APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel BUKAN KISAH SEMPURNA

BUKAN KISAH SEMPURNA

Adinda terpaksa menikahi Alvin demi membiayai pengobatan Alvaro yang sedang koma. Namun, masalah rumit muncul saat ia mengetahui bahwa Alvin sebenarnya belum melajang. Tugas Adinda adalah membuat pria itu melupakan istrinya. Ketika ia berhasil memikat hati Alvin, Alvaro justru terbangun dari komanya. Adinda pun terjebak dilema besar: bertahan menjadi yang kedua bagi Alvin, atau kembali kepada Alvaro namun menghadapi penolakan keras dari pihak keluarganya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Lesung pipi di sebelah kanan itu tercetak, saat sebuah senyum lega tampak di wajah cantik, yang baru beberapa bulan lalu menginjak usia duapuluh lima tahun. Ada beban yang seolah terangkat dari pundaknya, setelah segala kerumitan yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya terpecahkan.

‘Din, saya tunggu di depan.’

Adinda Larisa, nama wanita dengan rambut sepunggung itu segera memasukkan ponsel ke dalam tas. Ia bersiap untuk membayar konsekuensi dari segala yang sudah ia dapat. Adinda tidak tahu jalan apa yang akan ia hadapi di depan sana nanti. Namun, yang pasti satu masalah sudah terselesaikan, dan ia akan menjalankan garis takdir yang sudah Tuhan tulis untuk jalan hidupnya.

“Al, aku pergi dulu,” ujarnya kepada laki-laki yang kini terbaring dengan berbagai alat terpasang di tubuhnya. “Mungkin setelah ini aku bakalan jarang nemenin kamu. Tapi aku janji bakal usahain untu datang setiap hari kok.” Bibir tanpa pulasan lipstick itu tersenyum, meski lawan bicaranya tidak pernah memberi tanggapan. Mata itu masih tertutup rapat seperti biasa.

“Kamu baik-baik, ya.” Setelah mengatakan itu, Adinda segera bankit, merapikan rambut keunguan yang catnya mulai memudar, lalu pergi sebelum wanita baik yang menunggunya di luar sana kembali mengirimkan pesan.

*

“Dulu dia nggak seperti itu,” ujar Marlina dengan sorot sedih yang kentara. “Dia selalu tersenyum ramah pada semua orang,” lanjutnya sembari menoleh kea rah samping.

Adinda yang sejak tadi fokus pada laki-laki jangkung di depan sana sontak menoleh. Memberikan senyum lembut sebagai penguat bagi ibu dari laki-laki yang sejak tadi ia perhatikan.

“Sekarang sikapnya dingin sekali. Hanya bisa ramah saat sedang berhadapan dengan klien saja.” Marlina menghela napas, membetulkan kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidung bangirnya. Tanpa harus melihat langsung pun, Adinda tahu kini mata itu berkaca-kaca.

“Beberapa kandidat yang selama ini Tante sodorkan, selalu saja gagal,” ujar Marlina kembali. Adinda hanya diam mendengarkan, sembari menyimpan semua informasi penting di dalam kepalanya.

“Selama ini, wanita-wanita itu silau pada jumlah uang yang Alvin tawarkan. Atau, mereka tidak akan tahan dengan sikap dingin Alvin yang sudah mengarah ke kasar.”

Kali ini Adinda yang menghela napasnya, ada setitik rasa takut yang mulai menyusup. Namun, saat tangan Marlina menggenggamnya, seolah tahu keresahan yang ada di hatinya kini, wanita itu berusaha untuk menunjukkan senyum penuh keyakinan.

“Kamu, akan bertahan kan, Dinda?” Marlina menurunkan kaca mata hitamnya, dan tampaklah sorot putus asa seorang ibu yang tengah mencari secerca kebahagiaan untuk anak laki-lakinya.

Adinda menghela napas, lalu membalas remasan tangan Marlina dengan senyum tenang yang akan membuat siapapun menyukainya.

