APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dia Mengambil Rumah, Mobil, Dan Hatiku

Dia Mengambil Rumah, Mobil, Dan Hatiku

Saat cinta lama Kevin kembali, ia memilih menceraikan Flora. Bukannya menangis, Flora justru menuntut vila, mobil mewah, serta setengah dari total harta mereka. Kevin terkejut dan baru menyadari bahwa sang istri adalah sosok genius yang selama ini mengatur kesuksesan finansialnya. Sadar telah kehilangan pilar penting dalam hidup dan bisnisnya, kini Kevin harus berjuang keras demi mendapatkan kembali hati Flora yang telah ia lepaskan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Pada malam hari, ruang tamu yang luas bersinar di bawah lampu terang saat dua orang duduk berhadapan, surat perjanjian perceraian berada di antara mereka.

Kevin Suhada, yang berpakaian rapi dalam setelan jas, memancarkan aura dingin dan cuek. Wajahnya yang tajam tetap tidak terbaca, kehadirannya berwibawa dan mengintimidasi. Tatapan tajamnya tertuju pada wanita pendiam di seberangnya, matanya tak dapat dipahami.

"Kita akan bercerai pada hari Senin," ucapnya, suaranya tegas dan tanpa emosi. "Selain kompensasi dalam perjanjian, kamu dapat meminta apa pun yang kamu butuhkan."

"Kenapa begitu tiba-tiba?" tanya Flora Blasius, suaranya lebih pelan dari biasanya.

Jawaban Kevin lugas. "Aisha sudah kembali."

Flora tahu persis siapa Aisha. Setelah jeda sebentar, dia menjawab, "Baiklah."

Kevin ragu-ragu, terkejut dengan penerimaan langsungnya.

Flora membuka surat perjanjian perceraian, pikirannya melayang ke masa lalu.

Dua tahun lalu, mereka bertemu di sebuah klub malam. Saat dia telah terbebani oleh berbagai kekhawatiran, Kevin telah merawat hatinya yang terluka. Setelah minum beberapa gelas, mereka menemukan hiburan dalam kebersamaan satu sama lain, mengobrol hingga larut malam.

Tidak ada hubungan sesaat yang impulsif—hanya perpisahan yang tenang setelahnya.

Tiga hari kemudian, pria itu kembali bersama asistennya untuk melamarnya. Dan dia setuju.

Setelah menikah, Kevin memperlakukannya dengan baik—memperhatikan kebutuhannya, mengeringkan rambutnya dengan tangan yang lembut, dan menyelesaikan masalahnya bahkan sebelum dia mengungkapkannya.

Hubungan mereka sempurna—sampai enam bulan lalu, ketika sebuah panggilan telepon mengubah segalanya.

Dalam semalam, pria itu menjadi dingin dan menjaga jarak, tidak lagi bersikap lembut.

Saat itulah dia mengetahui kebenaran: Kevin menikahinya karena dia sedikit mirip dengan cinta pertamanya yang hilang, Aisha Bustami.

Kenangan itu membuat Flora mengatupkan bibir sebelum bertanya dengan ringan, "Kamu bilang aku boleh meminta kompensasi, 'kan?"

"Ya," jawab Kevin dengan nada datar.

"Apa pun yang aku inginkan?" Flora mengangkat mata dan menatapnya, wajah cantiknya tidak lagi berseri seperti biasanya.

Untuk sesaat, rasa bersalah berkelebat di dada Kevin. "Ya."

Dia telah memutuskan untuk mengabulkan tuntutannya yang wajar.

Lagi pula, wanita ini selalu bersikap baik padanya.

Suara Flora tenang. "Kalau begitu, aku ingin mobil termahal di garasimu."

"Baiklah," ucap Kevin setuju.

"Sebuah vila di pinggiran kota," tambahnya.

"Boleh," ucapnya.

Flora tersenyum. "Dan setengah dari uang yang kamu hasilkan dalam dua tahun terakhir."

Untuk pertama kalinya, ketenangan Kevin retak. Matanya menyipit sedikit, seolah-olah bertanya apakah pendengarannya benar. "Apa katamu?"

Flora, tanpa gentar, mengulangi permintaannya. "Penghasilan kita selama perkawinan dihitung sebagai harta perkawinan, 'kan? Berdasarkan perhitunganku—tidak termasuk investasi—gaji dan dividenmu selama dua tahun terakhir berjumlah dua triliun. Aku tidak menginginkan banyak—hanya 40%."

Keheningan berat menyelimuti mereka.

