APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Candu Dekapan Kakak Ipar

Candu Dekapan Kakak Ipar

Menjadi bagian dari keluarga konglomerat justru menjadi siksaan bagi Djiwa. Diperlakukan buruk oleh ibu mertua tanpa pembelaan dari suaminya sendiri, ia merasa terasing di rumah megah tersebut. Namun, kehadiran Radja, kakak ipar tertua yang berwibawa dan dingin, mengubah segalanya. Tatapan intens Radja membangkitkan hasrat terlarang yang berbahaya. Djiwa pun terjebak dalam pusaran dosa manis yang tak bisa ia hindari, menyerah pada sentuhan pria yang seharusnya tidak boleh ia cintai.
Bab
Bagikan

Bab 5

“Kamu, ya?!” seru Sekar tajam, menunjuknya seolah ia baru saja melakukan kejahatan besar—padahal Djiwa melakukannya dengan sangat hati-hati. “Potong kuku saya gak bener!”

Ruangan mendadak senyap—kecuali denyut jantung Djiwa yang serasa memukul-mukul dadanya dari dalam.

Radja menoleh sekilas—hanya cukup untuk melihat Djiwa terduduk dan Sekar memegangi jari tangannya dramatis.

Ekspresi Radja tetap datar, tanpa satu pun emosi yang bisa dibaca.

Sementara Inggrit tersenyum miring. Tatapannya jelas—ia tahu apa yang terjadi barusan bukan kecelakaan. Melainkan ibu mertuanya dengan sengaja melakukan drama itu.

Anggita, bocah lima tahun itu, spontan berdiri dari karpet, wajahnya cemas melihat Djiwa terjatuh. Ia hendak berlari menghampiri, tapi suara ibunya memotong tajam.

“Duduk, Anggita.” Suara Inggrit dingin dan tegas. Tak menyisakan ruang untuk membantah.

Anak kecil itu terhenti, menatap ibunya sejenak, sebelum kembali duduk dan pura-pura bermain—meski matanya masih melirik Djiwa dengan jelas khawatir.

“Maaf, Mi …,” ucap Djiwa pelan sambil berdiri terburu-buru dan menunduk dalam. “Djiwa bener-bener gak sengaja.”

“Gak sengaja? Kamu lalai, Djiwa! Atau kamu sengaja mau nyakitin saya?” Nada Sekar meninggi.

“Gak, Mi! Djiwa sama sekali gak ada maksud begitu!” Djiwa membela diri, menelan ludah susah payah. “Mungkin, Djiwa agak kecapekan hari ini, makanya ….”

Sekar langsung memotong ucapannya.

“Maksud kamu apa? Kamu ingin bilang kalau kamu lelah karena mengerjakan yang jelas-jelas tugas kamu?”

Belum sempat Djiwa menjawab, suara Inggrit menyambar lebih cepat dan lebih pedas.

“Hei, Djiwa!” serunya dengan nada sinis. “Kamu tuh harus sadar diri. Kalau kamu gak terlahir dari keluarga konglomerat, kamu setidaknya harus tahu adab.”

Ia menunduk sedikit, suaranya tajam dan memalukan. “Kerja yang bener, jangan banyak alasan. Kamu tuh di rumah orang kaya, bukan di kandang ayam.”

Djiwa menggigit bibirnya, menahan perih yang mengendap di tenggorokan. Matanya menunduk. Tapi dadanya bergemuruh.

_____

Djiwa menghela napas panjang, tatapannya kosong menembus halaman mansion yang luas namun terasa sesak.

Tadi, niatnya hanya ingin beristirahat sebentar—sekadar membaringkan tubuh dan menenangkan napas. Tapi mana mungkin ia bisa tidur ketika kepalanya penuh, pikirannya berputar tanpa henti.

Mulai dari hinaan kakak-kakak iparnya, dinginnya perlakuan mertua, hingga tuntutan sang suami yang masih menusuk dada, hamil dengan pria lain.

