APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Broken Vessel

Broken Vessel

Trystan, pemuda 21 tahun, terancam bahaya di dunia yang mendewakan kekuatan Arte. Kemampuan langka miliknya memicu perburuan kejam dari pihak-pihak yang ingin melenyapkan atau mengeksploitasinya. Kini, hidupnya dilingkupi pengkhianatan, kepedihan, dan dendam mendalam. Di bawah tekanan tanggung jawab besar, Trystan harus berjuang keras demi melindungi apa yang berharga dari kejaran para musuh yang tiada henti mengincarnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Wanita itu mencekik leherku dengan kuat. Semua oksigen berlari keluar dari mulutku. Sebagai gantinya, air menerobos masuk ke dalam paru-paruku. Aku meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangannya, tetapi tidak berhasil.

"Kamu salah memilih lawan, orang tak dikenal. Selama kamu berada di dalam air, kamu tidak akan bisa menang dariku!" Dia mencemooh aku. 'Bagaimana mungkin dia bisa mengeluarkan suara di dalam air?'

"Air adalah wilayah kekuasaanku!" Tambahnya sambil tertawa angkuh.

'Air adalah wilayah kekuasaanku,' katanya? Sebuah ide cemerlang terlintas di kepalaku. Aku tersenyum menyeringai membuat dia heran melihatku yang tiba-tiba tersenyum.

Aku menutup kedua mataku, kubayangkan ruangan ini berubah menjadi ruang hampa yang gelap gulita. Seketika ruangan yang dipenuhi oleh air ini berubah menjadi seperti yang kubayangkan. Tidak ada air setetes pun di sini, bahkan setitik cahaya pun tidak ada di tempat ini.

Wanita itu kaget mengetahui dia berada di tempat yang asing baginya. Dilepaskannya cengkeramannya dariku lalu melangkah menjauhiku. Begitu tangannya lepas dari leherku, aku langsung terbatuk-batuk mengeluarkan air yang tertelan olehku.

"Aku tidak bisa melihat apa pun ... apa yang baru saja kamu lakukan?!" pekik wanita itu dengan emosi marah dan takut. Ekspresi wajahnya yang panik tampak begitu jelas di mataku.

"Hahaha. Selamat datang di wilayah kekuasaanku, kegelapan," sambutku sambil menyeringai walau aku tahu dia tidak dapat melihat apa-apa karena gelap.

Wajahnya memucat, perasaan horror mulai merasukinya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan mulai berlari tanpa arah.

Aku berjalan santai mengikutinya, menertawai wanita yang berlari seperti mangsa yang kabur dari predatornya. "Kenapa kamu lari? Dimana air milikmu? Coba ubah tempat ini menjadi kolam renang seperti sebelumnya. Hahahaha!"

Dia pasti ketakutan karena tidak dapat membuat tempat ini dipenuhi air seperti di ruang referensi. Tingkat keabsolutan 'Arte' milikku jauh lebih tinggi daripada miliknya sehingga dia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kekuatanku.

Aku menghentikan langkahku karena bosan dengan permainan kejar-kejaran ini. "Ayo kita sudahi permainan ini." Tubuhnya bergidik ngeri mendengar ucapanku dan menghentikan langkahnya.

Kuangkat tanganku dan mengarahkannya ke orang yang sudah putus asa itu. Kukepal erat tanganku. Terdengar bunyi tulang-tulang yang patah dari wanita itu dan diikuti oleh suara jeritannya yang menggelegar.

Wanita berambut hitam itu ambruk tak sadarkan diri. "Ayo kita kembali ke dunia nyata." Aku berjalan ke tempatnya tersungkur. Kuangkat tubuhnya yang terkulai lemah dengan tangan kiriku, memikulnya seperti karung pasir.

Kini kami sudah kembali ke ruang referensi. Kolam air yang dibuatnya sudah surut, menyisakan genangan air setinggi mata kaki saja. Tidak ada tanda-tanda temannya kembali ke tempat ini untuk menolongnya ataupun mencuri dokumen yang tersimpan di tempat ini. Kuturunkan wanita itu ke lantai.

Suatu suara tertangkap oleh telingaku, derap langkah kaki terdengar mendekati tempat ini. Dua orang berjas hitam memasuki ruanganku berada, satu lelaki berambut hitam dan satunya lagi perempuan berambut pirang.

Mereka dikejutkan oleh keadaan ruangan yang seperti kapal karam ini. Seluruh ruangan ini berantakan dan dibasahi oleh air.

"Kenapa ruang referensi basah begini?" heran lelaki berambut hitam. Lalu dia melihat ke arahku dan wanita berambut hitam yang tergeletak pingsan di sampingku.

"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan kepadanya?" Lelaki itu menodongkan pistolnya kepadaku.

Aku mengangkat tanganku ke atas kepala. "Sebentar, saya bisa jelaskan-"

Dia tidak mendengarkan perkataanku dan tetap membidikkan senjata apinya kepadaku. "Hermione, borgol dia dan bawa ke ruang interogasi," perintahnya kepada rekannya.

Perempuan berambut pirang berjalan ke arahku dan mengeluarkan sebuah borgol dari dalam jasnya. 'Sial, kenapa situasinya jadi seperti ini?'

