APKDock Logo
Sampul Novel Tak Lagi Menua Bersama

Tak Lagi Menua Bersama

8.1 / 10.0
Saat menjalani pemeriksaan bayi tabung keempatnya, Jennie justru memergoki suaminya, Erwin Sentosa, sedang mendampingi wanita hamil di rumah sakit. Padahal, Erwin mengaku sedang berada di luar kota. Demi mendapatkan pewaris keluarga, Erwin meminta Jennie memaklumi situasi tersebut dan berjanji hubungan mereka akan kembali normal setelah bayi itu lahir. Alih-alih marah, Jennie berpura-pura setuju sambil menyembunyikan hasil tesnya sendiri. Begitu hari persalinan wanita itu tiba, Jennie langsung meninggalkan surat cerai dan pergi selamanya.

Tak Lagi Menua Bersama Bab 1

Saat aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksa apakah percobaan bayi tabung keempatku berhasil, aku melihat Erwin Sentosa yang katanya sedang dinas luar kota, dengan hati-hati menopang seorang gadis muda dan cantik keluar dari departemen kebidanan.

Perut gadis itu membesar, tampak sudah hampir melahirkan.

Erwin hanya terlihat panik sesaat, lalu segera melindungi gadis itu di belakang tubuhnya.

“Jennie, Keluarga Sentosa butuh seorang anak untuk meneruskan garis keturunan. Setelah anak ini lahir, kita akan kembali seperti dulu.”

Nada suaranya yang tegas terdengar jelas di telingaku. Aku tersenyum dan mengangguk menyetujuinya.

Di tengah tatapan terkejutnya, aku diam-diam menyembunyikan hasil pemeriksaanku.

Di hari gadis itu melahirkan, aku meninggalkan surat perceraian… dan pergi dari hidupnya untuk selamanya.

Saat melihat Erwin di departemen obstetri dan ginekologi, aku pikir aku salah lihat.

Padahal di malam sebelumnya, dia masih berulang kali menciumku sambil berkata bahwa akulah yang paling ia cintai.

Barang-barangnya juga aku yang kemasi satu per satu dengan tanganku sendiri.

Tapi sekarang, dia mengenakan pakaian yang juga aku bantu padankan, dengan hati-hati menggandeng seorang gadis muda yang sedang hamil besar keluar dari ruang dokter kandungan.

Gadis itu memegang selembar hasil pemeriksaan dan mengatakan sesuatu padanya, sementara dia membungkuk sedikit dengan sabar, mendengarkannya dengan seksama.

Keduanya memancarkan aura manis yang membuat siapa pun yang melihat pasti mengira mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

Seperti disiram air dingin dari ujung kepala, semua rasa bahagia yang menggebu langsung padam.

Aku terpaku di tempat, bertatapan dengan Erwin yang masih tersenyum.

Senyumnya langsung membeku di sudut bibir, dan kepanikan pun terlihat jelas di wajahnya.

Gadis di sampingnya langsung pucat pasi begitu melihatku, lalu ketakutan menggenggam erat lengan baju Erwin.

Erwin pun segera sadar, menepuk-nepuk lembut punggung tangan gadis itu untuk menenangkannya, lalu membantunya duduk di ruang tunggu di samping dan berpesan beberapa kalimat dengan hati-hati.

Saat dia berjalan ke arahku, raut panik yang sebelumnya sempat terlihat sudah lenyap dari wajahnya. Ia justru bersikap seolah tak terjadi apa-apa dan bertanya padaku,

“Kau ke rumah sakit kenapa? Ada yang nggak enak badan?”

Ia mengulurkan tangan ingin menyentuh wajahku, tapi aku langsung mundur selangkah untuk menghindar.

“Jelaskan!”

Aku memohon dalam hati.

Erwin, tolong katakan padaku kalau ini semua hanya kesalahpahaman.

Asal kamu bilang begitu, aku pasti akan percaya.

