APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta CEO dalam Jebakan

Cinta CEO dalam Jebakan

Gabriella kehilangan rumah warisannya akibat penggusuran paksa oleh Perusahaan Quebracha. Saat menuntut keadilan pada sang CEO, Max Evans, sebuah insiden tragis merampas kehormatannya. Max justru menuduhnya sebagai wanita bayaran yang sengaja menjebaknya demi uang. Di tengah kebencian dan tuduhan palsu, mampukah mereka menyadari adanya dalang yang sedang mengadu domba mereka?
Bab
Bagikan

Bab 1

Pernahkah kalian merasa lelah dalam menjalani hidup?

Setiap hari, beban di atas pundak terasa semakin berat. Walau begitu, kaki harus tetap melangkah karena waktu tak memberi ampun pada siapa pun yang lemah.

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis di dalam rumah kecilnya. Setiap kali bunyi reruntuhan bangunan terdengar mendekat, ia akan menekan tuts piano dengan lebih bersemangat.

Ketika kegaduhan itu terdengar lebih kencang, ia memutar tombol pengatur volume hingga hampir maksimal. Tidak ada satu pun di dunia ini yang mampu menghentikan permainan piano gadis itu, kecuali bunyi bel untuk yang kelima kalinya.

“Aaargh! Siapa lagi itu? Kapan mereka akan berhenti menggangguku?”

Dengan langkah berat dan cepat, ia menghampiri pintu.

“Ada apa?” tanyanya garang.

Sosok berwajah tampan di luar pintu pun mengerjap. Namun, sedetik kemudian, senyum manis pria itu melengkung sempurna.

“Selamat siang, Nona Gabriella,” sapanya ramah.

Sang gadis mengerutkan alis mengamati pria asing yang mencurigakan itu.

Rambut hitam yang tertata rapi, kemeja putih panjang di tengah hari yang terik, dan sepatu pantofel mengilap di ujung kaki. Tidak salah lagi. Pria itu pasti karyawan Quebracha Company yang diutus untuk meluluhkan hati Gabriella.

“Apakah mereka pikir, keputusanku bisa diubah karena seorang laki-laki tampan? Cih, pemikiran yang dangkal sekali,” batin sang gadis dengan sebelah sudut bibir berkedut samar.

“Kalau Anda ingin membujuk saya untuk menjual rumah ini, maaf ... saya tetap tidak tertarik. Tolong katakan kepada atasan Anda untuk berhenti mengganggu saya dan rumah ini. Kalian hanya akan menghabiskan waktu dan energi.” Gadis itu menarik pintu tanpa basa-basi.

Sang pria spontan menahan pintu dengan lengannya yang kekar. Mata si tuan rumah pun terbelalak menyaksikan keberanian yang tak terduga itu.

“Apa?” tanya sang gadis sambil menekan pintu agar tidak terbuka lebih lebar. Ia takut jika si orang asing memaksa masuk ke rumahnya.

“Kedatangan saya ke sini bukan untuk itu.” Senyum manis kembali diperlihatkan meski hanya lewat celah sempit.

“Lalu, apa?” Gabriella mengerutkan alis mengisyaratkan bahwa dirinya risih.

“Karena Anda menolak untuk menjual rumah ini, perusahaan kami ingin bernegosiasi.”

“Bernegosiasi? Apa bedanya dengan membujuk?”

“Tentu saja berbeda. Karena itu, mohon izinkan saya masuk dan menjelaskannya secara rinci.”

Sang gadis menggigit bibir bawahnya dan melayangkan tatapan sinis. Akan tetapi, laki-laki di hadapannya sama sekali tidak mengubah ekspresi. “Anda benar-benar ingin masuk ke rumah ini?” tanya Gabriella seperti menguji nyali.

“Ya,” angguk sang pria tanpa sedikit pun nada khawatir.

Setelah menimbang-nimbang sejenak, si tuan rumah menghela napas samar dan mengangguk kecil. “Baiklah, silakan masuk.” Pintu akhirnya dibuka.

“Terima kasih,” ucap pria tampan itu masih dengan lengkung bibir yang manis. Bahkan sampai ia duduk di sofa pun, keramahannya tetap berseri.

“Silakan diminum,” tutur Gabriella sambil meletakkan secangkir kopi dan segelas air. Sudut bibirnya kini ikut naik.

