
Cahaya Bulan yang Merindukan Masa Indah
Bab 6
Saat Nyonya Ganendra masih ragu, Bimo tiba-tiba menerobos masuk.
Begitu mendengar laporan dari bawahannya bahwa ibunya pergi ke vila, dia langsung menghentikan rapat dan buru-buru pulang.
Dia baru mengembuskan napas lega setelah melihat Riana baik-baik saja.
Namun, pada detik berikutnya, Silvia sudah berlari ke dalam pelukannya, menutupi pipinya yang memerah dan bengkak sambil menangis pilu.
"Kak Bimo, kakak memfitnahku, katanya anak dalam kandungankulah yang anak haram. Hiks, hiks, hiks, padahal dulu aku menyelamatkan nyawanya, tapi dia justru ingin menghancurkanku! Kalau begini, lebih baik aku mati saja!"
Setelah mengatakannya, Silvia berlari ke arah pintu, tetapi Bimo segera menariknya kembali.
Riana memandangi pria yang telah dicintainya selama bertahun-tahun. Meskipun hatinya sudah mati rasa, tetap ada secercah harapan dalam dirinya, harapan bahwa kali ini, Bimo akan mengatakan kebenaran dan menegakkan keadilan untuk dirinya serta anak dalam kandungannya.
Nyonya Ganendra menatap putranya dengan tegang.
"Apakah yang dikatakan Riana itu benar?"
Namun, di mata Bimo hanya tampak sedikit keraguan sebelum akhirnya dia menggeleng.
"Anak yang dikandung Silvia bukan anak haram."
Bimo bahkan menatap Riana dengan penuh permohonan, seakan ingin dia memahami pergulatan dan penderitaan yang dialaminya.
Kekecewaan yang teramat besar membuat hati Riana hancur, meninggalkan kehampaan yang pelan-pelan menelan seluruh dirinya.
Nyonya Ganendra yang marah menamparnya dengan keras.
Bimo hendak maju untuk menghentikannya, tapi Silvia buru-buru menahannya.
"Dengan apa yang sudah dilakukan kakak, wajar kalau tante perlu meluapkan emosinya. Kalau nggak, kesehatannya bisa terganggu karena terlalu menahan marah."
Nyonya Ganendra menepuk punggung tangan Silvia dengan penuh kasih.
"Anak baik, kamu seribu kali lebih berharga daripada wanita hina itu. Sekarang, kamu juga sedang mengandung cucu pertama Keluarga Ganendra. Segeralah pindah ke sini, biar Bimo bisa menjagamu dengan baik."
Setelah mengatakannya, dia menatap Riana dengan penuh kebencian.
"Wanita murahan nggak tahu malu sepertimu nggak pantas tinggal di sini! Segera ceraikan Bimo dan keluar dari Kediaman Keluarga Ganendra sekarang juga!"
Di permukaan, Silvia tampak patuh dan manis, tetapi dia diam-diam menatap Riana dengan senyum kemenangan.
Namun, ketika Silvia yakin dirinya akan segera menjadi Nyonya Keluarga Ganendra, Bimo tiba-tiba menepis tangannya dan menarik Riana ke dalam pelukannya.
Dengan nada tegas, dia berkata, "Riana nggak akan menceraikanku dan nggak akan pernah meninggalkan Kediaman Keluarga Ganendra! Kecuali aku mati, aku nggak akan pernah membiarkan dia pergi dari sisiku!"
Nyonya Ganendra menepuk pahanya dengan marah. Wajah Silvia juga terlihat tidak senang, tetapi dia tetap menahan diri dan mengusulkan jalan tengah.
"Anak yang kukandung memang membutuhkan sosok ayah. Begini saja, aku pindah ke kamar utama dan tinggal bersama Kak Bimo, sedangkan Kakak tinggal di ruang bawah tanah. Anggap saja itu hukuman karena sudah menamparku."
Tentu saja Bimo tidak setuju.
Namun, Nyonya Ganendra langsung memutuskan.
"Kalau hal seperti ini saja kamu nggak mau setujui, suruh saja wanita murahan itu angkat kaki dari rumah ini!"
Akhirnya, Riana pun diantar sendiri oleh Bimo ke ruang bawah tanah yang lembap dan dingin.
"Riana, tenanglah. Setelah ibu nggak marah lagi, aku akan segera memindahkanmu kembali ke atas."
Selama tinggal di ruang bawah tanah, Riana setiap hari mendengar barang-barang milik Silvia terus dipindahkan ke dalam vila.
Silvia tidak terbiasa tidur di ranjang kamar utama, jadi Bimo membongkar tempat tidur yang dipesan khusus oleh Riana kepada seorang ahli dan dibuat selama setahun penuh, lalu menggantinya dengan kasur lateks kesukaan Silvia.
Silvia alergi terhadap serbuk bunga, jadi Bimo mencabut semua bunga matahari yang Riana rawat dengan penuh perhatian, lalu menggantinya dengan kolam renang tanpa batas yang disukai Silvia.
Bahkan, Silvia mengubah ruang musik Riana menjadi kamar bayi. Di hadapan Riana, Silvia menghancurkan piano yang pernah dicat dan dipernis sendiri oleh Bimo untuknya, lalu membakarnya hingga menjadi abu.
"Nggak lama lagi, aku akan sepenuhnya menggantikanmu menjadi Nyonya Keluarga Ganendra. Sementara kamu dan anakmu, aku akan memastikan kamu melahirkan anak haram itu, lalu membuatnya dibenci semua orang hingga mati dalam keputusasaan."
Saat itulah Riana akhirnya mengerti alasan Silvia menyerahkan lembar jadwal operasi aborsi miliknya kepada Bimo.
Karena Silvia ingin membuat Riana menyaksikan sendiri bagaimana anaknya dibenci seluruh dunia dan hancur perlahan.
Begitu melihat Bimo, Silvia langsung mengganti ekspresinya.
"Aku hanya ingin membujuk Kakak agar melahirkan anak ini dengan baik."
Mendengar itu, Bimo tampak begitu kecewa.
"Riana, nggak kusangka sampai sekarang kamu masih berpikir untuk menyingkirkan anak kita. Kamu benar-benar membuatku kecewa!"
Riana bahkan sudah tidak ingin melihatnya lagi.
Yang dia inginkan sekarang hanyalah pergi dari Bimo, mencari tempat di mana dirinya tidak akan pernah diganggu lagi.
Namun, bagaimana caranya Riana bisa menghubungi dunia luar?
Anda Mungkin Juga Suka





