
Cinta Palsu, Fakta Tersembunyi
Bab 3
Aku menemui teman pengacaraku dan memintanya mencetak dua surat perceraian untukku.
Dia menatapku dan ragu untuk berbicara, “Jolin, aku merasa ada yang aneh atas kematian ibumu.”
“Mana yang aneh?”
“Terlalu lancar, ‘kan? Awalnya aku sudah menyiapkan strategi litigasi kalau tersangka nggak mengakui kesalahannya.”
“Tapi dia tiba-tiba muncul dan mengakui kesalahannya. Meskipun ada beberapa bukti yang ditemukan, aku merasa semuanya terlalu lancar dan aneh.”
Dadaku tersesak. Tiba-tiba semua petunjuk terhubung di otakku.
“Lili, kau bisa bantu aku cek nomor rekening nggak?”
Lili menggelengkan kepalanya, tapi dia memperkenalkan seorang detektif swasta padaku.
Aku merasa ditarik maju ke depan oleh sesuatu. Seolah-olah ada kebenaran yang akan terungkap.
Aku pergi ke kantor Sugi dengan membawa surat perceraian.
Begitu masuk, aku mendengar para karyawan lagi ngobrol.
“Itu teman Pak Sugi, ‘kan? Dengar-dengar, dia baru pulang dari luar negeri. Jujur saja, aku merasa dia lebih cocok sama Pak Sugi.”
“Aku juga pikir gitu. Lihatlah betapa cantiknya dia. Dia lebih anggun dari istri Pak Sugi.”
"Lihatlah tasnya, permata di atasnya tampak mahal banget."
Aku berdiri di depan pintu kantor lantai teratas, lalu terdengar suara yang nggak asing.
“Chelsea, kita sudah sebulan nggak ketemu. Aku mau pergi mencarimu, tapi nggak ada alasan yang pas.”
“Iya, aku lagi persiapan kehamilan. Charles juga khawatir kalau aku pergi sendirian.”
“Benarkah?” tanya Sugi dengan penuh kekecewaan.
Dia lalu memaksakan sebuah senyuman dan berkata, “Kau bakal segera jadi seorang ibu, selamat ya.”
“Makasih. Oh iya, kasus tiga tahun yang lalu, berkat kau …”
“Sudah berlalu. Asalkan kau bahagia, yang lainnya nggak penting. Aku percaya kau bukan sengaja melukai orang.”
Chelsea tersenyum lebar dan berkata, “Waktu kecil, kau bilang kau mau jadi ksatriaku dan selalu melindungiku. Aku beneran terharu. Cuman, kalau Jolin tahu, dia pasti akan marah.”
Chelsea selalu menuduhku tanpa sengaja.
Seolah-olah dia telah menderita dan akulah penjahatnya.
Aku segera menangkap inti pembicaraan mereka, kasus tiga tahun yang lalu?
Aku cuman tahu ibuku dilanggar mobil tiga tahun yang lalu. Setelah itu, Chelsea melanjutkan studinya ke luar negeri dan Sugi melamarku …
Ini juga merupakan awal tragediku.
Pikiranku makin jernih, tapi aku pura-pura nggak tahu apa-apa dan membuka pintunya.
Melihatku, Sugi terkejut dan berkata, “Jolin, kau kok kemari? Kau pusing kok nggak istirahat di rumah?”
Aku tersenyum dan menatap ke arah Chelsea, “Aku mau lihat apa ada orang yang nggak pantas muncul di kantor suamiku.”
Chelsea sedikit tercengang dan hendak berbicara, tapi aku memalingkan kepalaku dan berkata, “Kau ‘kan bilang kalau aku rindu, telepon kau saja. Tapi kau nggak angkat teleponnya.”
Sugi mengambil ponselnya dengan panik dan melihat ada dua panggilan tak terjawab dariku.
Tampaknya dia menyetel ponselnya dalam mode senyap demi bernostalgia dengan Chelsea.
“Jolin, ternyata kau awasi Sugi segitu ketat. Kalau gitu, dia bakal capek.”
Chelsea merapikan rambutnya dan berkata dengan mata penuh bangga, “Pria itu ya, perlu sedikit kebebasan.”
“Makasih atas sarannya. Tapi ada beberapa pria yang diawasi seketat apa pun, isi hatinya tetap nggak bisa diketahui.”
Sugi tampak gugup dan segera menghampiriku, lalu menarik tanganku dan berkata, “Aku pasti bukan pria seperti itu. Kita sama Chelsea ‘kan teman.”
Melihat tampang gugupnya, aku malah tertawa.
Dia sama sekali nggak peduli dengan perasaanku, yang dia pedulikan adalah pendapatku terhadap Chelsea, karena takut aku menyulitkannya.
Anda Mungkin Juga Suka





