APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dicerai Suami, Dipinang Sultan

Dicerai Suami, Dipinang Sultan

Diceraikan oleh Raka, seorang model ternama yang menganggapnya beban karier, membuat hidup Asha hancur seketika. Pernikahan mereka yang berjalan tiga tahun harus kandas begitu saja. Di tengah kepedihan mendalam, Asha dipertemukan dengan Rafael Adiwangsa. Duda kaya raya yang merupakan wali murid di tempatnya mengajar ini hadir membawa ketulusan baru. Kini, Asha yang merasa tidak lagi memiliki apa-apa harus memilih: menutup diri atau membuka hati untuk cinta sang konglomerat.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, hujan berhenti, tapi langit tetap kelabu, mencerminkan hati Asha yang masih diselimuti awan gelap. Ia duduk di tepi ranjang kecilnya, memandang ke luar jendela apartemen. Udara dingin menusuk kulit, tapi ia terlalu lelah untuk meraih selimut.

Sepiring roti panggang yang ia siapkan tadi sudah dingin di atas meja. Perutnya kosong, tetapi nafsu makannya menghilang sejak hari itu-hari di mana Raka mengusirnya tanpa ampun. Hari ketika ia kehilangan bukan hanya suaminya, tetapi juga kebanggaan dirinya sebagai seorang istri.

Namun, pagi ini berbeda. Ada ketukan di pintu. Pelan, ragu-ragu. Asha melirik pintu itu dengan malas, mengira mungkin tetangga sebelahnya yang ingin meminjam sesuatu lagi. Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya.

Ketika pintu terbuka, yang ia lihat bukanlah tetangganya, melainkan seorang gadis kecil berambut ikal dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu. Ia mengenal gadis itu-Rania, salah satu muridnya di taman kanak-kanak.

"Miss Asha..." suara kecil itu memanggil, gemetar karena udara pagi yang dingin. "Aku boleh masuk?"

Asha mengerutkan kening, tapi ia segera mengangguk. "Tentu, sayang. Tapi bagaimana kamu bisa ke sini? Di mana orangtuamu?" tanyanya sambil berjongkok, menyamakan tinggi tubuhnya dengan Rania.

Rania menggigit bibirnya, menunduk malu-malu. "Papa bilang aku harus tunggu di mobil, tapi aku ingin ketemu Miss Asha. Aku... aku rindu."

Kata-kata itu membuat hati Asha mencair. Ia mengangkat tubuh kecil itu dan membawanya ke dalam, memeluknya erat. Entah bagaimana, pelukan Rania terasa seperti obat bagi luka yang belum sembuh di hatinya.

"Miss juga rindu kamu, sayang. Tapi kamu harus bilang Papa kalau mau ke sini, ya? Nanti dia khawatir."

Rania mengangguk, pipinya memerah. "Papa ada di bawah, kok. Dia cuma mau ngomong sama Miss. Katanya ini penting."

Asha mengerutkan kening. Penting? Siapa ayah Rania? Sepanjang bekerja sebagai guru TK, Asha jarang bertemu dengan orang tua murid secara langsung, kecuali saat acara sekolah.

Ketika Asha menurunkan Rania dan berjalan ke balkon untuk melihat ke luar, ia melihat seorang pria berdiri di dekat mobil hitam mengilap. Sosoknya tinggi dengan setelan jas yang rapi, tetapi matanya yang tajam terpaku pada pintu apartemen Asha.

Pria itu adalah Rafael Adiwangsa, salah satu pengusaha tersukses di kota ini. Ia terkenal karena ketegasannya, keuletannya, dan... skandal perceraian yang pernah mengguncang media setahun lalu.

Asha menelan ludah, merasa gugup. Kenapa seseorang seperti Rafael ingin bicara dengannya?

Tak lama kemudian, ada ketukan lain di pintu. Asha membuka pintu dengan tangan gemetar. Rafael berdiri di sana, sosoknya yang tinggi menjulang hampir membuatnya terintimidasi. Tapi pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menyerupai rasa hormat daripada keramahan.

"Maaf mengganggu pagi Anda, Miss Asha," ucap Rafael dengan suara yang dalam, terkontrol, namun ada jejak kehati-hatian di dalamnya. "Saya Rafael, ayahnya Rania. Saya rasa kita belum pernah berbicara langsung sebelumnya."

Asha mengangguk canggung, berusaha menyembunyikan perasaan kecil hati yang tiba-tiba muncul. "Iya, Pak Rafael. Saya tahu siapa Anda. Tapi... ada yang bisa saya bantu?"

Rafael menarik napas panjang sebelum menjawab. "Saya dengar dari Rania kalau Anda sedang tidak mengajar belakangan ini. Saya ingin tahu, apakah semuanya baik-baik saja? Rania sangat menyukai Anda, dan saya rasa dia cukup khawatir."

Pertanyaan itu membuat Asha terdiam sejenak. Haruskah ia jujur? Atau lebih baik berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja?

"Saya... saya hanya butuh waktu untuk diri sendiri, Pak Rafael," jawab Asha akhirnya, dengan senyuman dipaksakan. "Tapi terima kasih atas perhatian Anda."

Namun, Rafael tampak tidak puas dengan jawaban itu. Tatapannya yang tajam seolah-olah menelanjangi semua kebohongan kecil yang Asha coba sembunyikan.

"Miss Asha, saya tahu bagaimana rasanya mencoba menyembunyikan rasa sakit," kata Rafael dengan nada yang lebih lembut, tapi tetap tegas. "Saya tidak ingin mengganggu privasi Anda, tapi jika Anda butuh bantuan... Saya ada di sini."

Asha menatapnya, terkejut dengan ketulusan dalam kata-katanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa seseorang benar-benar peduli. Tapi ia juga takut-takut membuka diri lagi setelah semua yang ia alami.

"Terima kasih, Pak Rafael. Saya akan mengingat tawaran Anda," jawab Asha, suaranya hampir berbisik.

Rafael mengangguk, seolah memahami batas yang Asha coba pertahankan. Sebelum pergi, ia berlutut dan menatap Rania dengan lembut. "Rania, ayo kita pulang. Miss Asha butuh waktu untuk istirahat."

Rania mengerucutkan bibirnya, jelas tidak ingin pergi. Tapi akhirnya ia mengangguk dan melambai pada Asha. "Miss, jangan sedih lagi, ya? Aku sayang Miss."

Kata-kata itu membuat hati Asha serasa diremas. Setelah Rafael dan Rania pergi, Asha duduk di sofa, memegang kepalanya yang terasa berat.

Apa aku bisa percaya lagi? tanyanya dalam hati.

Namun, jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang perlahan-lahan mulai tumbuh. Sebuah harapan kecil, seperti bunga liar yang berusaha bertahan di tengah badai.**Bab 2: Luka yang Tak Terlihat**

Pagi itu, hujan berhenti, tapi langit tetap kelabu, mencerminkan hati Asha yang masih diselimuti awan gelap. Ia duduk di tepi ranjang kecilnya, memandang ke luar jendela apartemen. Udara dingin menusuk kulit, tapi ia terlalu lelah untuk meraih selimut.

Sepiring roti panggang yang ia siapkan tadi sudah dingin di atas meja. Perutnya kosong, tetapi nafsu makannya menghilang sejak hari itu-hari di mana Raka mengusirnya tanpa ampun. Hari ketika ia kehilangan bukan hanya suaminya, tetapi juga kebanggaan dirinya sebagai seorang istri.

Namun, pagi ini berbeda. Ada ketukan di pintu. Pelan, ragu-ragu. Asha melirik pintu itu dengan malas, mengira mungkin tetangga sebelahnya yang ingin meminjam sesuatu lagi. Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya.

Ketika pintu terbuka, yang ia lihat bukanlah tetangganya, melainkan seorang gadis kecil berambut ikal dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu. Ia mengenal gadis itu-Rania, salah satu muridnya di taman kanak-kanak.

"Miss Asha..." suara kecil itu memanggil, gemetar karena udara pagi yang dingin. "Aku boleh masuk?"

Asha mengerutkan kening, tapi ia segera mengangguk. "Tentu, sayang. Tapi bagaimana kamu bisa ke sini? Di mana orangtuamu?" tanyanya sambil berjongkok, menyamakan tinggi tubuhnya dengan Rania.