Kemudian, dia menambahkan, seolah-olah menyebutkan cuaca dengan santai, "Tentu saja, kamu juga dipersilakan mengambil 40% dari penghasilanku."

Kesabaran Kevin akhirnya habis. "Flora!" Suaranya mengandung nada tidak percaya.

Apakah dia benar-benar merasa bersalah barusan? Bagaimana mungkin dia tidak pernah menyadari keserakahannya sebelumnya?

Flora membalas tatapannya dengan tatapan datar. "Apakah itu tidak dapat diterima?"

Sama sekali tidak.

Kevin langsung menepis gagasan itu.

"Kalau begitu lupakan saja." Flora meletakkan pulpennya. "Lain kali aku bertemu keluargamu, aku akan menyinggung soal perselingkuhan emosionalmu. Aku yakin mereka akan memihakku."

Ekspresi Kevin menjadi suram, tatapannya berubah dingin. Dia tidak mengantisipasi sisi dirinya yang ini—sekarang menyadari bahwa kepatuhannya di masa lalu hanyalah sebuah sandiwara.

"Apakah kamu benar-benar ingin bernegosiasi denganku seperti ini?" tanyanya.

"Ya." Flora menatapnya, tetap bergeming. Dia tahu pria itu membenci ancaman—tapi dia lebih membenci perselingkuhan.

"Baiklah." Mata Kevin berubah penuh badai, suaranya dingin. "Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tapi jika perceraian ini tidak berjalan dengan lancar, kamu akan menyesalinya."

Flora bersandar di kursinya, nada bicaranya setajam silet. "Kevin Suhada, apakah itu merupakan sebuah ancaman?"

Versi dirinya yang ini asing bagi Kevin. Selama dua tahun, Flora merupakan gambaran kepatuhan—lembut, akomodatif, tidak pernah menentang. Sekarang, wanita ini menghadapi kemarahannya dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.

"Tidak." Sambil menghitung tindakan balasan, dia berkata, "Kamu akan mendapatkan asetnya. Kita akan bercerai pada hari Senin."

Bulu mata Flora turun sebentar sebelum dia menambahkan, "Satu syarat lagi."

"Katakan." Kesabaran Kevin habis.

"Ajak aku berbelanja besok." Flora mengabaikan embun beku yang terpancar dari pria itu. "Setelah itu, kita akan menceritakan pada keluargamu bersama-sama bahwa aku telah mengakhiri semuanya."

"Setuju," ucap Kevin.

Setelah berkata demikian, dia melangkah ke arah pintu, tidak sanggup menahan sedetik pun berada di hadapannya.

Sebelumnya, dia bahkan mempertimbangkan untuk memberinya waktu tenggang untuk memproses perceraian.

Betapa menggelikannya. Wanita itu tidak sabar untuk mendapatkan harta gono-gini dan menyingkirkannya.

Kalau saja Flora bisa membaca pikirannya, dia pasti akan tertawa dan berkata, "Uang sebanyak itu? Apakah kamu benar-benar berpikir aku akan peduli?"

Kevin mencapai pintu dan berhenti. Tanpa berbalik, dia berkata, "Aku tidak akan kembali malam ini. Aku akan menjemputmu besok pagi pukul sembilan. Buatlah daftar toko yang ingin kamu kunjungi."

Suara Flora mengikutinya, tenang tetapi mengandung sesuatu yang tajam. "Apakah kamu akan menemui Aisha Bustami?"

Rahang Kevin menegang. "Itu bukan urusanmu."

Flora menghela napas pelan, seolah-olah dia sudah menduga jawaban itu. "Aku tidak menoleransi perselingkuhan," ucapnya dengan terus terang. "Jadi, sebelum perceraian ini selesai, sebaiknya kamu jangan berakhir tidur dengannya."

Kevin berbalik dan menjulang di atasnya.

Flora tidak mengedipkan mata. "Apa? Tidak dapat bertahan dua hari lagi?"

"Aku mengerti kepahitanmu," ucapnya dengan nada yang aneh, "tapi kata-kata ini tidak akan memengaruhiku. Ini perceraian, bukan perang."

Flora mengedipkan mata padanya. Untuk sesaat, dia kehilangan kata-kata. Pria ini benar-benar tidak tahu malu.

Kevin tidak menunggu jawaban. "Selamat malam." Dan dengan itu, dia berbalik dan pergi.

Pintu berbunyi klik dan tertutup di belakangnya.

Pandangan Flora beralih ke surat perjanjian perceraian yang masih tergeletak di atas meja. Dia berdiri di sana untuk waktu yang lama, tidak bergerak.

