APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dendam Mengubur Cinta

Dendam Mengubur Cinta

Setelah tujuh tahun bersama, aku meninggalkan Deon saat dia dipenjara demi bersama sahabatnya. Begitu bebas dan sukses kembali, Deon memaksaku menikah sebagai bentuk balas dendam. Di balik citra pernikahan yang harmonis, dia menyiksa batin dengan membawa wanita lain—termasuk adik kandungku—ke ranjang kami. Deon tidak pernah tahu bahwa demi membersihkan namanya, aku rela menyusup ke sarang mafia hingga kehilangan ginjal dan setengah hatiku. Kini, waktuku untuk bertahan hidup hampir habis.
Bab
Bagikan

Bab 7

Pernikahan Deon dan Naomi akhirnya tiba, disambut dengan penuh antusiasme oleh semua orang.

Mungkin ini memang sudah menjadi takdir. Hari bahagia mereka bertepatan dengan hari yang telah ditentukan Griselle sebagai akhir hidupnya.

Pagi itu, sejak fajar menyingsing, Deon dan Naomi telah berseri-seri. Mereka berjalan menuju gereja diiringi kerumunan tamu yang memberi ucapan selamat dan doa bahagia.

Sebelum pergi, Deon sempat menoleh ke arah Griselle dengan ekspresi rumit di wajahnya. Suaranya dingin saat berkata, "Hari ini adalah hari bahagia aku dan Naomi. Nggak ada yang mau kamu sampaikan?"

Griselle menatap wajah pria itu yang kini tampak kabur akibat penglihatannya yang terus memburuk. Dia berkata dengan datar, "Aku harap kalian panjang umur dan hidup bahagia selamanya."

Satu adalah pria yang pernah dia cintai sepenuh hati, satu lagi adalah adik kandungnya. Doa itu diucapkannya dengan tulus.

Namun di telinga Deon, ucapan itu justru terdengar begitu menyakitkan. Dia mendengus dingin. "Munafik!"

Setelah itu, dia pun pergi dari vila tanpa menoleh lagi. Kini, hanya Griselle seorang diri yang tersisa di dalam vila. Tepat seperti yang dia harapkan. Dengan begini, dia bisa menyelesaikan semua urusannya, lalu mengakhiri hidupnya dengan tenang.

Griselle menyalakan perapian di ruang tengah, lalu melemparkan semua barang pribadi miliknya ke dalam api dan membiarkannya musnah tanpa jejak. Dia juga mencatat semua aset yang dia miliki, lalu menandatangani beberapa cek besar dan menyumbangkannya ke berbagai lembaga sosial.

Setelah semuanya selesai, Griselle duduk di kursi rodanya, bergerak menuju pintu depan dan memesan taksi. Dia meminta sang sopir membawanya ke rumah sakit tempat program euthanasia akan dilaksanakan.

Wajahnya begitu tenang. Tak seorang pun yang akan menyangka bahwa perjalanan ini adalah perjalanannya yang terakhir.

Sementara itu, pernikahan Deon dan Naomi disiarkan secara langsung melalui siaran langsung. Sesaat sebelum tindakan dilakukan, Griselle tak kuasa menahan diri untuk membuka siaran itu.

Di dalam gereja, kerabat dan sahabat Deon berkumpul dengan penuh tawa dan kebahagiaan. Di hadapan pastor, Deon dan Naomi saling bertukar cincin dan berciuman dengan penuh kasih.

Andai dulu tidak terjadi semua musibah itu, mungkin yang berdiri di sana adalah Griselle dan Deon yang melangsungkan pernikahan mereka dengan penuh kebahagiaan dan membangun keluarga yang penuh tawa anak dan cucu.

Masa depan yang tak bisa dia berikan, biarlah Naomi yang menyelesaikannya untuknya.

"Dokter, aku sudah siap." Griselle mematikan siaran langsung di ponselnya, lalu berbaring di atas ranjang di ruang tindakan.

Tubuhnya terasa nyeri di setiap sudut dan suaranya terdengar lirih. Namun, dokter yang akan menjalankan prosedur euthanasia menggelengkan kepala. "Maaf, Bu Griselle. Kami belum bisa memulai sekarang."

"Sesuai peraturan, untuk donasi tubuh, kami harus mendapatkan persetujuan keluarga dengan tanda tangan langsung."