Bayangan itu membuat perutnya melilit. Tenggorokannya kering.

Tangan Djiwa mengambil sapu lidi yang bersandar di dinding. Ia mulai menyapu halaman, bukan karena wajib, tapi karena satu-satunya cara agar pikirannya tidak meledak.

Gerakan berulang itu membuatnya sedikit tenang. Setidaknya, untuk beberapa menit saja.

“Djiwa.” Suara berat itu memanggil pelan namun tegas.

Djiwa refleks menoleh, mendapati Radja berdiri tak jauh darinya—mengenakan setelan jas lengkap, kedua tangan dimasukkan dalam saku celana, wajahnya tetap datar seperti biasanya.

“Iya, Mas?” Djiwa mendekat sambil tetap menggenggam sapu lidi. Ia berdiri tegak di hadapan Radja, mencoba terlihat siap meski lututnya sedikit gemetar.

“Mau sampai kapan kamu menganggur, hm?”

Menganggur?

Djiwa menunduk. Untuk sesaat, dadanya terasa sesak. Selama ini, dia mengurus seluruh rumah, mencuci, memasak, membersihkan, merawat mertua—bahkan lebih dari seorang pembantu.

Tapi ia tahu maksud Radja bukan itu. Yang pria itu maksud adalah pekerjaan sungguhan, di luar rumah, dengan gaji dan posisi yang jelas.

“Nggak tahu, Mas,” jawab Djiwa lirih. Jemarinya menggenggam sapu lidi lebih erat, seolah mempersiapkan diri menerima kritik berikutnya.

“Ijazah kamu masih ada?” tanya Radja lagi, suaranya tetap datar tanpa emosi yang terbaca.

Djiwa mengangguk kecil. “Masih, Mas.”

“Kalau begitu, gantikan sekretaris saya. Dia cuti lahiran.”

Djiwa sontak mengangkat wajahnya, menatap Radja dengan tatapan tak percaya.

“Se-serius, Mas?” Napasnya tercekat, bola matanya membesar.

Radja tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu hanya menatapnya, datar, tapi cukup jelas bahwa ia memang sungguh-sungguh.

“Tapi Djiwa ...,” gadis itu menaruh tangan di dadanya yang berdebar tak karuan. “Djiwa cuma lulusan D3. Bisa kah, Mas?”

“Saya yang punya perusahaan,” jawab Radja datar. Kalimat pendek itu menegaskan bahwa tak ada yang perlu diperdebatkan lagi.

Mata Djiwa langsung berbinar. Setelah setahun penuh merasa tidak berguna, dihina, dan diperlakukan seolah ia tak punya nilai, kesempatan itu terasa seperti mendapatkan lotre Amerika.

“Kalau memang bisa, Djiwa mau, Mas ... Djiwa mau banget!” ucapnya, hampir tak bisa menyembunyikan semangat yang tumpah.

Radja mengangguk tipis. “Kalau memang setuju, besok kamu mulai bekerja.”

_____

Malam itu, ruang makan keluarga Reinard lebih padat dari biasanya.

Sendok dan garpu beradu, tidak ada yang benar-benar bicara sampai Radja meletakkan gelasnya dengan bunyi ting kecil, membuat semua kepala otomatis menoleh.

Radja menatap ke arah Sekar, lalu sangat singkat pada Djiwa yang duduk di samping Kaisar.

Radja berdeham, membersihkan tenggorokannya pelan setelah meletakkan cangkir kopi di atas meja.

“Ada yang ingin saya katakan,” ujarnya, suaranya datar namun tegas, cukup untuk membuat suasana meja makan menegang seketika.

Tatapan Sekar langsung terarah padanya. Begitu pula Inggrit, serta kedua adik dan kedua iparnya. Hening sejenak, semua menunggu.

“Apa yang ingin kamu katakan, Dja?” tanya Sekar sambil melirik putra sulungnya.

