APKDock Logo
Sampul Novel Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku

9.3 / 10.0
Tugas negara adalah prioritas Letnan Imam, tetapi pengkhianatan Serda Resti merusak janji suci mereka. Walau Resti kini milik pria lain, bayangnya belum hilang. Usai kecelakaan, Imam menemukan cinta baru dalam diri Dokter Utami. Namun, misi di Lampung mempertemukannya dengan Lita, siswi yang sangat mirip dengan Resti. Saat kesetiaan Imam diuji, Utami memilih mundur, sementara Lita sendiri sudah punya kekasih. Siapa yang akan mengisi kekosongan hati sang Letnan?

Dia Bukan Milikku Bab 1

Aku adalah seorang prajurit Marinir berpangkat Letnan Satu bernama Muhammad Imam Setiawan. Hari ini aku menginjakkan kaki ke bumi pertiwi setelah tiga puluh bulan bertugas bersama pasukan perdamaian dunia di Lebanon.

Di Lantamal V Surabaya ini aku tak dijemput seorangpun. Kartika, adikku sedang melahirkan di Kertosono, kota kelahiranku. Sejak dua hari yang lalu Kartika diberitakan sudah mengalami kontraksi, namun sampai pagi hari ini belum ada kabar kelahiran cucu pertama dari kedua orang tuaku. Sebelum kepulanganku ke tanah air, aku sudah berpesan pada bapak dan ibu untuk menemani Kartika sampai dengan selesai persalinan, tak perlu menjemputku di Surabaya.

Hiruk pikuk para keluarga yang menjemput pasukan kami tampak melepas haru. Aku sendiri yang datang tanpa jemputan sanak saudara. Ada harapan di hati ini untuk dijemput oleh Resti, sang pujaan hati. Sudah beberapa bulan ini nomor ponselnya tidak aktif, mungkin dia ganti nomor tanpa memberi tahuku. Tak masalah bagiku, karena aku telah berjanji akan menikahinya selepas pulang dari Lebanon.

Setelah mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, tampak sosok anggun yang selama ini memenuhi ruang hati. Dia terlihat celingukan mencari diriku. Aku mendekat dan berbisik dari arah belakang, “Cari siapa?”

Wanita cantik itu berbalik, lalu memberikan hormat padaku, aku membalas hormatnya lalu tersenyum. “Selamat datang di bumi pertiwi Letnan.”

Kami berjalan beriringan meninggalkan kerumunan, “Apa kabarnya Dek?”

“Alhamdulillah baik, Mas. Mas apa kabarnya? Tambah hitam aja.” ucapnya sambil mengulum senyum yang sangat menggemaskan.

“Beneran kerja berarti.” Resti malah tertawa renyah.

“Dek Resti sudah sarapan? Mas pengen ngerasain soto nih. Kayaknya hampir lupa rasanya soto.”

“Ayo kita ke kantin, nanti Resti traktir Mas, biar inget sama makanan Indonesia.”

“Dek Resti duluan ya, Mas mau naro ransel dulu di mess. Pesan aja duluan ya!”

“Iya, Mas. Mau kopi atau teh?”

“Kopi hitam aja.” Resti mengangguk sambil tersenyum yang membuatku semakin dimabuk cinta.

Pandanganku menyisir seluruh area kantin, terlihat seorang kowal berpangkat sersan satu melambaikan tangan padaku. Aku mendekat sambil menebar senyum.

“Soto dan kopinya sudah datang, silahkan dinikmati.”

Sambil makan, aku bercerita tentang kisahku ketika berdinas di Lebanon. Resti tampak antusias menyimak ceritaku. Setelah selesai makan aku mengeluarkan sebuah gelang buatan warga Lebanon lalu memberikannya ke Resti, “Mas belum sempat beli yang mahal, ini hasil karya dari warga di Lebanon. Mas bawa banyak buat oleh-oleh, ini yang pantas buat Dek Resti.”

“Wah, terima kasih ya.” Resti langsung memakai gelang itu.

“Oh ya, Mas. Keluargamu kok gak ada yang jemput?”

“Kartika sedang melahirkan, bapak sama ibu siaga nunggu cucu pertamanya. Setelah ini Mas mau pulang ke Kertosono, supaya bisa sholat Jum’at bareng bapak di kampung.”

“Salam untuk bapak dan ibu ya, semoga persalinan Kartika diberi kemudahan dan kelancaran, ibu dan bayinya sehat semua.”

“Amin, terima kasih doanya. Kayaknya Mas ga bisa lama-lama disini, mau izin komandan dulu biar bisa pinjam mobil untuk pulang.”

“Hati-hati di jalan.” Pipinya yang semu menambah aura cantik Resti, ditambah polesan lipstik warna nude membuatku enggan beranjak.

