APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta masa kecil

Cinta masa kecil

Terpisah jarak dan ambisi sejak kecil, Dina dan Arga kembali dipertemukan takdir di kota besar setelah sekian lama. Dina kini berjuang keras sebagai desainer, sedangkan Arga telah menjelma menjadi pebisnis sukses yang kaya raya. Pertemuan tak terduga ini perlahan membangkitkan kembali perasaan lama yang sempat terkubur. Di tengah bayang-bayang keraguan masa lalu, keduanya kini harus mencari tahu apakah rasa yang tersisa ini merupakan takdir cinta sejati mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, Dina terbangun dengan perasaan yang campur aduk. Pertemuan dengan Arga kemarin masih segar dalam ingatannya.

Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi di dalam hatinya.

Bertemu kembali dengan Arga setelah sekian lama, dan mendengar pengakuan perasaannya, membuatnya merasa seperti kembali menjadi remaja. Tapi di sisi lain, Dina adalah wanita dewasa sekarang-dengan tanggung jawab dan kehidupan yang tak lagi sederhana.

Dia memutuskan untuk memulai hari dengan sarapan ringan. Sambil menikmati roti panggang dan teh hangat, Dina membuka ponselnya, berharap ada pesan baru yang bisa mengalihkan pikirannya. Namun, tidak ada notifikasi yang menarik perhatian, kecuali satu pesan dari grup WhatsApp teman-teman lamanya.

Ternyata, ada reuni kecil yang direncanakan oleh beberapa teman sekolah mereka di kampung halaman. Dina tersenyum kecil, mengenang masa-masa sekolah yang penuh kenangan. Ia belum memberi jawaban apakah akan datang atau tidak. Tapi sekarang, setelah bertemu Arga lagi, ide untuk pulang ke kampung halaman tampak lebih menarik.

Namun, sebelum ia bisa memikirkan lebih lanjut, teleponnya berbunyi. Melihat nama di layar, Dina mengangkatnya dengan senyum.

"Morning, Rani! Ada apa nih, pagi-pagi udah telepon?" sapa Dina pada sahabatnya yang juga rekan kerja di kantor.

"Din, kamu di mana? Kita ada meeting dadakan dengan klien besar jam 10. Jangan sampai telat ya!" kata Rani dengan nada cemas.

"Ya ampun, aku lupa! Oke, oke, aku siap-siap sekarang," jawab Dina buru-buru. Dia menutup telepon dan segera bersiap, mengesampingkan dulu semua pikiran tentang Arga dan reuni yang akan datang.

Di kantor, kesibukan langsung menyambut Dina. Proyek besar yang sedang ditangani timnya membutuhkan perhatian penuh. Tapi sesekali, pikiran Dina melayang ke Arga.

Setiap kali ia teringat senyum nakal pria itu, hatinya berdebar, meskipun ia mencoba mengabaikannya. Namun, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri-ada sesuatu yang berbeda sejak pertemuan mereka kemarin.

Selepas makan siang, Dina memutuskan untuk menelepon Arga.

Ia tahu ini mungkin ide yang buruk, mengingat ia belum sepenuhnya yakin dengan perasaannya sendiri. Namun, rasa penasaran yang menggelitiknya terlalu kuat untuk diabaikan.

"Arga, kamu sibuk nggak? Aku lagi di dekat kantor, mungkin kita bisa ketemu lagi," kata Dina setelah Arga menjawab teleponnya.

"Lagi nggak terlalu sibuk sih. Kamu mau ketemu di mana?" jawab Arga dengan suara yang terdengar senang.

Dina menyebut sebuah kafe yang terletak tak jauh dari kantor mereka. Kafe itu cukup tenang, tempat yang bagus untuk mengobrol tanpa gangguan. Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk berhadapan di meja, masing-masing dengan secangkir kopi di tangan.

"Gimana kerjaanmu? Pasti sibuk banget ya sekarang," tanya Arga membuka percakapan.

"Lumayan. Tapi ya gitu deh, kadang-kadang bosan juga," jawab Dina sambil tertawa kecil. "Kamu sendiri gimana? Udah betah di kota ini?"

Arga mengangguk.

"Ya, lumayan. Masih adaptasi sama ritme hidup di sini, tapi aku suka. Bisnis juga mulai jalan pelan-pelan."

