APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta masa kecil

Cinta masa kecil

Terpisah jarak dan ambisi sejak kecil, Dina dan Arga kembali dipertemukan takdir di kota besar setelah sekian lama. Dina kini berjuang keras sebagai desainer, sedangkan Arga telah menjelma menjadi pebisnis sukses yang kaya raya. Pertemuan tak terduga ini perlahan membangkitkan kembali perasaan lama yang sempat terkubur. Di tengah bayang-bayang keraguan masa lalu, keduanya kini harus mencari tahu apakah rasa yang tersisa ini merupakan takdir cinta sejati mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari-hari berlalu dengan cepat setelah pertemuan kedua Dina dan Arga.

Meski sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas kota, Dina tidak bisa mengabaikan perasaan hangat yang terus muncul setiap kali dia memikirkan Arga. Kalung bintang pemberian Arga menjadi pengingat manis bahwa mungkin, hubungan mereka memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi sesuatu yang lebih.

Tapi, seperti yang sering terjadi dalam hidup, ketika hati mulai berharap, logika pun tak mau ketinggalan untuk berperan.

Di kantor, Dina tetap fokus pada proyek-proyeknya. Setiap kali ada jeda, dia mendapati dirinya tergoda untuk memeriksa ponselnya, menunggu pesan atau telepon dari Arga.

Walaupun mereka sudah beberapa kali bertemu sejak pertemuan pertama itu, Dina masih merasa ragu untuk benar-benar membuka hatinya.

Baginya, ada terlalu banyak pertimbangan yang harus dipikirkan-apakah mereka bisa berhasil dengan semua perbedaan yang kini ada di antara mereka? Apakah perasaan yang dulu ada masih bisa bertahan setelah sekian lama?

Suatu sore, ketika Dina sedang bersiap pulang, teleponnya berbunyi. Nama Arga muncul di layar, dan seketika, Dina merasakan jantungnya berdebar lebih cepat.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengangkatnya.

"Arga, hai! Ada apa?" sapanya, mencoba menyembunyikan rasa senangnya.

"Din, kamu ada waktu malam ini? Aku pengen ngajak kamu ke tempat yang spesial," jawab Arga dengan nada antusias.

Dina tersenyum, tak bisa menahan rasa penasarannya. "Tempat spesial? Apa tuh?"

"Datang aja, nanti kamu tahu. Aku jemput ya jam tujuh?"

Dina setuju, meskipun rasa penasaran mulai menggelitik pikirannya. Malam itu, ia mempersiapkan diri dengan hati-hati, memilih pakaian yang nyaman namun tetap anggun. Ketika Arga datang menjemput, Dina langsung merasa ada sesuatu yang berbeda pada malam itu.

Mereka berkendara melewati jalan-jalan kota yang semakin ramai oleh lampu-lampu malam. Arga mengemudi dengan tenang, namun sesekali ia melirik ke arah Dina, seolah memastikan bahwa perempuan itu nyaman. Ketika akhirnya mereka tiba di tujuan, Dina terkejut melihat bahwa mereka berada di sebuah taman yang cukup luas, namun tampak sepi di malam hari.

"Aku nggak nyangka kamu bakal ngajak ke sini," kata Dina, menatap Arga dengan penuh tanya.

Arga tersenyum misterius. "Aku tahu tempat ini nggak sepopuler dulu, tapi masih indah kan?"

Mereka berjalan di sepanjang jalan setapak yang diterangi cahaya bulan.

Suara gemericik air dari sebuah kolam kecil di dekat mereka menambah suasana romantis malam itu. Dina merasa tenang, seolah-olah semua kekhawatiran yang mengganggu pikirannya menghilang bersama setiap langkah yang mereka ambil.

Setelah beberapa saat, Arga berhenti di depan sebuah bangku kayu di tepi kolam. "Aku sering ke sini waktu kecil. Tempat ini selalu jadi favoritku buat merenung," katanya dengan nada yang sedikit melankolis.

Dina duduk di sampingnya, menatap bayangan bulan yang memantul di permukaan air. "Aku ingat tempat ini. Kita pernah main di sini waktu kecil, kan?"

Arga mengangguk, tersenyum mengenang masa lalu mereka. "Iya, kita sering ke sini. Tapi dulu nggak pernah sesepi ini. Mungkin karena sekarang udah banyak tempat lain yang lebih modern."

Mereka terdiam sejenak, menikmati suasana tenang di sekitar mereka. Dina merasa ada sesuatu yang berbeda malam itu, sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di satu sisi, hatinya merasa sangat dekat dengan Arga, seolah-olah tak ada yang berubah sejak mereka kecil.

Namun, di sisi lain, logikanya terus berusaha mengingatkan bahwa ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum mereka melangkah lebih jauh.

