APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dia Mengambil Rumah, Mobil, Dan Hatiku

Dia Mengambil Rumah, Mobil, Dan Hatiku

Saat cinta lama Kevin kembali, ia memilih menceraikan Flora. Bukannya menangis, Flora justru menuntut vila, mobil mewah, serta setengah dari total harta mereka. Kevin terkejut dan baru menyadari bahwa sang istri adalah sosok genius yang selama ini mengatur kesuksesan finansialnya. Sadar telah kehilangan pilar penting dalam hidup dan bisnisnya, kini Kevin harus berjuang keras demi mendapatkan kembali hati Flora yang telah ia lepaskan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Alasan di balik penolakan Kevin sederhana. Sebelum Aisha kembali, dia membutuhkan seseorang untuk mengurus orang tua di rumah—dan Flora, yang disayangi oleh orang tua dan kakeknya, adalah pilihan yang jelas.

Namun terkadang, Flora tidak dapat menahan diri untuk bertanya—apakah Kevin benar-benar mengira dirinya bodoh? Kalau tidak, kenapa pria itu berasumsi dia akan ikut campur dalam menyembunyikan perselingkuhannya?

Sekarang, dengan tuntutannya yang tiba-tiba untuk bercerai, rasa jengkel mulai muncul dalam dirinya.

Bahkan setelah enam bulan menguatkan diri, secercah emosi yang membandel tetap ada.

Dia menghela napas pelan, berjalan menuju sofa, dan meraih ponselnya.

Dia mengetuk kontak yang berlabel "Ferdi"—yang tidak tersentuh selama dua tahun—dan mengetik, "Periksa apakah Grup Suhada menghadapi masalah apa pun. Dan cari tahu apakah Kevin sakit parah."

Balasan Ferdi langsung muncul di layar.

"Astaga, Kak Flora?!"

"Tidak pernah menyangka akan mendengar kabarmu lagi!"

"Dua tahun, Kak Flora. DUA TAHUN."

"Ke mana saja kamu?!"

Flora tidak repot-repot menjelaskan.

Dalam suasana hati yang buruk, dia membalas dengan satu kata, "Selidiki."

Ferdi langsung menyerah. "Oke!"

Flora melempar ponselnya ke samping dan menunggu.

Jika Kevin menceraikannya untuk menyelamatkannya dari tragedi, dia akan memaafkannya—bahkan mungkin membantu. Namun, bagaimana jika pria itu hanyalah seseorang yang tidak setia? Dia akan meninggalkannya tanpa berpikir dua kali.

Tiga puluh menit kemudian, ponselnya bergetar karena ada pesan masuk dari Ferdi. "Tidak ada masalah. Tidak ada penyakit, tidak ada krisis. Kenapa kamu bertanya? Kevin penuh uang, tampan, dan tajam—kalian berdua cocok sekali. Apakah kamu tidak menyukai pria tampan? Cobalah!"

Flora mengabaikan kata-kata itu dan membalas, "Kamu sangat buta."

Lalu dia keluar dari aplikasi obrolan.

Tidak ada faktor eksternal yang berarti hanya satu hal—Kevin adalah sampah murni.

Ferdi menatap layarnya, bingung. Apakah Flora bangun tidur dalam suasana hati yang buruk hari ini?

Pandangan Flora tertuju pada surat perjanjian perceraian. Setelah terdiam sejenak, dia mengambil pulpen, menuliskan namanya, lalu memasukkannya ke dalam laci. Lalu dia menuju kamar mandi.

Ketika dia selesai mandi dan keluar, dia menyadari ponselnya memiliki puluhan pesan belum terbaca dan 32 panggilan tak terjawab.

Tidak perlu menebak-nebak. Ferdian Pratama—alias Ferdi—jelas-jelas telah membocorkan tentang dia menghubunginya ke seluruh dunia.

Dengan handuk menutupi rambutnya yang basah, dia meraih ponselnya—hanya untuk berdering lagi.

ID penelepon menyala, itu ayahnya.

Dadanya terasa sesak. Dua tahun diam, dan sekarang ayahnya itu menelepon?

Dia meninggalkan Kota Aleri karena suatu situasi yang melibatkan ibunya, dan dia tidak pernah menghubungi ayahnya maupun menghubunginya—sampai sekarang.

