APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Palsu di Balik Perjalanan Dinas

Cinta Palsu di Balik Perjalanan Dinas

Empat puluh tahun menikah, aku baru tahu suamiku berselingkuh dengan sahabatku, Wulandari. Lewat tablet cucu, terungkap ribuan foto mesra mereka saat dinas palsu. Tragisnya, Rizal, anak kandungku, justru berpihak pada wanita itu. Aku sadar hanya dijadikan mesin pencetak anak karena Wulandari mandul. Enggan terus diperalat, aku menggugat cerai dan mengambil seluruh aset mereka. Kini aku hidup sukses di Bali, membiarkan mereka jatuh miskin dan memohon maaf tanpa kuberi ampun.
Bab
Bagikan

Bab 2

SUDUT PANDANG SITI PRIBADI:

Panggilan Rara terputus begitu saja. Saya tak sanggup bicara. Apa yang bisa saya katakan? Bahwa neneknya, yang selama ini dicintainya, baru saja menemukan bahwa hidupnya adalah sebuah kebohongan besar?

Saya meletakkan ponsel di meja. Jantung saya masih berdegup kencang, tapi anehnya, ada ketenangan yang mulai menyelinap masuk. Ketenangan yang dingin.

Saya membuka fitur media sosial di tablet itu lagi. Saya ketik nama Teguh Amin. Profilnya muncul. Foto profilnya adalah dia dan Wulandari, sedang berpose di depan sebuah pameran seni. Teguh tersenyum karismatik, Wulandari elegan dan modis. Komentar-komentar di bawahnya memuji mereka sebagai "pasangan budayawan yang inspiratif".

Pasangan.

Saya melihat lebih banyak foto. Wulandari, kurator seni yang berpendidikan tinggi, selalu tampil sempurna di samping Teguh. Mereka menghadiri seminar, pameran, acara-acara elite. Mereka selalu terlihat serasi, seolah memang ditakdirkan bersama.

Mereka bahkan memiliki akun bersama, "Teguh Wulandari Official".

Saya menggeser lagi. Ada foto Teguh dan Wulandari makan malam bersama Rizal. Rizal tersenyum lebar, memeluk Wulandari. "Mama Wulan selalu yang terbaik!" tulis Rizal dalam keterangan foto itu. "Ibuku yang seharusnya."

Kalimat itu, "Ibuku yang seharusnya", terasa seperti palu godam yang menghantam dada saya.

Jadi, selama ini, Rizal menganggap Wulandari sebagai ibunya? Lalu saya ini apa?

Saya ingat sakit pinggang Rizal. Saya ingat bagaimana dia menolak membantu saya menggeser lemari tua itu. Tapi dia bisa mengangkat sebuah lukisan besar untuk Wulandari, sambil tersenyum bahagia.

Rasa mual memenuhi perut saya.

Air mata kembali menetes. Kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena amarah. Amarah yang membakar.

Empat puluh tahun. Empat puluh tahun saya habiskan untuk melayani mereka.

Setiap pagi, saya bangun sebelum subuh. Menyiapkan sarapan Teguh: Gudeg kesukaannya, dengan nangka muda yang saya masak semalaman. Untuk Rizal, nasi goreng dengan telur mata sapi dan kerupuk udang. Untuk Rara, bubur ayam dengan suwiran ayam kampung.

Setelah itu, saya membersihkan rumah. Menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci baju. Saya menyetrika pakaian Teguh dan Rizal, memastikan semuanya rapi dan sempurna.

Siang hari, saya memasak makan siang. Sore, menyiapkan camilan. Malam, memasak makan malam lagi. Lalu memastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi.

"Ma, kemeja batikku yang biru di mana?"

"Nek, Rara mau susu cokelat!"

"Siti, nanti malam ada tamu, tolong siapkan hidangan spesial."

Saya seperti robot. Berputar tanpa henti. Tidak pernah ada keluhan. Tidak pernah ada kata lelah. Saya menganggap ini semua adalah bukti cinta saya pada keluarga.

Tapi untuk apa? Untuk siapa?

Saya mengingat kembali semua pengorbanan saya. Bakat menenun saya, yang dulu sangat saya banggakan, harus terkubur dalam-dalam. Teguh bilang, perempuan baik tidak perlu bekerja. Cukup di rumah, mengurus suami dan anak.

Saya mengikuti kata-katanya. Saya percaya padanya.

Saya tidak pernah membeli baju baru untuk diri sendiri. Uang jatah bulanan selalu saya simpan, atau saya belikan keperluan rumah. Anak-anak dan cucu adalah prioritas utama.

Saya tidak pernah pergi ke salon, tidak pernah punya waktu untuk membaca buku, apalagi sekadar duduk santai menikmati secangkir teh.

Saya hanyalah Siti Pribadi, ibu rumah tangga. Yang 'pribadi' saya sendiri, sudah lama hilang.

Saya menekan dada saya. Sakitnya luar biasa. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Ada kekuatan yang tumbuh dari rasa sakit itu.

Saya sudah cukup.

Saya tidak akan lagi menjadi Siti yang lama.

Saya bangkit dari kursi. Kaki saya masih sedikit goyah, tapi saya memaksakan diri untuk berdiri tegak.

Saya mengambil kunci motor tua saya yang sudah lama tidak terpakai. Saya memakai jilbab sederhana. Lalu saya keluar dari rumah.

Tujuan pertama saya adalah toko kain. Saya masuk, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, saya membeli sehelai kain batik sutra yang indah. Warnanya hijau zamrud, dengan motif bunga-bunga. Harganya mahal. Saya tidak peduli.

"Ini untuk saya," kata saya pada diri sendiri.

Kemudian saya pergi ke warung makan padang. Saya memesan rendang, ayam pop, sayur nangka, dan segelas es teh manis. Saya duduk sendirian di sudut, menikmati setiap suapan. Saya membiarkan rasa pedas dan gurih itu mengisi mulut saya.

Ini adalah makanan pertama yang saya nikmati sepenuhnya, tanpa memikirkan apa yang akan saya masak nanti, atau apakah ada yang akan protes dengan rasanya.

Saya melihat sekeliling. Orang-orang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tidak ada yang mengenal saya di sini. Tidak ada yang akan menghakimi saya.

Saya merasa lega. Merasa bebas.

"Saya tidak akan lagi menjadi juru masak pribadi mereka," bisik saya pada diri sendiri. "Saya tidak akan lagi menjadi pembantu gratis mereka."

Saya pulang ke rumah dengan hati yang lebih ringan, tapi tekad yang membara.

Malam harinya, Teguh pulang. Dia melemparkan tas kerjanya ke sofa.

"Siti, aku lapar. Gudeg hari ini mana?" tanyanya tanpa menoleh ke arah saya.

Saya sedang duduk di sofa ruang tamu, menonton berita di televisi. Saya tidak menjawab.

"Siti?" Teguh mengulang, kini menoleh. Alisnya berkerut. "Kamu tidak dengar?"

Saya menoleh ke arahnya. Tatapan saya datar. "Aku dengar."

"Lalu kenapa Gudegku belum ada?" Suaranya mulai meninggi. "Apa kamu lupa aku pulang malam hari ini?"

"Aku tidak membuat Gudeg," kata saya tanpa ekspresi.

Teguh terdiam. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut, kemudian marah. "Apa katamu? Jangan bercanda, Siti."

"Aku tidak bercanda, Teguh."

"Kamu kenapa? Sakit?" Teguh mendekat, menatap saya dengan tatapan meremehkan. "Jangan-jangan sudah mulai pikun."

"Aku tidak pikun," saya membalas, suara saya tetap tenang. "Dan aku tidak sakit. Aku hanya tidak memasak."

"Kamu gila ya?" Teguh tertawa sinis. "Sejak kapan kamu tidak memasak? Ini rumah tangga siapa, Siti? Kamu ini istriku."

"Mungkin aku sudah gila," kata saya. "Atau mungkin aku baru sadar dari kegilaan."

Teguh menatap saya tajam, seolah sedang menganalisis saya. "Ada apa denganmu? Apa ini salah satu akal-akalanmu lagi agar aku lebih memperhatikanmu?"

