APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DIGILIR PREMAN (Istriku Dibawa Kabur)

DIGILIR PREMAN (Istriku Dibawa Kabur)

Hidup Jovan hancur seketika saat keluarga dan harga dirinya direnggut. Lewat petunjuk dari sebuah surat misterius, ia terseret ke dalam pusaran dendam masa lalu yang kelam. Demi melacak keberadaan istrinya yang hilang misterius, Jovan harus bangkit dan melampaui batas kemampuannya saat melarikan diri. Inilah perjuangan keras seorang pria demi mengungkap kebenaran pahit di balik pengkhianatan besar yang telah merusak seluruh hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Siang menjelang sore Ferdy tiba di rumah. Sebenarnya dari tadi dia sudah merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, seperti firasat buruk yang tak bisa dijelaskan. Bahkan sejak dalam perjalanan, hatinya sudah terasa sesak. Rencana tiga hari perjalannnya bahkan sampai dia pangkas jadi dua hari.

Semakin dekat ke rumah, napasnya terasa semakin berat, seolah ada yang tidak beres. Begitu tiba, ia mendapati pintu kamar sedikit terbuka. Langkahnya terhenti sejenak. Ia mendengarkan. Detak jantungnya berpacu cepat ketika samar-samar terdengar suara bisikan-suara yang seharusnya tak ada di sana.

Itu suara Tania, tapi ada sesuatu yang aneh. Ferdy menahan napas, merasakan seberkas ketakutan menyusup ke dalam dirinya.

BRAK!

Tanpa pikir panjang, Ferdy mendobrak pintu dengan kasar, menghancurkan ketenangan yang semu.

"TANIA! APA YANG TERJADI DI SINI?!" suaranya menggema, parau, penuh kemarahan dan ketidakpercayaan, tak mampu menyembunyikan guncangan batinnya.

Tania tersentak. Ia berdiri panik. Wajahnya pucat, matanya membesar seolah baru tertangkap basah melakukan sesuatu yang tak seharusnya. Tangannya gemetar, meremas ujung bajunya, berusaha menutupi rasa bersalah yang terpancar dari setiap geraknya.

"MAS FERDY?! Kamu sudah pulang? Kenapa nggak ngabarin dulu?" Suaranya nyaris tak terdengar. Wajahnya takut menatap laki-laki yang jelas tengah menahan emosi.

Di atas tempat tidur mereka, seorang lelaki yang Ferdy kenal baik-Ricko-terduduk kaku. Matanya melebar, tangannya mengepal di atas selimut. Napasnya tak beraturan, terlihat jelas ketakutan menguasainya.

"Mas Fer, aku... aku cuma...," gumam Ricko tergagap, wajahnya pias. Kekhawatiran jelas terpancar di matanya, tapi tak ada sedikit pun rasa simpati dalam hati Ferdy saat itu.

Ferdy melangkah masuk. Aura dingin mengelilinginya. Rahangnya mengeras, tatapannya menajam, mengunci Ricko yang duduk di tempat tidur pernikahannya.

"Apa yang kalian lakukan di sini?! Kenapa dia ada di kamar kita, Tania?! JAWAB!" suara Ferdy meledak, seperti petir yang siap merobek segalanya.

Tania melangkah mendekat, tangannya terangkat seolah hendak menenangkannya. "Mas Ferdy, dengar dulu... Ini nggak seperti yang kamu kira! Tolong, jangan marah dulu!"

Ferdy terkekeh pendek, penuh kepahitan. "Bukan seperti yang aku kira? Jadi, apa yang sebenarnya terjadi, Tania?" suaranya bergetar, campuran antara marah dan kebingungan yang menyayat.

Tania menggigit bibirnya, menatap suaminya dengan sorot memohon. Namun air mata sudah jatuh dari sudut matanya.

"Ricko hanya teman lama, Mas. Aku butuh seseorang buat bicara. Aku merasa... kesepian," ujarnya dengan suara rapuh, seolah baru saja membuka rahasia terdalamnya.

Ferdy mendengus sinis. "Kesepian? Lalu kamu memilih bicara dengan dia di kamar kita? Di atas tempat tidur? DALAM KEADAAN SAMA-SAMA BUGIL? suaranya meninggi. Dadanya naik-turun menahan emosi yang membuncah.

Tania melotot, mendadak berubah defensif. "Mas Ferdy selalu sibuk! Kamu nggak pernah ada buat istrimu! Aku butuh seseorang yang bisa dengerin aku tanpa menghakimi!" Nada suaranya kini penuh emosi, matanya mulai memancarkan kemarahan.