Mereka berbicara tentang berbagai hal ringan, seolah menghindari topik yang lebih dalam tentang hubungan mereka. Dina merasakan kehangatan yang familiar dalam setiap kata Arga. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sebuah pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya.

Ketika obrolan mereka mulai mereda, Arga memandang Dina dengan serius. "Din, kemarin kamu bilang kita bisa mulai dari awal lagi sebagai teman.

Tapi, aku cuma pengen kamu tahu, perasaanku nggak berubah. Aku masih sama seperti dulu."

Dina menatap matanya, merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Arga, aku tahu ini sulit. Aku juga nggak mau terburu-buru, apalagi setelah sekian lama kita nggak ketemu. Tapi jujur, aku masih bingung dengan perasaanku sendiri."

Arga tersenyum, meskipun ada sedikit rasa kecewa di wajahnya.

"Aku paham, Din. Aku nggak akan memaksa. Kita nikmati aja waktu yang kita punya sekarang."

Dina tersenyum lega. "Terima kasih, Ga. Kamu selalu ngerti aku."

Obrolan mereka berlanjut dengan canda tawa, mengembalikan suasana santai di antara mereka.

Arga bahkan menceritakan kejadian lucu saat ia salah jalan di kota ini, membuat Dina tertawa sampai matanya berair.

Setelah beberapa saat, Arga mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebuah kalung kecil dengan liontin berbentuk bintang.

"Ini buat kamu, Din. Dulu aku pengen ngasih ini pas kita lulus, tapi nggak sempat," kata Arga dengan sedikit gugup.

Dina terkejut, tidak menyangka Arga akan memberinya hadiah seperti ini. Ia mengambil kalung itu dan memandanginya sejenak sebelum berkata, "Arga, ini indah sekali. Tapi kenapa bintang?"

"Karena kamu selalu jadi bintang buatku. Walaupun kita jauh, kamu selalu ada di pikiranku," jawab Arga dengan senyum yang hangat.

Dina merasa tersentuh oleh kata-kata Arga. Ia mengenakan kalung itu, merasa sedikit lebih dekat dengan pria yang duduk di depannya.

"Terima kasih, Arga. Ini sangat berarti buatku," ucap Dina dengan tulus.

Waktu terus berlalu, dan mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah, masing-masing kembali ke aktivitas mereka. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini.

Dina merasa lebih tenang, seolah-olah sebuah beban telah terangkat dari dadanya. Ia mulai melihat Arga bukan hanya sebagai sahabat masa kecilnya, tapi sebagai seseorang yang mungkin bisa mengisi kekosongan di hatinya.

Malam itu, saat berbaring di tempat tidur, Dina merenungkan pertemuan mereka hari ini. Kalung bintang yang diberikan Arga masih tergantung di lehernya, berkilau lembut di bawah cahaya lampu. Ia menyentuh liontin itu, merasakan kehangatan yang menyebar di dadanya.

"Apakah ini benar-benar takdir?" pikirnya sebelum akhirnya tertidur.

Pagi berikutnya, Dina terbangun dengan perasaan yang berbeda.

Seolah-olah hatinya mulai menerima bahwa mungkin, hanya mungkin, Arga adalah bagian dari takdir yang selama ini ia cari. Tapi perjalanan mereka masih panjang, dan Dina tahu, ini baru awal dari cerita mereka.

Pagi itu Dina merasa lebih yakin dengan perasaannya. Pertemuan tak terduga dengan Arga telah membangkitkan kenangan manis yang selama ini terkubur dalam rutinitas sehari-hari.

Meski masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, Dina tahu bahwa ia tidak perlu terburu-buru. Mungkin, seperti kalung bintang yang kini melingkar di lehernya, hubungan mereka memerlukan waktu untuk bersinar dengan sempurna.

Sambil tersenyum, Dina bersiap menghadapi hari baru, dengan keyakinan bahwa cerita hidupnya bersama Arga baru saja dimulai. Bab demi bab berikutnya masih terbuka lebar, menunggu untuk dituliskan. Dan kali ini, ia siap menyambut apa pun yang akan terjadi.

Dina keluar rumah dengan langkah ringan, siap menghadapi hari yang penuh kemungkinan. Dia merasa seolah beban di hatinya mulai terangkat, dan keyakinan bahwa hubungan mereka akan berkembang semakin menguat.

