APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Candu Dekapan Kakak Ipar

Candu Dekapan Kakak Ipar

Menjadi bagian dari keluarga konglomerat justru menjadi siksaan bagi Djiwa. Diperlakukan buruk oleh ibu mertua tanpa pembelaan dari suaminya sendiri, ia merasa terasing di rumah megah tersebut. Namun, kehadiran Radja, kakak ipar tertua yang berwibawa dan dingin, mengubah segalanya. Tatapan intens Radja membangkitkan hasrat terlarang yang berbahaya. Djiwa pun terjebak dalam pusaran dosa manis yang tak bisa ia hindari, menyerah pada sentuhan pria yang seharusnya tidak boleh ia cintai.
Bab
Bagikan

Bab 4

“Mas ...,” lirih Djiwa sembari bangkit dari duduknya, tangannya yang gemetar meraih kartu nama itu. “Kenapa harus bahas ini lagi, sih, Mas?”

“Kenapa?” tatapan Kaisar semakin tajam. “Oh ... jadi kamu pikir ucapan aku tadi pagi itu cuma main-main? Kamu pikir aku cuma gertak kamu soal biaya rumah sakit kakek kamu, huh?”

Djiwa menunduk, jemarinya meremas kuat kartu nama itu sampai hampir kusut.

“Mas, tapi … Djiwa gak sanggup,” suaranya pecah, hampir tak terdengar. “Djiwa gak bisa ngelakuin hal kayak gitu.”

Kaisar mendekat, langkahnya tenang namun mengancam hingga tak ada jarak di antara mereka.

“Kamu harus sanggup,” ujarnya dingin. “Karena kamu gak punya pilihan.”

Djiwa mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. “Mas … tolong. Jangan paksa Djiwa kayak gini. Kalau soal biaya rumah sakit, Djiwa—”

“Berhenti.”

Satu kata, namun cukup untuk membungkamnya.

Kaisar menatapnya lama, tajam, seolah menembus ke dalam dada Djiwa yang sudah sesak sejak tadi.

“Kamu mau tahu kenapa aku terus bahas ini?” suaranya merendah, lebih dingin daripada sebelumnya.

“Menurut kamu, salah siapa Mami selalu merendahkan aku di depan Mas Sultan ataupun Mas Radja?” lanjutnya.

Kaisar menunjuk dadanya sendiri dengan ujung jari, napasnya memburu.

“Aku yang dipermalukan, Wa. Aku yang selalu dikritik Mami. Setiap kali kita duduk di meja makan, cuma aku yang dibedah habis-habisan.”

Nada suaranya merendah, bukan lembut—melainkan getir.

Tangan Kaisar terangkat lagi, menunjuk istrinya sendiri. “Lalu, bisa-bisanya kamu nggak hadir di meja makan malam ini? Kamu sengaja mempermalukan aku, Wa.”

Tatapannya turun perlahan, lalu menusuk tepat ke wajah Djiwa.

“Jadi, gak usah protes. Lakuin perintah aku,” gumamnya penuh tekanan. Telunjuknya bergerak maju, menempel di dada Djiwa dengan keras.

“Hamil segera. Itu satu-satunya cara untuk menebus semua rasa malu yang ditanggung suami kamu selama ini.”

_____

“Bener ya, kata Mbak Inggrit, kamu tuh multifungsi,” ujar Fairish sambil terkekeh, matanya mengunci pada Djiwa yang tengah fokus menyetrika blazer miliknya.

“Gak perlu rekrut banyak-banyak pembantu. Cukup kamu aja di rumah ini, semua sudut pasti rapi dan bersih.” Nada suaranya terdengar seperti pujian, tapi isi kalimatnya justru menghina.

Djiwa, yang sudah terbiasa menjadi sasaran hinaan dan cemohan itu, tidak menanggapi. Begitu selesai, ia mematikan setrikaan dan merapikan kabelnya.

“Sudah selesai, Mbak,” ucapnya datar—netral tanpa sisa perasaan, bahkan tak menoleh sedikit pun pada Fairish.

“Oh ya? Sini coba lihat.”

Fairish meraih blazer-nya, memeriksanya seolah mencari kesalahan. Detik berikutnya, sudut bibirnya terangkat sinis.

“Tuh, kan. Masih ada yang gak rapi, Djiwa. Aku tuh gak suka ada yang minus. Ini, setrikanya yang bener, dong! Gimana sih kamu.”

Blazer itu kembali ia lemparkan ke meja. Djiwa tak bergerak, hanya menatap—bukan membantah, bukan pula takut, lebih seperti tidak bisa lagi merasakan apapun.

Tatapan itu justru membuat Fairish tersinggung.

“Kenapa lihat aku kayak gitu, hah?” matanya melotot tajam.

Kedua tangannya terlipat di dada, tubuhnya condong ke depan. “Gak ikhlas kamu nyetrikain blazer aku, iya?”

Djiwa membuka mulut, hendak menjelaskan, tapi—

“Fairish!”

Suara Sultan memotong tegangnya udara. Dari ambang pintu, suaminya mengisyaratkan ketidaksabaran. “Buruan, nanti saya telat!”

