APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CEO My Husband

CEO My Husband

Kehidupan damai Tasya seketika sirna sejak kedatangan Revan, bos barunya yang sangat menyebalkan. Sebagai CEO muda yang baru saja memimpin perusahaan milik sang ayah, Revan tidak pernah berhenti mengusik dan mengganggu hari-hari Tasya di tempat kerja. Tasya pun harus bertahan menghadapi tekanan setiap hari dari atasannya yang dominan tersebut. Kisah ini menyoroti dinamika penuh ketegangan antara seorang karyawan yang kewalahan dan bos miliarder yang terus menekannya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Oh."

"Kamu cemburu."

"Nggak.”

"Masa sih saya liat dari cara pandangnya sepertinya kamu menyukai saya." tebak Revan yang menatap Tasya penuh yakin kalo dirinya menyukainya.

"Gak penting." Tasya pun meninggalkan Revan yang masih berdiam berdiri didepan kantornya lalu mengejar Tasya dan menjejerkan tubuhnya disamping Tasya.

"Tas kamu masih marah sama saya." tanya Revan yang menjejerkan tubuhnya disamping Tasya.

"___" tidak ada sahutan dari Tasya dia hanya terdiam saja dengan wajah kezelnya.

"Tas." panggil Revan.

"Saya udah bilang jangan panggil saya tas saya itu bukan barang." geram Tasya.

"Tapi tas itu panggilan saya ke kamu." ucap Revan.

"Bodo saya mau pulang." Tasya berjalan sampai didepan gerbang kantornya dan menunggu angkot datang.

"Sampai kapanpun kamu tunggu angkot jam segini gak ada tas.”

"Saya mau naik taksi aja."

"Mana ada taksi jam segini tas lihat nih udah jam setengah 11 tas mending kamu bareng saya aja.” Revan menunjukkan jam tangannya ke arah wajah Tasya.

"Gak mau yang ada bapak melecehkan saya lagi.” sindir Tasya.

"Ya enggak lah tas mana mungkin saya melecehkan karyawan sendiri."

"Kalo gak lalu tadi di dalam apa.”

"Soal tadi saya benar-benar minta maaf sekali lagi." Tasya memalingkan wajahnya dari pandangan Revan.

"Tas ayo saya anter.” ajak Revan dengan menyentuh tangan Tasya tapi dia malah menghempaskan tangan darinya.

"Jangan sentuh-sentuh saya mau pulang sendiri."

"Pulang naik apa emangnya tas."

"Saya bisa jalan kaki tanpa perlu bapak mengantarkan saya." Tasya membuat Revan geram bossnya pun langsung menarik tangannya.

"Awhh sakit Pak." berontak Tasya bossnya tidak menanggapi perkataan nya lalu memasukkannya ke dalam mobil dia pun berjalan tempat duduk pengemudi lalu menjalankan mobilnya

"Maaf gara-gara saya tangan kamu jadi merah begitu." Revan melihat tangan Tasya yang sudah memerah dan agak biru karena cengkeramannya terlalu kencang.

"____" Tasya pun tidak menanggapinya tatapan matanya menuju arah jendela mobil tanpa harus melihat bossnya.

"Tas " panggil Revan tetap saja Tasya tidka menjawabnya.

"____"

"Kamu marah sama saya yah." tebak Revan yang melihat Tasya hanya terdiam.

"Ok saya ngaku saya salah tolong maafin saya." permintaan maaf Revan yang sudah memberhentikan mobilnya dipinggir jalan.

"Luka kamu yang mana yang sakit." tanya Revan yang melihat Tasya masih terdiam.

"Saya mau pulang." tanpa revan sadari Tasya meneteskan kedua air matanya mengalir deras di kedua pipinya.

"Tas kamu nangis maafin saya, saya gak berniat nangisin kamu." Tasya hanya memalingkan wajahnya menghadap kaca jendela mobil.

"Saya bilang mau pulang." Tasya mencoba untuk menahan amarahnya agar tidak memarahi bossnya.

"Ok kita pulang tapi saya mohon jangan nangis lagi yah." Revan mendekati Tasya yang mencoba menghapus kedua air mata yang mengalir dipipi Tasya.

"Cepat pulang." Tasya kembali menghadap ke arah jendela mobilnya lalu Revan menjalankan mobilnya sampai di depan rumah Tasya ia langsung membuka pintu mobilnya dan berjalan masuk ke dalam kost-an yang ia tempati, Revan merasa bersalah dengan Tasya lebih baik dia pulang dulu agar Tasya bisa menenangkan dirinya kemudian ia pun meninggalkan kost-an milik Tasya.

