APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cowokku Lebih Muda

Cowokku Lebih Muda

Hubungan cinta Andini dengan Alex, pria yang terpaut usia jauh lebih muda, kini berada di ujung tanduk. Badai menerpa asmara mereka saat sosok masa lalu yang sangat dinanti-nantikan oleh Andini mendadak datang kembali. Kehadiran pria tersebut seketika memicu dilema besar dalam batin Andini. Ia pun terdesak di antara dua pilihan sulit. Akankah jalinan kasihnya bersama Alex mampu bertahan, atau justru cinta lama yang akan kembali bertahta di hatinya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Ternyata kerja di tempat ini perlu ketelitian. Tidak boleh ada barang yang hilang. Meski ada rasa takut dibully, aku harus tetap semangat. Aku bersyukur beberapa jam teman-temannya tidak ada yang usil atau mengejek.

“Andini udah siang, kamu makan dulu gih!” ujar Mbak Ria mendekatiku di meja kasir.

Mbak Ria senior di sini, berambut cantik dan berkulit putih.

“Memangnya gak apa-apa, Mbak?” tanyaku hati-hati. Takut salah dengar atau salah ucap. Mbak Ria menoleh sekilas sambil tersenyum.

“Gak apa-apa. Cepetan kalau mau makan. Cuma dikasih waktu setengah jam buat makan dan salat.”

Setengah jam? Gak bakal keburu kalau pulang ke rumah dulu. Mau gak mau, makan di sini.

“Iya, Mbak.”

Aku masuk ke ruangan belakang. Di sana ada toilet dan ruangan kecil. Ruangan kecil memang disengaja untuk salat bagi yang muslim. Ada satu sajadah terhampar dan sepasang mukena yang tergantung.

Usai Wudhu, aku langsung menyambar mukena, kemudian salat.

Setelah melaksanakan kewajiban, keluar mau cari makan.

“Din! Andin!” Menoleh, mendengar suara yang gak asing di telinga. Ternyata benar, ada Alex yang sedang nongkrong bersama dua pemuda yang kerjaannya jaga parkir Minimarket.

“Ngapain kamu ada di sini?”

“Nungguin kamu. Makan yuk! Aku laper nih!” Alex langsung menggenggam telapak tanganku, berjalan ke arah warteg yang terletak di seberang mini market.

“Lex, kamu jangan makan di sini. Nanti Mami marah,” cetusku saat duduk di bangku panjang.

“Mami masih di luar negeri. Pesan sana. Sekalian buat aku. Samain aja lauk pauknya sama kamu.” Aku pun langsung memesan beberapa aneka lauk pauk khusus buat Alex. Lauk pauk yang tidak sama.

“Sekolah gak tadi?”

“Sekolah. Don’t worry, Beb,” sahutnya mengerlingkan sebelah mata. Kumat lagi genitnya!

Dua piring nasi dengan lauk pauk berbeda sudah tersaji di depan mata. Aku memesan nasi, goreng tempe dua, dan sambal. Sementara Alex, goreng tempe dua, goreng Ayam, dan sayur lodeh. Ia melirik piringku.

“Mbak, Mbak!”

“Iya, Mas?”

“Ayam gorengnya satu lagi ya?” Menoleh, melihat Alex memesan satu lauk pauk lagi.

“Ini, Mas.” Penjaga warteg menyodorkan sepotong ayam goreng.

“Taro di atas piring pacar saya, Mbak.”

Pacar? Nih anak bener-bener dah! Bikin malu! Masa iya, aku yang sudah karyawan pacaran sama anak yang masih pake seragam SMA.

SMAh, iya.” Si Mbak menyimpan sepotong ayam goreng ke atas piringku.

“Alex?”

“Makan. Habisin!” titahnya tanpa menatapku.

Aku menurut, menyantap makan siang dengan nikmat. Melirik Alex, ia tampak biasa makan tanpa menggunakan sendok.

***

“Aku kerja dulu.”

“Iya, Beb. Cium tangan dulu.” Alex membentangkan telapak tangan kanannya di depanku.

“Apaan sih?”

“Cium. Aku kan calon suami kamu.”

“Ogah. Kamu pulang, gih!”

Alex menurunkan telapak tangannya yang menggantung di udara. Ada-ada aja, belum nikah masa cium tangan gitu?

“Pulangnya bareng kamu.” Aku menghela napas melihat tingkahnya. Kalau dipaksa pulang, dia pasti tidak menurut. Biarin aja dah. Tanpa menanggapi ucapannya, aku meninggalkan Alex yang masih berdiri terpaku.

