APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Tidak Direstui

Cinta Tidak Direstui

Sebagai dokter spesialis sukses dengan klinik pribadi, Risa Ayu Cahyaningrum tetap dipandang rendah oleh ibu kekasihnya yang seorang Mayor TNI. Statusnya sebagai anak petani dianggap tidak sepadan dengan martabat sang tentara. Risa pun harus berjuang keras membuktikan bahwa ketulusan cintanya melampaui perbedaan kasta sosial. Di tengah konflik keluarga yang pelik, kesabaran serta keteguhan hatinya benar-benar diuji demi meraih restu yang terhalang tembok derajat.
Bab
Bagikan

Bab 2

Risa duduk di balkon apartemennya, memandang langit malam yang dipenuhi bintang. Namun, hatinya terasa kosong. Apa yang tadi terjadi di rumah Bima terus terulang dalam pikirannya, seperti rekaman yang diputar berulang-ulang. Kata-kata Ibu Bima, yang merendahkan keluarganya hanya karena profesi orangtuanya, terus menggema di telinganya. Rasanya, segala pencapaian yang telah diraihnya sebagai seorang dokter, tidak ada artinya di mata wanita itu.

"Apa yang harus aku lakukan?" Risa bergumam pelan, matanya menatap kosong ke luar jendela.

Tiba-tiba ponselnya berdering, suara Bima muncul di seberang sana, membuat jantungnya berdebar.

Bima: "Risa, kamu di mana? Aku sudah di depan apartemen kamu. Bisa kita bicara?"

Risa terdiam sejenak. Apa yang ingin dibicarakan Bima? Apakah dia akan membela ibunya ataukah ikut meragukan keputusan Risa untuk tetap berada di sisinya?

Risa: "Aku di rumah, Bim. Masuk saja."

Tak lama kemudian, pintu apartemen dibuka dengan pelan. Bima masuk dengan wajah penuh kecemasan. Dia menatap Risa dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Bima: "Sayang, aku tahu pertemuan tadi berat untukmu. Aku benar-benar minta maaf kalau ibuku menyakiti perasaanmu."

Risa tersenyum tipis, berusaha menahan air mata yang hampir menetes.

Risa: "Aku baik-baik saja, Bim. Tapi, kamu tahu kan, kata-kata ibumu itu... cukup membuat aku merasa rendah."

Bima berjalan mendekat, duduk di samping Risa, dan meraih tangannya dengan lembut.

Bima: "Aku nggak ingin kamu merasa seperti itu, Risa. Kamu lebih dari cukup untukku. Ibuku memang tegas, tapi aku janji akan berusaha meyakinkannya."

Risa menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.

Risa: "Bima, aku nggak minta untuk dipertahankan hanya karena rasa kasihan. Aku ingin dia menerima aku apa adanya, bukan berdasarkan status sosialku."

Bima: "Aku tahu, aku tahu. Tapi, ibuku itu..."

Risa: "Bima, aku sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa ini bukan hanya tentang kamu dan aku. Ini juga tentang dia, tentang bagaimana dia melihat aku dan keluargaku."

Bima menundukkan kepala, menyadari betul betapa berat beban yang Risa rasakan.

Bima: "Aku janji, Risa. Aku akan bicara lagi dengan ibu. Aku akan jelaskan siapa kamu sebenarnya, bukan hanya di mata aku, tapi juga di mata dunia. Aku akan berjuang untuk kita."

Risa menatap Bima dalam-dalam, merasa ragu sejenak, namun akhirnya ia mengangguk pelan.

Risa: "Aku berharap kamu benar-benar bisa meyakinkannya, Bim. Karena aku nggak tahu sampai kapan aku bisa terus seperti ini. Hidup bersama seseorang yang ibunya bahkan tidak bisa menerima siapa aku."

Bima menggenggam tangan Risa lebih erat, memberikan ketenangan yang sangat ia butuhkan.

