APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bulan di Darah Awan

Bulan di Darah Awan

Cahaya merah abadi kini menyelimuti dunia, membawa penderitaan darah dan kesedihan mendalam. Di tengah perjuangan menjaga kewarasan, sebuah pertemuan singkat justru membuka kembali luka lama. Meski ada ikatan yang terasa berbeda, kebencian masa lalu menciptakan atmosfer menyesakkan. Rahasia yang terpendam memicu amarah besar hingga hubungan yang baru terjalin ini terancam hancur, menyisakan rasa sesak yang tak terlukiskan.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Fokus!" Sebuah hentakan keras dari laki-laki yang berusia senja itu mengejutkan ratusan mahasiswa baru dan mahasiswa lama yang berada di ruangan itu. Perhatian mereka yang sebelumnya terpencar ke berbagai penjuru, beralih ke sumber hentakan.

“Saya tidak suka kalau kalian main-main! Fokus atau keluar dari ruangan ini!” teriakan bernada tinggi itu keluar dari mulut laki-laki berusia senja itu. Seorang perempuan di antara ratusan mahasiswa baru itu berzikir pelan, menenangkan diri dari efek kejut itu.

“Saya di sini hanya mengingatkan seperti tahun-tahun sebelumnya. Jika kalian meremehkan praktikum pemograman ini, kalian akan menyesal! Kami punya mahasiswa yang gagal lulus karena praktikum ini, jadi jangan diremehkan!” teguran lantang beliau itu di dengarkan dengan seksama oleh ratusan mahasiswa yang akan menjadi peserta praktikum pemograman, sebuah praktikum wajib untuk ditunaikan sebagai syarat kelulusan kuliah pemograman dan kuliah kompetensi teknologi elektro dan informatika.

“Asisten!” teriak beliau lagi. Mahasiswa yang memakai baju khusus laboratorium mereka semua langsung menghadap kepada bapak itu, “jika mereka melanggar peraturan praktikum, segera laporkan kepada saya! Saya akan pastikan nilai mereka E di mata kuliah pemograman!”

Seluruh mahasiswa baru hanya diam hening, Sebagian menelan air liur mereka untuk mengurangi rasa tegang dan takut. Salah seorang asisten laki-laki segera memberikan jawaban.

“Siap Pak Arianto. Akan kami pastikan semuanya lancar,” ucap laki-laki yang di pakaian laboratorium berwarna biru dongker yang dia kenakan terdapat tulisan Legendaria.

“Baiklah. Sekian dulu dari saya. Asisten, ambil alih dari sini!” perintah Pak Arianto. Beliau lalu turun dari podium di ruangan itu dan berbisik kepada beberapa asisten sebelum meninggalkan ruangan. Entah apa pesan yang beliau sampaikan kepada para asisten.

Setelah beliau keluar, seorang asisten perempuan segera naik ke podium dan mengaktifkan proyektor. Tulisan Smile.Princess terlihat rapi di pakaiannya. Asisten lainnya menyebar di seluruh ruangan, mengelilingi para calon praktikan, mereka yang menjadi peserta praktikum.

“Saya akan bacakan peraturan selama praktikum dasar pemograman. Harap diperhatikan dengan seksama dan siapkan catatan kalian. Saya hanya akan membacakan seluruh ini peraturan sebanyak satu kali,” ucap perempuan itu. Semua peserta praktikum menyiapkan kertas catatan mereka. Perempuan itu lalu menyebutkan satu per satu peraturan yang harus dipatuhi praktikan, apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum, saat, dan sesudah praktikum, serta sanksi untuk pelanggaran selama praktikum. Semua mahasiswa mencatat dengan seksama.

“Demikian semua peraturan, ada yang ditanyakan?” tanya perempuan itu. Tidak ada yang menaikkan tangannya, sehingga perempuan itu menyimpulkan tidak ada yang ditanyakan.

“Baiklah. Karena tidak ada yang ditanyakan, saya cukupkan.”

Setelah pertemuan selama satu jam yang menegangkan itu, semua mahasiswa membubarkan diri dari ruangan tersebut. Mahasiswa baru langsung menuju ke papan pengumuman laboratorium X-106. Di sana, mereka mencari nama anggota kelompok mereka serta asisten yang akan membimbing mereka selama praktikum.

Salah seorang perempuan berjilbab hitam tampak sibuk mencari namanya yang dia temukan di daftar kelompok di sana. Perempuan lain di dekatnya yang memakai jilbab merah maroon menyapa temannya yang terlihat kebingungan itu.

“Zihan! Zihan!” teriaknya. Perempuan berjilbab hitam yang bernama Zihan itu segera menuju ke tempat yang memanggilnya.

“Ada apa, Riris?” tanya Zihan. Temannya yang dipanggil Riris itu langsung memeluk dirinya. Zihan tampak sedikit terkejut.

“Kita sekelompok Zih!” teriak temannya itu girang. Zihan tampak tidak percaya, namun tangan temannya yang mengarah ke salah satu kertas di papan membuatnya senang.

Shadox [kontak]

Karim Hakim (7)

Chen Da (5)

Anastasia von Annika (3)

Daniel Anton (3)

Zihan Azizah (1)

Haris Rahma (1)

Alsya Nuraini (1)

Haris Mustaqim (1)

Alif Muttaqien (1)

“Sama Alsya juga,” ucap Riris senang. Zihan juga tersenyum. Tiga sekawan semenjak SMA, Zihan, Riris, dan Alsya, kembali dipertemukan sebagai satu kelompok di praktikum perdana kuliah mereka. Melihat lebih lengkap nama yang ada, Zihan menyadari sesuatu yang salah.

