APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dear Clarissa

Dear Clarissa

Dua tahun Clarissa bertahan di kerasnya dunia malam Jakarta demi menjaga dirinya. Namun, ketenangannya terusik oleh Arga, pelanggan tetap yang sangat terobsesi padanya. Meski Clarissa benci pria dan terus menghindar, kuasa Arga membuatnya tak berkutik. Di sisi lain, perjuangan Arga meluluhkan Clarissa terhalang penolakan keras saudaranya yang memicu konflik besar. Akankah Clarissa akhirnya takluk pada pria yang kini terus membayangi hidupnya itu?
Bab
Bagikan

Bab 2

Clarissa membalikkan tubuhnya secara tiba tiba hingga membuat keduanya beradu tatap. "I'm Clarissa. Don't call me Baby or Honey." Lalu kembali berbalik badan dan berjalan ke depan.

Tas yang Clarissa bawa dia letakkan di atas meja bundar yang cukup besar yang terisi dua botol red wine dan dua gelas kaca berkaki di sana. Clarissa duduk di atas sofa tunggal yang sebelumnya di tempati oleh pelanggannya yang belum dia ketahui namanya itu.

Sebelah kakinya terangkat untuk ia letakkan di atas paha, menampilkan jenjang paha mulus nan putih bersih yang mampu menggoda iman siapa pun. Rambutnya yang tergerai kedepan, dia rapikan ke belakang membuat seluruh pundaknya terekspos jelas tanpa sehelai benang pun yang mengganggu.

"Ingin minum terlebih dahulu, Tuan muda?" katanya tersenyum tipis. Setipis sehelai tisu.

Laki laki berparas tampan nan rupawan itu memiringkan wajah sambil bersedekap di dada. Sudut alisnya terangkat melihat ekspresi wajah Clarissa yang sulit ditebak. Tidak seperti perempuan perempuan 'panggilan' lainnya yang dengan malu malu akan segera naik ke atas tubuhnya. 'Kenapa dia terlihat begitu tenang? Padahal, sebelumnya dia sangat ketakutan. Apa dia memang sudah menggeluti dunia malam dengan sangat baik?' batin laki laki itu.

Sementara, di ujung sana, Clarissa sedang sibuk menuangkan red wine ke dalam dua gelas itu secara bergantian.

"Apa ini bagian dari permintaan maafmu karena terlambat?" tanya laki laki itu, melangkah mendekati Clarissa.

Clarissa berdiri, tangannya sudah berada di dada sang pelanggan, perlahan bergerak naik dan merapikan ujung bathrobe yang dikenakan laki laki itu, dan matanya tetap tertuju pada netra pekat dihadapannya.

Seakan tak sanggup lagi untuk menahan hasrat didalam dirinya. Laki laki itu langsung menangkup wajah Clarissa dan menciuminya dengan lahap.

Clarisaa nyaris terjatuh jika saja tidak ada sofa di belakangnya yang menjadi sandaran untuknya.

'Berhasil. Akhirnya terpancing juga,' batin Clarissa menyeringai. Terjatuh ke atas sofa memang bagian dari rencananya, meski pun berciuman tidak masuk dalam misinya, tapi Clarissa tetap melakukannya dengan terpaksa demi mencapai tujuan utamanya.

Laki laki itu terlalu sibuk menikmati cumbuannya pada Clarissa, sampai dia tidak mengetahui pergerakan tangan Clarissa yang sedang memasukkan sesuatu ke dalam gelas kaca yang terletak di sampingnya.

Tangan Clarissa langsung mendorong dada laki laki itu hingga tautan kedua bibir mereka terlepas. "Slow down." Menyeka bibir bawahnya yang terasa membengkak. "Masih ada beberapa jam untuk menikmatinya," sambungnya.

Tangan Clarissa beralih mengambil dua gelas yang telah terisi cairan red wine di dalamnya. Lalu memberinya pada laki laki itu.

