
Cintaku Berakhir di Malam Pertamaku
Bab 3
Aku tak bisa menahan air mata dan menjawab, "Nggak baik, aku nggak baik-baik saja, sama sekali nggak baik."
Seketika, aku merasa seperti orang gila, menangis di depan dua orang asing.
Namun sungguh, aku tidak baik-baik saja.
Kalau saja Jasper ada di sini, aku akan memberitahunya kalau aku sangat ketakutan dan mengatakan padanya bahwa luka bakar ini sangat menyakitkan.
Namun, dia tidak ada di sini.
Dia mengingkari janjinya di hari pertama pernikahan kami.
Dia tidak melindungiku. Saat aku merasa sedih dan terluka, dia bahkan tidak berada di sisiku.
Petugas kebersihan menepuk-nepuk punggungku dengan lembut dan menenangkanku, "Menangislah, nggak apa-apa."
Tepukan itu mengenai bahuku.
Rasa sakitnya sampai mengubah ekspresiku.
Bibi petugas kebersihan itu terkejut dan bertanya, "Dik, kamu terluka?"
Dia dan gadis itu membuka kerah bajuku dan langsung mendorongku ke wastafel.
Keduanya membasuh bahuku dengan air dingin sambil memanggil rekannya untuk mencari salep luka kabar.
Seharusnya, ini adalah hal yang Jasper lakukan untukku tadi.
Melihat kekhawatiran yang tulus di wajah dua orang asing ini, air mataku semakin tak tertahan.
Entah berapa lama kemudian, suhu tubuhku semakin dingin, seperti hatiku dan Jasper belum juga kembali.
Aku mendengar suara dari walkie-talkie di pinggang bibi petugas kebersihan itu, "Kotak obatnya kosong, Kak Cecilia nggak bisa dihubungi, ada yang tahu dia di mana?"
"Aku lihat dari CCTV, dia pergi bersama seorang pria keluar dari hotel, bagaimana ini?"
"Siapa pria itu? Ada yang tahu nomornya? Bisa dihubungi nggak?"
Aku ingin mengatakan bahwa aku mengenalnya.
Namun kemudian, aku teringat sesuatu.
Setelah selesai bercinta tadi, Jasper tidak membiarkanku turun dari tempat tidur untuk mandi, dia memaksa Cecilia datang untuk membersihkan kamar. Pria yang biasanya tidak suka bermain ponsel dan sering melewatkan telepon dariku, kali ini terus memegang ponselnya.
Layar ponselnya terus menyala dan mati berulang kali, seperti sedang menunggu sesuatu.
Seolah menguatkan dugaanku, tiba-tiba terdengar suara keras dari luar, "Dia sendiri yang nggak bisa menjaga suaminya. Aku datang untuk mengajarinya cara mempertahankan pria. Bukannya terima kasih, malah melemparku. Nggak hanya itu, malah melapor polisi, sungguh konyol!"
Rasa mual langsung menyeruak di perutku.
Aku memijat punggungku yang terasa pegal. Apakah saat bulan madu denganku, Jasper sebenarnya sedang memikirkan cara untuk memancing emosi Cecilia?"
Suara di walkie-talkie terdengar lagi, "Aku sudah memerika CCTV, manajer keluar dari tamu kamar 702 ... "
"Bukankah itu kamar wanita yang tadi hampir jadi korban pelecehan?"
Bibi petugas kebersihan panik dan buru-buru mematikan walkie-talkienya.
Aku menunduk dan menjawab, "Aku tahu nomor teleponnya, biar aku meneleponnya."
Saat mengambil ponselku, pandanganku tertuju pada gaun pernikahan merahku yang penuh dengan jejak sepatu hak tinggi, serta surat nikah yang tergeletak di lantai.
Foto kami berdua di surat itu juga dipenuhi bekas injakan.
Aku mengusapnya, tetapi malah membuatnya semakin terlihat kotor.
Seperti halnya cinta dan pernikahanku dengan Jasper, yang tak akan pernah bisa kembali seperti awalnya.
Aku menelepon nomor Jasper.
Nada sambung lagu pernikahan baru berdering dua kali, teleponnya langsung diputuskan.
Aku terdiam, mencoba menelepon lagi. Kali ini juga diputuskan.
Saat aku menelepon untuk ketiga kalinya, panggilanku tidak dapat tersambung. Aku telah diblokir olehnya.
Aku memegang ponselku, bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Rasanya aku seperti pecundang yang benar-benar kehilangan segalanya.
Bibi petugas kebersihan menepuk pundakku lagi dan memberiku beberapa lembar tisu.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk lagi.
Namun yang datang bukan Jasper, melainkan polisi.
Aku membuat laporan.
Menceritakan setiap detail kejadian malam ini.
Setiap kata yang keluar dari mulutku terasa memalukan sekaligus menyakitkan.
Ketika keluar dari ruang laporan, aku melihat Jasper.
Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi dia. Meski dia datang terlambat, melihatnya saja sudah membuat air mataku jatuh lagi.
Jasper bergegas mendekatiku dan berkata, "Shally, cepat bilang ke polisi kalau kamu yang membuka pintu dan mengundang dua pria itu masuk."
"Bilang saja kalau kamu sendiri yang melukai dirimu dan Cecilia membawaku keluar untuk membeli obat untukmu, jadi kami nggak sempat kembali tepat waktu."
"Cepat jelaskan, kalau nggak, Cecilia bisa dipecat!!"
Anda Mungkin Juga Suka