Radja menyeka ujung bibirnya dengan napkin. “Mulai besok, Djiwa bekerja di kantor. Menggantikan sekretarisku yang cuti melahirkan.”

Sendok Kaisar hendak masuk ke dalam mulutnya menggantung di udara. Inggrit terbatuk kecil, jelas kaget—sama seperti reaksi Fairish yang langsung menatap kakak iparnya.

Sekar menghentikan gerakan tangan dan menegakkan punggung bersiap menilai, memandang Radja seperti baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.

Suasana seketika mengeras. Tapi Radja tetap tenang, wajahnya dingin. Tidak ada ruang untuk negosiasi dalam suaranya.

Fairish akhirnya bersuara, pelan tapi terdengar kesal, “Mas Radja, serius?”

Inggrit menimpali dengan tawa samar yang tidak sopan. “Ehm, maksudnya … apa Djiwa bisa kerja di perusahaan Reinard? Posisi sekretaris, lagi?”

Sekar menyipitkan mata. “Radja, jangan membuat keputusan terburu-buru. Banyak pelamar yang lebih berpengalaman. Lagipula—”

“Keputusan sudah dibuat,” potong Radja datar, membuat Sekar terdiam—langka sekali ada yang berani memotong ucapannya. Ah, tapi ini Radja.

Djiwa, yang sejak tadi menunduk dan hampir tidak berani mengangkat wajah, meremas ujung rok panjangnya. Ia bisa merasakan semua pasang mata menusuknya.

Tapi Radja, pria itu sama sekali tidak menoleh padanya. Pria itu menjaga ekspresi tetap dingin.

Sekar akhirnya mengalihkan tatapan ke Djiwa. “Kamu yakin bisa kerja? Jangan datang cuma bikin kacau.”

Kaisar menelan ludah, jelas tak senang jika suatu saat Djiwa hanya bikin ulah dan membuatnya malu di hadapan sang kakak, tapi tidak berani membuka suara.

Radja akhirnya bersandar pada kursinya, suara rendahnya kembali terdengar. “Saya tidak akan memilih karyawan secara sembarangan. Kalau saya bilang bisa, berarti dia bisa.”

Semuanya terdiam.

Hanya Djiwa yang jantungnya berdetak tak beraturan—antara takut, gugup, dan sedikit, terharu. Karena untuk pertama kalinya, ada yang membelanya di rumah ini.

Radja tidak menatapnya, tapi kalimat itu terasa seperti perlindungan yang tidak pernah Djiwa dapatkan selama ini.

Makan malam berlanjut, tapi atmosfernya berubah total. Tak ada yang berani membantah jika sudah anak tertua itu membuka suara—bahkan ibunya sendiri.

“Kamu serius, Mas? Mau jadikan Djiwa sekretaris pribadi kamu?” tanya Inggrit begitu pintu kamar tertutup. Makan malam sudah selesai, dan mereka kembali ke kamar.

“Sementara,” jawab Radja singkat. Langkahnya tegas menuju rias untuk meletakkan jam tangan mahalnya di sana.

Inggrit terkekeh kecil.

“Ya walaupun sementara … tetep aja.” Satu alisnya terangkat sinis. “Djiwa itu cuma lulusan D3, loh, Mas. Apa yang kamu harapkan dari kinerja seorang Ahli Madya? Hm?”

Ia mendekat sedikit, suaranya makin meremehkan. “Sekretaris kamu yang cuti aja lulusan S2. Tapi sekarang kamu malah turun level ke Djiwa?”

Inggrit menggeleng, tersenyum tipis penuh cemooh. “Dia itu bakatnya cuma masak, cuci piring, sama beres-beres rumah. Untuk kerjaan kantor? Gak cocok banget!”

Radja tetap diam. Tidak satu pun dari cemoohan itu ia tanggapi. Ia hanya melempar lirikan dingin pada Inggrit lewat pantulan cermin meja rias sambil melepas jam tangannya.

