
Cinta Telah Padam, Jalan Kita Berpisah
Bab 4
Aku berkata dengan suara gemetar, "Ibu akan belikan untukmu sebanyak-banyaknya.”
Anto mengusap air matanya dan mengangguk dengan patuh.
Tapi kali ini, dia tak lagi terus bertanya soal paman kenapa belum datang.
Aku menatap mata Anto yang sembab, dan berkata dalam hati, ‘Irfan, ini kesempatan terakhirmu.’
Detik-detik sebelum lomba dimulai, Irfan datang dengan napas terengah-engah.
Anto yang awalnya diam dan suram, langsung melihatnya. Matanya seketika bersinar dan dia langsung lari dengan cepat ke arahnya.
"Ayah! Akhirnya kamu datang!"
Irfan mendengar suara itu dan menatapnya dengan wajah tak menyenangkan.
"Kalian berdua kenapa di sini?"
Aku mendengar pertanyaannya, firasat buruk merayap pelan dalam hatiku.
Anto berlari dan berdiri di sebelahnya, dan menatap penuh harap sambil mendongak.
"Ayah…"
Namun Irfan malah menatapnya dengan tajam dan bertanya dingin, "Kamu panggil aku apa?"
Kegembiraan di wajah Anto langsung membeku. Ia berkata pelan, "Paman, terima kasih sudah datang ikut lomba denganku."
"Lomba sudah mau dimulai, ayo kita ke sana!"
Anto tampak sangat gembira. Di sekolah, teman-temannya sering mengejeknya sebagai anak tanpa ayah. Sekarang ayahnya sudah datang, dia bisa membuktikan.
Dia sudah bisa menggenggam tangan ayahnya dan beri tahu mereka bahwa dia bukan anak yang terlantar!
"Ini ayahku! Kamu anak terlantar, pergi sana!"
Setelah itu, sebuah bayangan anak kecil berlari ke arah mereka. Ia menabrak Anto hingga jatuh.
Aku cepat-cepat bantu Anto bangkit. Melihat luka di telapak tangannya, aku sangat marah.
"Di mana ibumu? Ini cara ibumu mendidik kamu?"
Belum sempat aku melanjutkan, Irfan langsung melindungi anak itu dan berdiri di depannya.
"Santo bukan sengaja. Kenapa kamu malah marah ke anak kecil?"
Anak bernama Santo itu lalu membentak marah, "Siapa suruh dia rebut ayahku! Ayah datang untuk ikut lomba denganku!"
Anto pun terdiam. Air matanya mengalir, wajahnya penuh sedih dan kecewa.
Irfan tampak gugup melihatnya menangis. Ia langsung memanggilnya, "Anto..."
Tapi Anto menyeka air matanya, dan berkata, "Maaf, aku lupa... ayahku sudah meninggal. Aku salah orang."
"Apa kamu bilang?"
Irfan menatap Anto dengan tertegun.
Tapi Anto menggenggam tanganku erat dan menarikku pergi. Aku bisa merasakan energinya yang kuat.
Irfan sempat hendak mengejar, tapi Santo dan Citra menariknya, "Ayah, lombanya sudah mau mulai.”
“Ayo cepat!”
Genggaman Anto semakin kuat, dia sambil lari kecil untuk pergi dari situ.
Lomba dimulai dengan meriah. Tapi Anto menolak ikut serta. Ia hanya berdiri diam di tempat penonton, dan melihat ayahnya memeluk anak orang lain ikut lomba keluarga.
Anto hanya menatap dalam diam, air matanya jatuh satu per satu, tetapi tidak ada suara tangisan yang terdengar.
Aku merasakan kesedihan yang menyelimuti Anto, kemarahan membara di dadaku, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Akhirnya, air mata Anto sudah kering. Dia lalu berkata dengan pelan. "Ibu, sudah waktunya kita pergi."
Aku segera berkata penuh kasih, "Ya, kita pergi malam ini."
Ketika lomba berakhir, aku dan Anto berjalan keluar. Di gerbang, kami kembali berpapasan dengan keluarga kecil bahagia itu.
Irfan menatapku dan Anto. tiba-tiba merasa bersalah karena memeluk anak lain.
Belum sempat dia menurunkan anak itu, dia mendengar Anto berkata dengan tulus, "Paman, sampai jumpa."
Anda Mungkin Juga Suka