“Dinda akan berusaha Tante. Dinda sudah punya gambaran, dan Dinda harap Dinda akan tahan banting nanti.” Wanita itu tersenyum lebar, berusaha memberi keyakinan bahwa dirinya tidak akan menyerah begitu saja.

“Tante yakin Tuhan mempertemukan kita bukan tanpa alasan. Tante yakin kamu adalah wanita tepat yang akan bisa menolong Alvin.” Secercah harap tampak tersorot di mata Marlina. Sejak dipertemukan dengan Adinda hari itu, Marlina yakin wanita ini berbeda.

“Dinda akan berusaha untuk nggak mengecewakan Tante,” bisik wanita itu dengan senyum yang semakin tampak manis, saat satu lekukan tercetak di pipi sebelah kanannya.

“Tante percaya kamu bisa. Dan, apa boleh tante minta sesuatu?”

Senyum Adinda menghilang, ada sedikit rasa khawatir tentang permintaan yang belum tersebut itu. “Apa itu?” Adinda menunjukkan senyum tipis, agar keresahannya tidak terbaca oleh mata Marlina.

“Belajar untuk mencintai Alvin. Tante rasa, itu cara mudah untuk meluluhkan hatinya.” Marlina kembali menunjukkan binary harap di matanya. “Mungkin, dengan sebuah ketulusan, laki-laki itu akan luluh sama kamu.”

Mulut Adinda hanya bisa membuka dan menutup tanpa bisa mengatakan apapun. Belajar mencintai? Adinda tidak memikirkan hal ini sampai detik ia menandatangani surat kesepakatan mereka tadi. Sebelum akhirnya Marlina membayar semua tagihan rumah sakit, bahkan perawatan untuk Alvaro beberapa bulan ke depan, sudah wanita itu bayarkan.

“Tidak perlu terburu-buru, dengan berjalannya waktu, Tante yakin kamu bisa mengambil hatinya.”

Ini, tugasnya sebenarnya apa? Kenapa Adinda baru menyadari jika hatinya harus diserahkan juga di sini. Ia harus membuat Alvin jatuh cinta kepadanya, demi melupakan sosok istri bernama Sofia. Lalu? Lalu setelah itu? Kenapa Adinda tidak memikirkan semua ini? Setelah Alvin jatuh cinta kepadanya, tidak mungkin bukan ia tinggalkan begitu saja?

“Kamu, mulai ragu, ya?” Marlina sepertinya membaca keraguan dan kegamangan yang kini memnuhi kepala Adinda. Namun, wanita itu malah menggeleng untuk menyanggah tebakan Marlina.

“Aku sudah menerima uangnya, dan aku sudah siap dengan konsekuensinya, Tante,” ujar Adinda dengan senyum yang tampak dipaksakan. Bukankah seharusnya seperti itu? Ia sudah menerima uang yang Marlina janjikan, dan tugasnya adalah membayar itu semua dengan syarat yang sudah Marlina berikan. TIdak ada lagi jalan mundur, dan apapun resiko di depan nanti yang menghadangnya, Adinda harus bersiap sepenuh hati untuk menyambutnya.

“Tante menaruh harapan besar sama kamu, Din.”

Adinda kembali memaksakan senyumnya untuk muncul. Yah, dia tidak mungkin mundur karena segalanya sudah dimulai.

“Jalan, Pak,” ujar Marlina pada supirnya, lalu mobil itupun melaju membelah keramaian.

Mata Adinda lantas bergerak kea rah di mana Alvin masih tampak serius di kafe seberang sana. Sosok itu terlihat ramah saat sedang berbicara dengan laki-laki yang tadi Marlina sebut klien perusahaan mereka. Mungkin, laki-laki itu pada kenyataannya tidak semenyeramkan yang ia bayangkan.

*

Agenda Adinda selama beberapa hari ini adalah mengikuti Alvin. Dia harus tahu keseharian laki-laki itu. Meski Marlina sudah menyebutkan daftar kegiatan anak laki-lakinya yang sebenarnya hanya berurusan dengan pekerjaan, tapi Adinda ingin tahu lebih banyak tentang laki-laki itu.

