APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Broken Vessel

Broken Vessel

Trystan, pemuda 21 tahun, terancam bahaya di dunia yang mendewakan kekuatan Arte. Kemampuan langka miliknya memicu perburuan kejam dari pihak-pihak yang ingin melenyapkan atau mengeksploitasinya. Kini, hidupnya dilingkupi pengkhianatan, kepedihan, dan dendam mendalam. Di bawah tekanan tanggung jawab besar, Trystan harus berjuang keras demi melindungi apa yang berharga dari kejaran para musuh yang tiada henti mengincarnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sesampainya di kamarku, aku langsung melangkah ke lemari dan mengeluarkan beberapa pasang pakaian. Setelah itu, kulangkahkan kakiku memasuki kamar mandi. Kutanggalkan pakaianku yang basah kuyup lalu menyalakan keran bak mandi.

Sambil menunggu airnya penuh, aku mencuci mukaku di wastafel. Kutatap pantulan diriku di cermin. Penampilanku berantakan sekali, terutama rambut hijau gelap yang basah dan acak-acakan ini.

Manik hijau emerald-ku mengarah ke mantra sihir yang berupa seperti tato putih melingkar di leherku. Kusentuh leherku dengan ujung jariku.

"Kalau saja 'kontrak' ini tidak pernah ada, aku tidak akan hidup seperti boneka mereka." Jariku menggaruk leherku hingga muncul bekas merah yang terasa perih.

Aku teringat akan air di bak mandi, untunglah airnya tidak kepenuhan. Kumatikan keran agar airnya tidak meluap ke lantai. Kucelupkan badanku ke air lalu menyandarkan punggungku pada dinding ubin putih. 'Ah, nikmatnya berendam dalam air hangat.'

Beberapa menit berlalu, aku selesai dari mandiku dan mengenakan pakaian yang kering dan nyaman. Kulangkahkan kakiku menuju lemari kecil yang ada di samping ranjangku.

Sebuah benda pipih berwarna hitam berada di atas perabotan berbahan kayu itu. Kuambil ponselku dan mencoba menyalakannya. Alat komunikasi ini tidak mau menyala walau sudah kutekan tombol power berkali-kali.

"Sial, pasti karena kemasukan air." Kuletakkan kembali benda itu di atas lemari yang hanya setinggi lututku.

Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kurebahkan badanku di atas ranjang lalu memejamkan kedua mataku.

***

Ruangan yang berisikan perabotan antik bernuansa putih-emas. Tampak seorang anak laki-laki berambut hijau gelap dan wanita berambut ungu magenta duduk berhadapan. Secarik kertas terletak di atas meja persegi di depan mereka. Tulisan bertinta hitam tertulis rapi pada permukaan kertas itu.

"Tempelkan jari jempolmu di atas sini." Wanita itu menunjuk bagian kosong di sudut kiri bawah. Anak itu menganggukan kepalanya dan melakukan apa yang diinstruksikan oleh wanita itu.

Warna tulisan itu berubah menjadi putih lalu terlepas dari permukaan kertas, terbang ke arah bocah itu dan melilit lehernya. Dia terjatuh dari kursinya dan meronta-ronta di lantai. Tangan kecilnya menggenggam erat lehernya.

Manik emerald-nya menatap wanita yang hanya menatap anak yang kesakitan itu dari kursinya. Mata biru cerah wanita itu memandang rendah anak malang itu. Bibir merahnya melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.

"Inilah harga atas nyawamu. Kamu harus hidup menaati perintah kami, jangan gunakan kekuatanmu untuk membunuh orang lain tanpa seizin kami, dan jadilah kaki tangan Treis." Dia bangkit dari kursinya, pergi meninggalkan anak yang menderita kesakitan di atas keramik putih yang dingin itu.

***

Terdengar suara ketukan sebanyak 3 kali, suara itu membuatku terbangun dari kenangan buruk itu. Aku terduduk di tepi ranjang sambil mengumpulkan nyawa setelah bangun tidur. 'Tidak biasanya ada orang yang datang ke kamarku. Siapa itu?'

Kuturunkan kakiku dari ranjang lalu berjalan ke arah pintu. Tanganku memutar kunci yang menempel pada lubang di gagang pintu lalu membuka papan kayu hitam ini.

Tampak seorang pria yang wajahnya kukenal berdiri di balik pintu ini. Air mukanya tampak mencemaskan sesuatu. Dia membuka mulutnya berkata, "Trystan, Layla disandera oleh penyusup." 

Mataku terbuka lebar mendengar perkataannya. Kukepalkan erat tanganku hingga urat-urat timbul di permukaan kulit. Rahangku mengeras mendengar berita itu. 'Beraninya mereka menyandera Layla!'