Keesokan harinya, Risa kembali menjalani rutinitasnya di klinik. Ia sibuk dengan pasien, namun pikirannya masih terus terbayang pada pertemuan kemarin. Setiap kali ia melihat wajah pasien, ia berusaha mengalihkan pikirannya, tapi selalu saja ada yang mengingatkan bahwa masalah ini belum selesai.

Saat makan siang, ponselnya berdering lagi. Ternyata Bima yang menelepon.

Bima: "Risa, aku baru saja selesai bicara dengan ibu. Aku jelaskan semuanya tentang kamu, tentang bagaimana kamu berjuang untuk menjadi apa yang kamu capai sekarang, dan tentang keluargamu."

Risa: "Dan apa yang dia katakan?"

Bima: "Ibu bilang dia akan mempertimbangkan. Aku bisa melihat sedikit perubahan di ekspresinya, meskipun dia nggak langsung menerima."

Risa tidak tahu apakah itu kabar baik atau buruk.

Risa: "Aku ingin dia tahu siapa aku, Bim. Bukan hanya sebagai dokter, tapi juga sebagai seorang wanita yang punya keluarga dan asal-usul yang aku banggakan."

Bima: "Aku mengerti, Risa. Aku akan bantu kamu sampai dia benar-benar terbuka."

Risa tersenyum, meskipun hatinya masih dipenuhi keraguan.

Beberapa hari kemudian, Risa memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Ia mengundang Ibu Bima untuk bertemu secara pribadi, tanpa Bima di sana. Ia ingin menunjukkan pada wanita itu siapa dirinya, bukan melalui kata-kata Bima, tapi langsung darinya sendiri.

Risa mempersiapkan segalanya dengan hati-hati. Ia memilih kafe yang tenang dan nyaman untuk pertemuan tersebut. Saat Ibu Bima datang, wajahnya tetap tegas, namun kali ini Risa tidak merasa cemas. Ia sudah memutuskan untuk berbicara dari hati ke hati.

Risa: "Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu, Bu."

Ibu Bima: "Tentu, Risa. Aku mendengar dari Bima bahwa kamu ingin bicara."

Risa: "Saya ingin Ibu tahu bahwa meskipun saya berasal dari keluarga petani, saya bangga dengan siapa saya dan dari mana saya berasal. Ayah saya, meskipun hanya seorang petani, telah mengajarkan saya banyak tentang kerja keras, ketekunan, dan menghargai setiap langkah kecil dalam hidup."

Ibu Bima mengamati Risa dengan seksama, tak ada ekspresi jelas di wajahnya.

Risa: "Saya tahu Ibu ingin Bima punya pasangan yang sesuai dengan standar Ibu, tapi saya ingin Ibu tahu bahwa saya juga bisa memberikan dukungan, bukan hanya sebagai seorang dokter, tetapi juga sebagai seorang istri yang akan selalu ada untuknya."

Ibu Bima terdiam beberapa saat. Risa menatapnya dengan tegas, memberikan keyakinan dalam setiap kata yang ia ucapkan.

Ibu Bima: "Kamu tidak bisa mengubah masa lalu, Risa. Tapi aku menghargai bahwa kamu cukup berani untuk datang dan bicara langsung."

Risa merasa ada secercah harapan, meskipun ia tahu bahwa jalan ini masih panjang. Tapi satu hal yang pasti, ia tidak akan menyerah begitu saja.

Risa: "Saya ingin ibu tahu bahwa saya akan selalu berusaha untuk membuat Bima bahagia. Dan saya berharap, di masa depan, ibu bisa melihat saya lebih dari sekadar latar belakang saya."

Ibu Bima menghela napas panjang, lalu mengangguk perlahan.

Ibu Bima: "Kita lihat saja bagaimana jalan ini berjalan, Risa."