Djiwa ikut menoleh, melihat ke arah Sultan yang menatapnya dengan tajam. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat perempuan itu menunduk semakin dalam.

“Iya!” sahut Fairish, kesalnya jelas. Tapi kemarahannya tidak diarahkan pada Sultan—justru untuk Djiwa yang membuat harinya buruk.

Wanita itu menunduk meraih blazernya yang tadi dia lemparkan dan menjadi kusut lagi, lalu menyeringai dingin.

“Awas ya kamu, Wa.”

Ia pun pergi, meninggalkan ancaman menggantung di udara.

Djiwa masih menunduk, sampai Fairish tak lagi terdengar. Baru setelahnya Djiwa bergerak untuk melakukan tugas selanjutnya.

Hari masih pagi, tapi Djiwa sudah punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Djiwa harus membantu ibu mertuanya bersiap-siap seperti biasa. Terutama untuk mengingatkan Sekar minum obat sebelum sarapan.

Tok. Tok.

Djiwa mengetuk pintu kamar Sekar dua kali, hati-hati agar tidak menimbulkan suara keras. Nampan berisi obat dan segelas air hangat ia pegang dengan kedua tangan.

“Masuk.” Suara Sekar terdengar tegas dari dalam.

Djiwa segera memutar kenop pintu dan membuka perlahan. Ibu mertuanya itu sudah rapi, duduk di depan meja rias sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.

“Minum obatnya dulu, Mi,” ucap Djiwa lembut, meletakkan nampan di atas nakas dengan sangat hati-hati.

Sekar menoleh—tatapan dingin, menyapu Djiwa dari ujung kepala hingga kaki. Gadis itu mengulurkan segelas air hangat beserta obatnya.

“Ke mana kamu semalam?” suara Sekar pelan tapi sarat tuduhan. “Kenapa tidak ada di meja makan?”

Djiwa merasakan tenggorokannya mengering. Dia teringat amarah Kaisar semalam karena ketidakhadirannya di meja makan.

“Maaf, Mi. Semalam Djiwa kurang enak badan, jadi gak ikut makan malam bersama.”

Ia tidak menambahkan apa pun. Ia tahu percuma. Sekar tidak suka penjelasan panjang, dan tidak akan percaya apa pun yang keluar dari mulutnya.

Sekar menyerahkan gelas kotornya setelah menelan obat tanpa menoleh.

Djiwa segera mengambilnya dengan sigap, meletakkannya di atas nampan yang sejak tadi ia taruh di nakas samping ranjang.

Djiwa tetap di sana. Tugasnya belum selesai. Ia berdiri di belakang Sekar, menyisir rambut panjang ibu mertuanya perlahan, membentuk sanggul rapi.

“Sudah selesai, Mi,” ujar Djiwa lembut setelah menyelesaikan sanggul dan memasang konde.

Ketika Djiwa hendak melangkah keluar, Sekar menahan.

“Ambilkan tongkat saya.”

Djiwa segera mengambil dan menyerahkan tongkat itu sebelum membantu ibu mertuanya berjalan keluar kamar menuju ruang makan.

Gadis itu berjalan di sisi kiri, satu tangan membawa nampan berisi gelas kotor, satu tangan lagi menuntun lengan Sekar agar tidak terpeleset.

Namun saat langkah mereka mendekati meja makan, Sekar menepis kasar tangannya.

“Jangan sentuh saya. Nanti kamu sengaja mendorong saya supaya jatuh,” ucap Sekar sinis, nadanya cukup keras untuk membuat semua orang di meja menoleh.

Semua tatapan tajam langsung mengarah pada Djiwa—membuatnya terpaku, wajahnya memucat.

“Maaf, Mi,” lirihnya pelan, sebelum menarik kursi untuk ibu mertuanya duduk.

Usai sarapan, meja makan mewah itu kembali hening. Anggota keluarga lain segera pergi, sebagian bersiap berangkat kerja. Hanya Djiwa yang tersisa.

Gadis cantik yang berstatus Nyonya rumah itu harus melanjutkan rutinitas wajibnya. Tadi pagi memasak diserahkan pada pembantu, sekarang dia mengambil alih tugas cuci piring.

Djiwa menyingsingkan lengan baju, membenamkan tangan ke air sabun. Membersihkan sisa santapan dari keluarga yang selalu merendahkannya.

Saat semua pekerjaan dapur selesai, dan Djiwa hendak kembali ke kamarnya, ia baru teringat—hari ini hari Jumat. Hari di mana ia selalu membantu ibu mertuanya memotong kuku.

Semua tugas yang berhubungan dengan Sekar memang membuatnya tertekan. Djiwa menarik napas, meyakinkan dirinya untuk bisa melakukan pekerjaan ini.

Ia segera mengambil alat pemotong kuku dan melangkah menuju ruang tengah.

Di sana, Sekar duduk di single sofa, membaca majalah fashion batik dan kebaya.

Inggrit berada di sebelahnya, menggendong bayinya yang berusia enam bulan, sementara Anggita—putri sulung Inggrit, sedang bermain di karpet.