“Ayo berangkat, nanti keburu siang lho!”

Aku berdiri sambil mengangguk, “Terima kasih traktirannya,” ucapku lalu menjauh, Resti memberiku hormat, kemudian aku membalas hormatnya dan pergi.

***

Satu jam perjalanan Surabaya-Kertosono, mobil yang kukendarai berhenti dirumah bapak. Pintu rumah terkunci, berkali-kali aku mengucap salam namun tak ada balasan dari dalam rumah. Aku memutar ke samping, di bagian samping rumah terdapat Masjid. Setelah bebersih diri, aku masuk ke Masjid lalu sholat sunah dua rakaat. Membaringkan badan kemudian memejamkan mata, merasakan ketenangan dan kenyamanan di rumah Allah, di kampung halaman tercinta.

Tiba waktu Zuhur, aku mengumandangkan adzan memanggil warga sekitar untuk menunaikan ibadah sholat Jum’at. Selesai membacakan adzan beberapa warga yang sudah datang menyalamiku dan menyapa ala kadarnya. Dari penjelasan para tetangga, aku menyimpulkan bahwa bapak dan ibu masih di klinik tempat Kartika bersalin. Lalu pandanganku menjurus pada sosok pria yang paling pertama kulihat dimuka bumi ini. Bapak masuk ke dalam masjid dengan menggunakan baju koko coklat dan peci hitam berjalan ke arahku. Aku berlutut di depannya, lalu mencium punggung tangan yang hampir keriput. Bapak mengangkat bahuku, kemudian merangkulku sangat lama. Butiran air mata sontak mencelos dari kedua sudut mataku.

“Maafin Imam, Pak.”

“Kamu gak salah, kenapa minta maaf. Kartika sudah melahirkan tadi subuh, anaknya perempuan, sehat. Ibumu masih nunggu di klinik.”

“Alhamdulillah.”

Selesai sholat Jum’at, aku dan bapak menyusul ibu ke klinik. Sosok wanita terhebatku menunggu di depan klinik. Aku segera berlutut dan mencium tangannya, ibu merangkulku dengan penuh kasih sayang. Dua tahun setengah kepergianku ke Lebanon bukanlah waktu singkat, kuusap lelehan air mata ibu yang menggenang di pipinya yang tirus. “Aku sudah pulang, Bu. Alhamdulillah Allah melindungiku berkat doa bapak dan ibu.”

Ibu menarikku ke dalam ruang perawatan, Kartika adikku duduk bersandar sambil menggendong bayi mungil, “Le, Pakde datang.”

Kartika meraih tanganku dan mencium punggung tangan kananku, lalu aku mencium bayi merah itu.

Malam ini kami semua sudah berkumpul di rumah bapak. Kami mengobrol hingga larut malam, hingga akhirnya bapak berkata, “Mam, kapan kamu mau nikah? Sekarang kamu sudah jadi pakde. Jangan sampai dilangkahi oleh Aisyah, sebentar lagi dia lulus jadi perawat berarti dia juga siap nikah.”

Aku tersenyum mendengar pertanyaan bapak, “insya allah sebentar lagi pak, gadis yang Imam sukai juga sudah siap. Imam akan mengatur waktu yang tepat agar bapak melamarnya untuk Imam.”

“Alhamdulillah kalau begitu, Ibu yakin pilihanmu tidak salah. Meski begitu, jangan pernah berhenti berdoa, minta petunjuk pada gusti Allah untuk jalan yang terbaik,” ibu memberi saran.

“Iya, Buk,” jawabku

“Kamu punya fotonya? Bapak pengen liat calon mantu pilihanmu,” pinta bapak.

Aku mengeluarkan ponsel dan menunjukkan beberapa foto Resti, baik yang sendiri maupun yang bersamaku.”

“Ayu tenan, gak salah pilih, Mam!” Bapak tampak senang melihat gadis cantik itu.

“Ternyata selera anak Ibu kowal toh,” Ibu berkata sambil melirikku.

Aku hanya mengulum senyum mendengar komentar positif dari kedua orang tuaku.

“Orang tuanya sudah tau kalau kamu suka sama anaknya?” tanya bapak.

“Bapaknya komandan Imam dulu sebelum dinas ke Lebanon, kalau mau pesiar bareng Resti biasanya Imam selalu izin sama komandan.”

“Oh, namanya Resti.”

“Syukurlah kalau begitu.”

***

Senin pagi aku sudah bersiap di pinggir lapangan persiapan apel rutin. Dari jauh aku melihat sebuah mobil berhenti digerbang. Dari balik kaca mobil aku jelas melihat Resti diantar seseorang, lalu Resti mencium tangan orang itu, kemudian Resti keluar dan memberi lambaian tangan ketika mobil itu menjauh. Siapa yang mengantar Resti? Hati ini mulai merasa perih. Tak jauh dari tempatku berdiri, lewatlah pak Diman yang baru saja membersihkan pekarangan.