Rania menggigit bibirnya, menunduk malu-malu. "Papa bilang aku harus tunggu di mobil, tapi aku ingin ketemu Miss Asha. Aku... aku rindu."

Kata-kata itu membuat hati Asha mencair. Ia mengangkat tubuh kecil itu dan membawanya ke dalam, memeluknya erat. Entah bagaimana, pelukan Rania terasa seperti obat bagi luka yang belum sembuh di hatinya.

"Miss juga rindu kamu, sayang. Tapi kamu harus bilang Papa kalau mau ke sini, ya? Nanti dia khawatir."

Rania mengangguk, pipinya memerah. "Papa ada di bawah, kok. Dia cuma mau ngomong sama Miss. Katanya ini penting."

Asha mengerutkan kening. Penting? Siapa ayah Rania? Sepanjang bekerja sebagai guru TK, Asha jarang bertemu dengan orang tua murid secara langsung, kecuali saat acara sekolah.

Ketika Asha menurunkan Rania dan berjalan ke balkon untuk melihat ke luar, ia melihat seorang pria berdiri di dekat mobil hitam mengilap. Sosoknya tinggi dengan setelan jas yang rapi, tetapi matanya yang tajam terpaku pada pintu apartemen Asha.

Pria itu adalah Rafael Adiwangsa, salah satu pengusaha tersukses di kota ini. Ia terkenal karena ketegasannya, keuletannya, dan... skandal perceraian yang pernah mengguncang media setahun lalu.

Asha menelan ludah, merasa gugup. Kenapa seseorang seperti Rafael ingin bicara dengannya?

Tak lama kemudian, ada ketukan lain di pintu. Asha membuka pintu dengan tangan gemetar. Rafael berdiri di sana, sosoknya yang tinggi menjulang hampir membuatnya terintimidasi. Tapi pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menyerupai rasa hormat daripada keramahan.

"Maaf mengganggu pagi Anda, Miss Asha," ucap Rafael dengan suara yang dalam, terkontrol, namun ada jejak kehati-hatian di dalamnya. "Saya Rafael, ayahnya Rania. Saya rasa kita belum pernah berbicara langsung sebelumnya."

Asha mengangguk canggung, berusaha menyembunyikan perasaan kecil hati yang tiba-tiba muncul. "Iya, Pak Rafael. Saya tahu siapa Anda. Tapi... ada yang bisa saya bantu?"

Rafael menarik napas panjang sebelum menjawab. "Saya dengar dari Rania kalau Anda sedang tidak mengajar belakangan ini. Saya ingin tahu, apakah semuanya baik-baik saja? Rania sangat menyukai Anda, dan saya rasa dia cukup khawatir."

Pertanyaan itu membuat Asha terdiam sejenak. Haruskah ia jujur? Atau lebih baik berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja?

"Saya... saya hanya butuh waktu untuk diri sendiri, Pak Rafael," jawab Asha akhirnya, dengan senyuman dipaksakan. "Tapi terima kasih atas perhatian Anda."

Namun, Rafael tampak tidak puas dengan jawaban itu. Tatapannya yang tajam seolah-olah menelanjangi semua kebohongan kecil yang Asha coba sembunyikan.

"Miss Asha, saya tahu bagaimana rasanya mencoba menyembunyikan rasa sakit," kata Rafael dengan nada yang lebih lembut, tapi tetap tegas. "Saya tidak ingin mengganggu privasi Anda, tapi jika Anda butuh bantuan... Saya ada di sini."

Asha menatapnya, terkejut dengan ketulusan dalam kata-katanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa seseorang benar-benar peduli. Tapi ia juga takut-takut membuka diri lagi setelah semua yang ia alami.

"Terima kasih, Pak Rafael. Saya akan mengingat tawaran Anda," jawab Asha, suaranya hampir berbisik.

Rafael mengangguk, seolah memahami batas yang Asha coba pertahankan. Sebelum pergi, ia berlutut dan menatap Rania dengan lembut. "Rania, ayo kita pulang. Miss Asha butuh waktu untuk istirahat."