Pagi hari Tasya sudah berangkat ke kantor karena masih banyak yang harus dikerjakan sebagai sekretaris pribadi bossnya hari ini juga bossnya ada meeting jadi dia harus menyiapkan keperluannya tiba di kantor Tasya sudah berkutik dengan laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai Tasya pun tak tau jika bossnya sudah berada didepan mejanya dengan tersenyum manis.

"Hari ini siapkan keperluan untuk meeting nanti." Tasya hanya mengangguk dan melanjutkan mengetik laptopnya.

"Kamu dengarkan." Revan melihat Tasya yang sibuk dengan laptopnya dia curiga ada apa dengan laptopnya apakah tugasnya belum selesai.

"Iya pak."

"Kamu masih marah." Tasya tidak menghiraukan ucapannya dia tetap menatap layar laptopnya.

"Tas.”

"Jangan diamkan saya seperti ini dong."

"Kamu mau apa biar saya belikan sebagai permintaan maaf saya."

"Saya bukan cewek matre yang bisanya minta apa-apa walaupun saya miskin tapi saya gak pernah morotin orang lain." jelas Tasya dengan tatapan tajam.

"Maksud saya bukan begitu tas."

"Sudah lah jangan ganggu saya, bapak gak liat saya sedang sibuk." datar Tanya.

"Yasudah maaf mengganggu." Revan pun masuk ke ruangannya kebetulan meja kerja Tasya berada di samping pintu ruangannya.

Revan💢

Revan yang sudah duduk di kursi kebesarannya tiba saja ada panggilan telepon dari ponselnya yang berada di atas meja kerjanya kemudian dia pun mengangkat teleponnya.

"Halo sayang kamu dimana." tanya perempuan yang menelponnya.

"Saya lagi dikantor ada apa memangnya!" Revan berbicara datar kepada perempuan yang berada disana.

"Anak kamu katanya pengen jalan-jalan sama kamu." dengan berbicara lembut.

"Kapan?"

"Kata Risa maunya sekarang." ucap perempuan itu.

"Kamu bisa kan urus anak kamu sendiri ajak dia jalan-jalan saja sama kamu." dengan nada marah Revan.

"Tapi sayang dia gak mau sama Mamahnya dia maunya bertiga sama ayahnya juga." rayu perempuan yang sedang menelponnya agar Revan mau diajak olehnya.

"Ok habis meeting nanti saya ke sana."

"Tapi mas dia maunya sekarang." bujuk perempuan yang masih berada disana.

"Seterah mau habis meeting atau gak jadi sekalian." Revan langsung mematikan telponnya agar dia tidak marah lebih besar lagi.

Siang hari ini kami akan meeting, sebelumnya Tasya memberitahukan kepada bossnya untuk meeting siang hari ini langsung saja masuk ke ruangannya.

Tok - Tok

Suara ketukan terdengar dari dalam kantor membuat bossnya menjadi terganggu.

"Masuk." Tasya pun masuk ke ruangannya untuk memberitahukan kalo siang ini ada meeting.

"Maaf pak siang ini ada meeting pak." ujar Tasya yang melihat arah tatapan mata Revan yang fokus dengan laptopnya dan memasang wajah datarnya.

"Saya sudah bilang tadi pagi siapkan saja meeting hari ini." dingin Revan.

"Saya sudah menyiapkan meeting hari ini bapak tinggal berangkat saja untuk menemui pak Andi nanti.”

tiba saja wajah Revan menjadi datar sebelumnya tadi pagi wajahnya biasa saja tapi kenapa siang ini berubah jadi datar Aneh!! "Silahkan keluar nanti saya nyusul."

"Maaf mengganggu pak." kemudian Tasya keluar dari ruangan bossnya dia jadi takut dengan bossnya yang tiba-tiba saja berubah jadi ganas.

"Sabar-sabar kenapa sih tuh orang tiba-tiba marah aja apa karena tadi pagi yah" gumam Tasya yang memegangi dadanya Karena takut dengan bossnya"Terima kasih pak sudah bekerja sama dengan saya." Revan mengakhiri meeting hari ini untuk bekerja sama dengan rekan kerjanya lalu berjalan ke luar ruangan meetingnya lalu bertemu anak dan mantan istrinya yang datang ke kantor untuk menemui Revan.