Aku menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan tangis, tapi suara bergetarku tetap mengkhianati perasaanku.

Melihatku begitu tersiksa, Erwin langsung memelukku tanpa peduli penolakanku.

“Sayang, bukan seperti yang kau pikirkan. Kita pulang ya, aku akan jelaskan semuanya...”

Dan saat itulah, hatiku benar-benar hancur tenggelam.

Dia tidak menjawab dengan jelas...

Mataku mulai panas, aku menatapnya tanpa suara, keras kepala ingin mendengar sebuah jawaban.

Tatapanku membuatnya tak bisa bersembunyi lagi. Ia mengalihkan pandangan, lalu dengan susah payah membuka mulut,

"Anak itu… memang anakku… Tapi aku nggak sengaja, Jen…"

Suara Erwin pelan, tapi terdengar seperti guntur yang meledak di telingaku.

Aku hampir tak mampu berdiri tegak.

Melihat kondisiku yang seperti itu, Erwin buru-buru ingin menarikku dengan wajah penuh rasa bersalah.

Aku menepis tangannya.

"Jangan sentuh aku!"

Aku benar-benar nggak ngerti, kenapa dia bisa berpura-pura seolah masih sangat mencintaiku padahal hatinya sudah bukan untukku lagi?

Orang-orang di koridor mulai menoleh memperhatikan kami.

Perempuan itu pun berlari kecil ke arah kami, dan seperti induk ayam melindungi anaknya, dia langsung berdiri di depan Erwin.

"Kak Jennie, tolong jangan salahkan Pak Erwin. Dia nggak sengaja..."

Erwin memasang wajah dingin dan menyuruhnya kembali ke tempat semula, tapi tangannya tetap terangkat, refleks menopang pinggang wanita itu, sebuah gerakan penuh perlindungan.

Dua orang yang saling membela satu sama lain seperti itu... sungguh menyentuh hati.

Tapi justru membuatku terlihat seperti orang jahat di mata orang lain.

Dalam sekejap, rasa marah, benci, dan tidak terima semuanya menyerbu hatiku.

Aku tiba-tiba dipenuhi rasa benci, melangkah maju dan menatapnya tajam sambil berkata dengan nada penuh amarah,

"Kau! Dasar wanita murahan, pelakor!"

Gadis itu tampak ketakutan, tubuhnya gemetar dan hampir terjatuh.

Wajah Erwin langsung berubah, ia mendorongku dengan kasar dan langsung memeluk gadis itu erat-erat ke dalam pelukannya.

Dorongannya sangat kuat, dan karena aku tidak bersiap, tubuhku terhempas dan jatuh ke lantai.

Saat jatuh, aku refleks memeluk perutku.

Telapak tanganku terasa perih terbakar, tapi rasa sakit itu tetap tak sebanding dengan luka di dalam hatiku.

Dulu, Erwin bahkan tak pernah tega menyakitiku sedikit pun.

Sepertinya dia sendiri juga kaget dengan apa yang baru saja dilakukannya, mendorongku.

Dia memandang tangannya dengan tatapan kosong, wajahnya penuh penyesalan dan keterkejutan.

"Jennie, kau nggak apa-apa?" katanya dengan panik, mencoba membantuku bangkit.

Namun saat itu, gadis di belakangnya tiba-tiba mengaduh pelan,

"Ah… Kak Erwin, perutku sakit banget…"

Tangan yang sudah sempat terulur oleh Erwin langsung ditarik kembali. Ia tak sempat memikirkan hal lain lagi, buru-buru menggendong gadis itu dan berjalan cepat menuju ruang pemeriksaan.

Sebelum pergi, ia sempat menoleh dan melihatku, wajah tampannya dipenuhi rasa bersalah.

"Jennie, tunggu aku. Nanti aku akan jelaskan semuanya pelan-pelan."

Setelah berkata begitu, dia pun pergi tanpa menoleh lagi.

