APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Palsu di Balik Perjalanan Dinas

Cinta Palsu di Balik Perjalanan Dinas

Empat puluh tahun menikah, aku baru tahu suamiku berselingkuh dengan sahabatku, Wulandari. Lewat tablet cucu, terungkap ribuan foto mesra mereka saat dinas palsu. Tragisnya, Rizal, anak kandungku, justru berpihak pada wanita itu. Aku sadar hanya dijadikan mesin pencetak anak karena Wulandari mandul. Enggan terus diperalat, aku menggugat cerai dan mengambil seluruh aset mereka. Kini aku hidup sukses di Bali, membiarkan mereka jatuh miskin dan memohon maaf tanpa kuberi ampun.
Bab
Bagikan

Bab 3

SUDUT PANDANG SITI PRIBADI:

Rizal dan Kartika masuk, mata mereka menyapu wajah datar saya dan kemarahan Teguh. Tegang, memang. Itu saja belum seberapa.

"Ada apa, Nak?" Teguh menjawab, suaranya sedikit melunak. "Ibumu ini aneh hari ini. Tidak mau memasak untukku."

Rizal mengerutkan kening. "Ibu tidak masak? Kenapa?"

Saat itu juga, Rara, cucu saya, berlari masuk. Dia baru pulang dari les. Wajahnya cemberut.

"Nenek! Kata Mama, Nenek tidak buat Rawon!" Rara menatap saya dengan mata berkaca-kaca. "Rara lapar, Nenek. Janji mau buat Rawon enak!"

Saya menatap Rara. Hati saya sedikit teriris melihat matanya. Tapi tekad saya lebih kuat.

"Hari ini Nenek tidak buat Rawon, Sayang," kata saya pelan.

Rara langsung menangis kencang. Ia menghentakkan kakinya. "Nenek jahat! Nenek janji! Nenek bohong!"

Kartika segera memeluk Rara, menenangkannya. "Sabar, Sayang. Nanti Mama pesankan makanan dari luar, ya?"

Rizal menatap saya dengan tatapan tidak percaya. "Ibu! Kenapa begini? Rara kan lapar! Anak kecil tidak boleh dibiarkan lapar!"

"Dia bisa makan makanan dari luar," jawab saya datar. "Seperti kalian."

"Apa-apaan ini, Bu?" Rizal mendekat, suaranya mulai meninggi. "Sejak kapan Ibu jadi malas begini? Setiap hari kan Ibu memang di rumah saja. Apa susahnya masak?"

Saya mendongak, menatap mata anak saya. "Di rumah saja? Menurutmu aku tidak melakukan apa-apa?"

Rizal tertawa hambar. "Ya memangnya Ibu melakukan apa? Mengurus rumah, itu kan memang tugas Ibu. Lagipula, Ibu kan tidak bekerja. Tidak punya gelar, tidak punya karir seperti Mama Wulan."

Kata-kata itu menusuk, tapi anehnya, tidak sesakit yang saya bayangkan. Saya sudah tahu betapa rendahnya dia memandang saya.

"Jadi, karena aku tidak punya gelar seperti Wulandari, aku harus menjadi pembantu seumur hidupku?" tanya saya, suara saya masih tenang.

Rizal terdiam. Dia memalingkan muka, menghindari tatapan saya.

"Ingat, Rizal?" kata saya. "Dulu, waktu kamu masih kecil. Kamu sakit, demam tinggi. Semalaman aku tidak tidur, mengompres dahimu, menyanyikan lagu nina bobo. Kamu bilang, 'Mama, nanti kalau Rizal sudah besar, Rizal akan jaga Mama. Rizal tidak akan biarkan Mama sedih'."

Rizal masih diam, tapi saya melihat bahunya sedikit menegang.

"Dulu, waktu kamu mau masuk universitas ternama, aku menjual perhiasan satu-satunya pemberian almarhum Ibu saya, agar kamu bisa membayar uang pangkal. Kamu bilang, 'Mama, pengorbanan Mama tidak akan sia-sia. Rizal akan buat Mama bangga'."

Saya menatapnya, air mata mulai menggenang di mata saya. "Dan sekarang, kamu bilang aku tidak melakukan apa-apa? Kamu lebih mengagumi Wulandari yang 'berkelas' daripada ibumu sendiri?"

