APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CINTA SANG JANDA

CINTA SANG JANDA

Demi menghidupi anak tercinta setelah bercerai, Rahma rela melakoni pekerjaan apa saja yang halal. Suatu hari, sebuah insiden kecelakaan mempertemukan dirinya dengan Rian, sosok pria tampan yang kemudian selalu melindungi dan mendampinginya. Hubungan mereka kian dekat, namun perbedaan status sosial serta keyakinan membuat keluarga enggan memberi restu. Perjuangan cinta mereka pun kini diuji oleh rintangan berat dari nenek Rian. Mampukah keduanya bertahan?
Bab
Bagikan

Bab 3

****

"Ini, KTP saya, Mbak. Sebagai jaminan, jika saya macam-macam ke anak Mbak, laporkan saja ke polisi," ucap Rian terus terang, tangannya yang putih itu mengulurkan kartu Identitas dirinya. 

Mata ini, tak bisa ditahan untuk melihat data-data laki-laki itu. Ternyata dia masih muda, empat tahun di bawah umurku.

Sebentar, aku menajamkan mata melihat kepercayaan yang dia anut. Ternyata Rian tak seiman denganku. Untuk apa aku pikirkan itu? 

"Baiklah, saya akan memberikan alamat, tapi bukan alamat kontrakan saya," ucapku mengembalikan kartu identitasnya. 

"Terserah, Mbak saja. Yang penting saya bisa memberi kabar kepada anak, Mbak atau tetangga."

Aku mengangguk. Mencari sesuatu, kertas atau pulpen untuk menulis alamat rumah ibu kontrakan. Sepertinya Rian paham tanpa aku beri tahu. 

"Ketik di HP saya saja, Mbak."

Tanganku gemetar ketika menyambut benda pipih yang disodorkan Rian. Aku yakin benda ini sangat mahal.

Dulu, mantan suamiku bahkan menghantamku dengan sumpah serapahnya hanya karena aku tak sengaja menjatuhkan benda pipih miliknya. Tak bisa aku lupakan setiap luka yang dia goreskan. 

Aku hati-hatu menerima benda itu. Jempol ini mencoba menekan tombol on of pada samping kiri. Di layar dapat aku lihat foto Rian yang sedang tersenyum. Fotonya terlihat sangat tampan. Apa-apaan pikiran ini? 

"Maaf, bagaimana cara bukanya? Sepertinya dikunci."

"Maaf, Mbak. Sebentar," ucap Rian mengambil gawainya dari tanganku.

Tentu saja tangannya yang lembut itu tak sengaja menyentuh jemari tanganku. Hanya sedikit dan sekilas. 

"Ini," ucap Rian mengembalikan benda itu padaku. 

Walaupun tidak punya gawai sekarang ini. Aku masih ingat bagaimana memainkan benda mahal ini. Dulu aku pernah memilikinya, walaupun hanya yang murah. Namun, terpaksa dijual karena menambah biaya melahirkan. 

"Sudah," ucapku pada Rian. Laki-laki itu tersenyum. Aku tidak berani menatap wajahnya lama-lama. 

"Baiklah, Mbak. Nanti saya pulang dulu. Sekalian saya akan menemui anak, Mbak."

"Itu alamat ibu kontrakan. Nanti kamu titip pesan saja pada ibu kontrakan, sementara Laila saya titip di rumah beliau dulu."

"Laila, nama yang sangat indah. Pasti memiliki arti 'kan, Mbak?"

Aku mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Rian. Maksudnya apa bicara seperti itu. Tidak nyambung dengan pembicaraan kami saat ini. 

"Ya, tentu saja."

"Lail, malam, bukankah begitu, Mbak?"

Aku agak terkejut mendengar ucapan Rian. Dia bisa tahu sejauh itu. Lail artinya memang malam. 

"Saya permisi dulu ya, Mbak. Kalau ada apa-apa Mbak bisa minta tolong kepada perawat."

