
Cinta Palsu, Luka Nyata
Bab 3
Melihat semua pesan itu, aku hanya bisa tertawa pahit sambil menyimpan semua tangkapan layarnya. Siapa tahu suatu hari nanti akan berguna. Setelah itu, aku langsung memblokir kontak Karen.
Tak disangka, ternyata Karen masih belum menyerah.
Keesokan harinya, aku melihatnya berdiri di depan pintu rumahku dengan Joven di sampingnya.
"Apain kalian datang?"
"Joven mau mengucapkan terima kasih padamu. Jadi, aku membawanya datang. Sudahlah Peter, jangan diperpanjang lagi masalahnya."
Hingga saat ini, Karen masih bisa mengatakannya dengan begitu enteng. Aku pun tertawa sinis dan menjawab, "Lalu kenapa? Aku harus sujud kepadanya?"
"Karen, kamu sama sekali nggak takut pada hukum? Cepat pergi dari sini atau aku akan lapor polisi!"
Karen mulai marah, "Peter!"
Tiba-tiba, akhirnya Joven buka suara, "Peter, jangan marah. Aku tahu kamu kesal karena masalah tunangan itu."
"Salahku juga, ini semua salahku. Kesehatanku memang ... yah, bagaimana pun kalau kamu marah, pukul aku saja."
Saat dia bicara, aku melihat sorot matanya penuh kesombongan dan tantangan.
Aku menatapnya, teringat semua kejadian yang lalu. Tanpa pikir panjang, aku langsung meninju wajahnya!
"Peter, kamu gila?!"
Karen langsung mendorongku ke samping dan memapah Joven.
"Kenapa? Bukannya dia yang bilang, menyuruhku pukul saja? Kamu yang malah khawatir sekarang?"
"Pergi!"
Aku menunjuk ke arah pintu, menyuruh mereka pergi. Namun, Karen malah menamparku keras-keras!
"Keterlaluan kamu!"
"Apa yang kamu mau?! Apa nenekmu tahu kamu begitu bajingan?"
"Biar kutanya padanya, apa dia yang mengajarmu menjadi orang seperti ini?!"
Rasa sakit di hati langsung menghantam begitu keras hingga aku hampir tak bisa bernapas.
"Kamu masih punya muka menyebutnya? Dia sudah meninggal! Tepat di hari pertunangan kita!"
"Karen, kalau kamu benar-benar mau menemuinya, pergi mati saja!"
Aku menarik Karen dan mendorongnya keluar!
Karen tampak marah, "Peter, sebenci-bencinya kamu padaku, nggak perlu sampai mengutuk nenekmu sendiri! Orang macam apa kamu ini? Ayo Joven, kita pergi saja! Jangan hiraukan dia!"
Karen pun pergi bersama Joven.
Aku menatap keperginan mereka sambil mengepalkan tangan erat.
Nenek meninggal karena mereka, tapi mereka masih berani datang dan membuka lukaku seperti ini!
Dasar pasangan tak tahu malu, mereka pasti akan mendapat karmanya!
Tunggu saja, aku tak akan membiarkan mereka begitu saja!
Kemudian, aku menemui beberapa teman. Begitu aku menceritakan kematian nenekku, mereka langsung naik pitam.
"Peter, kenapa baru cerita sekarang?!"
Aku tersenyum pahit, menjawab, "Mereka memaksaku donor darah, dia bahkan bisa lolos dari hukuman begitu saja. Kita nggak boleh bertindak gegabah kalau nggak punya bukti yang kuat."
Dan juga aku benar-benar lelah. Tiga tahun ini, aku sudah mengorbankan kebahagiaanku sendiri dan kehilangan nenek karena kebodohanku.
Jika bukan karena diriku, nenek tak akan pergi.
Temanku menepuk pundakku dan menghibur, "Kalau butuh bantuan, bilang saja. Kami pasti membantumu."
"Peter, sebenarnya Karen bukan siapa-siapa di keluarganya. Dia masih terlalu muda, hanya sekedar dikirim keluar untuk belajar. Kita harus pikirkan caranya baik-baik!"
Aku mengangguk dan mulai berdiskusi dengan teman-teman. Aku kenal dengan Karen, dia tak akan menyerah begitu saja. Bagi dia, aku masih kantong darahnya. Dia tak akan melepaskanku begitu saja.
Sementara itu, setelah keluar dari rumahku, Joven mencoba menyarankan, "Karen, bagaimana kalau aku bicarakan lagi dengan dia?"
"Nggak perlu, jangan hiraukan dia!"
Namun, ada rasa tidak tenang dalam hati Karen. Beberapa hari ini, dia memang tak melihat nenek Peter. Mungkinkah apa yang dikatakan Peter itu benar?
Tiba-tiba, pihak rumah sakit meneleponnya, "Halo, apakah ini keluarga Wati? Kami ingin memberitahu bahwa barang-barang peninggalan Wati tertinggal di ruang gawat darurat. Kapan bisa datang mengambilnya?"
Kepala Karen langsung berdengung, seolah tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.
"Apa? Barang peninggalan?"
"Benar, Wati meninggal dalam kecelakaan mobil pada 6 Juli lalu. Apakah kamu anggota keluarganya?"
Anda Mungkin Juga Suka





