
Cinta Terkubur dalam Arus Sungai
Bab 2
Arwahku melayang keluar dari pabrik tua yang terbengkalai itu dan akhirnya berhenti di sisi Ayah dan Ibu. Mungkin ini dikarenakan oleh obsesiku.
Di ruang tamu, Ibu tidak berhenti menangis dan menggumamkan nama Yasmine.
“Putriku nggak pernah alami hal semacam ini dari kecil. Pasti Liana yang bawa Yasmine berkeliaran di luar sehingga mereka diculik!” keluh Ibu pada Ayah.
Aku berseru, “Bukan! Bukan aku yang berkeliaran di luar! Yasmine yang berlari ke gang kecil, sedangkan aku cuma mengejarnya!”
Aku mau menjelaskan, tetapi Ibu tidak dapat mendengar ucapanku. Sementara itu, Ayah hanya menepuk-nepuk bahunya untuk menghiburnya.
Sebelum kejadian ini, aku mau melihat-lihat universitas Yasmine. Jadi, aku dan sopir pergi menjemputnya. Namun, kami malah diculik bersama di sebuah gang tidak jauh dari gerbang universitas.
Ibu masih tetap menangis dan berkata, “Liana itu datang dari desa. Dia sama sekali nggak mirip sama putri kita. Apa mungkin tes DNA-nya salah? Setelah mereka kembali, kita usir saja Liana. Kalau nggak, Yasmine pasti nggak akan senang.”
Hatiku terasa getir. Saat pertama bertemu Ayah dan Ibu, aku berdiri dengan gelisah di depan mereka. Ibu menangis dan berkata pada Ayah betapa mirip aku dengannya. Begitu melihatku, dia langsung tahu aku ini putrinya.
Saat ini, dia malah berharap hasil tes DNA itu palsu dan aku bukanlah putrinya. Aku menutupi dadaku dan berpikir, ternyata hati masih bisa terasa sakit setelah mati.
Setelah Ibu menjemputku dari Keluarga Tanzil, dia memelukku semalaman dan tidak ingin tidur karena takut aku akan hilang. Melihat luka yang tertinggal di tubuhku karena dianiaya di Keluarga Tanzil, dia mengoleskan obat sambil menangis. Pada saat itu, aku merasa akhirnya ada orang yang menyayangiku.
Sekarang, aku merasa sangat putus asa. Orang tuaku di Keluarga Tanzil selalu menyiksaku, sedangkan orang tua kandungku membenciku. Mungkin aku memang seharusnya mati. Bagaimanapun juga, aku hanya akan menjadi beban orang lain jika masih hidup.
Penculik menelepon orang tuaku lagi untuk mendesak orang tuaku memberikan uang tebusan. Mereka seharusnya menyadari aku sudah mati dan takut ketahuan, jadi mereka ingin mendapatkan uang secepatnya.
Yasmine yang menangis tidak berhenti memanggil Ibu. Begitu mendengar suaranya, Ibu pun menangis makin kencang. Aku teringat pada kejadian di awal kami diculik. Saat penculik menyodorkan ponselnya kepadaku, aku baru memanggil, “Ibu ....”
Namun, Ibu malah buru-buru menyela, “Di mana Yasmine? Aku mau dengar suara Yasmine! Di mana putriku!”
Aku pun menelan kembali semua kata-kataku, lalu menyodorkan ponselnya pada Yasmine. Setelah itu, setiap kali penculik menyodorkan ponselnya padaku, aku akan menggeleng dan menyerahkannya kepada Yasmine.
Di sisi lain, Ibu sepertinya sudah melupakan keberadaanku. Tidak pernah sekali pun dia mengungkit tentangku.
Dia memastikannya sekali lagi dan bertanya pada penculik, “Jari-jari dan telapak kaki itu milik Liana, bukan milik Yasmine, ‘kan?”
Setelah mendengar jawaban pasti dari penculik, dia baru merasa lega dan menghibur diri sendiri, “Yasmine mau main piano. Dia nggak boleh kehilangan jari. Liana lebih tangguh, biarkan saja dia menderita sedikit. Dia nggak akan kenapa-napa hanya kehilangan jari dan kaki.”
Pada awal kami diculik, penculik mengatakan bahwa harus ada salah satu dari kami yang mengorbankan jarinya supaya bisa dikirim kepada Keluarga Lukira. Aku pun mengadang di depan Yasmine dan mengulurkan tanganku dengan gemetar.
“Dia bukan putri Keluarga Lukira. Kalau kalian potong jarinya dan orang tua kami tes DNA, hasil DNA-nya nggak akan bisa buktikan apa-apa.” Aku berkata dengan yakin, “Aku ini putri Keluarga Lukira. Potong saja punyaku.”
Setelah menerima bingkisan itu, Ayah dan Ibu benar-benar pergi melakukan tes DNA. Awalnya, penculik merasa Yasmine bukan putri Keluarga Lukira dan Keluarga Lukira tidak mungkin akan menebusnya. Jadi, mereka pun berencana untuk menyanderaku seorang. Namun, karena khawatir Yasmine akan mengadu setelah pulang, mereka pun tidak melepaskannya.
Namun, dari telepon-telepon ini, mereka berangsur-angsur mengetahui bahwa Keluarga Lukari tidak begitu menyukaiku.
Anda Mungkin Juga Suka





