
Di Balik Penyakit, Ada Cinta yang Mekar
Bab 2
Dia menunduk menatapku. Cahaya lampu menyapu wajahnya dan membentuk aurora samar yang membuatnya tampak lebih menawan.
Hidungnya mancung dengan sedikit lekukan di bagian tengah.
Bibirnya merah dan matanya tampak memesona.
Jujur, aku terpana pada tampilan Javier saat pertama kali melihatnya.
Di antara sekumpulan pria yang tampak biasa, Javier sangat menonjol.
Wajahnya ganteng, badannya tinggi, dan sangat unggul hingga tampak seperti pria yang berbeda dengan pria lainnya.
Aku menganggukkan kepalaku.
Javier bersenandung, lalu menundukkan kepalanya dan mencium dahiku dengan lembut.
Mataku membelalak, jantungku seakan-akan lambat berdetak.
Begitu dekat, aku mencium aroma jeruk yang samar dari tubuhnya.
Dia mencium pipiku dengan lembut, sementara satu tangannya membuka resleting gaunku.
Pinggangku mendingin dan aku pun menggeliat.
Dia sepertinya sadar akan kegelisahanku, lalu berbisik padaku untuk menenangkanku.
“Jangan takut, aku akan pelan-pelan.”
Suaranya lembut dan membuat orang merasa sangat bisa diandalkan.
Aku pelan-pelan jadi rileks dalam bisikannya.
Dasi di kerah dan resleting di gaun sudah terbuka.
Gaun yang melonggar di tubuhku memberi lebih banyak ruang untuk dieksplorasi.
Tangan yang kering dan hangat menyelinap masuk dan melingkari pinggangku.
Bukan gerakan sembarangan, hanya tangan yang mengelus pinggangku.
Bibirku dihisap, lidahnya menerobos gigiku dan menarik lidahku untuk menari bersamanya.
Pengalamanku terhadap hubungan seksual sangatlah minim.
Ciuman Javier saat ini sangatlah lembut.
Seketika aku merasa seolah-olah aku berpacaran dengannya.
Dibanding dengan Alex yang kasar dan langsung pada malam itu, Javier memperlakukanku bagaikan pusaka yang berharga.
Dia sangat lembut dan menempatkan perasaanku di urutan pertama.
Saat ciuman mendalam, dia sesekali akan berhenti dan bertanya, “Nyaman nggak?”
“Gini boleh?”
Aku mana bisa tahan dengan godaannya ini.
Mataku sudah kabut, menyerah pada setiap permintaannya.
Setelah aku goyah akan ciumannya, Javier baru bangun dan melepaskanku.
Gaunku dilepaskannya.
Aku menatapnya dengan samar-samar, tapi dia malah tampak tenang saja.
Cara dia memandangku sama saja dengan pasien lainnya.
Entah mengapa aku merasa frustrasi dan sedih.
Sepertinya hanya aku yang terjebak dalam hal ini.
Bagi Javier, aku tidak lebih dari seorang pasien biasa.
Aku menggigit bibirku dan tidak berhenti berkhayal.
Alangkah baiknya kalau dia juga bisa semabuk aku.
Matanya yang memikat itu pasti sangat cantik saat dipenuhi nafsu karenaku.
Memikirkan ini, aku mulai menilai diriku dalam hatiku.
Tampakku agak polos, tapi juga cantik. Lagi pula, banyak pria yang mengejarku sejak kecil.
Tubuhku juga terbentuk baik, montok di tempat yang semestinya dan ramping di tempat yang seharusnya.
Hanya sana …
Kata “kelainan” terus muncul di benakku.
Aku tidak pernah melihat bagian intim wanita lain.
Apakah bagian bawah aku … lebih jelek dari wanita lain?
Memikirkan kemungkinan ini, aku melihat ke bawah dan merasa rendah diri.
“Pemeriksaan selanjutnya …”
Merasakan emosiku, Javier merendahkan suaranya.
Dia mencubit dahiku dan bertanya dengan lembut, “Kenapa? Kok bete?”
Aku ragu sejenak, tapi tetap menceritakan apa yang kurasakan.
“Dokter Javier, apa bagian bawah aku … sangat jelek?”
Javier mengerutkan alis matanya.
Jantungku mengkerut, aku kira kenyataannya memang begitu.
Pada detik berikutnya, Javier berkata dengan yakin, “Nggak, Siska. Aku nggak pernah lihat ada yang lebih cantik darimu.”
Begitu selesai berbicara, Javier menundukkan badannya.
Dia setengah berlutut di ujung ranjang dan melepaskan tumit tinggiku.
Salah satu tangannya memegang pergelangan kakiku. Lalu dia menundukkan kepalanya dan mencium kakiku dengan hati-hati.
Jantungku sedikit berdebar. Aku akhirnya melihat perubahan emosi di matanya.
Emosinya bukan nafsu yang kumau.
Dari pada nafsu, tatapannya lebih dalam dan mengejutkan.
Tatapannya saat ini sangat hormat dan tulus.
Aku mendengar dia berkata, “Siska, jangan remehkan pesonamu.”
Pada saat yang sama, kedua tangannya memegang betisku dan pelan-pelan meregangkannya.
Bagian paling intimku terbuka sepenuhnya.
Javier menundukkan pandangannya, nafasnya tertahan sesaat dan matanya tampak terpikat.
Saat dia membungkuk, jari tangannya pun masuk ke dalam …
Perasaan kali ini sama sekali berbeda dengan malam bersama Alex.
Aku sangat rileks.
Di bawah kelembutan Javier, sudah cukup banyak nafsu di badanku.
Alih-alih merasa jijik, justru sangat mendambakan rangsangannya.
Maka itu, aku berhasil menerima jari tangannya.
Javier menciumku lagi. Perkataannya penuh belas kasih.
“Pelan-pelan. Kalau nggak tahan, beri tahu aku. Jangan ditahan.”
Aku terengah-engah pelan, “Hmm … Nggak sakit, aku bisa.”
“Anak baik.”
Dia menyedot telingaku, suaranya menggelitik telingaku.
“Kalau gitu, aku lanjut lagi.”
Anda Mungkin Juga Suka