"Tidak," jawab saya. "Tidak ada akal-akalan. Aku hanya ingin... mengakhiri ini."

Teguh mengangkat alisnya. "Mengakhiri apa?"

Pintu depan terbuka. Rizal dan Kartika masuk, wajah mereka tampak lelah.

"Ayah, Ibu," sapa Rizal. "Ada apa ini? Kok tegang sekali?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta satu malam terbaik
8.7
Ditinggal sang kekasih membuat Feyleria terpuruk hingga ia terbangun di sebelah pria asing lalu kabur. Namun, Alexander, pria misterius malam itu, justru terobsesi padanya. Melalui tekanan orang tua, Alex menjebak Fey dalam perjodohan rumit. Di kala perasaan cinta Fey untuk Alex mulai bersemi, Sani sang mantan kembali untuk merebut hatinya. Fey pun bimbang memilih bayang masa lalu atau masa depan bersama pria yang tulus memujanya.
Sampul Novel Gadis Imut Kesayangan Sugar Daddy
8.9
Arsitek ternama berusia 37 tahun, William Samsons MacRay, tidak sengaja bertemu Emmy Estelia Setiawan di bandara saat situasi kacau. Siapa sangka, lulusan Harvard yang baru kembali ke Jakarta itu ternyata bekerja di perusahaan miliknya. Terpikat oleh Emmy, William kerap mengajaknya dalam perjalanan bisnis global hingga hubungan mereka berlanjut sebagai sugar daddy dan baby. Sayangnya, rencana perjodohan dari orang tua William kini mengancam kelangsungan kisah cinta beda usia ini.
Sampul Novel Jodoh Pilihan Ayah
8.0
Zeva terpaksa mengencani Alex demi menyelamatkan bisnis keluarganya atas desakan sang ayah. Padahal, ia menyembunyikan hubungan asmaranya dengan Darrel dari orang tuanya. Konflik batin pun melanda Zeva ketika daya tarik Alex perlahan-lahan mulai memikat hatinya. Kini, ia berada di persimpangan jalan antara bakti pada keluarga, komitmennya kepada Darrel, serta getaran baru yang kian nyata. Akankah pilihan Zeva membawanya pada kebahagiaan atau justru penyesalan?
Sampul Novel Kencan Buta Setelah Pulang Kampung
9.7
Tujuh tahun mendampingi Daniel Liman secara rahasia membuat Nadya, putri Keluarga Luandra, mengharapkan lamaran di hari perilisan albumnya. Namun, Daniel justru mengumumkan kerja sama dengan Yuna Fadian, cinta pertamanya yang baru kembali. Saat mencari penjelasan, Nadya mendengar obrolan menyakitkan dari luar ruang istirahat. Daniel mengonfirmasi bahwa selama ini Nadya hanyalah sosok pengganti sementara yang kini harus tersingkir setelah sang tokoh utama kembali.
Sampul Novel Mertua Pilih Kasih Tidak Tahu Kami Banyak Uang
8.8
Astri selalu bingung dengan kebencian mertuanya pada Ruslan, padahal wajah mereka sangat mirip. Selama ini, sang suami memilih bersabar menghadapi perlakuan tidak adil keluarganya. Namun, di balik kemiskinan yang terlihat, pasangan ini sebenarnya menyimpan kekayaan melimpah. Ketika sebuah peristiwa akhirnya melewati batas kesabaran Astri, ia memutuskan bertindak. Didukung penuh oleh Ruslan, Astri siap membongkar rahasia besar mereka demi memberi pelajaran pada mertua yang pilih kasih.
Sampul Novel Pernikahan Kedua yang Dirahasiakan Suamiku
8.0
Siska, wanita karier yang sukses, telah mengabdi pada Roni dan melahirkan tiga anak. Namun, kesetiaan tersebut hancur saat ia mengetahui Roni, yang dikenal religius, diam-diam berpoligami tanpa restunya. Padahal, Siska dulu pernah menolak keras gagasan itu saat suaminya mengusulkannya. Kini, Siska menghadapi pilihan sulit bagi masa depannya: bertahan demi keutuhan keluarga atau melangkah pergi bersama anak-anaknya.