APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Romantis Bagaikan Buih

Cinta Romantis Bagaikan Buih

Keputusan Chinta Luna sudah bulat untuk menanggalkan nama lamanya. Meski petugas administrasi telah memperingatkan rumitnya mengurus perubahan dokumen penting seperti ijazah, paspor, dan kartu identitas, ia tetap teguh menandatangani formulir pengajuan. Mulai saat itu, ia resmi melepaskan masa lalu dan memilih nama baru, Cahya Arjuna, sebuah nama yang membawa harapan baru sebagai lentera penerang dalam perjalanan panjang hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Ravi sangat khawatir, buruan mendekati: “Chinta, kamu kenapa?”

Chinta muntah sampai pusing, sudah beberapa saat pun masih belum pulih.

Dia nggak ngerti.

Kenapa Ravi yang begitu mencintainya bisa selingkuh.

Apakah nggak takut ketahuan sama dia?

Atau Ravi ngerasa dia sudah sangat menutupi, bisa selamanya menyembunyikannya?

Angin malam menghembus, Chinta jadi lumayan sadar.

Ravi menanyainya: “Nggak papakan Chinta? Kalau tidak enak badan aku bawa ke rumah sakit.”

“Nggak perlu, mungkin tadi malam salah makan.”

“Kalau gitu, besok kamu ke perusahaan cari aku, kita makan bareng.”

Chinta senyum dingin.

Ke perusahaan lihat pertempuran kamu dan Nanda?

Chinta tiba-tiba mau isengin mereka.

“Ok, kalau gitu besok pagi aku ikut kamu ke perusahaan nemanin kamu kerja, baru makan bareng, malamnya pulang sama-sama.”

Ravi nggak sangka dia bisa setuju, mukanya jadi sedikit terpaksa: “Tapi belakangan ini kerjaku sibuk, mungkin tidak bisa temanin kamu terus.”

“Nggak papa, aku nunggu kamu di kantor.”

“...Baiklah.”

Sesampai di rumah, Ravi bilang mau bantuin Chinta siapin air hangat langsung ke kamar mandi, tetapi mengunci pintunya.

Chinta turun tangga, dan kembali duduk di mobil.

Setelah menyalakan mobil, layarnya langsung muncul obrolan terbaru.

Ravi Kaden: Ada perubahan, besok kita nggak bisa di kantor.

Kucing Kecil Ngemil: Ah, sedikit kecewa.

Ravi Kaden: Kucing genit jangan kecewa, abang bawa kamu ke atap gedung, makin menantang dan seru.

Kucing Kecil Ngemil: Hihihihi, abang paling hebat.

Saat Chinta balik ke kamar, Ravi keluar dari kamar mandi: “Chinta, air mandinya sudah disiapkan, pergi rendamlah.”

“Nggak perlu, aku mau istirahat.”

“Baiklah, kalau ngantuk tidurlah. Oh iya, kado yang kamu letak di atas meja boleh aku bukain sekarang?”

Chinta bilang: “Seminggu lagi baru kamu buka.”

“Kenapa harus tunggu seminggu? Aku mau sekarang lihat kado yang dipersiapkan Chintaku.”

“Karena......”

Karena seminggu lagi, akau akan pergi darimu selamanya.

“Karena seminggu lagi, kado ini baru bermakna.”

Ravi mencium keningnya: “Baik, dengar katamu.”

Esok paginya, handphone Ravi jam 6 sudah berbunyi.

Dia matiin lalu balikin badan peluk Chinta: “Biarin, tidur lagi sebentar.”

Tapi handphonenya terus-menerus berbunyi.

Ravi dengan jengkel mengkerutkan dahinya: “Belum waktu kerja, pagi-pagi sudah mendesak terus, suatu hari aku akan suruh kelompok eksekutif nggak berguna ini pergi.”

Dan matiin lagi.

Saat handphone berbunyi ke 3 kalinya, Ravi dengan emosi bangun, “Chinta kamu tidur lagi, aku nanyain masalah apa cari aku.”

Chinta iyain.

Berbalik badan, menghadapkan punggung ke dia.

Ravi mengambil handphonenya dan keluar dari kamar.

Nggak lama, sosoknya muncul di depan pintu lantai 1.

Luar berdiri seorang pengantar makan, kasih ke dia sekantong barang.

Ravi mengambilnya, tapi saat balik tangannya malah kosong.

Chinta menanyainya: “Masalah perusahaan sangat serius?”

Ravi menjawabnya: “Nggak terlalu, Chinta kamu jangan khawatir, istirahat dengan tenang, aku buatin sarapan.”

Nggak tahu karena merasa bersalah atau benaran khawatir dia salah makan, sarapan yang disiapin Ravi sangatlah mewah.

Susu, telur, roti, selai dan ada bubur gandum kesukaannya.

“Kedepannya kamu nggak boleh sembarangan makan lagi, aku bantu cariin mbak aja, tiap hari buatin makan.”

“Nggak perlu.”

“Dengar perkataan aku Chinta, kalau nggak aku nggak tenang saat kerja.”

“Ravi, bisa nggak aku tanyain sesuatu?”

“Tanya saja.”

Chinta meletakkan pisau dan garpu, dengan tenang bertanya: “Menurutmu benar nggak setelah 7 tahun nikah adalah fase atau momen terberat?”

Ravi langsung menunjukkan eskpresi sangat benci: “Itu hanyalah alasan para cowok untuk beralih cinta, aku berbeda, seumur hidup aku hanya mencintai Chintaku.”

“Seumur hidup hanya cinta aku?”

“Iya benar.”

“Kalau kamu suka cewek lain?”

“Kalau gitu aku akan disambar petir, mati dengan nggak tenang.”

Chinta senyum dengan sindir: “Sumpah yang begitu berat, kamu nggak takut benaran terjadi?”

“Yang aku ngomongin semuanya benar, untuk apa aku takutin?”

Chinta mengambil lagi pisau dan garpunya, mengoles selai ke rotinya.

Ravi bilang: “Chinta, kamu harus percaya sama aku.”

Chinta hanya bilang: “Makanlah.”

“Kamu masih nggak percaya aku? Apa harus aku kasih lihat hatiku baru kamu mau percaya?”

“Perusahaan masih ada yang menunggumu, jangan sampai telat.”

Ravi akhirnya merasa lega, duduk di depannya Chinta: “Biarin mereka tunggu, sekelompok orang nggak guna, aku akan pecat mereka.”

“Pecat dia, kamu tega?”

Yang dimaksud Chinta itu “dia” bukan “mereka”.

Chinta nggak tahu Ravi ngerti nggak maksudnya, cuman dengar dia menjawab: “Selain kamu, nggak ada yang aku nggak tega.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadis Ternoda
8.1
Diana dikhianati sahabatnya sendiri hingga terjebak dalam malam kelam bersama pria asing. Peristiwa itu menyisakan kehamilan tak terduga. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali dipertemukan dengan ayah kandung anaknya. Keadaan kian pelik saat Diana mengetahui bahwa pria tersebut kini menjalin kasih dengan sepupunya. Kini, Diana dihadapkan pada pilihan sulit: membongkar rahasia darah daging mereka atau tetap diam demi keutuhan keluarganya.
Sampul Novel Jebakan Cinta Pertama untuk Kesayangan Bos
8.2
Agnes bermimpi menata ulang hidupnya setelah delapan tahun yang kelam. Namun, asa itu hancur saat Gerald Ogawa, cinta pertamanya, muncul kembali. Alih-alih membawa kasih, Gerald datang penuh dendam atas pengkhianatan masa lalu dan berniat merebut posisi kerja Agnes. Di tengah himpitan tersebut, Agnes harus tegar berjuang sendirian demi menghidupi sang buah hati. Sanggupkah ia bertahan dari kekejaman Gerald ketika rahasia lama mulai terbongkar dan menguji kembali perasaan mereka?
Sampul Novel Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok
8.2
Gala sangat takut terluka secara emosional, sedangkan Lingga terobsesi pada popularitas meski sebenarnya muak dengan pujian. Di balik kepalsuan masing-masing, keduanya terjerat dalam relasi toksik yang diwarnai ancaman serta pemerasan demi mengejar kebahagiaan semu. Hubungan destruktif antara sosok yang fasik dan munafik ini memicu dinamika cinta yang kelam, di mana mereka saling menyakiti satu sama lain untuk memuaskan hasrat batin serta obsesi gelap mereka.
Sampul Novel MENOLAK NAFKAH BATIN
9.4
Setelah melahirkan anak pertama, Vania harus menghadapi penolakan nafkah batin dari Prabu, suaminya. Sikap misterius sang suami memicu kecurigaan, hingga Vania menemukan pesan rahasia antara Prabu dan mahasiswinya, Marsya. Walau kepergok berduaan, Prabu berdalih semua itu hanya kebetulan. Merasa dikhianati dan hancur, Vania tidak tinggal diam. Ia menyusun rencana balas dendam demi memberi sanksi sosial bagi dosen tersebut sekaligus membuat suaminya menyesali perbuatannya.
Sampul Novel Permainan gila suami dan adikku
9.0
Wulan didera kepedihan mendalam setelah memergoki suaminya menjalin hubungan gelap dengan adik tirinya sendiri. Namun, kesedihan itu segera berganti menjadi kemarahan yang menuntut pembalasan. Wulan pun merancang strategi balas dendam yang matang untuk menghancurkan mereka berdua. Ia bertekad membuat suami dan saudaranya membayar mahal pengkhianatan keji tersebut, hingga mereka benar-benar hancur dan terjebak dalam perangkap yang mereka buat sendiri.
Sampul Novel Wanita Pilihan Suamiku
9.4
Kehidupan Aliyah runtuh setelah kecelakaan tragis merenggut calon bayinya hingga keguguran. Saat berjuang memulihkan luka fisik dan batinnya, ia justru dihadapkan pada kenyataan pahit dari masa lalu Arif. Kehadiran seorang wanita yang mengklaim suaminya sebagai ayah dari anaknya mengguncang pernikahan mereka. Kini, Aliyah didera kebimbangan besar. Haruskah ia bertahan demi mahligai rumah tangganya, atau memilih pergi melangkah pergi meninggalkan semuanya?