Arga menoleh dan menatap Dina dengan serius. "Din, aku bawa kamu ke sini bukan cuma untuk nostalgia. Aku pengen kita bisa bicara lebih dalam tentang perasaan kita."

Dina menahan napas, merasa perasaannya bercampur aduk.

"Arga... aku masih bingung. Semua ini terasa begitu cepat. Aku takut kalau kita terburu-buru, nanti malah menyakiti diri sendiri."

Arga menggenggam tangan Dina dengan lembut.

"Aku ngerti perasaanmu, Din. Aku juga nggak mau terburu-buru. Tapi aku juga nggak bisa terus menahan perasaanku. Aku cuma pengen tahu, apakah kita punya kesempatan?"

Dina terdiam, menatap mata Arga yang penuh harap. Bagian dari dirinya ingin segera mengatakan ya, mengikuti alur hatinya yang sudah lama tertahan. Tapi, bagian lain dari dirinya takut untuk mengambil risiko, takut bahwa hubungan ini akan merusak persahabatan mereka yang telah terjalin begitu lama.

"Arga, aku nggak tahu jawabannya. Yang aku tahu, aku juga merasa ada yang spesial di antara kita. Tapi... aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya."

Arga tersenyum, meskipun sedikit kecewa. "Aku paham, Din. Aku nggak akan memaksamu. Aku cuma pengen kita jujur satu sama lain. Kalau memang ada perasaan itu, kita coba jalanin pelan-pelan."

Dina merasa sedikit lega mendengar kata-kata Arga. Ia tahu bahwa pria ini benar-benar peduli padanya, dan itu membuatnya semakin sulit untuk membuat keputusan. Tapi ia juga tahu bahwa mereka tidak bisa terus berada di persimpangan ini selamanya.

Malam itu, mereka melanjutkan obrolan ringan, mencoba menghindari topik berat untuk sementara. Ketika akhirnya Arga mengantar Dina pulang, ada perasaan campur aduk yang menghantui Dina sepanjang perjalanan.

Di satu sisi, ia merasa senang karena bisa menghabiskan waktu bersama Arga. Tapi di sisi lain, hatinya terus bergulat dengan logika yang mengingatkan akan segala kemungkinan buruk.

Sesampainya di rumah, Dina merenung di kamarnya. Ia menatap kalung bintang yang masih melingkar di lehernya, merasa perasaan campur aduk di hatinya semakin membingungkan. Apa yang sebenarnya ia inginkan? Apakah ia siap mengambil risiko untuk hubungan yang mungkin bisa merubah segalanya?

Di tengah keraguan, Dina memutuskan untuk menghubungi Rani, sahabat sekaligus rekan kerjanya yang selalu bisa memberinya perspektif baru. Dina menceritakan tentang pertemuannya dengan Arga, tentang kebingungan yang terus menggelayuti pikirannya.

"Kamu tuh sebenarnya udah tahu jawabannya, Din," kata Rani setelah mendengar cerita Dina. "Masalahnya kamu cuma takut buat ngambil langkah pertama. Aku ngerti, kamu nggak mau kehilangan persahabatan kalian, tapi nggak ada salahnya buat mencoba. Siapa tahu, ini memang jalannya."

Dina terdiam, mencerna kata-kata Rani. Mungkin sahabatnya benar. Mungkin ia terlalu takut untuk mengambil risiko, takut bahwa jika semuanya tidak berjalan sesuai harapan, ia akan kehilangan lebih dari sekadar seorang sahabat.

"Kalau kamu terus-terusan mikir, kamu nggak akan pernah tahu hasilnya. Kadang kita harus nekat, Din. Daripada nanti kamu nyesel karena nggak pernah nyoba," lanjut Rani dengan nada tegas.

Kata-kata Rani membuat Dina berpikir. Mungkin, sudah waktunya ia berhenti menunda-nunda. Mungkin, ini saatnya untuk mendengarkan hatinya dan memberi kesempatan pada perasaan yang selama ini ia simpan.

Beberapa hari setelah percakapan dengan Rani, Dina memutuskan untuk bertemu Arga lagi. Kali ini, ia yang mengajak Arga bertemu di sebuah kafe kecil yang nyaman di pusat kota. Ia ingin bicara dari hati ke hati, tanpa terganggu oleh kenangan masa lalu atau ketakutan akan masa depan.

Ketika Arga tiba, Dina sudah menyiapkan diri untuk mengatakan apa yang selama ini ia pendam. Mereka memesan minuman dan berbasa-basi sebentar sebelum Dina akhirnya memutuskan untuk berbicara.