Aku memegangi perutku, hidung terasa asam dan mata nyaris berlinang.

Dalam hati, aku hanya bisa berpikir… mungkin memang tak akan ada 'kita' lagi.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Tak Lagi Menua Bersama

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3 Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel Anna : Liontin Karma
8.0
Anna, model rupawan asal Prancis, memilih berpindah keyakinan demi menikahi lelaki idaman walau terhalang perbedaan iman. Namun, pengorbanan besar tersebut justru menyeretnya ke dalam penderitaan mental yang menghancurkan hidupnya. Di tengah badai nestapa, ia mulai meragukan keputusannya memeluk Islam. Kini, sanggupkah Anna bangkit dari keterpurukan dan menemukan kembali jati diri yang sempat hilang dalam duka?
Sampul Novel Buah Cinta Pengkhianatan Suamiku
9.2
Setelah berjuang melewati enam kali program bayi tabung selama lima tahun, Kate akhirnya berhasil hamil. Namun, di saat impian terbesarnya terwujud, ia justru memilih mengambil langkah drastis. Kate menjadwalkan operasi aborsi tepat di hari ulang tahun pernikahannya dengan Stuart, momen yang seharusnya menjadi perayaan cinta mereka. Dengan tiket pesawat di tangan untuk pergi jauh, ia bersiap mengakhiri segalanya dan meninggalkan sang suami, melepaskan kehidupan kecil yang baru saja dimulai di rahimnya.
Sampul Novel Dibuang, Bangkit, Menang!
8.1
Tiga tahun mengabdi sebagai istri, Cindy justru diceraikan demi perempuan lain dan menjadi bahan cemoohan sekota. Namun, ia bangkit membuktikan bakat terpendamnya hingga mencapai kesuksesan luar biasa. Saat sang mantan menyesal dan memohon untuk rujuk, Cindy menolaknya dengan dingin. Di saat bersamaan, suami barunya yang tampan datang melindungi Cindy dan memperingatkan sang mantan agar tidak berani mengusik kehidupan mereka lagi.
Sampul Novel Menikahi Seorang Abusive
8.6
Kehidupan pernikahan yang diimpikan Dewi berubah menjadi mimpi buruk yang penuh penderitaan. Alih-alih kebahagiaan, ia justru harus menghadapi kenyataan pahit sebagai istri Raihan, seorang suami yang sangat kasar dan manipulatif. Hari-hari Dewi kini dipenuhi dengan tekanan batin akibat perlakuan abusif pasangannya. Di tengah situasi yang menyiksa ini, Dewi dihadapkan pada pilihan sulit: terus bertahan menjaga pernikahan atau pergi demi menyelamatkan dirinya.
Sampul Novel Pesona Hantu CEO
8.0
Sion Alexander Robin, pemimpin Robin Group yang disegani di Kota Mayro, mengalami fenomena aneh saat jiwanya terpisah dari tubuhnya. Di tengah keputusasaan menjadi arwah gentayangan, ia bertemu Roura. Gadis biasa ini secara mengejutkan dapat melihat dan menyentuh sosok astral Sion. Demi mengungkap kebenaran di balik kondisi misterius ini, Sion meminta bantuan Roura untuk mencari raga aslinya dan mencari jawaban mutlak: apakah ia masih hidup atau telah tiada.
Sampul Novel Tentang Harapan
8.9
Jihan Adiztya lelah dituntut menjadi sempurna oleh orang tuanya. Kegagalan perjodohan berulang kali membuatnya kehilangan harga diri dan menjadi bahan cemoohan lingkungan sekitar. Di bawah tekanan berat dan kemarahan sang ayah yang terus membayangi, Jihan harus memikul beban untuk menaklukkan setiap pria. Di tengah keputusasaan mencari sandaran hidup, muncullah seorang pria yang berusaha mengulurkan tangan dan menyelamatkannya dari jurang keterpurukan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan