angkatku, uang kepada ayahku, dan mengembalikan cincin tunanganku. Mereka tersenyum tanpa sadar bahwa ini adalah perpisahan abadi yang membawa kehancuran.
Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Jagat raya dikejutkan oleh aksi para gigolo kaya nan rupawan yang memperebutkan kasih sayang seorang gadis desa yang serba kekurangan. Di balik kepolosan wajahnya, perempuan tersebut rupanya seorang pembunuh kejam yang telah melukai mereka. Anehnya, para pria ini malah merasa bangga jika harus tewas di tangan sang gadis. Mengapa mereka justru memuja sosok yang mengancam nyawa tersebut? Inilah kisah cinta penuh laga tentang obsesi luar biasa yang sulit dinalar publik.
Sampul Novel Gadis Milik Tuan Mafia
8.7
Akiko didera penderitaan ganda: berjuang melawan Leukemia Myeloid Akut sekaligus trauma kekerasan fisik dari orang tuanya sejak kecil. Kemalangannya memuncak ketika ia ditawan oleh Glen Xander Mckenzie. Sebagai bos mafia kejam, Glen berambisi menghancurkan bisnis keluarga Akiko. Namun, seiring waktu, hubungan tawanan dan penculik ini bergeser. Glen yang awalnya dingin justru mulai jatuh hati pada gadis yang seharusnya ia hancurkan tersebut.
Sampul Novel I'm The Queen
8.2
Kehidupan Ratu Elea di Istana Landbird hancur setelah Raja Flynn berpaling kepada Beatrice, selir licik yang tengah hamil. Difitnah kejam dan diceraikan, Elea berada di ambang kehancuran. Di masa sulit ini, Raja Alaric dari Kerajaan Veridion datang mengulurkan bantuan. Kini, Elea harus menghadapi konspirasi politik dan pengkhianatan besar, memaksanya memilih antara merebut kembali takhtanya atau melangkah ke jalan baru yang berbahaya.
Sampul Novel Monster Heart
8.9
Demi membalas dendam, jurnalis ambisius Alianna Monru memutuskan pulang. Namun, jalannya dihalangi sosok misterius yang ternyata pembunuh berantai pemilik kunci masa lalunya. Damian, sang pembunuh, mengenali Alianna sebagai gadis yang ia puja sejak sekolah. Ia sangat terpukul melihat pujaan hatinya kini berubah menjadi sosok yang penuh kebencian. Damian pun didera rasa bersalah yang mendalam, karena dialah dalang kehancuran hidup Alianna yang memicu dendam membara tersebut.
Sampul Novel Pelakor's Hunter
8.2
Kematian tragis Siska akibat racun pelumpuh saraf menyisakan pesan misterius dari sosok bertopeng berjuluk Malaikat Maut Pelakor. Teror pun berlanjut dengan target para wanita perebut suami. Ranti, seorang istri yang tersakiti oleh perselingkuhan, dituduh sebagai pelaku utama setelah bukti kuat ditemukan di kediamannya. Apakah rasa sakit hati telah mengubah Ranti menjadi pembunuh berdarah dingin, atau justru ada dalang lain yang bergerak dalam bayang-bayang dendam ini?