Kuakui, selama ini aku selalu merasa nyaman dan bahagia jika bersama. Merasa terlindungi. Tapi kalau diibilang cinta, kayaknya enggak. Aku tidak pantas untuknya. Terlalu banyak perbedaan diantara kami. Alex hanya sahabatku. Sahabat!

Jam sepuluh malam waktunya pulang. Alex masih menunggu di luar pojok mini market. Para pemuda yang biasa jaga parkir sudah tidak ada. Aku berjalan ke arahnya. Tersenyum melihat Alex masih di sini.

“Ayok, pulang!”

“Siap.”

Alex menyerahkan helm, keningku mengkerut.

“Lex, rumah kita gak jauh dari sini. Gak perlulah pake helm.” Alex menoleh, menumpu tangannya di atas helm.

“Kita cari makan dulu. Sekalian beliin buat Nenek.”

“Aku gak ada uang.”

“Aku ada! Cepetan naik!” Agak berjinjit, naik ke atas motor Ninja milik sahabatku itu.

“Pegangan!”

“Iya.” Kedua tanganku melingkar di pinggangnya. Motor pun melaju membelah jalan raya.

Semilir angin membuat tubuhku agak kedinginan. Kueratkan pelukan pada tubuh Alex. Tiba-tiba motor melaju pelan, lalu berhenti di sisi jalan. Alex membalikkan badan.

“Kamu kedinginan?”

“Kita mau kemana sih?”

“Kalau ditanya jawab dulu. Pake nih jaket.” Alex melepaskan jaketnya. Memberikan padaku. Ragu, mengambil jaket dari tangan Alex. Cepat-cepat ia melingkarkan jaket ke tubuhku, kutepis tangannya yang mau membantu mengenakan jaket itu.

“Aku bisa sendiri.”

Lelaki di hadapanku membalikkan badannya lagi. Setelah kedua tanganku melingkari pinggangnya, Alex melajukan motor kembali.

Kendaraan beroda dua yang kami tumpangi berhenti di salah satu Cafe. Usai melepaskan helm, Alex menuntunku masuk ke dalam cafe tersebut.

“Mau nasi goreng?” tanyanya, begitu kami sudah duduk.

“Mau.”

“Aku pesanin dulu. Sekalian dibungkus buat Nenek.”

Hanya mengangguk sebagai jawaban dari usulan Alex.

Malam ini kami menyantap nasi goreng diiringi musik dari penyanyi Cafe.

“Gimana tadi kerjanya?” Alex bertanya sambil mengunyah nasi goreng.

“Lancar.”

“Ada yang ngejekin?”

Aku menggeleng, “Enggak!”

“Jahat?”

“Enggak.”

“Jahil?”

“Enggak juga.”

“Syukurlah. Mulai besok aku anter kamu ke sana. Jangan jalan kaki.”

Aku tak menanggapi. Tetap fokus makan nasi goreng. Dua gelas Jus Mangga datang. Aku menyeruputnya hingga setengah.

“Lex l, aku mau tanya. Tapi kamu jawab jujur.” Alex mendongak, menatapku lekat.

“Emang selama ini aku suka bohong?”

“Enggak sih!” sahutku menyandarkan punggung ke kursi.

“Mau tanya apa?” Menghela napas. Mengingat kembali ucapan Mbak Ria yang menyuruhku berdandan.

“Aku jelek ya?” tanyaku merunduk.

“Cantik.”

Aku mendongak, memberanikan menatapnya.

“Aku serius, Lex ....”

“Aku juga serius, Andini ... kenapa nanya gitu? Ada yang ngejek? Ada yang bilang kamu jelek?” Alex mulai introgasi.

“Bukan. Tadi Mbak Ria, nyuruh aku pake make-up. Katanya supaya menarik, supaya enak dilihat.” Lelaki di hadapanku terkekeh. Menyeruput jus Mangga.

“Bukan kamu gak cantik, Din. Itu emang ketentuannya. Coba deh kamu ingat-ingat. Para penjaga kasir Minimarket itu memang pada pake make up. Ya udah, sebelum pulang kita beli kosmetik dulu. Kita cari toko kosmetik yang masih buka.”

“Tapi, Lex ....”

“Aku yang beliin.”

Kalau sudah begini, aku tidak bisa menolak.

***

Tiba di rumah, pukul setengah sebelas malam. Menguruk salam, Nenek membuka pintu. Aku menenteng satu plastik kecil yang berisi alat-alat make up.

“Nenek belum tidur?” tanyaku setelah mencium punggung tangannya.

“Belum. Nak Alex jemput Dini?” tanya Nenek begitu melihat Alex berdiri di belakangku.

“Bukan cuma jemput, Nek. Alex seharian nunggu Dini. Gak ada kerjaan dia!” selorohku masuk ke dalam rumah lebih dulu. Alex mengekor.

“Adalah, Beb. Itu sih nungguin kamu. Nek, Alex bawain nasi goreng buat Nenek. Nih! Dijamin enak!”

“Oalaaah ... baik bener Nak Alex. Makasih ya,” ujar Nenek memegang pipi kanan Alex.

“Sama-sama Nenek calon mertua.”

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DICERAI SUAMI, DIPINANG CEO
9.0
Dituduh mandul dan dikhianati suaminya hingga bercerai, dokter kesuburan Felicia Hera nekat menghabiskan satu malam bersama pasiennya demi membuktikan dirinya subur. Ia lalu menghilang dan baru kembali lima tahun kemudian bersama putrinya. Namun, Felicia syok saat tahu direktur baru di rumah sakitnya adalah ayah dari anaknya. Kini, ia harus terus bersembunyi dari kejaran pria dingin yang telah mencarinya selama bertahun-tahun.
Sampul Novel Dokter Ajaib Primadona Desa
9.4
Kehidupan Tirta Hadiraja berubah drastis setelah ia tidak sengaja memakan seekor ular putih. Masalah impotensi yang dideritanya lenyap, digantikan dengan keperkasaan luar biasa, kemampuan mata tembus pandang, serta daya ingat super. Sebagai pemilik klinik, Tirta memanfaatkan keahlian baru ini untuk mengembangkan kemampuannya ke tingkat yang luar biasa. Di saat kejayaannya mulai menanjak, ia justru dihadapkan pada perebutan hati dari seorang janda, primadona desa, hingga putri konglomerat yang bersaing ketat untuk menjadi istrinya.
Sampul Novel Identitas Asliku Menghancurkan Pacarku
9.1
Saat Xander Harris mengantarku ke asrama kampus di hari pertama, teman sekamarku langsung bersikap sinis. Dia menuduhku memakai barang mewah palsu dan menyindirku sebagai perempuan matre yang hidup dari belas kasihan pria tua kaya. Dia tidak tahu bahwa sosok yang dia bicarakan adalah ayah kandungku sendiri. Ironisnya, Xander, pria yang sangat ingin kunikahi dan dianggapnya dewasa itu, sebenarnya hanyalah putra dari sopir pribadi ayahku.
Sampul Novel Menemukan Cinta Sejati
9.0
Demi membalas pengkhianatan Lucas Smith yang mengabaikan nyawanya saat diculik demi Alina, Eve Costa mengambil langkah nekat. Setelah selamat dari maut, rasa cintanya selama lima tahun sirna sepenuhnya. Ketika Lucas datang melamarnya, Eve justru bersiap melaksanakan rencana besar untuk melepaskan diri. Ia setuju menikahi pewaris kejam dari keluarga mafia Vittorine, memanfaatkan posisi barunya tersebut untuk menghancurkan pria yang telah membuangnya demi wanita lain.
Sampul Novel Misi Cinta dan Kenikmatan
9.3
Di usia 28 tahun, Alex Syarizal sukses mengelola warisan berupa bisnis pertanian dan SPBU. Namun, pemuda Sumatra ini masih sendiri karena fokus pada karier dan duka kehilangan keluarga. Hidupnya berubah saat ia terlibat dalam momen intim yang penuh gairah bersama Mirna. Ketika Mirna mulai tersadar dan merespons sentuhannya dengan kehangatan yang luar biasa, Alex menyapanya dengan sangat lembut di tengah gejolak asmara yang membara di antara mereka.
Sampul Novel PROMISE (Janji Cinta di SMA)
8.0
Sejak SMA, Chelia memendam cinta pada Varo. Kisah mereka tertunda akibat penolakan sebuah kado jam tangan. Varo berjanji akan menerima hadiah itu jika mereka bersua kembali empat tahun lagi. Namun, takdir justru mempertemukan mereka sebagai kakak dan adik ipar. Di tengah perasaan yang masih membara, Chelia dipaksa mengubur rapat cintanya demi keutuhan keluarga. Sanggupkah ia merelakan sosok pria yang telah sekian lama ia nantikan kehadirannya?