Setelah terdiam sejenak, dia menjawab dengan tenang. "Halo."

Kesunyian.

Flora tidak pernah sabar. Ketika dia hendak menutup telepon, suara serak Hugo Blasius terdengar. "Mira."

Nama itu mencakar kenangan yang terkubur.

"Apa yang kamu inginkan?" tanya Flora dengan nada datar.

Hugo ragu-ragu, rasa bersalah menyelimuti kata-katanya. "Ferdian bilang kamu menghubunginya. Katanya kamu sedang menyelidiki tentang Kevin. Butuh bantuan?"

"Tidak." Flora tidak tertarik dengan keterlibatannya.

Beberapa saat berlalu sebelum Hugo bertanya, "Apa hubunganmu dengan dia?"

"Sepasang suami istri." Dia membiarkan kata itu menggantung, lalu melanjutkan, "yang akan segera bercerai."

Napas Hugo tercekat.

Bercerai? Mira? Sepasang suami istri?

"Kamu ...," mulai Hugo.

"Jika tidak ada hal lain, aku akan menutup telepon." Flora tidak ingin membuang napas lagi padanya.

"Tunggu!" selanya dengan cepat.

Flora menahan lidahnya.

Sambungan telepon itu berderak karena ketegangan.

Akhirnya Hugo bergumam, "Kapan kamu kembali? Wanita itu sudah pergi."

Lalu, buru-buru dia menambahkan, "Barang-barang milik ibumu tidak tersentuh."

Jemari Flora mencengkeram ponsel dengan erat. Sesaat, emosi melintas di wajahnya—lalu lenyap. "Aku mengerti."

Dia menutup telepon sebelum Hugo bisa protes.

Hugo menatap sambungan telepon yang terputus, rasa jengkel menggumpal di dadanya. Dia bahkan belum sempat bertanya tentang pernikahannya.

Flora tidak memikirkannya lagi. Dia mengalihkan ponselnya ke mode pesawat, mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur.

Malam berlalu tanpa mimpi.

Keesokan harinya, pukul delapan pagi, dia sudah bangun—berpakaian dan sarapan.

Hari ini, dia merias wajahnya. Kulitnya bercahaya, bibirnya, penuh alami, tidak memerlukan tambahan apa pun. Namun, matanya yang tajam dan bersinar adalah senjata sesungguhnya.

Senyumnya cerah, menghadirkan kehangatan yang dapat langsung mengangkat semangat siapa pun.

Saat Kevin tiba, dia sudah menunggu di sofa. Rambut Flora yang panjang sebahu dijepit ke belakang, poni disisir ke atas di balik topi baret hitam.

Saat melihatnya, dia bangkit dengan anggun, meraih mantel dan menyampirkannya di bahunya.

"Ayo pergi." Dia meraih tasnya, suaranya tenang dan tidak terganggu.

Kevin tidak bergerak. Jasnya yang pas menonjolkan tinggi badannya. Dia berkata, "Tidak hari ini."

Flora terdiam.

"Aku punya urusan lain yang harus diurus." Suaranya cuek. Pandangannya terpaku—terlalu lama—pada wajahnya. "Besok."

"Kevin Suhada." Nada bicara Flora berupa peringatan.

Dia langsung tidak menyukainya.

"Hari ini aku pakai riasan," ucapnya, suaranya terdengar tenang tetapi mengandung nada tajam yang tidak bisa dipungkiri. "Jika kamu ingin perceraian kita berjalan lancar pada hari Senin, kesampingkan dulu rencana apa pun yang kamu miliki. Aku tidak berurusan dengan orang yang mengingkari janji."

Mata Kevin menyipit.

Setelah perhitungan diam-diam, dia melangkah keluar untuk menelepon. Pecahan-pecahan memori melayang kembali—Aisha … rumah sakit … tindak lanjut.

Genggaman Flora pada tasnya menjadi erat. Di dalam, dia mendidih. Bahkan sekarang, Aisha memenuhi pikiran pria itu sepenuhnya.

Kevin tidak menyadari amarah Flora. Yang dia lihat hanyalah betapa wanita itu bersinar hari ini—gemilang, liar. Tidak seperti wanita pendiam yang dikenalnya.