Rania mengerucutkan bibirnya, jelas tidak ingin pergi. Tapi akhirnya ia mengangguk dan melambai pada Asha. "Miss, jangan sedih lagi, ya? Aku sayang Miss."

Kata-kata itu membuat hati Asha serasa diremas. Setelah Rafael dan Rania pergi, Asha duduk di sofa, memegang kepalanya yang terasa berat.

*Apa aku bisa percaya lagi?* tanyanya dalam hati.

Namun, jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang perlahan-lahan mulai tumbuh. Sebuah harapan kecil, seperti bunga liar yang berusaha bertahan di tengah badai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Menantu Idaman Mama
8.6
Demi mempertahankan cintanya pada Alya, seorang pemuda berani menentang dominasi sang ibu. Mirna, sang ibu, menuntut pernikahan bisnis guna menjaga kestabilan perusahaan mereka. Ia menolak keras Alya yang merupakan seorang yatim piatu miskin. Bagi Mirna, pernikahan hanyalah alat demi keuntungan finansial. Namun, putranya menolak tunduk pada kendali keluarga dan memilih berjuang demi wanita pilihannya.
Sampul Novel Cinta Yang Tak Pernah Padam
8.3
Dua tahun Nayara terjebak pernikahan tanpa cinta karena paksaan ibu Ravian. Bagi Ravian Aditya Maheswara, bos dingin itu, pernikahan ini cuma kewajiban. Namun, saat Nayara menyerah dan meminta cerai, sikap Ravian justru berubah drastis. Alih-alih melepaskannya, ia malah mempermainkan perasaan sang istri. Ravian menjebaknya dalam teka-teki hati yang membingungkan, tepat di saat Nayara ingin pergi menjauh dari kehidupannya.
Sampul Novel DILEMA SUAMI BAYARAN
9.6
Duda bernama Barra Farzan ingin bahagia dengan menikahi Astra, anak konglomerat yang menawan. Sialnya, pesta pernikahan mereka yang meriah mendadak kacau saat seorang wanita datang menampar Astra. Perempuan itu mengaku istri sah Barra yang dicampakkan bersama anak mereka. Astra pun dituduh sebagai perebut suami orang. Apa misteri kelam yang ditutupi Barra? Akankah pernikahan mereka bertahan, atau Barra cuma berstatus suami bayaran?
Sampul Novel En-PD181
7.9
Karier saya sebagai agen papan atas terancam hancur karena ulah Lucas. Model pendatang baru yang sombong itu menuntut pemecatan saya hanya demi masalah jaket, bahkan memamerkan kedekatannya dengan pemilik perusahaan saat pesta. Namun, dia salah mencari lawan. Tanpa ragu, saya langsung menghubungi pria terkaya di negeri ini untuk menarik diri dari proyek film besarnya. Kini, investasi mereka berada di ujung tanduk akibat keangkuhan Lucas.
Sampul Novel Ilusi Cinta: Mengungkap Topeng Kekasihku yang Licik
8.9
Karlee dikhianati oleh sang tunangan. Di tengah rasa hancur, ia bertemu Brian Olson yang memikat. Pertemuan semalam membawa mereka pada pernikahan kontrak yang terburu-buru. Brian terlihat sangat tulus, tetapi itu semua hanyalah tipu muslihat yang direncanakan. Begitu tahu dirinya mengandung, Karlee yang murka menuntut perceraian. Brian kini didera penyesalan mendalam dan memohon kesempatan kedua agar mereka tidak terpisahkan selamanya.
Sampul Novel Impian Dongengku Hancur: Pengkhianatan Kejamnya
9.3
Sembilan tahun pernikahan indah seorang arsitek hancur setelah kecelakaan merenggut ingatan suaminya, taipan Adrian Wijaya. Di bawah kendali Helena yang licik, Adrian berubah kejam: membunuh adik sang istri, melumpuhkannya, hingga merebut pita suaranya untuk Helena. Pengkhianatan ini menyulut dendam membara. Setelah memalsukan kematian, sang istri siap bangkit menghancurkan kerajaan Adrian dan membalas semua kekejamannya.