"Aku suka caramu merayuku," kata laki laki yang di panggil dengan sebutan tuan muda itu, sambil menerima gelas berisi red wine didalamnya.

Keduanya saling bersulang. Tanpa ragu si tuan muda meneguk hingga tandas red wine yang memiliki kadar alkohol cukup tinggi itu.

Sementara Clarissa, diam diam dia memperhatikan wajah pelanggannya yang mulai memerah akibat rasa panas yang menjalar di tubuhnya.

"Cantik," kata laki laki itu mendekatkan wajahnya pada pundak Clarissa. "Apa malam itu jembatan untuk kamu menjadi seperti ini, heum?" Lalu mengecup basah pundak Clarissa. Suaranya sudah terdengar parau akibat kesadaran yang sebentar lagi akan menghilang.

Clarissa terkejut, dia menerka nerka maksud ucapan pelanggan tampannya itu. "Siapa kamu? Malam apa yang kamu maksud?" tanyanya berusaha tenang. Meski pun sebenarnya Clarissa mulai khawatir jika laki laki tersebut adalah mantan pelanggannya yang mulai mencurigai cara kerja dirinya dalam melayani laki laki hidung belang.

Laki laki itu terkekeh pelan, kepalanya menyandar di pundak mulus Clarissa. Sesekali dia mencium leher jenjang Clarissa. "Sudah ku duga, kamu sudah lupa dengan kejadian itu."

Clarissa menoleh ke samping, mendapati laki laki itu yang mulai terpejam dan tubuh yang lunglai. Sebelum dia benar benar tidak sadar, Clarissa ingin memastikan siapa sebenarnya pelanggannya ini.

"Sebutkan namamu, Tuan muda," bisiknya di telinga sang pelanggan dengan suara yang dibuat mendesah, untuk memancing laki laki itu.

"Tidur denganku, sekarang, Honey," katanya seraya menarik tangan Clarissa.

"Katakan dulu namamu. Aku tidak suka berhubungan dengan laki laki yang namanya sendiri tidak aku tahu."

"Arga," katanya dengan tubuh yang nyaris terjatuh di lantai karena reaksi obat tidur yang Clarissa masukkan kedalam gelas red wine milik laki laki itu.

Sambil menahan tubuh laki laki yang bernama Arga itu, Clarissa mencari kembali ingatannya yang tersimpan dalam memori kepalanya.

"Kejadian malam itu?" gumannya dengan bola mata yang memutar. "Arga? Siapa dia sebenarnya?" sambungnya bertanya pada diri sendiri.

Setelah beberapa detik tak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya sendiri, Clarissa segera membawa tubuh Arga mendekat ke atas kasur dengan sedikit menyeret paksa.

"Argh... Berat sekali. Kenapa harus ambruk sebelum sampai ranjang segala. Menambah pekerjaanku saja," gerutunya sambil melepaskan kasar tubuh Arga ke atas ranjang.

Dengan hati hati, Clarissa merapikan tubuh Arga di atas kasur. Melepaskan sepatu yang masih terpasang utuh di kedua telapak kakinya. Di sinilah Clarissa akan melancarkan aksinya. Mulai dari dasi, kemeja hingga celana yang dikenakan Arga, dia tanggalkan semuanya. Menyisakan celana dalam saja. Lalu, Clarissa mengacak acak alas kasur persis seperti habis melakukan kegiatan panas di atasnya.

Clarissa menghentikan pergerakan tangannya ketika matanya tak sengaja melihat jelas wajah Arga dalam jarak yang sangat dekat. Sekali lagi, dia mencoba untuk mengingat kembali sosok Arga yang sepertinya pernah bertemu dengannya.

"Ah, terserah. Aku tidak akan peduli. Siapa pun kamu, yang pasti kita tidak pernah memiliki hubungan apa pun."