"Jadi ini balasanmu? Mengundang pria lain ke kamar kita?" Ferdy mengarahkan pandangan menusuk ke arah Ricko yang masih terpaku di tempatnya.

"Mas Fer, aku nggak ada maksud apa-apa," ucap Ricko dengan suara rendah, menunduk dalam ketakutan. Tapi kata-katanya sudah tak berarti apa-apa.

Ferdy tak bisa menahan diri lagi. Tangannya terangkat.

PLAK!

Tamparan keras itu mendarat tepat di pipi Ricko, membuat tubuh pria itu terdorong ke belakang. Tangannya refleks menutupi wajahnya. Amarah Ferdy mencapai puncaknya.

"BRENGSEK LU, RICKO!" geramnya, suara penuh gemuruh kemarahan. "LU PIKIR BISA MASUK KE HIDUP GUE SEENAKNYA?!"

Tania menjerit, lalu berlari mendorong dada Ferdy dengan kedua tangannya yang mungil. "MAS FERDY HENTIKAN! Kamu keterlaluan!" teriaknya panik.

Ferdy menatapnya tajam, nyaris tak mengenali perempuan yang dulu begitu dicintainya. "Aku keterlaluan? Tania, kamu yang bawa pria lain ke kamar kita, dan aku yang keterlaluan? Maksud kamu apa?" Suaranya seperti pisau.

Ia mundur selangkah, dadanya makin sesak.

Tania terdiam. Bibirnya bergetar. Ricko berdiri perlahan, mengenakan pakain dengan tergesa-gesa menunduk, lalu melangkah mundur.

"Saya pergi. Maaf, Mas Ferdy," ucapnya lirih.

Ferdy menatapnya dingin. "Lu jangan pernah balik lagi ke sini, BANGSAAAAT!" teriaknya, memuntahkan seluruh amarah yang tertahan. Tapi kekosongan di hatinya tak juga hilang.

Ricko menunduk sekali lagi lalu buru-buru pergi. Ferdy menatap Tania penuh amarah, kecewa, dan luka yang menganga.

"Aku nggak tahu lagi, Tania... Aku nggak tahu lagi." Dengan langkah berat, Ferdy keluar, menutup pintu dengan hentakan keras-seolah mengubur semua harapan yang pernah tumbuh.

Ia tak bertanya di mana anak-anaknya. Ia tahu pasti Nazwa dan Rayhan belum pulang dari rumah neneknya, atau di rumah Mak Iyoh, pengasuhnya.

Ferdy melangkah pelan di jalan setapak yang mulai ditelan rumput liar, menuju bukit kecil yang sejak lama menjadi tempat pelariannya. Angin sore menyapu wajahnya. Langit berubah warna-semburat jingga dan ungu menghiasi cakrawala, seolah mencerminkan gejolak batin yang tak kunjung reda.

"Tania... aku masih ingat... matanya yang berbinar saat kami menata rumah kecil itu. Cerewet soal gorden, ribut sendiri memilih warna cat yang katanya harus sesuai suasana hati. Kami tertawa puas, rumah itu benar-benar terasa hidup."

"Tawa kami pecah waktu Nazwa belajar bicara. 'Papa,' katanya-cadel, gemetar, tapi menggetarkan seluruh jiwaku. Tania menepuk tangan seperti anak kecil yang baru saja menang undian."

"Lalu Rayhan lahir... tiga tahun setelahnya. Tubuh kecilnya tidur di dadaku, dan Tania, di sebelahku-lelah, tapi penuh bahagia. Lima tahun... ya Tuhan, lima tahun yang terlalu cepat berlalu. Tapi semuanya begitu bermakna. Dan sekarang?"

"Ricko... lelaki yang dulu aku selamatkan dari kubangan dosa, yang aku beri pekerjaan, pakaian, bahkan tempat tinggal. Aku ajari dia mengenal Tuhan, aku kenalkan dia pada keluargaku-pada istriku. Tapi dia membalas dengan pengkhianatan."

Dari kejauhan, suara burung-burung pulang ke sarang terdengar lirih. Ferdy memejamkan mata, membiarkan angin membelai wajahnya. Ia mendengar bisikan yang mungkin berasal dari hatinya sendiri.

Ia tak tahu apa yang dicarinya di sini. Mungkin jawaban. Mungkin ketenangan. Atau mungkin hanya waktu untuk meredakan badai dalam dadanya.