Risa tersenyum tipis, merasa sedikit lega meskipun masih banyak yang harus ia buktikan. Tapi satu hal yang ia yakini, cinta memang bukan hanya tentang status atau latar belakang, tetapi tentang bagaimana seseorang bisa menerima dan mencintai sepenuh hati.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cincin Dendam : Janji di Balik Rahasia
9.4
Akibat cemburu, Lara tak sengaja merusak hubungan adiknya dengan Leon, menyeretnya ke dalam rahasia kelam keluarga Ariatama Marten. Leon yang menyimpan rencana tersendiri justru menawarkan pernikahan kontrak demi membalas pengkhianatan itu. Demi menjaga nama baik keluarga dan perasaan cintanya yang tersembunyi, Lara pun menerima tawaran tersebut. Akankah pernikahan tanpa cinta ini menumbuhkan rasa sejati, atau justru membongkar luka lama serta misteri berbahaya yang mengancam mereka?
Sampul Novel Dendam Anak Tiri
9.1
Kemiskinan dan hinaan masa kecil mengubah Alena menjadi sosok ambisius yang haus balas dendam. Ia bertekad menghancurkan keluarga ayah kandungnya yang kaya raya karena telah menelantarkannya. Di sisi lain, Alyssa, adik tirinya yang manja, tidak menyadari bahwa kehidupan mewahnya akan segera terusik. Pertemuan mereka memicu konflik besar saat rahasia persaudaraan terungkap. Akankah misi Alena berhasil atau justru berakhir duka bagi keduanya?
Sampul Novel DUDA KHILAF
9.4
Malik Indra Wahyuda, duda satu anak, menelan kegagalan pernikahan hingga lima kali. Trauma mendalam akibat wafatnya istri pertama memicu diagnosis impotensi pada dirinya. Hal ini membuat para istri berikutnya pergi karena tak mendapat nafkah batin. Terpuruk pasca-perceraian kelima, Malik hampir menyerah pada hidup. Namun, takdir mempertemukannya dengan gadis muda bernama Isna. Insiden khilaf satu malam di antara mereka menjadi bukti bahwa gairah Malik yang padam kini telah bangkit kembali.
Sampul Novel GEJOLAK GAIRAH DILAN
9.1
Hanya dalam tiga kali berjumpa, Dilan dan Nessa langsung saling terpikat. Sayangnya, pertemuan ketiga justru menyisakan kepedihan mendalam bagi Dilan. Di bawah pengaruh obat perangsang, Nessa mengalami insiden tak terduga yang memaksa Dilan melanggar janjinya untuk melindungi kehormatan wanita idamannya tersebut. Kini, nasib hubungan mereka berada di ujung tanduk. Sanggupkah Nessa mengampuni tindakan Dilan, dan dapatkah benang kusut kesalahpahaman di antara mereka terurai?
Sampul Novel Harga Cinta Terpendam
9.0
Dulu aku terpaksa menghancurkan Bram demi melindunginya. Sekarang, ia kembali sebagai pengacara berdarah dingin yang berniat merebut Kania, putriku. Bram sama sekali tidak menyadari bahwa Kania adalah anaknya sendiri, dan aku sedang berjuang melawan leukemia yang mematikan. Di tengah tuntutan hukumnya yang kejam, aku harus bertahan hidup. Menjelang ajal, kuikhlaskan semuanya untuk Kania dan kutinggalkan sepucuk surat yang akan menghancurkan hidup pria yang sangat kucintai.
Sampul Novel Melahirkan Anak Mantan
9.3
Keadaan mendesak memaksa Rania pergi menjauh, meninggalkan kota asal sekaligus kekasihnya, Devano, tanpa sepatah kata pun. Kepergian misterius ini menorehkan luka batin dan kemarahan mendalam pada diri Devano. Enam tahun kemudian, takdir mempertemukan pria itu dengan seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengannya dan Rania. Misteri besar apa yang sebenarnya dipendam Rania? Mengapa ia memilih pergi dan memicu kebencian Devano? Temukan jawabannya dalam kisah emosional ini.