“Mi, hari ini Mami potong kuku,” ucap Djiwa lirih, mendekat dengan hati-hati.

Sekar hanya melirik sekilas, acuh, tapi mengulurkan tangan kanannya. Djiwa duduk bersimpuh di bawah, mulai memotong kuku itu perlahan, penuh kehati-hatian.

Langkah sepatu mahal terdengar mendekat. Radja muncul dari arah belakang punggung Djiwa, aura tegasnya memenuhi ruangan.

“Papa!” seru Anggita riang.

Radja hanya mengangkat alis singkat pada putrinya, sebelum ikut bergabung di sofa. Duduk di sebelah sang istri yang tengah menyusui sang anak menggunakan botol.

Tatapan pria itu tertuju pada anak sulungnya yang bermain di karpet sebelum beralih pada Djiwa yang duduk bersimpuh di lantai, seraya memotong kuku sang ibu.

Klak.

“AKH!”

Sekar menjerit kecil. Kaget. Refleks tangannya mendorong dahi Djiwa.

BRAK.

Djiwa terjengkang ke belakang, terduduk dengan mata melebar. Pemotong kuku terlepas dari tangannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama
9.7
Setelah video lamaran kekasihnya, Willy, dengan sang sekretaris viral di internet, Sarah mencari penjelasan. Namun, ia justru mendengar Willy meremehkan hubungan tujuh tahun mereka demi menyelamatkan sang sekretaris dari pernikahan paksa. Sadar kesetiaannya tidak dihargai, Sarah memutuskan untuk menikah dengan pria lain di hari yang sama dengan pernikahan Willy. Saat iring-iringan mobil pengantin mereka berpapasan di jalan, Willy sangat terpukul melihat Sarah mengenakan gaun pengantin bersama pria lain.
Sampul Novel Ketika Suami Membagi Cinta
7.9
Enam tahun membina rumah tangga karena kesalahan masa lalu, Arunika Selvara harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya, Davin Albrecht, menaruh hati pada Selina. Keretakan pernikahan mereka kian nyata saat putri mereka, Mireya, mulai lebih dekat dengan Selina. Meski mencintai wanita lain, Davin menolak bercerai. Di tengah rasa sakit, Arunika memilih pasrah dan menarik diri. Namun, keputusan Arunika untuk menjauh justru menyadarkan Davin bahwa ia tidak bisa hidup tanpa istrinya.
Sampul Novel Love Escape
8.4
Impian Ghena untuk dilamar di hari jadi mereka pupus seketika saat Bastian mengakhiri hubungan 15 tahun mereka demi menuruti perjodohan keluarga. Demi menata hidup baru, Ghena memilih pindah ke Singapura dan bekerja sebagai pemandu wisata. Namun, setahun berlalu, Bastian tiba-tiba hadir kembali bersama tunangannya dan menyatakan cinta pada Ghena. Kini, Ghena dihadapkan pada pilihan sulit: tetap kuat menolak mantan kekasihnya atau goyah dan menjadi orang ketiga.
Sampul Novel Menikahi Ayahnya Setelah Terlahir Kembali
8.1
Setelah tewas mengenaskan bersama kedua anaknya akibat tabrakan maut yang disebabkan oleh suaminya yang mabuk, sang protagonis mendapatkan kesempatan kedua. Ia terbangun di masa lalu, tepat saat pria yang dicintainya dan ayah pria tersebut sedang terpengaruh obat perangsang. Di kehidupan sebelumnya, ia memilih sang pria pujaan hingga berujung pada pernikahan dingin yang penuh kebencian. Kini, ia bertekad mengubah takdirnya dengan menolong sang ayah dan memilih menjadi ibu tiri mantan suaminya.
Sampul Novel Namaku Kamilia, Tuan
9.2
Kartika terpaksa melepas Saiful, kekasihnya, demi melunasi utang sang ayah. Ia berganti nama menjadi Kamilia dan dijual seharga puluhan juta kepada Heru, seorang pria kota. Menjadi wanita simpanan membuat Kamilia kerap disiksa, hingga ia nekat kabur demi menyelamatkan diri. Kini, ia harus melewati jalan hidup yang sangat kelam dan berliku. Akankah Kamilia berhasil bebas dari dunia hitam tersebut dan bersatu kembali dengan Saiful?
Sampul Novel Tak Lagi Menua Bersama
8.1
Saat menjalani pemeriksaan bayi tabung keempatnya, Jennie justru memergoki suaminya, Erwin Sentosa, sedang mendampingi wanita hamil di rumah sakit. Padahal, Erwin mengaku sedang berada di luar kota. Demi mendapatkan pewaris keluarga, Erwin meminta Jennie memaklumi situasi tersebut dan berjanji hubungan mereka akan kembali normal setelah bayi itu lahir. Alih-alih marah, Jennie berpura-pura setuju sambil menyembunyikan hasil tesnya sendiri. Begitu hari persalinan wanita itu tiba, Jennie langsung meninggalkan surat cerai dan pergi selamanya.