Griselle mengerutkan alis lemah. "Tapi, bukankah tubuhku ini seharusnya bisa aku putuskan sendiri?"

Dokter itu tampak canggung. "Kami paham, tapi ini adalah prosedur hukum yang wajib kami ikuti. Kami tidak bisa melanggarnya."

Awalnya, mereka tidak pernah menyangka akan ada pasien yang datang menjalani prosedur ini seorang diri, tanpa satu pun keluarga yang mendampingi.

"Kalau begitu, hubungi kontak nomor dua di daftar kontakku. Dia adik kandungku, Naomi."

Perawat muda yang bertugas langsung mengangguk, lalu mengetik nomor di ponsel Griselle dengan cekatan. Namun tanpa sadar, dia malah menekan kontak nomor satu.

"Tunggu ...." Griselle belum sempat menyelesaikan ucapannya, telepon sudah tersambung. Dia menoleh pada perawat itu. Bibirnya sedikit terkatup rapat, tetapi di matanya tampak kilatan perasaan tak rela yang bahkan tak disadari dirinya sendiri.

Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bisa mendengar suara itu sekali lagi.

Di saat bersamaan, di tengah sorakan para tamu undangan, Deon dan Naomi tengah menuangkan sampanye ke menara gelas kristal. Cairan berkilau itu mengalir perlahan, tetapi hati Deon justru terasa gelisah. Sejak pagi, Griselle belum juga menghubunginya.

Saat itulah, ponselnya berdering.

Seakan kegelisahan dalam dadanya menghilang begitu saja, Deon menatap layar ponselnya dengan perasaan yang tiba-tiba menjadi lapang. Deon mengangkat sudut bibirnya sedikit, lalu menjawab panggilan itu. "Siapa ini?"

"Selamat siang, kami dari rumah sakit. Bu Griselle saat ini sedang menjalani prosedur dalam program euthanasia. Kami membutuhkan tanda tangan dari keluarga langsung untuk persetujuan donasi tubuh. Apakah Anda bisa datang sekarang?"

Program euthanasia?

Alis Deon langsung mengerut tajam.

Griselle selalu sangat menjaga kesehatannya. Saat mereka masih bersama, dia sering membicarakan soal pola hidup sehat, bahkan bertekad ingin hidup panjang umur. Katanya, hidup itu harus dijalani sebaik mungkin agar tidak sia-sia datang ke dunia.

Orang seperti itu ... bagaimana mungkin memilih mati secara sukarela?

Mungkin karena hari ini adalah hari pernikahannya dengan Naomi, Griselle akhirnya tidak sanggup menahannya lagi.

Deon sempat merasa lega, tetapi bibirnya menyunggingkan senyum dingin. "Kalau dia benar-benar ingin mati, kenapa aku harus menolak? Silakan tandatangani."

Di sampingnya, Naomi turut mengambil alih ponsel. "Kak Griselle ingin menandatangani dokumen apa ya? Aku adik kandungnya, aku setuju juga! Cepat tandatangani!"

Saat Deon lengah, Naomi segera memutus panggilan dan langsung mematikan ponsel.

Ketika perawat mencoba menghubungi lagi kedua kontak tersebut, yang menjawabnya adalah suara mesin, "Nomor yang Anda tuju tidak aktif."

Perawat pun akhirnya mengirim beberapa pesan teks, tetapi tetap tidak ada balasan.

Sementara itu, Griselle yang terbaring di ranjang mendengar seluruh percakapan mereka. Sorot terakhir di matanya pun perlahan padam. Dia lalu mengeluarkan selembar dokumen dari tas kecil di sisinya. Itu adalah surat perceraian yang telah ditandatangani olehnya dan Deon.

Griselle menemukannya di ruang kerja Deon. Mungkin pria itu berniat menyerahkannya usai pernikahan.

"Kami ... sudah resmi bercerai."

"Jadi ... untuk persetujuan donasi ini, tanda tangan mereka nggak lagi dibutuhkan, bukan?"

Dokter pelaksana mengangguk pelan. "Ya. Prosedur euthanasia bisa dilakukan sekarang."

Cairan dingin pun mulai masuk ke dalam tubuhnya dan kesadarannya perlahan-lahan memudar. Berbagai kenangan berkelebat di dalam benaknya.

Malam-malam ketika dia dan Deon tidur saling berpelukan, menyambut sinar matahari pagi bersama. Setiap perayaan ulang tahun dan hari jadi, di mana Deon menyiapkan kejutan dengan sepenuh hati.

Malam musim panas yang tenang, ketika mereka berdua berbaring di pasir pantai sambil menghitung bintang dan membayangkan masa depan mereka bersama.

Griselle memejamkan mata perlahan. Setetes air mata jatuh dari sudut matanya.

'Deon, mulai sekarang ... kita tidak akan pernah bertemu lagi. Semoga umurmu panjang dan hidupmu bahagia.'

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Cari "B14735" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B14735
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Pengganti, Aku Istri Sahmu!
9.4
Pernikahan Sarah hancur saat Andi kabur di hari bahagia mereka. Demi menjaga nama baik keluarga, Bayu, kakak Andi, terpaksa menikahi Sarah. Namun, Sarah justru menghadapi penderitaan baru karena sikap Bayu yang sangat dingin. Di balik kebencian suaminya, ada rahasia besar tentang hilangnya Andi yang belum terungkap. Kini, Sarah terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh misteri gelap.
Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta
9.4
Erhan, miliarder ramah namun ceroboh dalam asmara, kerap memicu pertikaian keluarga karena gemar merayu kekasih para sepupunya. Namun, hidupnya berubah saat ia jatuh cinta pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan. Kini, sang bujangan kaya harus berjuang keras membuktikan ketulusan hatinya. Sanggupkah Erhan meyakinkan wanita tersebut bahwa ia telah sepenuhnya menjadi budak cinta sejatinya?
Sampul Novel Ibu Susu Bayi Presdir
8.2
Kehidupan Liana berubah total setelah malam misterius lima tahun lalu. Kini, ia terkejut saat menyadari bahwa bos barunya, CEO Ethan Alvaro, merupakan ayah kandung dari putranya, Noel. Meski Ethan tidak mengingat dirinya, rahasia masa lalu perlahan mulai terungkap dan memicu kecurigaan. Liana berupaya menjauh demi melindungi sang anak, tetapi Ethan justru terus mendekat. Akankah kebenaran ini membuat Ethan merebut Noel, atau ia justru menerima Liana kembali?
Sampul Novel Pelarian Manis Istri Pengganti
7.8
Demi menyelamatkan label musik keluarga, Cantika rela menyamar sebagai Aulia dan menjadi istri pengganti Kenan Adiwangsa selama tiga tahun. Namun, ia hanya mendapatkan sikap dingin dari Kenan serta ancaman bahaya dari kelicikan Elara. Begitu Aulia kembali, sang ibu justru mengusir Cantika dengan kejam. Cantika akhirnya memilih pergi dari lingkaran penderitaan tersebut demi menyembuhkan lukanya. Di lembaran baru, ia berhasil menemukan kebahagiaan dan cinta sejati dari pria yang tulus menghargainya.
Sampul Novel Penipuan Bayi Miliaran Suamiku
9.2
Lima belas tahun aku merelakan mimpi menjadi ibu demi cinta dan kutukan keluarga suamiku. Namun, demi melahirkan pewaris bisnis sesuai tuntutan kakeknya, dia menyewa ibu pengganti yang mirip denganku. Janji bahwa ini hanyalah prosedur medis biasa hancur saat dia mulai tidur dengannya dan mengabaikanku. Pernikahan kami pun runtuh ketika dia melupakan momen penting kami demi perempuan asing itu.
Sampul Novel Rintik Hujan Yang Menggugurkan Cinta
8.0
Rumah tangga yang dibina sekian lama hancur seketika saat sang suami, Benson, diam-diam mendonorkan sperma kepada janda mendiang sahabatnya. Bukannya merasa bersalah, Benson justru memarahi istrinya dengan dalih rasa kemanusiaan dan setia kawan. Pengkhianatan ini kian nyata ketika sang janda memamerkan penthouse mewah baru lengkap dengan foto Benson yang sedang memasak di dapur mereka. Sadar bahwa pengorbanan dan toleransinya telah dieksploitasi habis-habisan, sang istri akhirnya membulatkan tekad untuk mengakhiri pernikahan beracun ini.