"Arga, aku udah mikir banyak sejak pertemuan kita terakhir," kata Dina pelan tapi tegas. "Aku tahu kamu serius sama perasaanmu, dan aku sangat menghargai itu. Dan setelah mempertimbangkan semuanya, aku... aku ingin kita mencoba. Aku nggak mau terus-terusan bingung dan takut. Kalau kita memang punya kesempatan, aku mau kita jalani ini."

Arga menatap Dina dengan mata berbinar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Kamu serius, Din? Kamu mau kita coba?"

Dina mengangguk, merasa lega setelah akhirnya bisa mengutarakan perasaannya. "Iya, aku serius. Tapi aku juga pengen kita jalan pelan-pelan. Aku nggak mau terburu-buru, tapi aku juga nggak mau terus-terusan di persimpangan ini."

Arga tersenyum lebar, seolah beban besar telah terangkat dari pundaknya. "Aku ngerti, Din. Aku juga nggak mau kita buru-buru. Kita nikmati aja prosesnya, apa pun yang terjadi nanti, yang penting kita udah berusaha."

Mereka saling tersenyum, merasa bahwa sebuah babak baru dalam hidup mereka telah dimulai.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Adegan Panas Malam Pertama
8.7
Malam pengantin yang semestinya menjadi momen sakral bersama suami justru berakhir mengejutkan. Aku malah menghabiskan malam penuh gairah yang begitu intim dengan sosok pria perkasa lain yang misterius. Begitu pagi menjelang, kekacauan hidup yang rumit mulai menerpa diriku. Pengalaman tak terduga yang memabukkan itu seketika menjungkirbalikkan duniaku, membawa konsekuensi besar yang akan mengubah seluruh alur takdir masa depanku selamanya.
Sampul Novel Galau Cinta Untuk Siapa
8.7
Demi nama baik keluarga, Kaila terpaksa menggantikan Dwina yang kabur sesaat sebelum akad nikah dengan Boyke Dhamara. Setelah setahun menjalani pernikahan dini tanpa cinta, Dwina tiba-tiba kembali dan mendesak Kaila untuk bercerai agar ia bisa bersatu lagi dengan Boyke. Kaila kini didera dilema besar. Bagaimana sikap Boyke menghadapi kembalinya sang mantan kekasih? Akankah pernikahan Kaila sebagai istri pengganti harus berakhir?
Sampul Novel Gulai Daun Singkong Untuk Mertua
7.8
Hati Nek Syam hancur setelah diusir Jannah, anak kandungnya sendiri, hanya karena mendambakan gulai daun singkong. Merasa terhina di kediamannya, ia memutuskan pergi lalu menumpang di rumah putra bungsunya, Ahmad. Mendengar perlakuan kasar sang kakak kepada ibunya, Ahmad pun murka. Tanpa ragu, ia langsung bertindak tegas dengan menunjukkan bukti kepemilikan tanah yang sah dan balas mengusir Jannah dari rumah tersebut demi keadilan bagi sang ibu.
Sampul Novel Karena Anak Hatiku Melunak
9.4
Demi melunasi utang, keluarga tiri Tanti tega menjualnya kepada Darian hingga ia hamil. Enam tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali saat Ade, putra Tanti, divonis menderita penyakit sumsum tulang belakang. Hasil tes DNA membuktikan Ade adalah anak kandung Darian. Demi menebus masa lalunya, Darian bersedia menjadi donor. Kini, Tanti menghadapi dilema besar: mempertahankan kebenciannya pada Darian atau menerima uluran tangannya demi menyelamatkan nyawa sang anak.
Sampul Novel Mantanku Panik Setelah Pengunduran Diriku
9.5
Setelah terlahir kembali, Yonatan memutuskan mundur dari industri musik demi menghindari tragedi masa lalu. Di kehidupan sebelumnya, ia dituduh memplagiasi karya Sherwin hanya karena kalah cepat rilis sepuluh menit, memicu perundungan kejam yang menewaskan orang tuanya. Kini, saat sang mantan pacar dan Sherwin berpura-pura peduli di depan media, Yonatan memilih mengabaikan mereka. Ia bertekad melindungi keluarganya dan mengungkap kebenaran di balik pencurian lagunya dalam kisah romantis penuh misteri ini.
Sampul Novel Suamiku Pergi Saat Aku Hamil
8.2
Evelyn Song, dokter militer hebat, terbangun di tubuh Layla Qin, pelayan tertindas yang dibuang. Ia dipaksa menikahi Ronan Zhao, pria lumpuh yang dibeli demi membawa keberuntungan. Anehnya, kondisi Ronan membaik usai malam pertama mereka. Di tengah kemiskinan, Layla bertekad mengubah nasib lewat keahlian medisnya. Namun, saat ia mengandung, Ronan lenyap tanpa jejak. Enggan menyerah pada keadaan, Layla memilih bangkit demi masa depan dan mengendalikan takdirnya sendiri.