"Bu, itu kan sudah lama!" Rizal akhirnya bersuara, nada suaranya defensif. "Lagipula, Mama Wulan memang wanita hebat. Ibu kan hanya... ibu rumah tangga biasa."

Kata "biasa" itu, diucapkan dengan nada meremehkan, adalah tetesan terakhir.

Air mata saya menetes. Bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata kekecewaan yang mendalam.

"Baiklah, Rizal," kata saya, suara saya serak. "Jika memang aku hanya 'ibu rumah tangga biasa' yang tidak dihargai, maka aku tidak akan lagi melakukan tugas ini."

"Apa maksud Ibu?" Teguh menyela, suaranya mengandung ancaman.

"Aku ingin cerai," kata saya, menatap langsung ke mata Teguh. "Aku ingin mengakhiri pernikahan ini."

Seketika, ruangan menjadi hening. Rizal terperangah. Kartika menatap saya dengan mata lebar. Teguh... wajahnya memucat.

"Cerai?" kata Teguh, suaranya bergetar. "Siti, kamu sudah gila?"

"Mungkin," jawab saya. "Atau mungkin aku baru saja menemukan kewarasanku."

"Kamu tidak bisa melakukan ini!" Teguh melangkah maju, mendekati saya. "Apa kata orang nanti? Reputasiku akan hancur! Aku seorang budayawan, dosen senior!"

"Reputasi?" Saya tertawa hambar. "Apa artinya reputasi bagimu, Teguh, jika yang kamu bangun hanyalah kebohongan?"

"Jaga bicaramu, Siti!" Teguh menggeram. "Kamu pikir kamu siapa? Hanya wanita desa yang tidak tahu apa-apa!"

"Dan kamu pikir kamu siapa, Teguh?" saya membalas, suara saya kini lebih kuat. "Seorang suami yang setia? Seorang pria yang jujur?"

"Bu, jangan begini!" Rizal maju, mencoba menengahi. "Ibu jangan mengada-ada! Ibu pasti sedang depresi. Mama Wulan akan sedih jika Ibu begini."

"Wulandari?" Saya menertawakan nama itu. "Dia akan sedih? Oh, kurasa dia justru akan senang. Impiannya terwujud, bukan?"

"Siti, diam!" Teguh berteriak.

"Aku tidak akan diam!" Saya bangkit dari sofa, berdiri tepat di hadapan mereka. "Aku sudah terlalu lama diam! Empat puluh tahun aku diam, Teguh! Empat puluh tahun aku hidup dalam kebohongan yang kalian rancang bersama!"

Rizal dan Teguh saling pandang, raut kebingungan dan ketakutan terlihat jelas di wajah mereka. Kartika hanya diam, menunduk.

"Aku tahu semuanya," kata saya, suara saya mendalam. "Aku tahu tentang kamu dan Wulandari. Aku tahu tentang 'riset'-mu yang sebenarnya adalah bulan madu setiap tahun. Aku tahu tentang anakku yang lebih menganggap Wulandari sebagai ibunya. Aku tahu tentang rencana kalian, karena Wulandari mandul, kalian menjadikanku ibu pengganti!"

Teguh terhuyung mundur. Wajahnya benar-benar pucat pasi. Rizal menatap saya, matanya membelalak ketakutan.

"Bagaimana... bagaimana kamu bisa tahu?" Teguh tergagap.

"Itu tidak penting lagi," jawab saya. "Yang penting adalah, aku tidak akan lagi menjadi bagian dari sandiwara busuk ini."

"Kamu... kamu akan miskin, Siti!" Teguh berteriak, mencoba mengancam. "Kamu akan terlantar sendirian! Kamu tidak punya apa-apa!"

Saya menatapnya, ada senyum tipis di bibir saya. "Mungkin. Tapi setidaknya aku akan bebas. Bebas dari kebohongan kalian. Bebas dari kalian semua."

"Ibu, jangan! Ibu tidak boleh cerai!" Rizal memohon, kini suaranya terdengar panik. "Kami minta maaf, Bu. Kami salah. Pulanglah, Bu."

"Tidak," kata saya tegas. "Ini sudah selesai."

"Siti, dengarkan aku!" Teguh mencoba meraih tangan saya, tapi saya menariknya. "Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari perceraian ini! Semua harta adalah milikku!"

"Aku tidak butuh hartamu," jawab saya, menatap matanya. "Aku hanya butuh kebebasan. Dan aku akan menjaga rahasia kalian, asalkan kalian lepaskan aku."