Aku mengangguk. Laki-laki bertubuh tinggi itu pergi, tak lupa ia membawa tas punggungnya. Kutatap punggungnya sampai hilang. Namun aku tergugup ketika tiba-tiba Rian kembali lagi untuk menutup pintu. 

****

Suasana di ruangan ini terasa sangat sepi. Sesepi hati ini semenjak menyandang status janda. Dulu, aku pernah mendengar kalimat sumbang orang, bahwa menjadi janda itu sulit. 

Memang sulit. Salah-salah bicara pasti langsung dituding. Salah-salah langkah pasti langsung mencerca status janda itu.

Godaannya juga lebih besar, belum lagi pandangan orang yang sudah terlanjur negatif. Katanya ada janda yang rela menjual dirinya, baik itu lewat selingkuh dengan suami orang atau menjadi PSK. Padahal tidak semua janda seperti itu bukan? 

Aku sendiri lebih memilih berjuang memeras keringat, dari pada harus menjual diri. Agama mana saja tentu melarang perbuatan itu. 

Aku masih ingat cacian mbak Andin—kakak  iparku. Ketika aku diusir oleh ibu mertua, dia menyumpahi  bakal menjual kehormatan ini untuk menafkahi Laila. Rasanya sangat sakit,   seperti jantung ini dihujam dengan belati tajam. 

Aku hanya berdoa agar selalu diberi kekuatan dan kemudahan dalam mencari nafkah untuk anakku. 

Tanpa terasa bulir bening menggenang di dalam mata ini. Aku tak boleh rapuh, walaupun kadang aku tak kuat. Namun, tetap terus berjuang demi Laila, tak ada lagi penyemangat hidupku selain gadis kecil yang imut itu. 

Bagaimana keadaannya sekarang? Hatiku menjadi gundah, kepikiran terus pada Laila. Sudah seharian aku di rumah sakit, tanpa memberi kabar dan tau kabarnya. Semoga laki-laki itu tepat janji. 

****

Kicauan burung petang ini sangat jelas terdengar. Dapat aku saksikan beberapa dari burung itu bergelayut di tiang listrik. Mungkin para burung itu tengah menyambut datangnya malam. 

Aku mendesah resah melihat keadaan diri ini. Biasanya jam segini aku tengah  sibuk menyetrikan baju-baju tetangga yang menitip cucian atau setrikaan. Selama setahun aku menggeluti pekerjaan itu, karena dengan begitu aku bisa tetap bersama anakku. 

Jika mencari pekerjaan lain, mungkin bisa saja. Namun, tentu saja tidak akan dibolehkan membawa anak. Itulah yang membuatku memilih mengumpulkan uang empat ribu atau lima ribu per kilo dari pakaian yang aku kerjakan. 

"Selamat petang, Bu. Minum obat dulu, ya."

Perawat muda masuk ke dalam ruangan ini. Dia tak lepas dari senyum yang manis itu. 

"Maaf, Bu. Kalau boleh tau berapa lama saya dirawat di sini?"

"Sebenarnya kalau dipaksakan bisa saja pulang besok, Bu. Namun itu tadi, suami Ibu menginginkan Ibu tetap dirawat dulu sampai kaki Ibu bisa digerakkan. Suami Ibu penyayang sekali ya, bahkan dia meminta obat yang lebih bagus agar cepat sembuh."

Kata-kata perawat itu membuat jantungku berdetak kencang. Bukan karena ada siraman cinta, melainkan gugup memikirkan berapa biaya perawatanku. 

"Cepat sembuh ya, Bu. Latihan untuk menggerakkan kaki Ibu. Tapi jangan dipaksa ya," ucap perawat itu berlalu. 

Suami? Dia bukan suamiku. Ingin rasanya membantah perkataan perawat itu. Laki-laki itu hanyalah orang yang sudah menabrakku. Bicara tanpa bertanya sebelumya. Atau? Apakah Rian itu yang mengaku sebagai suamiku? Berani sekali dia. 

Bersambung....