“Kegiatan Alvin setiap harinya selalu sama. Kalau nggak kerja ya paling dia di rumah. Tapi, beberapa hari ini dia lagi lembur terus soalnya ada kerja sama dengan perusahaan baru. Ada beberapa tender yang dia menangkan.”

Informasi tersebut menjawab pertanyaan yang tidak sempat muncul di kepala Adinda, tentang kenapa Alvin selalu pulang tengah malam.

Sebenarnya sampai detik ini Adinda masih bingung, kenapa laki-laki seperti Alvin harus dijodohkan. Alvin yang ada di bayangannya dengan Alvin yang kini ada di kejauhan sana tentu saja berbeda. Jika awalnya Adinda pkir Alvin adalah laki-laki kolot yang mungkin susah dekat dengan lawan jenis, maka Alvin yang terlihat di mata Adinda adalah sosok yang akan dengan mudah menarik lawan jenis.

Laki-laki itu memiliki tubuh jangkung dengan badan tegap bak model. Belum lagi garis wajahnya yang tegas tetapi terkesan teduh andai saja bibir itu mau tersenyum. Penampilan rapi dengan kemeja yang digelung sampai ke siku itu tentu saja akan membuat wanita manapun terpesona. Dengan singkat kata, Alvin adalah laki-laki tampan, gagah, dan tentu saja sangat menarik dari segi fisik.

Adinda menunduk pada buku menu saat sosok yang sejak tadi ia perhatikan itu menoleh ke arahnya. Jangan sampai ia memiliki kesan tidak baik di saat mereka bahkan belum saling mengenal.

Alvin sejak tadi terlihat hanya duduk melamun di salah satu meja kafe sembari menatap kosong kea rah jalan. Laki-laki itu sesekali menyeruput kopi di hadapannya. Bisa Adinda lihat beberapa pelayan kafe yang sejak tadi mencuri pandang kea rah laki-laki itu. Yah, seperti yang tadi ia bilang, Alvin akan mudah menyedot perhatian lawan jenis dengan begitu mudah.

“Sepertinya dari tadi saya lihat kamu terus melihat kea rah saya.” Mata Adinda melebar saat sosok jangkung itu sudah berdiri menjulang di depannya. Tatapan dingin dan tajam itu langsung menghujam tepat di manik matanya.

“Atau, kamu wanita baru yang ibu saya kirim.” Seharusnya Adinda bisa menguasai diri, seharusnya ia tidak melebarkan mata, karena dengan begitu Alvin akan dengan mudah menebak jika jawaban dari pertanyaan yang laki-laki lontarkan itu adalah ‘ya’.

Ada dengusan sinis yang bisa Adinda tangkap dari tempatnya. Terlalu tyerkejut membuat kerja syaraf otaknya seolah lumpuh saat itu juga. Tidak sepatah katapun bisa ia ucapkan. Apalagi Alvin terus menyerangnya dengan tatapan dingin yang begitu menakutkan.

“Jangan buang waktu kamu untuk hal yang tidak akan membuahkan hasil. Sebelum kamu membuang tenaga kamu itu, saya peringatkan untuk mundur.” Alvin terlihat masih tenang, dan kali ini melirik arlojinya. Setelah itu, ia pu segera pergi tanpa mengatakan apapun.

Adinda yang seolah baru menemukan fungsi tubuhnya dengan baik, segera berlari keluar mengejar sosok Alvin yang sudah berdiri di samping mobilnya.

“Mas Alvin tunggu!” Bisa Adinda lihat tangan laki-laki itu mengepal, sebelum akhirnya wajah itu bergerak ke arahnya.

“Kasih saya kesempatan,” ujar Adinda dengan senyum penuh percaya diri.

Alvin memberikan senyum, bukan jenis senyum yang akan orang sukai. Dari senyum yang ia berikan itu, berapa wanita langsung mundur teratur dari niat untuk mendekatinya.

“Kesempatan untuk melukai wanita lain?”

Kening Adinda tampak mengerut bingung. “Maksud Mas Alvin?”

“Jadi Ibu saya tidak cerita?”

“Cerita? Maksudnya?” Ada waswas yang kini menguasai hati Adinda.

