APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Takdirku Mati Dalam Api

Bukan Takdirku Mati Dalam Api

Hidup Gita hancur setelah dikhianati Dzaki, kekasih yang memanfaatkannya demi Rosa. Selain merampas karya desainnya, mereka tega meracuni Gita dan membakarnya di dalam villa. Beruntung, ia selamat, memalsukan kematiannya, lalu kabur ke Milan. Tiga tahun kemudian, Gita kembali ke Jakarta memakai identitas baru sebagai desainer top bernama Gia. Saat Dzaki syok melihat kemiripannya, Gita pun memulai rencana balas dendam matang terhadap para pengkhianat tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Gita Hasan POV:

"Ya, Bu," suaraku serak tapi tegas. "Aku ikut."

Di seberang telepon, Ibu terdengar sangat lega. "Syukurlah, Nak. Ibu sudah sangat rindu. Jadi kau tidak akan tinggal bersama Dzaki lagi?"

Kata "Dzaki" dan "tinggal bersama" terasa seperti duri yang menusuk ulu hatiku. Selama tiga tahun, Dzaki adalah duniaku. Setiap langkah, setiap keputusan, selalu tentang dia. Dia adalah bintang di galaksiku, padahal aku hanyalah planet kecil yang mengelilinginya, tanpa cahaya sendiri.

Pikiranku melayang pada kilasan Dzaki yang tertawa. Tawa yang kini tahu artinya. Tawa yang mengolok-olok kebodohanku. Matanya yang dingin ketika membicarakan "rencana" mereka. "Mencampakkannya setelah koleksi musim panas selesai." Kalimat itu berulang-ulang, tanpa ampun, di benakku.

Dadaku sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku. Aku memejamkan mata, menahan rasa sakit yang membakar. Nafas kuambil perlahan, berusaha menenangkan diri.

"Tidak, Bu," jawabku, suaraku nyaris tak terdengar. "Aku dan dia sudah selesai. Selamanya."

Aku mengakhiri panggilan, berdiri di tengah dek kapal yang kini terasa begitu dingin dan sepi. Langit kelabu di atas Labuan Bajo seolah mencerminkan perasaanku. Angin berembus kencang, menusuk kulit. Aku harus kembali. Ada satu hal lagi yang harus kulakukan sebelum aku benar-benar pergi.

Tujuanku adalah apartemen Dzaki. Apartemen yang selama ini juga menjadi rumahku. Aroma maskulinnya, perpaduan kayu cendana dan sedikit tembakau, menyambutku saat aku membuka pintu. Aroma yang dulu menenangkan, kini menyesakkan. Aku berdiri di ambang pintu, menatap sekeliling. Sepi dan hampa.

Aku teringat saat dia dulu mengajakku tinggal bersama. Waktu itu, aku merasa seperti mimpi menjadi kenyataan. Dia tersenyum padaku, memegang tanganku, mengatakan bahwa dia ingin selalu ada untukku. Aku membayangkan masa depan yang cerah, rumah dengan anak-anak yang berlarian, tawa kami yang mengisi setiap sudut.

Betapa bodohnya aku. Semua itu hanyalah bagian dari skenario balas dendamnya. Aku hanyalah boneka yang ia gerakkan. Apakah dia benar-benar mencintai Rosa? Atau Rosa juga hanyalah bagian dari permainannya? Tidak, itu tidak mungkin. Dzaki begitu defensif setiap kali ada yang menyudutkan Rosa. Dia melindunginya seolah Rosa adalah harta paling berharga.

Aku mulai membersihkan barang-barangku. Pakaian, buku-buku sketsa, alat jahitku. Setiap benda terasa berat, penuh kenangan yang kini beracun. Aku menemukan sebuah kotak kecil di bawah tempat tidur. Isinya adalah buku harian lamaku.

Aku membukanya dengan tangan gemetar. Halaman demi halaman dipenuhi tulisan tangan yang penuh cinta, harapan, dan kebodohan. Kutulis setiap kencan kami, setiap ciuman, setiap janji manis yang Dzaki ucapkan. Air mata mengalir deras, membasahi tinta, membuat kata-kata itu buram.

Ini adalah bukti kebodohanku. Aku telah mencintai seorang pria yang hanya melihatku sebagai alat. Aku tidak bisa membiarkan ini ada lagi. Dengan tangan gemetar, aku merobek setiap halaman, lalu memasukkannya ke dalam kantong sampah. Bersama dengan foto-foto kami, hadiah-hadiah kecil yang pernah ia berikan. Aku tidak ingin ada lagi jejak Dzaki dalam hidupku.

Sebuah suara kunci berputar di pintu. Jantungku berdebar kencang. Dzaki.

Dia masuk, melihatku dengan kantong sampah di tangan, dan keranjang berisi barang-barangku di samping. Topeng senyumnya kembali, tapi kali ini, aku melihat celah di sana.

"Sedang apa kau?" tanyanya, suaranya tenang, terlalu tenang.

"Membersihkan barang-barang yang tidak penting," jawabku, suaraku datar.

Dia mengerutkan kening. "Kenapa kau tidak menemuiku di rumah sakit tadi? Aku sudah keluar."

Aku tertawa sinis. "Kau begitu cepat pulih. Kupikir kau butuh waktu seminggu penuh untuk berjemur di bawah matahari dan mendapatkan simpati." Aku tidak tahu harus memakai ekspresi apa di wajahku, jadi aku hanya menyeringai, sebuah cerminan kehancuran dari dalam.

Dia berjalan mendekat, mencoba menyentuh pipiku. "Kau ini kenapa? Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?"

Aku menepis tangannya. Sentuhannya kini terasa menjijikkan. "Jangan sentuh aku."

