APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cowokku Lebih Muda

Cowokku Lebih Muda

Hubungan cinta Andini dengan Alex, pria yang terpaut usia jauh lebih muda, kini berada di ujung tanduk. Badai menerpa asmara mereka saat sosok masa lalu yang sangat dinanti-nantikan oleh Andini mendadak datang kembali. Kehadiran pria tersebut seketika memicu dilema besar dalam batin Andini. Ia pun terdesak di antara dua pilihan sulit. Akankah jalinan kasihnya bersama Alex mampu bertahan, atau justru cinta lama yang akan kembali bertahta di hatinya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi hari, saat sedang menjemur pakaian di samping rumah, Alex datang kembali.

“Andiiin ... Mas Al datang ....” Melirik sekilas, memasang wajah cemberut.

Sengaja mengibaskan pakaian tepat di depan wajahnya.

“Haduh, Beb ... Muka ganteng Mas Al jadi kecepretan. Tapi gak apa-apa, ini namanya percikan cinta seorang Andin, calon istri Mas Al.”

Aku menggelengkan kepala, menarik napas panjang.

“Din, ini punya kamu ya?” Kedua mataku langsung membulat, melihat Alex mengangkat bra hitam. Kutarik paksa bra tersebut.

“Gak sopan kamu!!!”

Aku sembunyikan bra ke belakang punggung.

“Ya aku kan nanya. Kali aja punya Nenek.” Katanya sambil cengengesan.

Pasti nih orang mikir mesum.

“Pergi sana! Sekolah!!”

“Masih pagi. Satpamnya juga belum bangun. Pulang sekolah aku mau ke sini, supaya kalau gak bisa ngerjain tugas, bisa nanya sama kamu, Beb!”

“Beb? Bebek?”

“Bebeb, Sayang ....”

Idih! Ada-ada aja! Kutinggalkan Alex masuk ke dalam rumah. Tanpa disuruh, Alex duduk di atas bale depan rumah.

Nenek yang sedang membuat kue kering di dapur untuk dijual, bertanya, “Kedengarannya ada suara Alex, Din.”

“Iya, tuh ada, Nek! Di depan!” setelah menyimpan ember ke kamar mandi, aku duduk di bangku kecil membantu Nenek membuat kue.

“Nak Alex itu baik banget selama ini, Din. Kamu gak boleh judes gitu. Nenek malah berharap kalian berjodoh.”

Aku membelalakkan kedua mata. Tidak menduga Nenek berkata demikian. Seketika tawaku pecah.

“Kamu kenapa ketawa? Nenek memang selalu berdoa supaya kalian berjodoh.”

Menghentikkan tawa, tanpa menatap Nenek aku berucap.

“Nek ... jangan lupa, Alex itu orang tuanya terpandang, terhormat. Kaya raya. Lah kita? Apalagi Dini. Punya Bapak tapi gak pernah lihat. Namanya aja gak tau. Punya Ibu, cuma tau namanya aja. Ketemu belum pernah!” cetusku diakhiri dengan kekehan padahal hati sangat sedih.

Sedari dulu aku tidak mau terbuai oleh sikap baik Alex. Memang semenjak kecil, Alex selalu menolong ketika teman-teman membully, mengataiku anak haram atau anak Arab nyasar. Tapi aku sadar diri, kalau aku dan Alex bagai bumi dan langit. Terlalu banyak perbedaan jika harus disatukan.

Kulihat Nenek menyeka air mata. Pipi keriputnya basah oleh lelehan air mata. Aku mendesah. Memegang telapak tangan Nenek.

“Nek, maaf. Kalau bicara Dini menyinggung hati Nenek. Dini cuma gak mau, Nenek berharap yang tidak mungkin.” Nenek mendongak, menatapku dengan air mata yang masih bergulir.

“Alex sayang kamu, Din. Alex laki-laki yang baik buat kamu. Firasat Nenek, kalian akan berjodoh. Nenek yakin.”

Entahlah, aku tak dapat menjawab lagi. Nenek tipikal orang yang tidak bisa dibantah soal firasatnya.

Aku selalu ingat cerita Nenek soal Ibu yang digosipkan meninggal di tanah Arab. Tapi Nenek punya firasat kalau Ibu masih hidup dan akan pulang. Benar saja, setahun setelah kabar kematian ibu berhembus, ibu pulang. Walaupun kepulangannya dengan keadaan berbadan dua.

“Nek, bikin kue apa?”

Tiba-tiba tanpa aku sadari Alex datang ke dapur. Nenek memalingkan wajah, menyeka bekas air mata di pipinya.