Mengatakan dia tidak merasakan apa-apa adalah suatu kebohongan. Dia tidak terbuat dari batu.

Saat dia menyadari bahwa dirinya tidak lebih dari sekadar pengganti, rasa sakit telah tertanam dalam di tulang-tulangnya.

Kevin adalah cinta pertamanya. Selama dua puluh empat tahun, tidak ada seorang pun yang berhasil menembus pertahanannya. Sebelum pengkhianatan, pria itu sudah sempurna—penuh perhatian, tenang, membungkam setiap keraguan dengan pengabdiannya yang tenang.

Jadi ketika dia mengetahui tentang Aisha, dia menawarkan untuk pergi. Untuk membebaskannya. Namun, pria itu menolak.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Kau, Dia, dan Bekas Pacarmu
8.3
Hubungan harmonis Maya dan Dito mendadak goyah setelah kehadiran Rian sebagai tetangga baru. Keakraban yang terjalin antara Maya dan Rian memicu kecurigaan besar pada diri Dito, hingga memicu pertengkaran hebat. Di tengah jeratan rasa bersalah dan benih cinta baru, Maya memilih menyudahi hubungannya dengan Dito demi bersatu dengan Rian. Sayangnya, keputusan ini berujung pada stigma negatif dari lingkungan sosial. Kini, mereka harus menanggung beban moral demi mempertahankan cinta penuh dilema ini.
Sampul Novel Hati Terjerat: Jatuh Cinta pada Istriku yang Jelek
8.5
Viona sengaja menyamar jadi perempuan berwajah buruk dan tidur dengan Daniel, paman tunangannya, demi membatalkan pernikahan dengan pria yang berselingkuh. Namun, setelah malam itu, Daniel yang sangat disegani justru enggan melepaskan Viona. Meski diterpa berbagai gosip miring tentang hubungan mereka, Daniel tetap menunjukkan kesetiaannya. Pria terpandang itu bahkan tak ragu berlutut untuk memakaikan sepatu Viona demi memperoleh kecupan manis dari sang istri.
Sampul Novel Mereka Menyesal Setelah Aku Menikah
8.2
Kirana mengira hari pernikahannya dengan Donny akan bahagia, namun ia justru dijebak dalam sandiwara kejam demi menghibur adik tirinya. Di hadapan para tamu, Donny membatalkan pernikahan dan mempermalukannya. Saat ditantang untuk menikahi salah satu tamu yang hadir, Kirana mengambil keputusan nekat. Ia benar-benar melangkah ke pelaminan bersama seorang pria di sana, membuat Donny dan orang-orang yang mempermainkannya seketika panik atas konsekuensi tindakan mereka.
Sampul Novel Pendekar Petualang Cinta
8.9
Anjasmara, putra selir dari Kerajaan Galuh yang rupawan, memulai pengembaraan sebagai pendekar untuk memenuhi perintah ibunya: mencari seorang wanita tangguh yang sulit ditaklukkan sebagai cinta sejati. Alih-alih demikian, ketampanannya malah memikat banyak gadis. Perjalanan asmaranya kian rumit saat ia terseret ke dalam pusaran konflik dunia persilatan yang mematikan sekaligus menguji kekuatannya. Akankah ia berhasil menemukan belahan jiwanya di tengah ancaman bahaya?
Sampul Novel PERAWAN RASA JANDA
9.0
Demi wasiat mendiang sang kakak, Mala rela merawat keponakan kembarnya, Ghana dan Ghara, hingga ia kerap dicap sebagai janda. Di tengah stigma negatif itu, takdir mempertemukannya dengan Gamal, atasan angkuh yang selalu memicu konflik dengannya. Keadaan kian rumit saat Jason, pria berdarah Jerman dari masa lalunya, kembali datang untuk merebut hatinya. Kini, Mala terjebak dalam pusaran dilema asmara antara sang bos dan teman lamanya, sembari menanggung beban salah paham sosial.
Sampul Novel Warna Warna Mirna
9.3
Mirna terbiasa hidup mandiri di dekat hutan karet bersama ibunya yang tidak stabil secara emosional. Ia sangat bertekad untuk menjauhi asmara dan pernikahan. Namun, hidupnya berubah saat bertemu Erlangga, murid berprestasi yang jatuh hati padanya. Hubungan mereka justru memicu drama penuh duka dan kejadian mistis. Setelah mengalami penolakan yang mempermalukan dirinya, sanggupkah Erlangga tetap bertahan? Ikuti kisah rumit mereka yang lebih dari sekadar romansa sekolah biasa.