APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Candu Dekapan Kakak Ipar

Candu Dekapan Kakak Ipar

Menjadi bagian dari keluarga konglomerat justru menjadi siksaan bagi Djiwa. Diperlakukan buruk oleh ibu mertua tanpa pembelaan dari suaminya sendiri, ia merasa terasing di rumah megah tersebut. Namun, kehadiran Radja, kakak ipar tertua yang berwibawa dan dingin, mengubah segalanya. Tatapan intens Radja membangkitkan hasrat terlarang yang berbahaya. Djiwa pun terjebak dalam pusaran dosa manis yang tak bisa ia hindari, menyerah pada sentuhan pria yang seharusnya tidak boleh ia cintai.
Bab
Bagikan

Bab 6

“Mas,” panggil Djiwa lirih ketika dirinya dan sang suami masuk ke kamar usai makan malam.

Kaisar langsung berbalik badan, menatap Djiwa dengan tatapan dingin dan tajam.

Sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum miring. “Pinter kamu sekarang. Kamu tahu kalau Mas Radja itu paling ditakuti keluarga ini, makanya kamu minta bantuan dia.”

Djiwa mengerutkan kening, tak paham dengan ucapan sang suami. “Ma-maksud Mas apa?”

“Gak usah pura-pura bodoh!” sentak Kaisar dengan nada tinggi, suaranya naik satu oktaf.

Ia mengangkat tangannya, dan menunjuk Djiwa tajam. “Kamu pasti ngadu, kan, ke Mas Radja? Kamu pasti ngeluh ke dia, kalau kamu capek dijadikan babu selama ini.”

Karena Kaisar pun tahu, meski sikap kakaknya keras—Radja paling tidak tegaan dengan orang yang benar-benar datang padanya sambil mengadu dan menangis.

Kaisar yakin, Djiwa melakukan hal tersebut—menurut bayangannya sendiri.

“Makanya itu, kamu ngemis-ngemis kerjaan ke Mas Radja supaya bisa bebas dari kerjaan rumah, iya?” lanjut Kaisar, matanya menatap sang istri tajam—rahangnya mengeras.

Djiwa menggeleng cepat. “Nggak, Mas. Djiwa gak ada ngelakuin itu. Djiwa—“

“Wa,” potong Kaisar dingin. “Siapapun udah bisa nebak. Karena gak mungkin Mas Radja nawarin kerjaan ke kamu, kalau bukan kamu sendiri yang ngemis-ngemis.”

Hati Djiwa mencelos. Apakah seburuk itu dirinya, hingga sama sekali tidak pantas mendapatkan pekerjaan yang layak selain menjadi pembantu di rumah suaminya sendiri?

Niatnya dia ingin bertanya pada sang suami, apakah Kaisar memberikan izin dirinya untuk bekerja dengan sang kakak ipar. Tapi kemarahan Kaisar barusan, sudah menjawab semuanya.

“Jadi, Mas Kaisar gak setuju kalau Djiwa ikut kerja dengan Mas Radja?” tanya gadis itu lirih, kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan rasa kecewanya.

Padahal dia sudah merasa sangat senang sekali bisa bekerja di perusahaan besar sebagai posisi sekretaris—posisi yang tak mudah didapatkan oleh lulusan sepertinya.

Apalagi dia tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali.

“Mas ….” suara Djiwa hampir tak terdengar. Ia menatap suaminya dengan mata penuh ragu, menunggu jawaban—apakah ia boleh bekerja bersama Radja atau tidak.

“Kalau Mas gak izinin Djiwa kerja ikut Mas Radja, gak apa-apa, kok. Djiwa gak akan maksa.”

Nada itu lembut, tapi jelas menyimpan kecemasan.

Kaisar memejamkan mata sesaat, menghembuskan napas panjang dan kasar melalui hidung.

Dia benar-benar tidak ingin terlibat urusan dengan Radja. Kalau dia bilang tidak, kakaknya itu pasti akan menginterogasi.

Bukan sekadar bertanya—tapi menggali seluruh alasan sampai ke akar, menyeretnya dalam tekanan yang tidak ingin dia hadapi hari ini maupun besok.

Radja bukan tipe yang menerima penolakan.

Apalagi, ucapan Radja bukan sekadar permintaan, melainkan perintah seorang anak pertama—pewaris utama keluarga Reinard yang selama ini bertindak sebagai pengganti tetua.

Dan tidak ada satu pun di rumah itu yang berani membantahnya.

“Aku gak peduli kamu mau kerja sama siapa,” ujar Kaisar, suaranya rendah tapi dingin. “Yang penting, pekerjaan itu gak boleh ganggu tujuan utama kamu.”

Ia mendekat selangkah, menatap Djiwa tanpa berkedip.

“Kamu tetap harus hamil dalam waktu dekat ini, Wa. Sibuk atau nggak, kerja atau nggak,” rahangnya mengeras, “Itu bukan alasan buat kamu gagal.”

_____

Keesokan harinya. Hari ini menjadi hari pertama Djiwa bekerja setelah satu tahun berlalu sejak ia lulus kuliah—dan satu tahun menjalani kehidupan sebagai istri Kaisar.

Gadis cantik itu akan memulai peran barunya sebagai seorang sekretaris.

Bermodalkan ijazah diploma tiga dan penampilan yang ia rapikan seadanya, Djiwa berdiri di depan cermin.

Riasannya sederhana—hanya bedak tipis, sedikit blush, dan lipstik natural, namun tetap memancarkan kecantikan lembut yang khas darinya.

Kaisar muncul dari kamar mandi. Pria itu baru saja selesai mandi, masih mengenakan handuk putih yang melilit di pinggang lebarnya.

Tatapannya yang dingin tertuju pada istrinya yang duduk di meja rias.

“Kantor masuk jam delapan, ngapain kamu siap-siap jam segini?” celetuk Kaisar sembari berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian.

“Mas,” Djiwa menoleh, menatap punggung tegap sang suami. “Ini kan hari pertama Djiwa kerja, Mas. Jadi gak mau sampai telat. Sekalipun yang punya perusahaan keluarga sendiri.”

“Tapi ini keawalan, Wa,” balas Kaisar dengan nada dingin. “Memangnya kamu gak mau masak? Beres-beres rumah?”

Pria itu berbalik badan, menatap Djiwa dengan tatapan sinis. Lalu melanjutkan masih dengan nada dingin.

“Inget, tugas kamu beres-beres rumah itu udah kewajiban. Jangan karena kamu udah kerja kantoran, kamu merasa bebas dari tugas wajib itu!”

Djiwa tersenyum kecil, tetap terlihat tenang. “Udah dong, Mas. Kan Djiwa bangun subuh langsung beres-beres rumah sama Mbok. Dan tadi jam enam pagi udah masak buat sarapan.”

“Djiwa gak akan pernah lupa kok, kalau posisi Djiwa cuma di bawah.” Ia menghela napas pelan, menahan getir yang mengalir di ujung suaranya.

“Di rumah dianggap babu, di kantor pun nanti pasti sama aja, kan?”

Kaisar tak menjawab. Membawa pakaian yang sudah dia ambil dari lemari ke kamar mandi, dan mengenakannya di sana seperti biasa yang dia lakukan sejak mereka menikah.

Djiwa menghela napas pelan sambil mengusap dadanya karena barusan masih saja berani menjawab ucapan sang suami. Beruntung Kaisar tidak meledak lagi.

_____

Tepat pukul setengah delapan pagi. Sebagian anggota keluarga Reinard berangkat kerja, termasuk Djiwa untuk pertama kalinya.

Di rumah hanya menyisakkan Sekar dengan sang cucu yang bungsu—Aprilia, serta kedua pembantu yang bekerja di rumah tersebut.

Seperti biasa, mereka selalu berpamitan sebelum berangkat pada orang tua mereka.

Sekar duduk di ruang tengah, koran terbuka di tangannya—meski sejak tadi matanya lebih sering mengawasi menantunya dibanding membaca.

“Saya berangkat, Mi,” Radja lebih dulu berpamitan.

Inggrit menyusul dengan senyum tipis. “Mami, kami berangkat dulu.”

Sekar mengangguk kecil, matanya lembut pada pasangan itu.

Sultan dan istrinya maju. “Mi, kami berangkat.”

“Hati-hati,” jawab Sekar ramah.

Lalu Kaisar dan Djiwa yang terakhir.

“Kami pergi dulu, Mi,” ucap Kaisar.

“Iya, hati-hati,” Sekar menanggapi putranya.

Djiwa menunduk sopan. “Djiwa pamit—”

Belum selesai, Sekar sudah kembali menatap korannya, seolah suara menantu bungsunya hanyalah angin lewat. Seolah Djiwa tak berada di sana.

Kaisar memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat ketegangan itu. Djiwa memaksakan senyum kecil, meski suaranya tercekat.

“Permisi, Mi,”

Tidak ada jawaban, hanya suara kertas koran yang digesek pelan.

Di luar mansion, beberapa mobil milik masing-masing sudah siap dikendarai.

Sultan melirik sang istri yang berjalan di sebelahnya, “Hari ini kamu pakai mobil sendiri saja, aku buru-buru karena ada pasien kritis.”

Fairish sedikit tercengang, sebelum sempat dia berbicara—Sultan sudah lebih dulu masuk ke mobilnya dengan langkah cepat.

Mobil pria yang berprofesi sebagai dokter itu akhirnya dengan cepat meninggalkan halaman mansion, seolah dia benar-benar darurat.

“Emang gak bisa, ya, ngomong dulu sebelum berangkat?” celetuk Fairish, kesal karena harus mengeluarkan mobil dari garasi dan menunggu mesin dipanaskan.

Begitu melihat Kaisar berjalan menuju mobilnya, Fairish langsung menghampiri sambil berteriak cukup keras.