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dibuang oleh Keluarga
9.7
Hari pernikahan Cindy Marissa berubah menjadi mimpi buruk saat Thomas Samono membatalkan upacara demi Yana Amerta yang baru kembali. Tak hanya kehilangan calon suami, kakak kandung Cindy pun tega meninggalkannya di altar dengan alasan Yana lebih membutuhkannya. Pengkhianatan mereka semakin nyata saat Yana memamerkan foto dirinya mengenakan gaun pengantin dan kalung yang seharusnya menjadi milik Cindy. Merasa hancur dan ditinggalkan sendirian oleh orang-orang terdekatnya, Cindy akhirnya memutuskan untuk menyerah dan memilih pulang kepada kedua orang tuanya.
Sampul Novel Ending Scene: Wanita Terakhir di Hati Presdir
8.6
Demi membalaskan dendam keluarganya, Kirei Nakamoto nekat menikahi River King Mountbatten, konglomerat yang mengalami kelumpuhan dan kebutaan. Sementara itu, River yang memendam trauma akibat pengkhianatan masa lalu juga sedang bersiap menghadapi ibu serta adik tirinya yang serakah. Hubungan yang semula terikat kesepakatan saling memanfaatkan ini perlahan berubah. Luka batin yang serupa justru menyatukan mereka dalam cinta. Mampukah Kirei menjadi pelabuhan terakhir bagi hati River?
Sampul Novel Istriku Cacat, Istriku Malang
9.7
Pasca kecelakaan tragis yang menewaskan tunangannya, Ellard Willard didera dendam mendalam. Ia melimpahkan seluruh kemarahannya kepada Emily Laura, perempuan yang dituduh sebagai penyebab utama musibah tersebut. Situasi ini menjebak mereka dalam ikatan rumit yang sarat akan penderitaan. Namun, saat perseteruan mereka semakin memuncak, Ellard justru terjerat dalam keintiman membingungkan yang perlahan mengikis batasan antara rasa benci dan obsesi tak terkendali.
Sampul Novel Rintik Hujan Yang Menggugurkan Cinta
8.0
Rumah tangga yang dibina sekian lama hancur seketika saat sang suami, Benson, diam-diam mendonorkan sperma kepada janda mendiang sahabatnya. Bukannya merasa bersalah, Benson justru memarahi istrinya dengan dalih rasa kemanusiaan dan setia kawan. Pengkhianatan ini kian nyata ketika sang janda memamerkan penthouse mewah baru lengkap dengan foto Benson yang sedang memasak di dapur mereka. Sadar bahwa pengorbanan dan toleransinya telah dieksploitasi habis-habisan, sang istri akhirnya membulatkan tekad untuk mengakhiri pernikahan beracun ini.
Sampul Novel Takdir Yang Tertunda
9.8
Move Herdianata, janda mandiri yang bekerja di perusahaan logistik, terjebak dalam konspirasi rumit. Setelah hubungan dengan kekasih virtualnya, Farhan, kandas, ia menjadi incaran skenario dingin dari CEO arogan bernama Ray Dianata. Demi melindungi Move dari ancaman besar, Ray berkolaborasi dengan Feronika Alfarest untuk mengusirnya. Namun, sebuah rahasia besar terkuak ketika identitas asli Farhan ternyata berhubungan erat dengan Ray. Mampukah Move bertahan di tengah skema berbahaya ini?
Sampul Novel Terbelenggu Cinta Kakak Ipar
9.2
Yuan dihantui rasa bersalah setelah melewati malam terlarang bersama kakak iparnya, Rafan. Walau sepakat merahasiakannya, ia tak bisa lupa. Di tengah situasi itu, perlakuan kejam dan perselingkuhan suaminya justru membuat Yuan kembali mencari perlindungan pada Rafan. Ketika rahasia gelap ini mulai terancam terbongkar, mampukah Yuan menemukan cinta sejati di tengah lingkaran pengkhianatan dan konflik keluarga yang rumit?