Setelah menutup panggilan telepon, dia bertanya di mana Flora ingin berbelanja. Wanita itu menyebutkan mal mewah terbesar di kota.

Ini bukan berbelanja. Ini adalah pesta belanja. Pada pukul sepuluh pagi, empat pengawal membuntutinya seperti keledai—dengan tangan penuh jam tangan, perhiasan, dan tas desainer.

Ponsel Kevin terus-menerus berbunyi karena ada pemberitahuan.

Saat Flora melangkah memasuki butik perhiasan lainnya, rahang Kevin menegang. Ini bukan terapi berbelanja, wanita itu sengaja mencoba membuatnya kesal.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Calon tunanganku yang direbut adik angkatku
9.8
Setelah mendapatkan kesempatan hidup kedua, sang protagonis menolak menjadi korban penindasan adik angkatnya, Maudy. Saat Maudy mencoba merebut Felix dan mengacaukan sesi foto pernikahan mereka dengan membawa-bawa nama Grup Setiawan, ia tidak lagi melarikan diri sambil menangis seperti di masa lalu. Dengan keberanian baru, ia menampar Maudy dan mempertanyakan kelayakannya dalam mewakili nama besar keluarga. Ini adalah kisah pembalasan dendam dan perebutan kembali hak yang sempat terampas.
Sampul Novel CEO Iblis Azhar
9.3
Citra didera pergolakan batin yang hebat. Di satu sisi, ia membenci kekejaman Azhar, namun di sisi lain, ketakutan kehilangan pria itu merayap saat rasa cinta mulai bersemi. Azhar sendiri awalnya hanya berniat memperbudak Citra demi memuaskan hasratnya. Namun lambat laun, naluri untuk melindungi wanita itu justru menguasai dirinya. Hubungan yang sarat akan luka ini pun berkembang menjadi ikatan rumit, membuktikan hadirnya rasa yang tepat di waktu yang salah.
Sampul Novel CEO Tampan dan Gadis Desa
9.2
Demi Angel, putri kecilnya, duda kaya bernama Alaric Athafariz rela menutup rapat pintu hatinya sejak kepergian sang istri. Namun, dinginnya sikap sang CEO perlahan mencair setelah ia bertemu dengan Ashila, gadis desa yang membawa keceriaan baru. Tanpa diduga, takdir menyimpan rahasia besar yang menghubungkan masa lalu Alaric dengan sosok Ashila. Akankah jalinan takdir dan rahasia tersebut menuntun mereka pada kisah cinta yang tak terduga?
Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Demi menyelamatkan nyawa Kartika, ibunya yang butuh biaya medis besar dan donor organ langka, Alya terpaksa mengambil keputusan nekat. Ia menerima tawaran Niko, seorang miliarder yang sangat mendambakan anak, untuk menjadi ibu pengganti. Meski awalnya didasari keputusasaan, kedekatan mereka justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga. Hubungan ini pun diuji saat sebuah rahasia besar terkuak, memaksa keduanya memaknai ulang arti cinta serta keluarga.
Sampul Novel Hasrat Istri Ketiga
8.6
Masa depan Kiara hancur setelah lulus sekolah karena terpaksa menjadi istri ketiga bagi CEO bernama Andra. Meski awalnya hanya mendambakan keturunan, kini Andra menuntut pengabdian penuh dari Kiara. Di tengah gairah yang menyiksa, posisi Mimi sebagai istri pertama merasa terancam. Mimi pun berupaya memisahkan mereka dengan memanfaatkan teman masa lalu Kiara untuk menghasutnya, tepat ketika Andra mengabaikan kebutuhan batin sang istri. Akankah cinta mereka mampu bertahan?
Sampul Novel Makasih Patah Hati
9.5
Empat tahun menjomblo membuat Amelia, gadis 25 tahun, terbiasa sendiri demi menghindari lelaki yang tak serius. Namun, benteng pertahanannya goyah saat bertemu Fred. Pemuda 27 tahun yang menjabat sebagai CEO kaya raya dan berpengaruh ini menaruh minat besar padanya. Tanpa diduga, Fred langsung datang membawa lamaran pernikahan yang mengejutkan. Kini, Amelia dihadapkan pada persimpangan jalan untuk menentukan arah masa depannya.