APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dibuang Seperti Sampah, Kini Dicari

Dibuang Seperti Sampah, Kini Dicari

Pernikahan rahasia Risa selama delapan tahun kandas setelah Teguh melamar Selia. Merasa dikhianati, Risa memilih bercerai dan pergi dari restoran mereka. Dengan angkuh, Teguh mengusir Risa dan Heru, adiknya, demi sang selingkuhan. Namun, kehancuran bisnis akibat ulah Selia memaksa Teguh menyusul Risa ke Swiss demi mengemis maaf. Kini, Risa yang telah bangkit siap membongkar kebenaran pahit masa lalu dan membiarkan Teguh tenggelam dalam penyesalan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Delapan tahun pernikahan rahasiaku hancur saat aku melihat suamiku, Teguh, melamar wanita lain dengan kue ulang tahun yang seharusnya untuk adikku, Heru.

Aku menyerahkan surat cerai dan pengunduran diriku dari restoran yang kami bangun bersama. Namun, Teguh hanya menganggapku bercanda dan menuduh adikku sebagai biang keladi.

Di depan mataku, dia membawa selingkuhannya, Selia, ke rumah kami dan mengusirku dan Heru seolah kami adalah sampah.

"Jangan dramatis, Risa. Kamu tahu posisimu," katanya dengan tatapan jijik, seolah aku adalah aib yang harus disembunyikan.

Heru, adikku yang hatinya hancur, menatap Teguh dengan dingin. "Heru tidak punya Ayah lagi. Yang Heru punya hanya Kakak Risa."

Aku membawanya pergi, meninggalkan semua racun di belakang. Namun, saat restoran Teguh di ambang kehancuran karena kebodohan Selia, dia datang mencariku ke Swiss, memohon untuk kembali.

"Aku mencintaimu, Risa! Aku sangat mencintaimu!" teriaknya putus asa.

Aku menatapnya tanpa emosi. "Kau selalu menganggapku wanita licik yang menjebakmu. Malam itu, kau dibius, Teguh. Dan aku... akulah korbannya."

Bab 1

Risa Irawan POV:

Kue edisi terbatas untuk adikku, Heru, tidak pernah datang. Sebagai gantinya, aku melihat foto Teguh berlutut di hadapan Selia, dengan kue yang sama persis.

Tanganku tidak gemetar sedikit pun saat meletakkan amplop putih itu di atas meja kerja Teguh. Aroma adonan kue yang baru dipanggang masih menempel di ujung jariku, ironi yang pahit. Di dalamnya, ada surat cerai yang sudah kutandatangani dan pengunduran diriku dari Restoran Adiwangsa, mahakarya yang kami bangun bersama.

"Risa?" Teguh terdengar terkejut, suaranya naik satu oktaf saat dia mengangkat kepala dari laporan keuangan. Matanya yang biasanya tajam, kini memancarkan kebingungan.

Aku mundur selangkah, menjaga jarak. "Aku mengundurkan diri, Teguh. Dan ini, surat cerai kita." Suaraku datar, tanpa emosi, seperti membaca daftar belanjaan. Aku tidak ingin dia melihat retakan di balik ketenanganku ini.

"Apa?" Teguh berdiri, bangkit terlalu cepat hingga kursinya berderit. "Kamu... bercanda, kan? Ada apa ini tiba-tiba? Apa Heru membuat masalah lagi?" Ada nada kekesalan dalam pertanyaannya, seolah Heru hanyalah beban.

Aku merasakan otot rahangku mengeras. Kata-katanya menusuk tepat di ulu hati, membangkitkan kembali luka yang masih menganga dari semalam. Teguh, betapa tidak pekanya dirinya. Aku hanya menatapnya, ekspresiku kosong.

Teguh menyadari kesalahannya. Raut wajahnya berubah canggung. "Maaf, Risa. Bukan itu maksudku. Aku hanya... tidak mengerti. Ada apa sebenarnya? Kita baik-baik saja, kan?" Dia mencoba meraih tanganku, tapi aku menariknya menjauh.

"Tidak, Teguh. Kita tidak baik-baik saja." Aku berbisik, tetapi setiap kata terasa seperti palu yang menghantam. "Dan tidak akan pernah baik-baik saja."