“Terima kasih, Nona. Perkenalkan, saya Max dari Quebracha Company.”

“Ya, saya sudah tahu,” sela Gabriella dengan bibir mengerucut.

“Sudah tahu?” Pria itu mengangkat kedua alisnya.

Sang gadis mengangguk yakin. “Ya ..., siapa lagi yang tega mengganggu kedamaian hidupku kalau bukan karyawan dari perusahaan Quebracha?”

Raut tegang sang pria sontak berubah kembali manis. “Oh, baiklah. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan Anda.”

Gabriella hanya mengangkat bahu singkat.

“Sebelum saya mulai menjelaskan, saya ingin memastikan. Apakah Anda yakin tetap tidak ingin menjual rumah ini meski ditawari harga empat kali lipat?”

Sang gadis menarik napas panjang dan menjawab, “Ya.”

“Apakah Anda yakin tetap nyaman tinggal di rumah ini jika proyek perusahaan kami sudah berjalan?”

“Ya.”

“Meski gedung-gedung tinggi mengelilingi rumah Anda?”

Gabriella pun tertunduk dan menjepit pangkal hidungnya. “Bukankah maksud Anda datang ke sini bukan untuk membujuk saya?” protesnya dengan nada malas.

“Ya, memang. Saya hanya ingin memastikan,” terang Max dengan nada santai. Selang satu kedipan, ia meletakkan sebuah map di atas meja. “Kalau begitu, Anda pasti tidak keberatan menandatangani surat ini.”

Dengan alis berkerut, Gabriella membaca dokumen tersebut. “Surat pernyataan?”

“Bahwa Anda tidak keberatan jika proyek kami tetap dilancarkan. Anda tidak akan membuat protes ataupun laporan kepada media.”

Tanpa sadar, sang gadis menggertakkan rahang. “Jadi, kalian benar-benar tega mengubah lingkungan ini menjadi perkotaan?” gumamnya dengan suara bergetar.

“Kami tidak akan menyentuh rumah Anda, termasuk pekarangan dan pagarnya. Kami hanya akan membangun pada jarak aman.”

Tiba-tiba, Gabriella mendengus dan tertunduk.

“Dari mana saya tahu kalian tidak akan mengusik rumah ini? Poin-poin yang Anda sebutkan tadi tidak tertulis dalam surat ini. Perusahaan Anda bisa saja melakukan kecurangan.”

“Kecurangan seperti apa yang Anda maksud?”

Telunjuk sang gadis mendadak teracung.

“Tunggu sebentar. Saya tuliskan poin-poin yang harus perusahaan Anda penuhi. Silakan nikmati kopi ini selagi menunggu.” Tanpa membuang waktu, Gabriella masuk ke sebuah pintu.

Seperginya si tuan rumah, mata sang pria mulai leluasa menjelajah. Semua potret yang tergantung di dinding diamati dengan saksama. Begitu pula dengan piala yang terpajang pada rak kaca di sudut ruangan. Embusan napas sinis spontan keluar dari mulutnya.

“Siapa sebenarnya perempuan ini?”

Max lanjut mengamati piano yang mengintip di ruangan sebelah. Pengamatannya baru berhenti ketika ponsel dalam sakunya bergetar.

“Bagaimana, Tuan CEO? Apakah Anda masih tidak percaya bahwa perempuan itu memang unik?” Max tersenyum miring begitu membaca pesan dari sekretaris pribadinya.

“Cih, unik apanya? Justru aku semakin curiga kalau perempuan ini disuap oleh pesaing bisnis kita,” balas sang CEO tanpa perlu berpikir dua kali.

“Lalu, apakah benar bahwa perempuan itu cantik sekali? Kudengar, Gabriella itu sangat memesona. Dia seperti bidadari yang turun dari khayangan.”

Helaan napas langsung keluar dari mulut Max. “Hm? Memesona?” gumamnya sembari melihat kembali foto Gabriella kecil yang diapit oleh kedua orang tuanya.

“Tidak sama sekali,” desah pria itu seraya meraih cangkir.

Begitu kopi hangat masuk ke mulutnya, mata pria itu nyaris melompat keluar. Sedetik kemudian, cairan hitam yang seharusnya ditelan malah dituang kembali ke wadahnya.

“Astaga! Kenapa pedas sekali?”