“Kue ... Kue ... kayak biasalah.” Sengaja aku yang menjawab. Alex berjongkok, memiringkan kepala menatap Nenek.

“Nenek nangis?” tanya Alex dengan nada cemas. Nenek tetap merunduk, merapikan kue yang siap dijemur. Kue Rengginang. Alex memandangku, meminta jawaban

“Din, Nenek nangis kenapa?”

“Mau tahu aja!” sahutku sambil mengangkat kue keluar rumah untuk dijemur. Nenek masuk kamar. Alex membuntutiku. Ia mengambil alih wadah tampah yang akan dijemur ke atas genteng. Karena aku tidak mungkin bisa menyimpan wadah itu ke sana. Hanya berjinjit, Alex sudah menyimpan wadah tersebut.

Aku melengos berjalan ke depan rumah. Duduk di atas bale. Di samping laptop milik Alex.

“Andin, Nenek kenapa nangis?”

“Bukan urusan kamu!”

“Jangan gitulah, Beb ... Nenek kan calon mertua aku. Nenek sedih, aku juga ikut sedih.” Aku merunduk, memerhatikan kedua kaki yang terayun-ayun.

“Beb ....”

“Alex ....”

“Iya, Beb?”

“Jangan panggil aku dengan sebutan aneh-aneh.” Alex membetulkan tempat duduknya. Lebih menghadapku.

“Aneh-aneh gimana?”

“Ya itu, panggil aku Andin, Beb, Sayang, bikin malu tahu!”

Alex menarik napas panjang.

“Andin itu panggilan kesayanganku buat kamu. Bebeb artinya sayang. Kan emang aku sayang kamu, Din. Masa panggilan kayak gitu dibilang aneh??”

“Tapi aku gak suka. Bikin malu.”

“Apa karena itu, Nenek nangis?” Tersenyum geli, melihat ekspresi Alex yang berubah cemas. Aku tersenyum menggelengkan kepala.

“Bukan. Eh, kamu udah belum ngerjain tugasnya?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Alex tidak boleh tahu soal pembicaraanku dengan Nenek.

“Udah. Udah selesai semua.”

Aku manggut-manggut. Menatap lurus ke depan. Dari ekor mata, aku bisa melihat kalau Alex masih menatapku.

“Andin, aku tahu ada yang kamu sembunyiin. Ceritalah! Selama ini kan kamu selalu cerita banyak hal ke aku.” Aku mendesah panjang.

Memang betul, di lingkungan ini teman dekatku hanya Alex. Teman-teman sebaya kebanyakan seperti enggan bergaul denganku. Mungkin karena akunya aja yang lebih sering menghabisi waktu di rumah atau membantu Nenek mengantarkan pesanan kue ke warung-warung maupun ke rumah pelanggan.

“Lusa aku mulai kerja di mini market,”kataku dengan senyum mengembang. Tapi raut wajah Alex seperti tak senang. Tidak ada senyuman yang menghiasi bibirnya.

“Kenapa?? Kamu gak senang aku dapet kerja?” Alex menarik napas panjang, mengembuskannya.

“Bukan gak senang. Tapi aku maunya, kamu kuliah. Prestasi kamu kan bagus. Bisa ambil jalur beasiswa. Sayang kalau gak kuliah.”

Sesaat aku terdiam.

Siapa yang tidak mau kuliah? Aku pun ingin. Memang biaya perkuliahan ditanggung, tapi biaya hidup? Aku tidak mau merepotkan Nenek. Kalau aku kerja, setidaknya Nenek bisa istirahat, tidak harus berjualan tiap hari. Kuliah sambil kerja, itu lebih menyita waktuku membantu Nenek. Serba salah.

“Insya Allah suatu saat nanti, aku bakal kuliah. Sekarang kerja dulu, mau nabung buat bekal kuliah, buat kebutuhan sehari-hari aku sama Nenek.”

Alex menggeser duduknya. Lebih mendekat padaku. Bahu kami agak bersentuhan.

“Makanya, Din ... terima lamaran Mas Al. Kita nikah aja yuk?!” Ajaknya seraya mengerlingkan sebelah mata

BUUGGGHHH!!

Kupukul bahunya dengan keras.

“Aduhhh!!!”

“Nikah-nikah! Sekolah yang bener!!” Udah kumat lagi penyakit ngebet nikahnya. Heran dah, masih sekolah udah kepikiran pengen nikah mulu. Dia pikir menjalani rumah tangga gampang apa?

“Aku tetap sekolah, kamu juga bisa kuliah, tapi kita nikah.”

Ya Tuhan ... bener-bener anak satu ini.