Dia mengerutkan kening, mencoba memprotes. "Tapi Risa, kita sudah sejauh ini. Restoran kita. Ini semua mimpiku, dan kamu bagian dari itu. Apakah ini tentang kontrak koki baru? Kita bisa bicarakan, aku bisa memberimu bagian yang lebih besar, pengakuan-"

Aku memotongnya, "Pengakuan?" Senyum pahit tersungging di bibirku. "Kamu baru bicara tentang pengakuan sekarang? Setelah delapan tahun?" Otakku memutar kembali rekaman demi rekaman, setiap pengorbanan, setiap malam tanpa tidur, setiap resep yang kucurahkan seluruh jiwaku ke dalamnya. Semua demi Teguh, demi Restoran Adiwangsa.

Teguh tampak bingung, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Risa, kita tidak bisa begini. Kita tim yang sempurna. Tanpamu, restoran ini tidak akan sama." Suaranya terdengar meyakinkan, seperti seorang pengacara yang membela kliennya di pengadilan, bukan seorang suami yang memohon pada istrinya.

Aku tahu dia hanya memikirkan keuntungan dan reputasi restorannya. Aku hanyalah alat baginya, resepku hanyalah komoditas. Itu sudah lebih dari cukup.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Teguh." Aku memaksakan diri untuk tersenyum, senyum yang terasa dingin di bibirku. "Semuanya sudah selesai."

Aku berbalik, melangkah keluar pintu. Saat melewati ruang istirahat staf, mataku menangkap pemandangan yang membuat perutku mual. Teguh, yang baru saja kutinggalkan di ruangannya, kini sedang tertawa renyah dengan Selia Rasyid. Rambut pirang Selia berkibar saat dia menyandarkan kepalanya di bahu Teguh, kamera ponselnya diarahkan ke mereka berdua, merekam setiap tawa palsu.

Selia Rasyid. Food vlogger terkenal, teman masa kecil Teguh, dan kini, tunangannya. Tunangan yang baru saja dilamar Teguh semalam, dengan kue edisi terbatas yang seharusnya untuk Heru.

Aku mendekati mereka, langkahku tenang, seolah tidak ada yang terjadi. "Teguh," panggilku, suaraku sedikit lebih keras dari yang kuinginkan.

Teguh dan Selia serentak menoleh. Teguh tampak sedikit terkejut melihatku. Wajahnya yang ceria langsung berubah datar, seolah ia baru saja mengenakan topeng.

"Oh, Risa," katanya, nadanya formal dan dingin, seperti menyapa rekan kerja-bukan istrinya. "Ada apa?"

Aku tahu dia mencoba menjaga citra di depan Selia, tapi tatapanku tidak bergeser dari Selia. Perempuan itu balas tersenyum, senyum manis yang tidak mencapai matanya.

"Hanya ingin mengabarkan," kataku, melirik Teguh. "Bahwa semua resep dan persiapan untuk menu Natal sudah kuselesaikan. Kamu bisa menyerahkannya pada Selia."

Mata Teguh melebar sedikit. "Apa maksudmu? Kamu tidak akan ikut mengurusnya?"

Sebelum Teguh sempat bertanya lebih jauh, Selia menyela, suaranya ceria. "Oh, tidak apa-apa, Teguh. Aku sudah mengamati Risa bekerja selama ini. Aku yakin bisa menangani sisanya." Dia menatapku dengan tatapan meremehkan. "Resep-resepnya tidak serumit kelihatannya, kok. Hanya butuh sentuhan akhir dari seorang vlogger untuk membuatnya viral, kan?"

Aku nyaris tertawa. Perutku bergejolak, tapi aku menahannya. Aku hanya menatap Selia, tatapanku lurus dan tanpa gentar. "Tentu saja," kataku lembut. "Semoga sukses."

Selia tersenyum kemenangan, seolah dia baru saja menyelesaikan sebuah transaksi bisnis yang menguntungkan. Teguh, di sisi lain, menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.

Aku berbalik, merasakan pandangan mereka menusuk punggungku. Aku tidak tahu apa yang membuatku bertahan selama ini. Cinta? Harapan? Atau hanya kebodohan yang membutakan? Aku memikirkan Heru. Wajahnya yang kecewa semalam, tatapan matanya yang meredup saat aku harus mengatakan bahwa kue impiannya tidak akan datang.