Tanpa ragu, sang CEO mengambil gelas yang satu lagi. Belum sempat air membasahi kerongkongannya, bunyi semburan air sudah terdengar. “Huek .... Asin sekali!”

Sambil mengelap bibir dan dagunya dengan sapu tangan, pria itu celingak-celinguk mencari dapur.

“Aku butuh air. Aku butuh air!” batinnya sambil bernapas lewat mulut yang menganga. Malangnya, semua pintu yang ia tuju terkunci rapat. Kedongkolan seketika meroket merobohkan kesabaran. Ia sadar bahwa dirinya sudah masuk perangkap.

“Perempuan itu ... beraninya dia mempermainkanku.” Dengan tangan terkepal erat, Max mengetuk pintu kamar Gabriella.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta yang Hilang di Tengah Fitnah
8.7
Batal menikah secara sepihak, Aleyna Seraphina malah dijebak adik sepupunya hingga terjebak satu malam bersama lelaki asing. Demi menghindari fitnah keji yang merusak nama baiknya, ia pun nekat pergi jauh. Empat tahun kemudian, Aleyna kembali dan bekerja untuk Rowan Sinclair, seorang miliarder misterius berlatar belakang kelam. Siapa sangka, atasan barunya itu ternyata adalah sosok pria yang pernah menghabiskan malam skandal bersamanya dahulu.
Sampul Novel Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan
8.1
Clara dikhianati oleh suaminya, Marco, yang mendorongnya ke jurang saat piknik demi bersama selingkuhannya, Chika. Meski terluka parah, Clara selamat dan mendengar rencana licik Marco yang ingin memalsukan kematiannya. Di tengah keputusasaan, tekadnya untuk membalas dendam membara. Kehadiran Julian Suryo, miliarder sekaligus musuh bebuyutan suaminya yang datang menolong, menjadi titik balik bagi Clara. Bersama Julian, ia kini bersiap menghancurkan Marco.
Sampul Novel Pengkhianatan di Tengah Duka
7.8
Setelah tewas didorong dari tebing oleh suaminya sendiri saat hamil tua, sang istri bereinkarnasi. Di kehidupan lalu, ia mencegah suaminya pergi demi menyelamatkan mertuanya, namun hal itu membuat cinta pertama suaminya, Jessi, harus diamputasi hingga memicu dendam sang suami. Kini, ia memilih tidak menghalangi suaminya yang pergi memasak untuk Jessi meski ibu mertuanya diculik. Alih-alih mencegah, ia melaporkan suaminya ke polisi, membiarkan takdir pahit berbalik menghancurkan pria itu.
Sampul Novel Permainan Mustahil
9.7
Cairan anggur merah mengalir perlahan melewati leher jenjang hingga membasahi dadanya, membuat kemeja putih yang dikenakannya melekat erat pada tubuh yang gemetar. Meski didera rasa gugup yang hebat, ada ketegangan mendalam yang justru membangkitkan sensasi lain dalam dirinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, wanita ini secara sadar mengambil langkah berani untuk menggoda pria lain yang bukan suaminya, memulai sebuah permainan berbahaya yang dipenuhi misteri dan hasrat terlarang.
Sampul Novel Saat Cinta Menyerah
9.2
Pernikahan yang telah berjalan selama tiga tahun seharusnya menjadi momen bahagia. Namun, tepat di hari jadi pernikahan mereka yang ketiga, kenyataan pahit harus diterima. Zayn Evander, sang suami miliarder, secara terang-terangan mencintai wanita lain bernama Selena Vireya. Kini, wanita itu bahkan tanpa ragu memamerkan kemesraan mereka di media sosial, menghancurkan hati sang istri yang selama ini bertahan dalam bayang-bayang pernikahan dingin tanpa cinta.
Sampul Novel Terjerat Obsesi CEO Arogan
9.1
Pengkhianatan sang suami meninggalkan luka mendalam bagi Elena. Di tengah kepedihan, takdir mempertemukannya kembali dengan Karl, pria masa lalu yang kini menjadi CEO dingin. Hubungan satu malam di bar memicu obsesi posesif Karl, yang menuntut Elena segera bercerai agar bisa ia miliki sepenuhnya. Kini, Elena terjebak dalam dilema besar: menolak dominasi Karl yang berbahaya atau justru menyerah pada gairah penuh risiko yang menguji batas kewarasannya.