Ya, beginilah cara Clarissa dalam menggeluti pekerjaannya yang kotor. Meski pun menjadi 'kupu kupu malam' kelas atas. Nyatanya, selama enam bulan terakhir Clarissa tidak sekali pun berhubungan badan dengan para pelanggannya. Dia terpaksa melakukan ini semua hanya untuk meraup pundi pundi rupiah dan menjatuhkan Eliza, mantan sahabatnya yang telah menjualnya pada pria tua bajingan yang merenggut keperawanannya secara brutal enam bulan yang lalu.

Entah sampai kapan Clarissa akan berhenti dan meninggalkan dunia malam yang kelam ini. Di usianya yang masih sangat muda, Clarissa harus terjerumus pada pekerjaan yang telah merusak martabatnya sebagai seorang perempuan.

Clarissa duduk di tepi ranjang. Merentangkan kedua tangannya ke atas guna merenggangkan otot ototnya. Tak ingin meninggalkan curiga bagi para pengawal Arga, dia harus menunggu setidaknya empat jam lagi sebelum benar benar terbebas dari sana.

Tidak banyak yang Clarissa lakukan di sana. Hanya duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Tak lupa earphone yang terpasang di telinganya. Seperti itu saja selama kurang dari dua jam.

Di saat saat seperti ini, Clarissa akan selalu teringat pada ibunya. Penyesalan akan selalu mampir untuk membuatnya menangis tersedu. Seperti sekarang, Clarissa pergi ke balkon untuk menikmati udara dinginnya malam yang menusuk hingga ketulang.

"Rissa rindu mama," gumamnya seraya meringkuk di sudut pembatas. "Kalau mama tahu Rissa seperti ini, apa mama masih akan menganggap Clarissa anak?"

Hati Clarissa teriris iris saat bayangan wajah ibunya melintas begitu saja, bersamaan dengan kenangan indah masa kecilnya yang begitu bahagia. Di balik sosoknya yang dingin, Clarissa hanyalah seorang perempuan biasa yang mudah menangis dan sensitif jika sudah membahas soal keluarga, terutama ibu.

Hampir satu jam Clarissa duduk di balkon, tak peduli dengan tubuhnya yang mulai membeku, dia nyaris saja tertidur jika suara nada dering ponsel dari dalam kamar tak berbunyi.

Clarissa buru buru mencari asal suara untuk mematikannya, agar Arga tak terganggu dan tersadar dari tidurnya.

Clarissa sedikit mengerutkan dahinya saat nama 'My Soul' tampil di layar kaca ponsel milik Arga yang kini berada di tangannya.

"Cih! Ternyata dia sudah beristri. Dasar pria brengsek. Sudah punya yang free di rumah, masih mau yang berbayar. Astaga, rasanya, ingin sekali aku meludahinya," guman Clarissa menggeram sambil menatap tajam Arga yang masih tertidur pulas dalam keadaan nyaris telanjang.

Baru saja Clarissa ingin meletakkan ponsel itu kembali, sebuah pesan singkat tiba tiba masuk dan muncul di layar utama ponsel milik Arga dan tak sengaja terbaca oleh Clarissa.

[Siapa pun itu, tolong jawab panggilanku. Aku tahu Arga sedang di hotel malam ini. PENTING!]

"Gila sekali orang ini, kuat sekali nyalinya. Sudah tahu suaminya keluar masuk kamar hotel, tapi masih sanggup bertahan." Entah pujian atau cibiran yang Clarissa katakan, yang pasti dia harus mengakui jika pengirim pesan tersebut bermental baja.

Hanya hitungan detik, ponsel kembali berdering. Ragu ragu Clarissa membiarkan deringan tersebut bersuara, sampai akhirnya dia beranikan diri untuk menjawab panggilan tersebut karena ada embel embel 'penting' di penghujung pesan yang tak sengaja dia baca.

"Hallo," kata Clarissa setelah menggeser tombol gagang telpon berwarna hijau di dalam layar ponsel tersebut.

