APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta yang Terkhianati

Cinta yang Terkhianati

Rumah tangga Aulia dan Arman tak lagi hangat, hanya menyisakan kepedihan akibat tabiat buruk Arman yang dingin dan gemar bermabuk-mabukan. Badai besar datang ketika Rika membeberkan bahwa Arman berselingkuh dengan Maya. Kecewa berat, Aulia enggan melanjutkan kepura-puraan ini. Ia langsung melabrak suaminya untuk menuntut kejelasan. Meski Arman tak berkutik, hati Aulia telah telanjur hancur. Kini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan atau melangkah pergi demi harga diri.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aulia menjalani hari-harinya di rumah kakaknya, Nadya, dengan perasaan yang masih bergulat antara lega dan sedih. Nadya, yang sudah mengetahui tentang permasalahan rumah tangga adiknya, berusaha memberikan dukungan tanpa banyak bertanya. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang hal-hal ringan yang tak berhubungan dengan pernikahan Aulia. Nadya tahu, Aulia butuh waktu untuk merenung tanpa terus-menerus diingatkan tentang masalah yang ia tinggalkan.

"Aulia, apa kamu sudah memikirkan apa langkahmu selanjutnya?" tanya Nadya suatu malam ketika mereka sedang duduk di ruang keluarga. "Maksudku, apakah kamu sudah tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan?"

Aulia terdiam sejenak, menatap cangkir teh di tangannya. "Sejujurnya, aku belum tahu, Kak. Bagian dari diriku masih ingin memperjuangkan pernikahan ini, tapi ada juga bagian lain yang merasa sudah lelah dan ingin menyerah."

Nadya mengangguk mengerti. "Itu wajar, Lia. Kamu sudah menjalani hubungan ini cukup lama, tentu tidak mudah untuk memutuskan semuanya begitu saja. Yang terpenting, kamu harus mendengarkan hatimu dan tidak terburu-buru membuat keputusan."

"Aku hanya merasa bodoh, Kak," Aulia menghela napas. "Bertahun-tahun aku mencoba menjadi istri yang baik, berharap semuanya akan berjalan sesuai harapan. Tapi kenyataannya, aku tetap merasa sendirian."

Nadya memegang tangan adiknya dengan lembut. "Kamu tidak bodoh, Lia. Kamu hanya manusia yang punya harapan dan keinginan untuk bahagia. Kesalahan Arman bukanlah cerminan dari kegagalanmu sebagai istri."

Ucapan Nadya memberi Aulia sedikit ketenangan, meski jauh di dalam hatinya, ia masih merasakan kekosongan yang tidak mudah diisi. Hari-hari berlalu, dan meskipun Aulia mulai menemukan sedikit kedamaian dengan rutinitas barunya, ia tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa hatinya masih tertinggal di rumah yang telah ia tinggalkan.

---

Sementara itu, Arman merasa rumahnya semakin sepi tanpa kehadiran Aulia. Kesunyian di setiap sudut ruangan membuatnya merasa terasing di rumahnya sendiri. Meski ia mencoba mengalihkan pikiran dengan bekerja lebih keras dan bersosialisasi dengan teman-teman, tidak ada yang mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh istrinya.

Suatu malam, Arman memutuskan untuk menelepon Aulia. Ia merindukan suara lembut istrinya, meski ia tahu Aulia mungkin belum siap untuk berbicara dengannya. Saat telepon tersambung dan suara Aulia terdengar di ujung sana, jantungnya berdetak lebih cepat.

"Halo, Lia?" suara Arman terdengar penuh harap.

"Ya, Arman. Ada apa?" jawab Aulia dengan nada datar.

"Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu. Apakah kamu baik-baik saja di sana?" tanya Arman, mencoba mencari topik yang bisa membuat percakapan mereka berlanjut.

"Aku baik," jawab Aulia singkat. "Kamu bagaimana?"

"Aku... tidak terlalu baik," Arman mengakui. "Rumah ini sangat sepi tanpa kamu."

Aulia terdiam sejenak, tidak tahu harus berkata apa. "Kamu harus belajar untuk terbiasa, Arman. Kita sudah sepakat untuk memberikan jarak di antara kita. Ini adalah kesempatan bagi kita berdua untuk merenung."