 "Apa mau mereka?" tanyaku dengan nada rendah.

"Dokumen yang berhubungan dengan kasus 13 tahun yang lalu," jawab Kapten.

Aku terdiam dan berpikir untuk sejenak, 'Kasus 13 tahun yang lalu? Untuk apa mereka mencari-cari dokumen itu?' Seketika ingatan tentang 13 tahun lalu terlintas di kepalaku. 'Masa sih ...?'

Kapten lanjut berkata, "Trystan, saya ingin agar kamu tidak ikut campur dalam masalah ini lagi. Ingat, tugas kamu di sini bukan untuk menginvestigasi.

"Cukup 2 'tikus' itu saja yang telah mengetahui tentang keberadaanmu di sini, jangan sampai para 'anjing' itu mengendus tentang hal ini," tambahnya, aku menganggukan kepala mengerti.

Kapten membalikkan badannya dan pergi meninggalkanku. Kutatap punggungnya yang semakin menjauh hingga tak terlihat lagi. 'Maaf, Kapten, sepertinya aku tidak akan mengindahkan laranganmu. Aku tidak mungkin tinggal diam saja jika ini menyangkut Layla, orang yang paling berharga bagiku.'

Setelah kurasa Kapten sudah jauh, aku berjalan menyusuri lorong untuk keluar dari asrama. Saat hendak berbelok ke kanan, aku merasakan sesuatu yang mengancam. Kuhentikan langkahku dan memperhatikan sekelilingku.

Sunyi dan sepi. Tidak terlihat ada orang lain di tempat ini. Padahal aku yakin jika aku merasakan 'Arte' milik orang lain di sekitar sini, tetapi karena begitu lemah, aku jadi tidak tahu darimana tepatnya itu berasal.

"Aku tahu kamu ada di situ, tunjukkanlah dirimu," gertakku. Hening, tidak ada jawaban yang kuterima. 'Ha, kamu ingin bermain petak umpet denganku? Oke, akan kuladeni permainanmu.'

Bayangan di bawah kakiku meluas meliputi seluruh lantai di tempat ini. Permukaan datar yang berwarna putih berubah menjadi hitam. Kukonsentrasikan kekuatanku untuk melacak keberadaannya. 'Ketemu.'

Kakiku beranjak dari tempatku berdiri dan bergerak ke sebelah kanan. Kuhantam dinding abu-abu muda dengan tinju kananku.

Sosok yang bersembunyi itu menghindari seranganku dan menampakkan dirinya. Orang itu adalah wanita berambut cokelat yang waktu itu kutemui di ruang referensi.

"Akhirnya kamu menampakkan dirimu juga." Aku mengusap buku-buku jariku yang sakit setelah memukul dinding. Dia terkesiap mengetahui aku dapat menemukan persembunyiannya.

Dia mencoba kabur dariku, tetapi kutahan pergelangan tangannya. "Dimana Layla?"

"Ba-bagaimana kamu bisa tahu aku ada di sini?" Dia bertanya balik kepadaku yang membuatku berdecak kesal.

"Itu tidak penting. Sekarang jawab pertanyaanku. Dimana. Layla?" Aku mengulangi pertanyaanku dengan penuh penekanan.

"A-aku menguncinya di ruang G, dia kuborgol di teralis jendela. Jadi, seharusnya dia masih ada di sana," jawabnya memberitahuku dimana dia menyandera Layla.

Cengkraman tanganku semakin kuat setelah mendengarnya mengatakan jika dia memborgol Layla. Terdengar suara tulangnya yang retak dan diikuti oleh suara pekikan kesakitannya. Kulepaskan genggaman tanganku darinya, dia langsung terduduk di lantai.

"Berikan kuncinya." Aku mengulurkan tanganku kepadanya. Wanita itu menyerahkan 2 buah kunci ke telapak tanganku. Kusimpan kedua kunci itu di dalam saku celanaku lalu menjentikkan jariku.

Bayangan di lantai mencuat dan melilit tubuhnya. Dia menghilang dari pandanganku ketika bayangan itu lenyap. Aku menggunakan 'Arte'-ku untuk memindahkannya ke dalam sel tahanan bawah tanah yang gelap. 

Kuhilangkan bayangan yang menutup seluruh lantai. Permukaan yang tadinya berwarna hitam kini kembali menjadi putih. Tanpa menunggu lama, aku segera beranjak menuju tempat Layla dikunci.