"Ayah." panggil seorang anak kecil yang bernama Risa berlari memeluk ayahnya sedangkan Tasya hanya berdiam berdiri melihat seorang anak kecil memeluk Revan anak kecil itu pasti anaknya Revan pikir Tasya.

"Hey kenapa kamu ada disini." tanya Ayahnya yang heran kenapa mantan istrinya mengajak anaknya ke kantor ini padahal dia sudah bilang jika sehabis meeting nanti Revan akan menemuinya tapi kenapa malah mantan istrinya yang datang ke kantor dengan membawa anaknya yaitu Risa.

"Aku mau makan bareng ayah." rengek Risa sembari mengalungkan tangannya dileher ayahnya dengan erat.

"Ayah kan sudah bilang nanti ayah nyusul kamu setelah meeting kenapa kamu datang ke kantor ayah pasti mamahmu yah yang menyuruhmu ke sini." tebak Revan.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Rahasia Berakhir Api Dendam
8.3
Hidupku hancur setelah menyadari bahwa Raja, CEO dingin yang kucintai, hanya menjadikanku pion balas dendam. Atas perintahnya, aku dijebak ke penjara, dipermalukan lewat rekaman intim, dan warisan ayahku dihancurkan oleh kekasihnya. Setelah menderita siksaan kejam di balik jeruji besi, kini aku telah bebas. Aku kembali ke hadapan Raja bukan untuk mengemis cinta, melainkan membawa amarah membara demi menghancurkan hidup sang iblis yang telah memusnahkan segalanya.
Sampul Novel Dijebak Dipelaminan
8.2
Niat hati hanya menjadi tamu undangan, Adeline Vyantara justru berakhir di altar. Ia terpaksa menggantikan posisi mempelai wanita untuk Alaric Mahendra, sang pewaris kaya yang merasa dijebak oleh keluarganya sendiri. Alaric awalnya berniat membatalkan pernikahan ini, namun keberanian Adeline dalam melindungi kehormatan keluarga membuatnya urung. Kini, keduanya harus menjalani pernikahan dingin yang dipenuhi aturan ketat. Di balik benci dan misteri masa lalu, perasaan cinta perlahan tumbuh.
Sampul Novel Dosen muda
8.8
Chintya kerap menghabiskan waktu di kafe Perpustakaan Universitas Merah Putih yang megah. Baginya, daya tarik utama tempat itu bukanlah fasilitasnya yang lengkap, melainkan meja kafe lebar yang muat untuk kertas gambar ukuran A3 miliknya. Ia sangat mencintai dunia sketsa dan desain grafis. Sayangnya, impian Chintya untuk menekuni bidang seni selepas lulus SMA harus terbentur restu orang tua yang melarangnya mengambil jurusan tersebut saat kuliah.
Sampul Novel Istri Mandul, Tak Pernah dicintai
9.6
Tiga tahun Alina bertahan dalam pernikahan dingin bersama Rayhan, sembari menahan caci maki keluarga yang menuduhnya mandul. Impiannya memiliki anak sirna karena sang suami sama sekali tidak menginginkan kehadirannya. Di tengah sikap acuh tak acuh Rayhan dan rasa hampa tanpa cinta, Alina akhirnya mencapai batas kesabaran. Di rundung kepedihan mendalam, ia mulai meragukan masa depan hubungan mereka. Haruskah Alina tetap bertahan dalam pernikahan yang terus menorehkan luka?
Sampul Novel PLAYBOY PENSIUN!
7.9
Michael Giorgino Orlando, pria sukses yang jenuh dengan pernikahannya, mengejar cinta Sydney, arsitek mal miliknya. Namun, Sydney terus menolak. Sikap dingin Michael membuat sang istri, Greeta, terabaikan hingga ajal menjemput. Dihantui penyesalan mendalam, Michael kini harus memenuhi wasiat terakhir mendiang istrinya untuk menikahi Sydney. Sayangnya, Sydney yang masih trauma dengan komitmen enggan membuka hatinya kembali untuk Michael.
Sampul Novel Rahasia Memalukannya, Perselingkuhan Publiknya
9.0
Malam pertama sang istri hancur saat Bima, suaminya, mengigaukan nama Karin, sahabatnya sendiri. Pengkhianatan mereka makin nyata lewat tato inisial K di dada Bima. Konflik memuncak ketika Karin sengaja menyajikan makanan pemicu alergi parah pada sang istri. Bukannya menyelamatkan istrinya yang sekarat dan sesak napas, Bima justru membela Karin. Dalam kondisi hamil, sang istri kini harus berjuang bertahan hidup demi melawan kekejaman mereka.