"Aku tahu," kata Arman, suaranya melembut. "Tapi aku sungguh merindukanmu, Lia. Aku merindukan kita. Aku merasa kehilangan arah tanpa kamu di sini."

"Aku juga merindukan banyak hal, Arman," Aulia menjawab dengan suara berat. "Tapi merindukan sesuatu bukan berarti aku bisa melupakan semua yang terjadi begitu saja."

"Bisakah kita mencoba lagi?" tanya Arman dengan nada memohon. "Aku tidak ingin menyerah pada pernikahan ini, Lia. Aku ingin memperbaiki semuanya."

Aulia menarik napas dalam-dalam. "Aku belum siap, Arman. Aku masih butuh waktu."

"Berapa lama lagi, Lia?" tanya Arman, rasa frustasi mulai menyelimuti suaranya. "Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku butuh kepastian."

"Aku juga tidak tahu," jawab Aulia jujur. "Aku sedang mencoba mencari jawabannya, tapi ini bukan sesuatu yang bisa dipaksakan."

Percakapan itu berakhir dengan perasaan hampa di kedua belah pihak. Arman merasa usahanya untuk mendekati Aulia kembali selalu berakhir di jalan buntu, sementara Aulia semakin ragu apakah pernikahan mereka memang masih layak untuk diperjuangkan.

---

Beberapa minggu kemudian, ketika Aulia sedang menikmati sarapan bersama Nadya, teleponnya berdering. Melihat nama Arman tertera di layar, Aulia merasa hatinya berdegup kencang.

"Arman lagi?" tanya Nadya sambil melirik adiknya.

Aulia mengangguk pelan, lalu menerima panggilan itu. "Ada apa, Arman?"

"Aku... aku ingin bertemu," kata Arman, suaranya terdengar ragu. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."

Aulia terdiam sejenak, merasa bimbang. Setelah beberapa saat, ia akhirnya menjawab, "Baiklah. Kita bisa bertemu, tapi jangan berharap terlalu banyak, Arman. Aku hanya ingin mendengarkan apa yang ingin kamu katakan."

Mereka sepakat untuk bertemu di sebuah kafe kecil di tengah kota, tempat yang sering mereka kunjungi ketika masih pacaran dulu. Saat Aulia tiba, ia melihat Arman sudah menunggu di sana, duduk dengan wajah yang terlihat letih dan penuh harap.

"Aku senang kamu mau bertemu denganku," kata Arman saat Aulia duduk di hadapannya.

"Ada apa, Arman? Apa yang ingin kamu katakan?" Aulia bertanya tanpa basa-basi, ingin segera mengetahui alasan di balik ajakan pertemuan ini.

Arman terdiam sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Lia, aku ingin kita mengikuti terapi pernikahan. Aku tahu ini mungkin tidak akan menyelesaikan semuanya, tapi aku pikir kita setidaknya harus mencoba. Jika ada harapan sekecil apa pun, aku ingin kita berusaha menyelamatkan pernikahan ini."

Aulia terkejut dengan usulan itu. "Terapi pernikahan?" ulangnya. "Aku tidak pernah berpikir kita akan sampai pada titik ini."

"Tapi kita memang sudah sampai di sini, Lia," Arman menatapnya dengan serius. "Dan aku tidak ingin kehilangan kamu tanpa berjuang. Aku siap melakukan apa pun yang diperlukan untuk memperbaiki semuanya."

Aulia menatap mata Arman yang penuh harap, hatinya kembali dipenuhi rasa ragu. Terapi pernikahan mungkin bisa menjadi jalan terakhir bagi mereka, tapi ia juga sadar bahwa kepercayaan yang telah rusak tidak mudah untuk dipulihkan. Namun, melihat kesungguhan di mata suaminya, Aulia merasa ada sedikit harapan yang mulai tumbuh di dalam dirinya.

"Baiklah, Arman," jawabnya akhirnya. "Kita bisa mencoba. Tapi aku tidak menjamin apa pun. Aku hanya akan melakukan ini karena aku ingin memberikan kesempatan terakhir untuk kita berdua."