"Apapun yang terjadi nanti, aku siap menjalaninya," pikirnya.

Dina menyadari bahwa dalam hidup, tidak semua jawaban datang seketika. Terkadang, kita hanya perlu bersabar, membiarkan waktu bekerja, dan mempercayai prosesnya. Dengan semangat baru, ia melangkah menuju masa depan, di mana cerita cintanya dengan Arga baru saja dimulai, dan takdir mereka akan terungkap sedikit demi sedikit.

Hari ini, Dina siap untuk menulis bab berikutnya-dalam hidup, dan dalam cinta.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Adegan Panas Malam Pertama
8.7
Malam pengantin yang semestinya menjadi momen sakral bersama suami justru berakhir mengejutkan. Aku malah menghabiskan malam penuh gairah yang begitu intim dengan sosok pria perkasa lain yang misterius. Begitu pagi menjelang, kekacauan hidup yang rumit mulai menerpa diriku. Pengalaman tak terduga yang memabukkan itu seketika menjungkirbalikkan duniaku, membawa konsekuensi besar yang akan mengubah seluruh alur takdir masa depanku selamanya.
Sampul Novel Galau Cinta Untuk Siapa
8.7
Demi nama baik keluarga, Kaila terpaksa menggantikan Dwina yang kabur sesaat sebelum akad nikah dengan Boyke Dhamara. Setelah setahun menjalani pernikahan dini tanpa cinta, Dwina tiba-tiba kembali dan mendesak Kaila untuk bercerai agar ia bisa bersatu lagi dengan Boyke. Kaila kini didera dilema besar. Bagaimana sikap Boyke menghadapi kembalinya sang mantan kekasih? Akankah pernikahan Kaila sebagai istri pengganti harus berakhir?
Sampul Novel Gulai Daun Singkong Untuk Mertua
7.8
Hati Nek Syam hancur setelah diusir Jannah, anak kandungnya sendiri, hanya karena mendambakan gulai daun singkong. Merasa terhina di kediamannya, ia memutuskan pergi lalu menumpang di rumah putra bungsunya, Ahmad. Mendengar perlakuan kasar sang kakak kepada ibunya, Ahmad pun murka. Tanpa ragu, ia langsung bertindak tegas dengan menunjukkan bukti kepemilikan tanah yang sah dan balas mengusir Jannah dari rumah tersebut demi keadilan bagi sang ibu.
Sampul Novel Karena Anak Hatiku Melunak
9.4
Demi melunasi utang, keluarga tiri Tanti tega menjualnya kepada Darian hingga ia hamil. Enam tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali saat Ade, putra Tanti, divonis menderita penyakit sumsum tulang belakang. Hasil tes DNA membuktikan Ade adalah anak kandung Darian. Demi menebus masa lalunya, Darian bersedia menjadi donor. Kini, Tanti menghadapi dilema besar: mempertahankan kebenciannya pada Darian atau menerima uluran tangannya demi menyelamatkan nyawa sang anak.
Sampul Novel Mantanku Panik Setelah Pengunduran Diriku
9.5
Setelah terlahir kembali, Yonatan memutuskan mundur dari industri musik demi menghindari tragedi masa lalu. Di kehidupan sebelumnya, ia dituduh memplagiasi karya Sherwin hanya karena kalah cepat rilis sepuluh menit, memicu perundungan kejam yang menewaskan orang tuanya. Kini, saat sang mantan pacar dan Sherwin berpura-pura peduli di depan media, Yonatan memilih mengabaikan mereka. Ia bertekad melindungi keluarganya dan mengungkap kebenaran di balik pencurian lagunya dalam kisah romantis penuh misteri ini.
Sampul Novel Suamiku Pergi Saat Aku Hamil
8.2
Evelyn Song, dokter militer hebat, terbangun di tubuh Layla Qin, pelayan tertindas yang dibuang. Ia dipaksa menikahi Ronan Zhao, pria lumpuh yang dibeli demi membawa keberuntungan. Anehnya, kondisi Ronan membaik usai malam pertama mereka. Di tengah kemiskinan, Layla bertekad mengubah nasib lewat keahlian medisnya. Namun, saat ia mengandung, Ronan lenyap tanpa jejak. Enggan menyerah pada keadaan, Layla memilih bangkit demi masa depan dan mengendalikan takdirnya sendiri.