“Kai, aku ikut kamu, ya. Kita kan searah,” ujarnya cepat—tanpa menunggu jawaban, langsung membuka pintu dan duduk di kursi samping kemudi.

Kaisar tertegun sejenak. Tatapannya kemudian beralih pada Djiwa yang berdiri tak jauh darinya, jelas melihat Fairish yang tadi langsung masuk mobil sang suami tanpa izin pemilik.

“Mas … Djiwa ikut, ya?” ucap Djiwa pelan, penuh harap. “Djiwa duduk di belakang, gak apa-apa.”

“Kita gak searah. Kamu naik taksi aja,” balas Kaisar dingin, sebelum masuk mobil dan menyalakan mesin.

Mobil itu melaju keluar dari halaman mansion, meninggalkan Djiwa berdiri sendirian di halaman. Angin pagi menusuk kulitnya, menyapu rambutnya pelan. Napasnya tercekat.

Djiwa menatap gerbang yang mulai menutup otomatis, menatap jam di pergelangan tangannya.

“Gimana kalau aku telat, di hari pertama aku kerja?” gumamnya lirih.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama
9.7
Setelah video lamaran kekasihnya, Willy, dengan sang sekretaris viral di internet, Sarah mencari penjelasan. Namun, ia justru mendengar Willy meremehkan hubungan tujuh tahun mereka demi menyelamatkan sang sekretaris dari pernikahan paksa. Sadar kesetiaannya tidak dihargai, Sarah memutuskan untuk menikah dengan pria lain di hari yang sama dengan pernikahan Willy. Saat iring-iringan mobil pengantin mereka berpapasan di jalan, Willy sangat terpukul melihat Sarah mengenakan gaun pengantin bersama pria lain.
Sampul Novel Ketika Suami Membagi Cinta
7.9
Enam tahun membina rumah tangga karena kesalahan masa lalu, Arunika Selvara harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya, Davin Albrecht, menaruh hati pada Selina. Keretakan pernikahan mereka kian nyata saat putri mereka, Mireya, mulai lebih dekat dengan Selina. Meski mencintai wanita lain, Davin menolak bercerai. Di tengah rasa sakit, Arunika memilih pasrah dan menarik diri. Namun, keputusan Arunika untuk menjauh justru menyadarkan Davin bahwa ia tidak bisa hidup tanpa istrinya.
Sampul Novel Love Escape
8.4
Impian Ghena untuk dilamar di hari jadi mereka pupus seketika saat Bastian mengakhiri hubungan 15 tahun mereka demi menuruti perjodohan keluarga. Demi menata hidup baru, Ghena memilih pindah ke Singapura dan bekerja sebagai pemandu wisata. Namun, setahun berlalu, Bastian tiba-tiba hadir kembali bersama tunangannya dan menyatakan cinta pada Ghena. Kini, Ghena dihadapkan pada pilihan sulit: tetap kuat menolak mantan kekasihnya atau goyah dan menjadi orang ketiga.
Sampul Novel Menikahi Ayahnya Setelah Terlahir Kembali
8.1
Setelah tewas mengenaskan bersama kedua anaknya akibat tabrakan maut yang disebabkan oleh suaminya yang mabuk, sang protagonis mendapatkan kesempatan kedua. Ia terbangun di masa lalu, tepat saat pria yang dicintainya dan ayah pria tersebut sedang terpengaruh obat perangsang. Di kehidupan sebelumnya, ia memilih sang pria pujaan hingga berujung pada pernikahan dingin yang penuh kebencian. Kini, ia bertekad mengubah takdirnya dengan menolong sang ayah dan memilih menjadi ibu tiri mantan suaminya.
Sampul Novel Namaku Kamilia, Tuan
9.2
Kartika terpaksa melepas Saiful, kekasihnya, demi melunasi utang sang ayah. Ia berganti nama menjadi Kamilia dan dijual seharga puluhan juta kepada Heru, seorang pria kota. Menjadi wanita simpanan membuat Kamilia kerap disiksa, hingga ia nekat kabur demi menyelamatkan diri. Kini, ia harus melewati jalan hidup yang sangat kelam dan berliku. Akankah Kamilia berhasil bebas dari dunia hitam tersebut dan bersatu kembali dengan Saiful?
Sampul Novel Tak Lagi Menua Bersama
8.1
Saat menjalani pemeriksaan bayi tabung keempatnya, Jennie justru memergoki suaminya, Erwin Sentosa, sedang mendampingi wanita hamil di rumah sakit. Padahal, Erwin mengaku sedang berada di luar kota. Demi mendapatkan pewaris keluarga, Erwin meminta Jennie memaklumi situasi tersebut dan berjanji hubungan mereka akan kembali normal setelah bayi itu lahir. Alih-alih marah, Jennie berpura-pura setuju sambil menyembunyikan hasil tesnya sendiri. Begitu hari persalinan wanita itu tiba, Jennie langsung meninggalkan surat cerai dan pergi selamanya.