Arman mengangguk, rasa lega terlukis di wajahnya. "Itu sudah lebih dari cukup, Lia. Terima kasih."

Dan begitu keputusan itu diambil, mereka berdua tahu bahwa perjalanan menuju pemulihan tidak akan mudah. Namun, setidaknya untuk saat ini, mereka masih berpegang pada harapan, walaupun hanya seutas benang tipis yang mungkin bisa menjadi awal dari segalanya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayahmu Tidak Setuju Karena Aku Miskin
9.3
Aisyah, gadis biasa, menjalin cinta dengan Krisna yang merupakan seorang bangsawan. Sayangnya, ayah Krisna menentang keras hubungan mereka karena perbedaan status sosial dan keyakinan. Enggan menyerah pada keadaan, Krisna memilih menentang keputusan ayahnya demi tetap bersama Aisyah. Mereka pun memutuskan pergi jauh demi menjaga cinta mereka. Akankah kegigihan keduanya sanggup melunakkan hati sang ayah hingga restu yang dinanti akhirnya mereka dapatkan?
Sampul Novel Cinta Melawan Syarat
9.4
Demi membiayai pengobatan ayahnya, Helena rela menggantikan saudara tirinya untuk menikah dengan pewaris kota yang tuli. Sejak malam pertama, ia langsung diperingatkan bahwa pernikahan mereka murni urusan bisnis. Di tengah sikap dingin suaminya yang tak terduga, Helena terus bertahan. Saat banyak orang memprediksi nasib buruknya, sang suami justru selalu melindunginya. Namun, ketika kontrak berakhir dan Helena ingin pergi, pria itu menangis memohon agar ia bertahan.
Sampul Novel Mendadak menjadi Istri
8.8
Kehidupan Wulan mendadak kacau setelah kehadiran Wisnu yang mengklaim sebagai suami sahnya. Padahal, ia merasa belum pernah menikah dan tengah bersiap membina rumah tangga bersama kekasihnya, Rayyan. Keadaan kian pelik saat sang Bunda justru mendukung pernyataan pria asing itu. Enggan terjebak dalam teka-teki status pernikahan misterius yang tidak masuk akal ini, Wulan pun mulai bergerak. Ia bertekad kuat mengusut tuntas rahasia tersembunyi di balik semua kejanggalan tersebut.
Sampul Novel Tetap mencintaimu
9.6
Ketulusan Keyzia Khanza dalam mencintai Yahya Al-Zayyan begitu menguras energi. Bersama dukungan para sahabat, ia akhirnya menyadari bahwa berharap pada manusia hanya akan menggoreskan luka. Bagi mereka, pernikahan adalah ikatan suci yang jauh lebih tinggi daripada pacaran, dengan takdir Tuhan sebagai penentu akhir. Walau badai dan perpisahan mengintai, Keyzia dan Yahya memilih saling menjaga rasa lewat diam dan doa, berharap cinta mereka abadi hingga ke jannah tanpa melukai siapa pun.
Sampul Novel The Deadly Love
9.6
Kehidupan damai Betty hancur seketika akibat insiden berdarah yang menyeretnya ke dunia Aldric, seorang pembunuh bayaran berdarah dingin. Pertemuan itu memicu obsesi mendalam pada diri Aldric untuk menguasai Betty sepenuhnya. Di tengah hubungan mereka, muncul ancaman dari masa lalu yang bertekad merebut Betty. Aldric pun bersumpah menjaga miliknya dengan segala cara. Bersama para sekutu, sanggupkah mereka melenyapkan pengganggu yang mengancam kebahagiaan mereka?
Sampul Novel Wanita Pemuas Nafsu di Ranjang
8.9
Pascapernikahan dengan Alfons, hidup Ayu kini bergelimang kemewahan dan kebahagiaan. Sifatnya yang melanjutkan kisah Budak Nafsu ini sayangnya harus terusik oleh bayang masa lalu. Maharatih dan Ghofar tiada hentinya mengirimkan teror demi merusak ketenteraman mereka. Keadaan kian mencekam saat Ghofar beralih membidik Alya, anak sulung Ayu. Di tengah misteri yang menyelimuti, Ayu pun harus berjuang keras melindungi keluarganya dari ancaman dendam yang tiada akhir.