"Dimana Arga?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 7 NAGA BEREBUT RAGA
8.5
Davey Torres, pemuda ringkih yang kerap sakit-sakitan, tidak sengaja menelan makanan bermantra. Kejadian itu membuat jiwa Chen, Raja Naga berumur 12.000 tahun, merasuki tubuhnya. Meski awalnya selalu berselisih, Chen akhirnya mengungkap rencana balas dendam terhadap keturunan Ming yang serakah. Dinasti Ming telah menghancurkan bisnis keluarga Davey hingga bangkrut. Kini, Davey dihadapkan pada pilihan sulit: bersekutu dengan Chen untuk menghabisi musuh dan merebut kembali Torres Group.
Sampul Novel Buku Harian Seorang Pengacara Muda
8.3
Edward Cicero, mahasiswa hukum yang ambisius, harus menghadapi ujian berat sebelum resmi menjadi pengacara. Kasus perdana yang ia tangani langsung mempertemukannya dengan musuh besar, sebuah perusahaan asuransi raksasa. Kini, Edward berada di persimpangan moral yang mengancam masa depannya. Demi memenangkan gugatan, ia dituntut melakukan tindakan kriminal. Jika menolak, ia harus menerima konsekuensi pahit didepak dari kampusnya.
Sampul Novel Dia Bukan Milikku
9.3
Tugas negara adalah prioritas Letnan Imam, tetapi pengkhianatan Serda Resti merusak janji suci mereka. Walau Resti kini milik pria lain, bayangnya belum hilang. Usai kecelakaan, Imam menemukan cinta baru dalam diri Dokter Utami. Namun, misi di Lampung mempertemukannya dengan Lita, siswi yang sangat mirip dengan Resti. Saat kesetiaan Imam diuji, Utami memilih mundur, sementara Lita sendiri sudah punya kekasih. Siapa yang akan mengisi kekosongan hati sang Letnan?
Sampul Novel Fitnah Pelakor Membuatku Babak Belur
8.5
Akibat unggahan foto suaminya di media sosial, seorang istri sah dituduh sebagai pelakor oleh selingkuhan sang suami. Tuduhan kejam ini memicu aksi pengeroyokan brutal oleh sekelompok orang yang membuatnya babak belur hingga mengalami patah tulang dan gegar otak. Tidak tinggal diam, korban segera melaporkan kejadian ini ke polisi. Di saat yang sama, ia menyiapkan surat cerai untuk mendepak suaminya yang tidak tahu diuntung itu agar pergi tanpa membawa sepeser pun kekayaannya.
Sampul Novel Ibu Tiri yang Buta Hati
9.1
Kiara kehilangan satu mata demi melindungi ayahnya, Ditya Danaraja, dari serangan perampok yang menewaskan ibunya. Sejak itu, sang ayah yang bipolar melindunginya secara ekstrem dari siapa pun yang mengusik Kiara. Setelah menjalani operasi pemulihan mata di luar negeri, Kiara pulang untuk menyambut pernikahan baru ayahnya. Namun, ibu tiri yang diklaim lembut justru menculik Kiara ke pabrik kosong. Menuduhnya ingin merebut suami orang dan mencuri perhiasan mendiang istri pertama, sang ibu tiri kini mengancam akan mengulitinya hidup-hidup.
Sampul Novel Mantan Kesayangan Menjadi Ratu Mafia
8.3
Dante Adiwangsa pernah menyelamatkan nyawaku, tetapi sepuluh tahun berlalu, dia justru berkhianat demi aliansi kriminal. Dia membiarkan tunangannya merendahkanku di tengah ancaman maut yang mengintai. Sadar diri ini hanya dianggap pajangan, rasa cintaku pun sirna. Pada hari perayaannya, aku memilih melarikan diri dari sangkar emasnya. Sebuah jet pribadi kini membawaku pulang ke pelukan ayah kandungku, sosok yang ternyata merupakan musuh bebuyutan dari sang bos mafia tersebut.