Dzaki terdiam, matanya menatapku tajam. "Ada apa denganmu? Kau berubah."

"Berubah?" Aku menatapnya. Mataku mungkin terlihat kosong, tapi hatiku berteriak. "Apa yang kau harapkan, Dzaki? Aku harusnya tetap menjadi Gita yang dulu? Gita yang buta, yang mencintaimu sampai mati?"

Dia menatapku, mencoba membaca pikiranku. Aku merasakan aura kegelisahan darinya, seolah dia takut aku akan mengetahui kebenarannya. Tapi aku sudah tahu.

"Aku... aku tidak mengerti," gumamnya, meskipun aku tahu dia mengerti segalanya. "Aku... aku akan mengadakan pesta kecil malam ini. Hanya untuk teman-teman. Kau ikut, kan?"

Pesta? Setelah semua yang kudengar, dia masih berani mengajakku berpesta? Betapa kejamnya dia.

Aku tersenyum tipis. "Tentu," jawabku, suaraku setenang mungkin. "Kenapa tidak?"

Dia menatapku, ekspresi terkejut di wajahnya. Lalu, senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum kemenangan. Dia tidak tahu, ini adalah awal dari kehancurannya.

"Bagus," katanya. "Nanti malam aku jemput."

Dia berbalik, meninggalkan apartemen. Aku mendengar pintu tertutup di belakangnya. Aku tahu dia merayakan kemenangannya. Dia pikir aku masih bodoh, masih dalam genggamannya. Padahal, dia baru saja menandatangani surat kematiannya sendiri.

Aku memandang kantong sampah di tangan. Kantong berisi sisa-sisa cintaku yang hancur. Aku akan membuangnya, dan aku akan membuangnya jauh-jauh. Malam ini akan menjadi malam terakhir Gita yang lama.

Aku menatap langit kelabu yang mulai gelap. Angin semakin kencang, membawa serta bau laut yang asin. Badai akan datang. Dan saat badai itu tiba, aku akan memastikan bahwa Dzaki, dan semua orang yang telah menertawakanku, akan mengingat namaku.

"Malam ini, Dzaki," bisikku pada diri sendiri, "Kau akan tahu rasanya kehilangan segalanya."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Untuk Kakak Iparku
9.1
Kinan mengambil langkah nekat dengan menjadi istri kedua Yuan, kakak iparnya, demi membongkar rahasia mendiang suaminya. Keputusan ini akhirnya mengungkap alasan mengapa mendiang suaminya dahulu selalu mengabaikan dirinya dan jarang pulang ke rumah. Di tengah pencarian jawabannya, Kinan justru menemukan cinta sejati pada diri Yuan. Kini, ia bertekad untuk memiliki anak demi menuntaskan rasa penasarannya, mempertaruhkan segalanya demi satu tujuan besar.
Sampul Novel Beautiful Pain
9.2
Cinta Audrey kepada Xander begitu kuat, meski pria dingin itu terus mengabaikan dan menolaknya dengan kejam. Tanpa lelah, ia selalu berjuang demi perasaannya. Namun, pertahanan Audrey akhirnya hancur saat mengetahui fakta bahwa ada wanita lain yang dicintai Xander. Di tengah rasa sakit hati dan kekecewaan yang teramat sangat, ia kini berada di titik terendah dalam hidupnya. Sanggupkah Audrey bertahan menghadapi hubungan yang penuh kepedihan ini?
Sampul Novel CEO Tampan dan Gadis Desa
9.2
Demi Angel, putri kecilnya, duda kaya bernama Alaric Athafariz rela menutup rapat pintu hatinya sejak kepergian sang istri. Namun, dinginnya sikap sang CEO perlahan mencair setelah ia bertemu dengan Ashila, gadis desa yang membawa keceriaan baru. Tanpa diduga, takdir menyimpan rahasia besar yang menghubungkan masa lalu Alaric dengan sosok Ashila. Akankah jalinan takdir dan rahasia tersebut menuntun mereka pada kisah cinta yang tak terduga?
Sampul Novel Cinta satu malam dengan boss
9.0
Seorang wanita terkejut saat bos miliardernya mengajukan penawaran tak biasa. Tanpa dilandasi cinta, pria berkuasa yang dikelilingi banyak wanita itu secara dingin menegaskan bahwa dia hanya menginginkan tubuhnya demi kepuasan fisik semata. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit dalam hubungan tanpa status yang murni transaksional ini, terus mempertanyakan alasan di balik keputusan sang bos memilih dirinya sebagai pemuas hasrat pribadi.
Sampul Novel Godaan Di Balik Jebakan Untuknya
8.2
Sebagai fotografer khusus sesi foto pribadi, Wade terbiasa dengan berbagai permintaan klien. Namun, suasana berubah menegangkan ketika sahabat lamanya sejak masa kuliah meminta Wade memotret dirinya bersama sang istri dalam sesi yang sangat intim. Situasi biasa ini mendadak menjadi rumit saat sang sahabat mengajukan permohonan ganjil untuk menuruti keinginan istrinya. Wade yang terkejut kini harus berhadapan dengan motif tersembunyi yang mengaburkan batas profesionalisme dan jebakan penuh misteri.
Sampul Novel GREET'S WILDEST DREAM
9.3
Greet yang minder dengan fisiknya tak menyangka akan bersua lagi dengan cinta lamanya, Tristian Delmar. Sempat terpisah akibat salah paham saat kuliah, kini takdir menempatkan mereka sebagai bos dan karyawan. Hubungan ini makin pelik karena Luna, sahabat Greet, rupanya merupakan calon tunangan Tristian. Terjebak dilema batin dan rasa yang belum padam, akankah Greet berani mengakui perasaannya, atau justru merelakan Tristian demi sang sahabat?