Suara Radja akhirnya terdengar, rendah, datar, namun menampar tanpa perlu meninggikan. “Jangan ukur kemampuan orang lain menggunakan standar sempit milikmu.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama
9.7
Setelah video lamaran kekasihnya, Willy, dengan sang sekretaris viral di internet, Sarah mencari penjelasan. Namun, ia justru mendengar Willy meremehkan hubungan tujuh tahun mereka demi menyelamatkan sang sekretaris dari pernikahan paksa. Sadar kesetiaannya tidak dihargai, Sarah memutuskan untuk menikah dengan pria lain di hari yang sama dengan pernikahan Willy. Saat iring-iringan mobil pengantin mereka berpapasan di jalan, Willy sangat terpukul melihat Sarah mengenakan gaun pengantin bersama pria lain.
Sampul Novel Ketika Suami Membagi Cinta
7.9
Enam tahun membina rumah tangga karena kesalahan masa lalu, Arunika Selvara harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya, Davin Albrecht, menaruh hati pada Selina. Keretakan pernikahan mereka kian nyata saat putri mereka, Mireya, mulai lebih dekat dengan Selina. Meski mencintai wanita lain, Davin menolak bercerai. Di tengah rasa sakit, Arunika memilih pasrah dan menarik diri. Namun, keputusan Arunika untuk menjauh justru menyadarkan Davin bahwa ia tidak bisa hidup tanpa istrinya.
Sampul Novel Love Escape
8.4
Impian Ghena untuk dilamar di hari jadi mereka pupus seketika saat Bastian mengakhiri hubungan 15 tahun mereka demi menuruti perjodohan keluarga. Demi menata hidup baru, Ghena memilih pindah ke Singapura dan bekerja sebagai pemandu wisata. Namun, setahun berlalu, Bastian tiba-tiba hadir kembali bersama tunangannya dan menyatakan cinta pada Ghena. Kini, Ghena dihadapkan pada pilihan sulit: tetap kuat menolak mantan kekasihnya atau goyah dan menjadi orang ketiga.
Sampul Novel Menikahi Ayahnya Setelah Terlahir Kembali
8.1
Setelah tewas mengenaskan bersama kedua anaknya akibat tabrakan maut yang disebabkan oleh suaminya yang mabuk, sang protagonis mendapatkan kesempatan kedua. Ia terbangun di masa lalu, tepat saat pria yang dicintainya dan ayah pria tersebut sedang terpengaruh obat perangsang. Di kehidupan sebelumnya, ia memilih sang pria pujaan hingga berujung pada pernikahan dingin yang penuh kebencian. Kini, ia bertekad mengubah takdirnya dengan menolong sang ayah dan memilih menjadi ibu tiri mantan suaminya.
Sampul Novel Namaku Kamilia, Tuan
9.2
Kartika terpaksa melepas Saiful, kekasihnya, demi melunasi utang sang ayah. Ia berganti nama menjadi Kamilia dan dijual seharga puluhan juta kepada Heru, seorang pria kota. Menjadi wanita simpanan membuat Kamilia kerap disiksa, hingga ia nekat kabur demi menyelamatkan diri. Kini, ia harus melewati jalan hidup yang sangat kelam dan berliku. Akankah Kamilia berhasil bebas dari dunia hitam tersebut dan bersatu kembali dengan Saiful?
Sampul Novel Tak Lagi Menua Bersama
8.1
Saat menjalani pemeriksaan bayi tabung keempatnya, Jennie justru memergoki suaminya, Erwin Sentosa, sedang mendampingi wanita hamil di rumah sakit. Padahal, Erwin mengaku sedang berada di luar kota. Demi mendapatkan pewaris keluarga, Erwin meminta Jennie memaklumi situasi tersebut dan berjanji hubungan mereka akan kembali normal setelah bayi itu lahir. Alih-alih marah, Jennie berpura-pura setuju sambil menyembunyikan hasil tesnya sendiri. Begitu hari persalinan wanita itu tiba, Jennie langsung meninggalkan surat cerai dan pergi selamanya.