Ia menunduk, menggenggam sejumput rumput kering lalu melepaskannya ke udara. Angin membawanya pergi, seperti waktu yang tak bisa ia genggam. Udara malam mulai turun. Dan Ferdy berharap, kesakitan ini bisa memudar seperti senja yang perlahan menghilang.

Malam perlahan turun, dan Ferdy masih di sini, sendirian bersama pikirannya yang semakin tak karuan. Setiap detik terasa begitu berat, dan kesepian semakin menyelimuti hatinya, membuatnya merasa semakin terperangkap dalam kegelisahan.

Esok harinya, ia kembali. Rumah terasa sunyi, terlalu sunyi. Seolah semua kehidupan di dalamnya telah pergi, meninggalkan kesepian yang menggerogoti setiap sudutnya. Langkahnya terasa berat, seolah setiap inci ruang ini menahan setiap langkah yang ingin ia ambil.

Ferdy melangkah menuju kamar, perasaan aneh yang membebani dadanya semakin menjadi. Begitu pintu kamar terbuka, hatinya langsung mencelos, terhempas ke dasar jurang yang tak terlihat. Lemari pakaian terbuka dan kosong.

Perhiasan di kotak hilang. Buku tabungan Tania lenyap begitu saja, tanpa jejak. Motor matic yang biasa dipakai Tania juga raib, bersama semua surat-suratnya. Semuanya menghilang, seolah tak pernah ada. Ruangan ini kini terasa lebih dingin, lebih asing. Tidak ada lagi celotehan ceria kedua anaknya yang biasa memenuhi rumah ini.

Ferdy melangkah limbung ke ruang tengah, perasaannya hancur begitu saja. Harapan yang sempat ada, hancur seketika. Ia berharap menemukan sesuatu-apa pun itu, yang bisa memberi jawab dan arti pada kekosongan yang mencekam ini.

Namun yang ditemuinya justru selembar kertas di atas meja. Kertas itu tergeletak begitu saja, seperti sebuah pesan yang sengaja ditinggalkan untuk menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih ada di dalam dirinya.

Tangannya gemetar hebat saat mengambil kertas itu. Kertas itu terasa begitu berat, seolah beban dunia ada di dalamnya. Ferdy membuka kertas itu dengan tangan yang hampir tak bisa ia kendalikan.

"JANGAN CARI KAMI. NAZWA DAN RAYHAN BUKAN ANAKMU, KAMU LELAKI LEMAH DAN MANDUL FERDY!"

Dunia Ferdy runtuh seketika. Seolah semua yang ada di sekitarnya menghilang dalam sekejap. Tangannya bergetar hebat, tubuhnya terasa hampa, seolah tak lagi terhubung dengan dunia ini. Napasnya memburu, panas dan sesak. Kepalanya terasa berat, seperti ada batu besar yang menekan dahi.

Ia mencoba berdiri, namun tubuhnya tidak mau diajak bekerjasama. Ferdy terduduk di lantai, menatap kosong ke dinding, tak tahu apa yang harus dilakukannya. Pikirannya menolak untuk percaya. Tidak. Ini tidak mungkin. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini. Tapi hatinya tahu. Ini adalah kenyataan yang harus diterimanya. Ia tak tahu mana yang lebih sakit-mempercayai kenyataan ini atau menyangkalnya.

"Tidak... Ini nggak mungkin..." bisiknya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh rasa sakit yang mencekam.

Ferdy menekan wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menekan perasaan yang mengguncang tubuhnya. Namun tak ada yang bisa ia lakukan. Tubuhnya terguncang hebat, terasa disayat, dan rasa sakit ini begitu tak tertahankan...

Ia bahkan tidak peduli lagi ketika keluarga besar Tania datang meminta maaf atas perbuatan memalukan anak mereka yang entah kemana. Ia juga tidak terlalu merespon kedua orang tuanya, yang dulu memaksanya menikahi Tania. Ketika kejadian ini sudah terjadi, mereka pun hanya bisa menangis dan meminta maaf atas segala kesalahan mereka.

"Umi dan Abi bersumpah, mulai sekarang tidak akan lagi ikut campur urusan jodohmu, Nak. Umi dan Abi menyesal..."

Ferdy tidak membenci orang tuanya. Biarlah mereka menginsafi kesalahan mereka, bahkan membatalkan semua rencana perjodohan mereka untuk kedua adiknya. Ferdy merasa dirinya telah menjadi tumbal atau perisai untuk masa depan kedua adiknya yang belum sempat dipaksa kedua orang tuanya untuk menikah dengan lelaki pilihan mereka.