Aku meraih ponselku, membuka galeri foto. Di sana, potret Heru dengan senyum lemahnya terpampang di layar. Dia adalah alasanku untuk meninggalkan semua racun ini. Aku tidak akan membiarkan kebahagiaannya dikorbankan demi mimpi orang lain, terlebih mimpi yang menghancurkan hatiku. Aku tidak bisa lagi membiarkan Teguh menghancurkan semangat hidup adikku dan diriku. Semuanya harus berakhir, sekarang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Pemenang Dalam Hidupku
8.6
Selama bertahun-tahun, ia selalu mengalah dan diabaikan oleh keluarganya demi sang adik. Puncaknya terjadi di hari pernikahannya, saat ayah, ibu, kakak, serta tunangannya yang merupakan seorang bos mafia, Jason, justru pergi menghadiri wisuda adiknya. Ditinggalkan sendirian menanggung malu di hadapan para tamu, ia akhirnya sadar bahwa dirinya tidak pernah dianggap penting. Bertekad untuk tidak lagi mengharapkan kasih sayang mereka, ia memutuskan pergi membawa koper dan rahasia kehamilannya demi memulai lembaran hidup baru.
Sampul Novel Arti Dalam Pernikahan
7.9
Haura menolak keras dijodohkan dengan Rainer karena ingin menjaga cintanya pada Ali. Penolakan ini memicu kemarahan Rainer. Terbakar cemburu dan rasa dikhianati, Rainer menyebarkan video asusila demi menghancurkan nama baik Haura serta merusak hubungannya dengan Ali. Di tengah badai skandal yang mengancam masa depannya, keteguhan hati Haura benar-benar diuji dalam menghadapi niat jahat tersebut.
Sampul Novel Cinta Seroja
8.2
Seroja Wijaya, putri petani yang jelita asal tanah Sunda, selalu menolak lamaran banyak pria demi menunda pernikahan. Namun, sang abah akhirnya menjodohkannya dengan juragan sayur dari desa tetangga. Pernikahan itu gagal dan berakhir dengan perceraian yang meninggalkan luka serta kekecewaan bagi Seroja. Di masa sulitnya, ia kembali bertemu Alzidan, sahabat masa kecilnya yang dulu pindah ke kota. Pertemuan tak terduga ini menuntun mereka ke pelaminan dan hidup bahagia bersama.
Sampul Novel Kembalinya Sang Penguasa
9.0
Insiden ledakan rumah yang menewaskan sepasang suami istri membuat polisi dan militer gempar. Kehilangan putri mereka menjadi pertanda bangkitnya Red Everlasting Dragon, sang penguasa legendaris yang ditakuti dunia. Ia memutuskan turun gunung untuk menuntut balas atas kematian orang tuanya sekaligus menyelamatkan adiknya yang diculik. Dengan kemurkaan yang membara, ia bersumpah melibas semua pelaku dan siap mengguncang tatanan dunia dari timur hingga barat.
Sampul Novel OBSESI CINTA UNTUK NADEEVA
8.6
Rheno jatuh cinta pada Nadeeva, ibu tiri sahabatnya yang dilingkupi masa lalu kelam. Nadeeva kini bimbang memilih masa depan baru bersama Rheno atau bertahan dengan Aiman, suami yang menikahinya demi melindungi nyawa dan hartanya. Meski sepuluh tahun berumah tangga, pernikahan mereka tanpa kemesraan karena sebuah kesepakatan. Di bawah ancaman pembunuh misterius, sanggupkah Rheno membujuk Aiman agar bersedia melepaskan Nadeeva?
Sampul Novel Permintaan Spesial Seorang Aktris Wanita
9.8
Akibat insiden memalukan saat syuting, seorang aktris harus berbaring dengan wajah memerah di ranjang pasien. Di hadapan Dokter Jefri yang tampan, ia mengaku tidak sengaja menduduki sebuah alat hingga tersangkut. Setelah sang dokter muda mengeluarkan benda bergetar tersebut, sang aktris justru terpesona oleh ketampanannya. Sambil menarik tangan dokter ke tulang selangkanya, ia memandang dengan tatapan kasihan dan meminta pemeriksaan ulang karena merasa masih tidak nyaman.