Teguh menatap saya, matanya penuh perhitungan. Reputasinya. Itu yang paling dia khawatirkan.

"Ibu, jangan begini, Bu..." Rizal masih mencoba membujuk.

Saya menoleh ke arah Rizal. "Rizal, kamu sudah dewasa. Kamu sudah punya istrimu sendiri. Uruslah rumah tanggamu sendiri. Jangan lagi bergantung pada ibumu yang 'biasa' ini."

"Siti!" Teguh berteriak, suaranya penuh amarah. "Kamu akan menyesal! Kamu akan melihat bagaimana hidupmu tanpa kami!"

"Aku tidak akan menyesal," kata saya, menatap mereka satu per satu. "Mulai sekarang, aku akan hidup untuk diriku sendiri."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayo Bercerai!!
8.4
Batas kesabaran Adeline akhirnya habis setelah sekian lama direndahkan oleh Devon, suaminya yang kini ia anggap lebih tidak berharga dibanding sampah. Konflik memanas di ruang makan ketika Devon mendengar langsung hinaan tersebut. Dengan emosi meluap, sang tuan muda mencengkeram dagu Adeline, memberi ancaman keras agar istrinya tidak memicu masalah. Namun, Adeline kini tidak lagi gentar untuk menentang dominasi dingin dari pria itu.
Sampul Novel Fake Marriage
9.3
Tepat sebelum hari pernikahannya, Lunar dikhianati oleh sang calon suami. Di tengah pelariannya, sebuah insiden tak terduga mempertemukannya dengan Arkan, seorang pengusaha kaya raya, hingga keduanya terlibat pernikahan kontrak. Demi kesepakatan ini, Arkan terpaksa membatalkan rencana melamar kekasihnya. Saat sandiwara mereka mulai menumbuhkan benih cinta yang tulus, dilema emosi yang rumit pun menjerat keduanya. Akankah pernikahan palsu ini berujung pada kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Istriku Bukan Selingkuhanku
8.1
Satu dekade membina rumah tangga, bara cinta antara aku dan Mas Bram tak pernah padam. Sebagai bos sibuk yang kerap mengurus cabang di luar kota, ia selalu punya cara cerdik untuk menemuiku secara sembunyi-sembunyi dari ibunya. Pagi ini, kehangatan itu kembali terasa lewat pelukan manja dan kecupan mesra di leher saat aku sibuk di dapur. Sikap romantisnya selalu berhasil memanjakan diriku, membuatku tak berdaya dan hanyut dalam pesona gairah suami tercinta.
Sampul Novel Jangan Tinggalkan Aku
9.3
Alvira terpukul oleh kecelakaan tragis yang menewaskan orang tuanya dan membuat sang kakak koma. Terdesak biaya medis yang besar, ia terpaksa menawarkan dirinya di klub malam. Di sana, ia bertemu miliarder dingin bernama Damian Verrell. Damian menawari Avi kesepakatan menjadi wanita simpanannya dengan imbalan fantastis. Demi kesembuhan kakaknya, Avi rela menyerahkan harga dirinya dan masuk ke kehidupan Damian yang berkuasa namun berhati beku.
Sampul Novel Jodoh untuk Mas Duda
8.9
Kepergian Sari dua tahun lalu menyisakan sepi mendalam bagi seorang guru SD berusia 35 tahun. Di tengah kesederhanaan hidupnya, pria duda ini terus didesak oleh keluarga serta sahabat karib untuk segera mencari istri baru. Meski merasa hampa dan kesepian, ia masih didera keraguan besar. Hatinya belum sepenuhnya siap melepaskan masa lalu dan menyambut kehadiran sosok pendamping lain dalam lembaran hidupnya yang baru.
Sampul Novel On CEO's Bed
8.6
Alyssa nekat mendatangi kediaman Assa Zachary demi menghindari kejaran penagih utang sang ayah. Ia membawa surat wasiat, berharap sang miliarder mau membereskan masalah keuangan keluarganya. Namun, harapannya hancur saat ia justru dikurung di dalam rumah megah tersebut. Kini, Alyssa harus bertahan di tengah ketidakpastian janji Assa. Mampukah ia lolos, atau justru akan terseret semakin dalam ke dalam kehidupan penuh rahasia gelap milik pria itu?