“Kalau kamu masih sekolah, aku kuliah, terus kita udah nikah, yang ngasih nafkah lahirnya siapa? Mami Papi kamu?? Ogah!!”

Aku memalingkan muka. Memandang arah lain. Memerhatikan induk Ayam dan anak-anaknya yang sedang mencari makan.

“Aku! Mas Al yang akan menafkahi lahir buat kamu, Din. Apalagi nafkah bathin, beuuuh ... Mas Al udah hafal banget gerak-gerakannya. Tinggal dipraktekin. Gimana, mau gak?”

Bicara apa ... anak satu ini? Pikirannya udah makin kacau.

“Cara dapetin nafkah lahirnya gimana?” tanyaku ingin tahu apa jawaban yang akan dilontarkan Alex. Palingan minta sama Papi Mami.

“Kerja di kantor Papi.”

Nah kan, enteng banget ngejawabnya. Sama aja kalau gitu, sama-sama uang dari Papinya. Aku memutar bola mata malas.

“Gimana? Mau kan nikah sama Mas Al?”

“OGAH!!!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Angkatku Tak Tahan
8.4
Kehidupan bergelimang harta sebagai istri dari keluarga miliarder tidak menjamin ketenangan bagi wanita ini. Di balik paras cantik dan kemewahannya, sebuah ancaman terselubung muncul dari sosok anak angkat yang selama ini dikenal sangat perhatian. Tatapan penuh kepemilikan yang ganjil mulai membayangi kesehariannya. Batas hubungan ibu dan anak terkikis saat pemuda itu berani menyentuhnya di tengah sesi yoga, hingga puncaknya, sebuah gelas berisi air yang telah dicampur obat disodorkan demi melampiaskan obsesi yang tak lagi terbendung.
Sampul Novel Dokter, Aku Cinta Kamu
8.0
Kehidupan Raka, dokter spesialis penyakit dalam, berubah sejak mengoperasi usus buntu Dea. Gadis itu terobsesi mendekatinya, bahkan nekat mengaku sebagai pacarnya di depan orang tua Raka. Awalnya Raka merasa risi, namun semua berubah ketika Dea bertunangan dengan pria bernama Rafa. Kehilangan Dea membuat Raka menyadari perasaan cintanya. Begitu mengetahui pertunangan Dea telah batal, kini giliran Raka yang berjuang mengejar kembali hati gadis itu.
Sampul Novel FWB Between Love and Lust
8.9
Kepulangan Satria setelah lima tahun di Milan tak lantas menghapus kenangan pahit tentang Syera yang terus membayanginya. Namun, takdirnya berubah drastis setelah malam pernikahan Bima. Pertemuan tak terduga dengan seorang wanita asing menyeret Satria ke dalam hubungan intim tanpa status. Tanpa diduga, ia justru jatuh hati teramat dalam pada sosok misterius tersebut, membuatnya terjebak di antara gairah dan perasaan yang membingungkan.
Sampul Novel Istri Mudaku Meresahkan!
8.6
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang diambang kehancuran, Yasmin, gadis berusia 20 tahun, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan duda kaya bernama Galih. Situasi memanas ketika Galih memberikan pilihan sulit antara Anggara atau anak sambungnya, Vira. Keraguan Yasmin yang sangat menyayangi Vira memicu kemarahan Galih. Akhirnya, Galih menjatuhkan talak dan melarang Yasmin menemui Vira selamanya, menghancurkan seluruh harapan pernikahan mereka.
Sampul Novel MAIN HATI
9.0
Kisah cinta Lila dan Dev kini terjebak dalam pusaran konflik batin yang semakin rumit. Hubungan mereka dihadapkan pada dilema besar karena keduanya kesulitan menyelaraskan perasaan dengan kenyataan hidup yang harus dihadapi. Di tengah keraguan yang terus menyiksa, mereka dipaksa mencari jawaban atas kelanjutan hubungan ini. Apakah perjuangan cinta mereka akan membuahkan kebahagiaan bersama, atau justru berujung pada perpisahan yang meninggalkan luka mendalam?
Sampul Novel Menantu Pahlawan Negara
8.2
Dipaksa meninggalkan istrinya pada malam pernikahan demi maju ke medan perang, pria ini berjuang dalam pertempuran berdarah selama tiga tahun. Ia pulang membawa prestasi gemilang, namun racun kejam membuatnya kehilangan akal sehat hingga menjadi idiot. Di tengah cemoohan dunia dan tekanan berat dari pihak keluarga, sang istri dengan setia menyelamatkannya. Malam ini, kesadaran sang pahlawan akhirnya telah kembali sepenuhnya untuk menghadapi semua ketidakadilan.