“Sebentar, asisten kita Shadox ya?” tanya Zihan. Riris mengangguk. Zihan tampak berpikir sejenak. Dia pernah mendengar nama itu sebelumnya, tetapi lupa dimana.

“Ada apa dengan Shadox?” tanya Riris. Zihan menggelengkan kepalanya. Bagi Zihan, itu hanya perasaannya saja bahwa dia mengenal nama alias itu. Zihan lalu menatap ke arah Riris.

“Ayo, kita pulang dulu. Aku akan hubungi Alsya juga. Untuk kakak-kakaknya mungkin nanti bisa kita cari,” komentar Zihan. Riris mengangguk setuju dan mereka berdua pergi dari tempat itu.

Sementara itu, beberapa asisten yang menyaksikan mahasiswa berkerumun di depan laboratorium mereka hanya menggelengkan kepala. Salah satu asisten laki-laki yang dipakaiannya bertulisan Faux_Wave memberikan komentarnya.

“Sepertinya mereka bersemangat sekali ya. Gak boleh kalah sama maba, ya kan, Shadox?” komentar laki-laki itu dengan nada bertanya seraya menepuk pundak temannya yang sedang fokus. Laki-laki yang ditepuk pundaknya itu mengabaikan gangguan yang menurutnya menjengkelkan itu.

“Eh, lagi fokus ya? Maaf Dox,” ucap laki-laki itu.

“Mas Faux, mohon jangan diganggu Mas Shadox,” pesan laki-laki dengan kode nama Legendaria.

“Siap bos.” Pesan itu dibalas dengan lantang dan laki-laki yang sedang fokus dengan pekerjaannya itu.

“Menyebalkan,” gumam laki-laki dengan kode nama Shadox itu. Dia kembali mengerjakan pekerjaannya. Dia lalu menarik nafas.

“Ini masa praktikum lagi ya? Sudah ketiga kalinya. Entahlah. Rasanya melelahkan.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Calista Kaz : Penyihir Naga Arkhataya
8.9
Ayahnya tewas di tangan Rufus Black, memicu Calista Kaz menyadari kekuatan psikokinesis serta darah penyihir miliknya. Demi mewujudkan ramalan pembangkit naga, ia pergi ke Lembah Crystal bersama Darren, Ness, dan Brisa. Sayang, kegagalannya memicu serangan Zorca yang menghancurkan lembah itu. Kini, di bawah perlindungan Elf Amorilla, Calista harus membangkitkan roh Arkhataya untuk laga final, sembari menyelesaikan romatikanya.
Sampul Novel Hitungan Mundur Di Atas Kepala
9.0
Sejak kecil, kemampuanku melihat angka kematian di atas kepala orang terdekat membuatku dicap sebagai pembawa petaka. Setelah kakek, ayah, dan ibu tewas tragis dalam sehari sesuai ramalanku, ketiga kakak laki-lakiku menaruh dendam mendalam padaku. Sebaliknya, adik perempuan kami yang kelahirannya merenggut nyawa ibu justru dipuja sebagai pembawa keberuntungan. Kini, tepat di usia kedelapan belas, cermin memperlihatkan hitungan mundur kematianku sendiri. Usai membeli kotak abu dan menyiapkan jamuan terakhir untuk kakak-kakakku yang tak kunjung datang, aku hanya bisa menunggu ajal menjemput dalam keheningan yang dingin.
Sampul Novel Jalan Jodoh Sang Koki
8.1
Max, seorang juru masak terkenal, terpaksa melarikan diri setelah dituduh membunuh perdana menteri lewat hidangannya. Di tengah pelarian, jiwanya merasuk ke raga seorang wanita korban tenggelam. Dalam wujud baru ini, Max justru terpikat pada Wulan, sahabat Nadia. Saat berhasil pulang ke tubuh aslinya, Max bertekad kuat untuk melamar Wulan. Namun, perjuangan meyakinkan sang pujaan hati ternyata sangat sulit. Mampukah koki ini memenangkan cinta sejatinya?
Sampul Novel PEMBALASAN DENDAM SANG PUTRI SINDEN
7.8
Tujuh belas tahun berlalu sejak kematian tragis Jernih Suminar. Sang putri, Lintang Prameswari, bertekad membalas dendam dengan mencari dalang ruwat sakti. Namun, ia terkejut saat mengetahui bahwa Ki Narendra, pria awet muda itu, adalah ayah kandungnya sendiri. Narendra tega menumbalkan jiwanya demi kekuasaan dan menelantarkan Lintang. Kini, di tengah intrik klenik dan mitos, Lintang harus menghadapi pembunuh ibunya dengan bantuan sosok misterius bernama Wage.
Sampul Novel SANG MATAHARI
9.1
Menyusuri belantara misterius yang sarat keajaiban, Aria Stormheart melangkah mantap sebagai petualang sejati. Dengan pedang bercahaya yang selalu siap di pinggangnya, ia siap menghadapi segala rintangan di dunia fantasi ini. Di sepanjang jalan, perasaan cemas dan gembira berbaur di dalam hatinya. Namun, tekad kuat Aria tidak pernah goyah. Setiap jengkal langkah yang diambilnya menjadi bukti nyata dari keberaniannya menantang bahaya.
Sampul Novel The Syndrome: Diperkosa Setan
9.0
Kehidupan malam yang glamor membuat Sintia lengah akan ancaman yang mengintai dirinya. Seorang iblis kejam mengincarnya, lalu menculik gadis itu ke tengah hutan belantara yang jauh dari peradaban. Di tempat terasing tersebut, ia dipaksa menghadapi siksaan keji serta pemerkosaan yang menghancurkan harga dirinya. Siapakah sebenarnya sosok iblis tersebut? Dapatkah Sintia bertahan hidup dan melarikan diri dari sekapan di dalam hutan yang penuh teror itu?