Tibalah aku di depan ruang G. Napasku tersengal-sengal karena berlari menuruni 2 lantai sekaligus tanpa berhenti. Kumasukkan salah satu kunci itu ke dalam lubang di gagang pintu lalu menggenggam kenop pintu dan mendorongnya.

Aku disambut oleh sosok wanita berambut perak yang terduduk di lantai dan bersandar pada dinding. Kedua tangannya terangkat ke atas dengan borgol yang mengikatnya di teralis jendela. Aku melangkah ke arahnya dan memeriksa keadaannya.

Dia tidak sadarkan diri, tetapi untunglah sepertinya tidak ada luka apapun padanya. Kemudian mataku mengarah ke pergelangan tangannya. Kedua alisku berkerut setelah melihat ada bekas merah yang tampak pada kulit putihnya akibat benda metal itu.

Kubuka borgol itu dengan kunci yang berukuran lebih kecil lalu kuturunkan kedua tangannya ke atas perutnya kemudian menggendong Layla yang terkulai lemah dengan kedua tanganku.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bertahan Hidup di Dunia Komik
7.8
Delisha terbangun di zaman abad pertengahan sebagai putri bangsawan pasca kecelakaan tragis. Nahas, ia menjadi tokoh figuran yang baru menikah dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri. Sang suami rupanya merupakan sosok antagonis utama yang sangat licik dalam sebuah komik kerajaan. Demi menghindari ajal yang mengancam, Delisha harus berjuang bertahan hidup di dunia baru ini sembari menyusun rencana matang untuk menceraikan sang villain.
Sampul Novel Cute Little Wife
9.2
Satu malam intim mengubah hidup Timmy dan Li Xiao Ke selamanya setelah mereka mendadak memiliki kekuatan supranatural misterius. Di tengah kehidupan modern, kemampuan baru ini menguji kekuatan cinta mereka yang baru tumbuh. Akankah keajaiban tersebut mempererat hubungan mereka atau justru memicu kehancuran? Saksikan perjuangan asmara penuh rintangan tak terduga ini saat keduanya menghadapi konsekuensi dari kekuatan baru mereka.
Sampul Novel Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi
9.0
Nasib Alfan Mananta berubah drastis setelah direktur rumah sakit yang cantik memaksanya untuk ikut pulang ke kediamannya. Sebagai dokter magang, Alfan tidak memiliki pilihan selain menuruti kemauan sang atasan. Sejak langkah pertama di rumah tersebut, dimulailah babak baru kehidupan mereka yang dipenuhi kedekatan tanpa batas. Hubungan intens ini membawa dinamika baru yang tidak terduga dalam keseharian sang dokter magang dan sang direktur di bawah satu atap yang sama.
Sampul Novel Mengandung Anak Tuan Serigala
8.6
Dunia Fang Yi Lan, mahasiswi kedokteran jenius, runtuh saat memergoki pacarnya berselingkuh dengan adik tirinya. Alih-alih dilindungi, sang ayah malah memaksanya menikahi pria hidung belang. Yi Lan memilih kabur dan tidak sengaja menemukan pria tampan yang terluka parah. Saat tak sadarkan diri, pria itu berubah menjadi serigala hitam. Meski ketakutan, insting medis Yi Lan tetap menolongnya. Namun, serigala itu justru menandai lehernya dan menyerang Yi Lan demi memperoleh keturunan.
Sampul Novel Si Beta Mencampakkanku, Lalu Aku Merebut Rajanya.
9.5
Bram, seorang Beta, tega mencampakkanku di altar demi serigala liar bernama Marina. Pengkhianatan setelah enam tahun bersama ini mempermalukanku di depan Raja Alfa dan seluruh benua. Di tengah keputusasaan di sebuah bar, aku menawarkan diri kepada sang Raja Alfa yang juga paman Bram. Siapa sangka, takdir mengungkap bahwa sang Raja adalah pasangan sejatiku. Kini, peluang emas terbuka lebar bagiku untuk membalas rasa sakit hati atas pengkhianatan Bram.
Sampul Novel Suamiku Pergi Saat Aku Hamil
8.2
Evelyn Song, dokter militer hebat, terbangun di tubuh Layla Qin, pelayan tertindas yang dibuang. Ia dipaksa menikahi Ronan Zhao, pria lumpuh yang dibeli demi membawa keberuntungan. Anehnya, kondisi Ronan membaik usai malam pertama mereka. Di tengah kemiskinan, Layla bertekad mengubah nasib lewat keahlian medisnya. Namun, saat ia mengandung, Ronan lenyap tanpa jejak. Enggan menyerah pada keadaan, Layla memilih bangkit demi masa depan dan mengendalikan takdirnya sendiri.