“Pak Diman, tadi itu siapa yang mengantar Serda Resti?”

“Oh, Innova item itu ya? Itu suaminya, Letnan.”

Duar…. Kepala ini serasa tertimpa batu ratusan kilo.

“Serda Resti anaknya Kolonel Teguh sudah menikah?”

“Sudah, mungkin sekitar enam bulan yang lalu. Kalau gak salah Serda Resti itu baru sembuh, kemarin mabuk hamil muda. Baru minggu kemarin beliau aktif dinas lagi.”

Aku menghembuskan nafas kasar, kecewa ini sudah sampai di ubun-ubun.

Resti, kenapa kamu tega menikah dengan orang lain tanpa memberi tau aku, kenapa kamu menitipkan salam untuk kedua orang tuaku, kenapa kamu menjemputku ketika aku baru datang, kenapa kamu memberiku harapan, kenapa ….

Lanjut Membaca

Daftar Isi Dia Bukan Milikku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Cinta Dalam Skandal
9.3
Karier Bitna, aktris asal Korea Selatan, berada di ambang kehancuran setelah skandal besar menimpanya pasca-pesta di Indonesia. Kejadian itu turut menyeret Kenzo, bos besar penyelenggara acara. Demi menyelamatkan reputasinya, Bitna setuju memberikan klarifikasi. Namun, tanpa persetujuan Bitna, Kenzo malah mengumumkan pertunangan palsu mereka kepada publik. Apa motif di balik kebohongan Kenzo ini? Bisakah sandiwara tersebut menyelamatkan Bitna, atau justru memperburuk hidupnya?
Sampul Novel Dosen Duda Anak 1
9.2
Hidup Alva berubah drastis setelah tak sengaja bertemu dengan anak dari dosennya. Hubungan tak terduga yang terjalin di antara mereka perlahan menumbuhkan benih asmara yang sulit ia tepis. Kini, Alva dihadapkan pada kebimbangan batin yang besar. Di tengah rasa ragu yang terus membayangi langkahnya, ia harus segera memutuskan apakah dirinya benar-benar siap menerima kehadiran seorang pria berstatus duda sebagai pasangan hidupnya kelak.
Sampul Novel Fatimah Perjuangan TKW Indonesia
8.7
Setamat SMA, Fatimah mengambil keputusan besar demi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebagai anak tunggal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, ia memilih menjadi TKW di luar negeri agar tidak membebani orang tuanya. Didorong oleh tekad baja untuk mandiri secara finansial, gadis muda ini rela merantau jauh. Kisah perjuangan ini menyoroti pengorbanan luar biasa Fatimah dalam mengubah nasib dan memperjuangkan masa depannya sendiri.
Sampul Novel School and Love
9.2
Laisa adalah siswi pintar dari kalangan biasa yang berjuang di SMA elite bersistem kasta sosial. Nasibnya berubah setelah berurusan dengan Dema, pewaris takhta bisnis sekaligus ketua kelompok F3 yang disegani. Hubungan mereka memicu ketegangan besar di sekolah. Keadaan kian pelik saat Anan dan Candra ternyata turut menyukai Laisa. Di tengah persaingan ini, sanggupkah cinta sejati mereka bertahan melampaui jurang perbedaan status yang begitu lebar?
Sampul Novel Terjerat Pesona Putri Gelap Tuan Konglomerat
8.3
Sejak kecil diasingkan ke desa, Putri tumbuh mandiri sebelum akhirnya mengadu nasib di ibu kota. Karirnya di dunia hiburan nyaris hancur oleh pelecehan, tetapi Arya Bharata, seorang pewaris takhta konglomerat, datang menyelamatkannya. Benih cinta pun tumbuh di antara mereka. Sayangnya, hubungan ini terhalang restu keluarga, memaksa Putri pergi menjauh. Saat melarikan diri, rahasia ayah kandungnya terkuak. Akankah Putri berdamai dengan masa lalu demi cintanya?
Sampul Novel Tumbal Pernikahan
9.6
Bagi Amanda, pernikahan bukanlah penyatuan cinta, melainkan belenggu paksaan yang menyiksa. Sebagai istri yang sabar, dia rela mengesampingkan ego dan harga dirinya demi melunakkan hati sang suami yang dingin. Meski badai ujian dan konflik tiada henti menguji ketegarannya, Amanda tetap bertahan dan enggan menyerah. Akankah perjuangan tulusnya mampu meruntuhkan keangkuhan sang suami, atau justru sikap dingin itu akan bertahan selamanya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan