
Cintya Persusuan Di Balik Tahta
Bab 3
Malam berikutnya, aku kembali diangkut menggunakan kereta menuju kamar tidur sang kaisar.
Kali ini, aku tiba lebih awal dan belum ada cairan susu yang keluar.
Namun begitu masuk ke dalam kamar tidur, hal pertama yang terlihat adalah gaun sutra merah yang indah, serta bentuk tubuh yang hampir meledak.
Aku segera berlutut dan memberi hormat, "Selamat malam, permaisuri."
Orang di atas kepalaku tertawa kecil, "Kaisar, apa aku telah mengejutkan pelayan susumu?"
"Tentu tidak, mana mungkin Rona begitu mudah terkejut? Ayo berdirilah."
Aku perlahan-lahan berdiri dan melirik sejenak, tetapi hanya dengan sekali lirikan, kepalaku langsung terasa berdenyut dan aku segera menundukkan kepala.
Kaisar dan selir sedang berbaring di atas ranjang ... dada selir menempel erat dengan dada kaisar.
Gaun merah itu sudah menghilang entah ke mana, yang tersisa hanya kain tipis transparan ...
"Aaa! Kaisar~menyebalkan sekali~masih ada orang di luar!"
Sepertinya kaisar baru sadar ada orang lain, suaranya terdengar serak,
"Rona, bisakah kamu menunggu sebentar di luar?"
"Baik, kaisar."
Aku menghela napas lega dan mundur ke balik tirai. Meskipun aku pernah membaca cerita-cerita, aku tetaplah seorang gadis yang belum banyak pengalaman.
Entah mengapa, wajahku mulai terasa panas, tubuhku gelisah, bahkan dadaku terasa lebih membesar dari biasanya.
Di dalam kamar, entah apa yang dibakar, aromanya mengelilingi udara panas di sekitarku, seperti masuk ke dalam dandang penuh wewangian, membuat tubuhku berkeringat tipis.
Bayangan yang terlihat samar melalui tirai membuat wajahku langsung memerah.
"Aaa! Kaisar ... pelan sedikit, aku ... aku sudah nggak sanggup~"
Di balik tirai, sang permaisuri terbaring di atas ranjang.
Aku ... aku terpaksa melihat adegan mesum sang kaisar.
Melihat kejadian di depan mataku, darahku mulai berdesir naik ke kepala, sementara susu di dadaku tak bisa dikendalikan dan mengalir keluar.
Rasa lengket dan hangat menempel di dadaku, membuatku merasa kesal. Aku membuka kerah bajuku sedikit agar angin dingin menyapu dadaku.
Rasa sakit yang tertekan mulai mereda sedikit.
Aku menutup rapat-rapat dan menutupi telingaku, tetapi kata-kata kotor itu tetap terdengar seperti cacing kecil yang merayap ke telingaku, menjalar ke hatiku, sedikit menggigit, membuat seluruh tubuhku gatal.
Entah berapa lama berlalu, gerakan di balik tirai pun berhenti. Namun, tanpa perintah dari kaisar, aku tak berani membuka mata.
Setelah beberapa saat, masih tidak ada pergerakan. Aku diam-diam membuka mataku dan berhadapan dengan kaisar ...
Dia ... dia tidak memakai baju!
Aku buru-buru berdiri, tetapi tersandung bangku dan terjatuh. Kerah yang sudah terbuka membuat payudaraku melompat keluar.
Susu pun tumpah ke lantai.
Kaisar tersenyum dan sedikit membungkuk, "Rona, kamu begitu nggak sabar membiarkanku menikmati air susumu?"
"Bu ... bukan begitu."
Kaisar tidak menjawab. Dia meraihku dan menarik kerah bajuku yang sudah setengah terbuka.
Lalu, dia pun menundukkan kepalanya.
Anda Mungkin Juga Suka