Ferdy hanya ingin adik-adiknya bahagia dengan pilihan mereka masing-masing.

Dengan kaki yang berdarah dan bernanah, Ferdy tetap melanjutkan hidup. Setiap langkah terasa menyiksa, seolah dunia ingin menghentikannya, tapi ia tetap berjalan.

Luka di tubuhnya hanyalah bayangan dari luka yang jauh lebih dalam-yang menganga di dalam hati dan tak kunjung sembuh. Hari demi hari terasa semakin berat, seperti memikul beban yang tak pernah berkurang.

Namun Ferdy tahu, tak ada pilihan lain selain terus melangkah... walau tertatih, walau sendiri, walau kadang nyaris menyerah.

^*^

Ikuti terus kisah sebelum dan sesudahnya kerjadian ini. Seru menegangkan, bikin panas dingin dan tak tentu saja tidak akan mudah ditebak alur dan endingnya.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ahli Waris yang Terlupakan
8.6
Akibat kelalaian Emily saat transaksi, keluarga mafia kami kehilangan obat-obatan berharga. Demi melunasi utang, pihak saingan menuntut sandera. Ironisnya, ayah dan tunanganku sepakat mengirimku demi melindungi adik tiriku yang terluka. Mengabaikan pengkhianatan mereka, aku bersedia pergi dalam lima hari. Sebelum pergi selamanya, aku membagikan kasino kepada adik angkatku, uang kepada ayahku, dan mengembalikan cincin tunanganku. Mereka tersenyum tanpa sadar bahwa ini adalah perpisahan abadi yang membawa kehancuran.
Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Jagat raya dikejutkan oleh aksi para gigolo kaya nan rupawan yang memperebutkan kasih sayang seorang gadis desa yang serba kekurangan. Di balik kepolosan wajahnya, perempuan tersebut rupanya seorang pembunuh kejam yang telah melukai mereka. Anehnya, para pria ini malah merasa bangga jika harus tewas di tangan sang gadis. Mengapa mereka justru memuja sosok yang mengancam nyawa tersebut? Inilah kisah cinta penuh laga tentang obsesi luar biasa yang sulit dinalar publik.
Sampul Novel Gadis Milik Tuan Mafia
8.7
Akiko didera penderitaan ganda: berjuang melawan Leukemia Myeloid Akut sekaligus trauma kekerasan fisik dari orang tuanya sejak kecil. Kemalangannya memuncak ketika ia ditawan oleh Glen Xander Mckenzie. Sebagai bos mafia kejam, Glen berambisi menghancurkan bisnis keluarga Akiko. Namun, seiring waktu, hubungan tawanan dan penculik ini bergeser. Glen yang awalnya dingin justru mulai jatuh hati pada gadis yang seharusnya ia hancurkan tersebut.
Sampul Novel I'm The Queen
8.2
Kehidupan Ratu Elea di Istana Landbird hancur setelah Raja Flynn berpaling kepada Beatrice, selir licik yang tengah hamil. Difitnah kejam dan diceraikan, Elea berada di ambang kehancuran. Di masa sulit ini, Raja Alaric dari Kerajaan Veridion datang mengulurkan bantuan. Kini, Elea harus menghadapi konspirasi politik dan pengkhianatan besar, memaksanya memilih antara merebut kembali takhtanya atau melangkah ke jalan baru yang berbahaya.
Sampul Novel Monster Heart
8.9
Demi membalas dendam, jurnalis ambisius Alianna Monru memutuskan pulang. Namun, jalannya dihalangi sosok misterius yang ternyata pembunuh berantai pemilik kunci masa lalunya. Damian, sang pembunuh, mengenali Alianna sebagai gadis yang ia puja sejak sekolah. Ia sangat terpukul melihat pujaan hatinya kini berubah menjadi sosok yang penuh kebencian. Damian pun didera rasa bersalah yang mendalam, karena dialah dalang kehancuran hidup Alianna yang memicu dendam membara tersebut.
Sampul Novel Pelakor's Hunter
8.2
Kematian tragis Siska akibat racun pelumpuh saraf menyisakan pesan misterius dari sosok bertopeng berjuluk Malaikat Maut Pelakor. Teror pun berlanjut dengan target para wanita perebut suami. Ranti, seorang istri yang tersakiti oleh perselingkuhan, dituduh sebagai pelaku utama setelah bukti kuat ditemukan di kediamannya. Apakah rasa sakit hati telah mengubah Ranti menjadi pembunuh berdarah dingin, atau justru ada dalang lain yang bergerak dalam bayang-bayang dendam ini?