
Cinta Telah Padam, Jalan Kita Berpisah
Bab 3
Namun tubuhnya hanya kaku sesaat.
Setelah itu, dia tetap membawa anak laki-laki itu melewati Anto begitu saja dengan sikap dingin.
Seolah mereka benar-benar orang asing!
Mata Anto tiba-tiba memerah.
Aku segera menghampirinya. Dia masih menatap punggung Irfan dan bertanya dengan suara pelan, "Ibu, apakah itu orang yang disayangi ayah dan anaknya?"
Mendengar suara kecilnya yang penuh luka, seluruh tenagaku seakan hilang. Air mataku jatuh tanpa bisa ditahan.
Anto pun tak bertanya lagi. Dia hanya menggenggam tanganku erat dan berjalan pulang.
Hanya mata yang semakin merah menunjukkan rasa sakitnya.
Aku hanya bisa menatapnya penuh iba, kasihan melihat Anto menahan emosinya sendiri.
Irfan, kau hanya punya dua kesempatan lagi.
Setelah Anto menyelesaikan tugas sekolahnya, dia bertanya ragu-ragu, "Ibu, hari minggu nanti ada lomba olahraga keluarga. Ayah bisa datang?"
Aku menatap mata yang penuh harapan, dan terdiam.
Sejak masuk sekolah, Irfan belum pernah sekalipun ikut kegiatan keluarga.
Aku tidak tega menyakiti hatinya, jadi aku hanya menjawab lembut, "Ibu akan tanya, ya."
Aku menunggu di sofa hingga dini hari, barulah Irfan pulang dan meletakkan sebuah robot di meja dengan sembarangan.
Aku berbicara, "Hari Minggu nanti ada lomba olahraga keluarga di sekolah. Anto ingin kamu datang."
"Aku akan datang."
Sebenarnya aku tidak berharap apa pun, tetapi tidak menyangka dia akan setuju.
Pagi harinya, Anto bangun dan memandangku, dan berkata dengan pelan, "Ayah tidak mau datang, ya?”
“Tidak apa-apa, ibu juga bisa menemani aku."
Ia berkata begitu seolah menenangkan dirinya sendiri.
Melihat betapa dewasanya dia, hatiku teriris.
Aku segera mengucapkan, " Ayah sudah janji akan datang."
"Ayah sibuk, aku harus mengerti dia..."
Dia masih menggumam sendiri, namun ketika dia mendengar kata-kataku, dia terdiam. Ia lalu menatapku dengan tidak percaya.
"Ibu, apakah benar?"
"Kapan ibu pernah bohong sama kamu?"
Aku mengelus kepalanya dengan sayang.
Anto pun tersenyum sangat cerah.
Ini pertama kali Irfan menemani anaknya.
Saat melihat robot di meja, matanya langsung bersinar, dan dia berkata dengan senang, "Ini pasti hadiah dari Ayah untukku, kan?"
Aku ikut menatap robot itu. Tanpa berpikir panjang, aku juga mengira begitu. Aku pun mengangguk dan tersenyum.
Anto begitu gembira, sampai langkahnya sedikit goyah.
Hari-hari berikutnya, Anto sangat bersemangat.
Namun setiap hari, dia selalu bertanya dengan cemas, "Ayah pasti datang, kan?"
Aku melihat dia yang khawatir, merasa sangat kasihan. Berkali-kali aku meyakinkannya bahwa Irfan pasti akan datang.
Hari Minggu pun tiba. Aku membawa Anto ke sekolah terlebih dahulu. Satu per satu, ayah-ayah anak-anak lain mulai datang. Sementara Anto tampak gelisah, terus menatap ke arah gerbang.
Telapak tangannya yang aku genggam terasa basah oleh keringatnya.
Lalu, aku melihat Citra datang bersama anak laki-laki itu.
Robot di tangan anak laki-laki itu sangat mencolok, anak-anak lain segera mengerumuninya.
Anto juga melihatnya. Matanya langsung tertuju pada robot itu. Dalam sekejap, matanya dipenuhi air mata.
Aku juga terkejut ketika melihat robot itu, hingga jemariku agak bergetar.
Aku tahu betul itu robot yang Irfan bawa pulang beberapa hari lalu.
Sejak Anto lahir, Irfan tak pernah membelikan mainan untuknya. Aku sempat berpikir mungkin Irfan mengingat ulang tahun Anto yang sebentar lagi, jadi itu adalah hadiah darinya.
Tapi ternyata mainan itu dibelikan untuk anak lain!
"Ini dari ayahku! Cuma ada satu di seluruh kecamatan!"
Suara bangga anak itu terdengar jelas ke telingaku dan Anto.
Anda Mungkin Juga Suka