“Jadi kamu nggak tahu status laki-laki yang akan kamu dekati?” Alvin tertawa dengan nada meremehkan.

Tidak hanya waswas, tapi hati Adinda kian bertambahj resah dan juga takut.

“Saya laki-laki beristri. Itu kalau kamu mau tahu.” Dan setelah mengatakan itu, Alvin masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Adinda yang mematung dengan mata melebar terkejut di tempatnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BERONDONG PERKASA
9.8
Lewat teropongnya, Danny Sasmita kerap mengamati Camelia, sang tetangga baru. Saat Camelia histeris akibat kecoak, Danny datang menolong. Sialnya, aksi itu memicu salah paham warga hingga memaksa mereka menikah meski beda usia jauh. Di tengah tekanan itu, mantan tunangan Camelia mendadak muncul setelah dua tahun berpisah. Kini, Camelia pun bimbang memilih sang suami berondong atau pria dari masa lalunya.
Sampul Novel Hasrat Poligami
8.2
Kebahagiaan pernikahan Salma runtuh tanpa sisa setelah rahasia besar Farhan terungkap. Sang suami rupanya telah berpoligami di belakangnya, menorehkan luka batin yang teramat perih bagi Salma sebagai istri pertama. Di tengah badai pengkhianatan ini, masa depan rumah tangga mereka kini dipertaruhkan. Sanggupkah rasa cinta yang dulu ada menyelamatkan pernikahan mereka, ataukah perpisahan menjadi jalan akhir untuk menyudahi penderitaan ini?
Sampul Novel Jeritan yang Tak Terdengar
8.4
Sebuah petaka menimpa Yolanda di hari ulang tahunnya sendiri. Sang ayah yang murka menuduhnya telah mendorong sepupunya yang belajar balet hingga mengalami cedera kaki. Tanpa ampun, sang ayah memukuli kaki Yolanda dengan tongkat hingga ia tak berdaya dan tidak sanggup berteriak. Demi memberi pelajaran, tubuh Yolanda yang sekarat dilempar ke dalam ruang bawah tanah yang gelap. Namun, saat pintu itu akhirnya dibuka kembali, sang ayah hanya mendapati jasad putrinya telah hancur dan membusuk.
Sampul Novel Mantanku Panik Setelah Pengunduran Diriku
9.5
Setelah terlahir kembali, Yonatan memutuskan mundur dari industri musik demi menghindari tragedi masa lalu. Di kehidupan sebelumnya, ia dituduh memplagiasi karya Sherwin hanya karena kalah cepat rilis sepuluh menit, memicu perundungan kejam yang menewaskan orang tuanya. Kini, saat sang mantan pacar dan Sherwin berpura-pura peduli di depan media, Yonatan memilih mengabaikan mereka. Ia bertekad melindungi keluarganya dan mengungkap kebenaran di balik pencurian lagunya dalam kisah romantis penuh misteri ini.
Sampul Novel Mencari Cinta Sejati
8.7
Anggita Anggraini selalu mendambakan kasih sayang tulus yang menerima dirinya tanpa syarat. Sayangnya, kepedihan dari kegagalan hubungan masa lalu memaksa Gita membangun benteng pertahanan demi melindungi hatinya agar tidak terluka lagi. Kini, ia terjebak dalam trauma mendalam dan skeptisisme yang kuat. Mampukah Gita mengatasi keraguan batinnya, meruntuhkan tembok ego tersebut, dan membuka diri untuk cinta sejati? Simak perjuangan emosional Gita yang penuh liku.
Sampul Novel Pengantin Kecil Tuan Xavier
8.8
Nandini, gadis penjual bunga yang terasing dari keluarganya, harus menghadapi takdir tak terduga. Saat kakaknya kabur di hari pernikahan, Nandini dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk bersanding dengan Tuan Xavier. Kini, kehidupan sederhana yang ia jalani berubah drastis. Ia terjebak dalam pernikahan mendadak yang tidak pernah ia bayangkan, serta harus bertahan di tengah tekanan kehidupan barunya bersama sang miliarder.