Akhirnya aku dibawa ke ruang interogasi sedangkan wanita berambut hitam itu dibawa ke klinik. Empat orang personel Custodia berdiri di tiap sudut ruangan mengawasiku. 'Kenapa malah aku yang diperlakukan seperti penyusup?'

Terdengar suara pintu dibuka. Tampak seorang wanita berambut perak dan berjas hitam memasuki ruangan ini. Manik biru pucatnya terarah padaku. Matanya melebar melihat wajah orang yang dikenalnya duduk di ruang interogasi.

"Lho, Trystan?" Dia menunjuk aku dengan jari telunjuknya.

"Layla?" Aku menyebut namanya, ikut kaget karena tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini.

Semua orang di dalam ruangan ini terdiam. Tidak ada yang menyangka kalau ketua dari Divisi Interogasi mengenal orang yang mereka tangkap.

"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya wanita yang tadi kupanggil Layla. Dia adalah teman masa kecilku, Layla Rego Sidero.

Aku menceritakan kembali kejadian itu dari pertama kali mendengar obrolan kedua penyusup itu sampai saat dua orang personel itu datang dan menangkapku.

Lelaki yang menyeretku ke sini mencoba membantah ceritaku, "Dia pasti berbohong. Gerak-geriknya sungguh mencuriga-"

"Dia tidak berbohong. Apa kamu lupa jika saya dapat membaca pikirannya? Tidak ada yang dapat disembunyikan atau direkayasa dari saya," potong Layla sambil menatap tajam ke arah lelaki itu. Personel itu bungkam, tidak dapat melawan sanggahan atasannya.

Akhirnya aku dibebaskan dari ruang interogasi. Layla mengajakku untuk diperiksa ke klinik, tetapi aku menolaknya karena selama ini tidak ada rasa sakit dari kepalaku. Aku memutuskan untuk kembali ke asrama untuk mengganti pakaianku yang basah kuyup dan mengeringkan rambutku.

Saat kami akan berpisah, tiba-tiba kepalaku sakit sekali. Aku meringis kesakitan sambil memegangi ubun-ubunku. Teman masa kecilku tidak jadi meninggalkanku dan menatapku dengan tatapan khawatir.

Kutarik tanganku dan melihat ada cairan kental berwarna merah menempel pada telapak tanganku. Layla yang melihat darah itu langsung menarik tanganku dan membawaku ke klinik.

Sampailah kami di ruangan yang dipenuhi oleh bau obat-obatan. Aku duduk di atas ranjang pasien sedangkan Layla berdiri di sampingku. Seorang wanita bermantel putih datang untuk memeriksa keadaanku.

"Bagaimana kamu dapat menahan rasa sakit ini tanpa mendapatkan pertolongan pertama?" tanyanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. 'Memangnya separah apa lukaku sampai-sampai dia berkata begitu?'

"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Layla yang khawatir padaku. Tenaga medis itu menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaannya.

"Fraktur tulang parietal dan cidera gegar otak ringan. Selain itu setengah paru-parunya terisi oleh air," jawabnya dengan mendetail. Aku menganga kaget mengetahui cideraku separah itu.

"Bahkan dengan 'Arte' penyembuhanku, cideramu tidak akan langsung pulih total," tambahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Tampaknya aku akan harus bolak-balik ke klinik.

Dokter menggunakan 'Arte'-nya untuk mengobatiku. Cahaya hijau muda memancar dari telapak tangannya. "Sudah selesai. Tolong jangan beraktivitas berat untuk sementara, ya. Banyak-banyak istirahat dan konsumsi makanan yang tinggi zat besi," saran Dokter itu, kuanggukan kepalaku mengiyakannya.

Dia memberikanku beberapa obat yang harus rutin kuminum untuk beberapa hari ke depan. Aku berterima kasih kepadanya lalu meninggalkan ruangan ini bersama Layla.

"Aku kembali ke kamarku dulu, ya, mau ganti baju, tidak nyaman daritadi pakai pakaian basah." Aku berpamitan dengan Layla, dia membalasku dengan lambian tangannya.

Kami berpisah tanpa mengetahui jika ada seseorang yang sedari tadi membuntuti kami, menunggu kesempatan yang tepat untuk mencelakai salah satu dari kami.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cintya Persusuan  Di Balik Tahta
8.3
Sebagai selir paling dimanja karena keunikan tubuhnya, Rona menarik perhatian penuh dari Kaisar dan Pangeran Surowi. Namun, malam-malam di kamarnya berubah menjadi ketegangan saat kedua pria berkuasa itu mengajukan rencana gila untuk membaginya bersama. Meski dijanjikan kenaikan status sosial oleh Pangeran Surowi, Rona yang ketakutan mencoba menolak tawaran tersebut dengan menegaskan asal-usulnya yang hanya seorang budak biasa di hadapan senyuman misterius sang Kaisar.
Sampul Novel Dokter Ajaib Primadona Desa
9.4
Kehidupan Tirta Hadiraja berubah drastis setelah ia tidak sengaja memakan seekor ular putih. Masalah impotensi yang dideritanya lenyap, digantikan dengan keperkasaan luar biasa, kemampuan mata tembus pandang, serta daya ingat super. Sebagai pemilik klinik, Tirta memanfaatkan keahlian baru ini untuk mengembangkan kemampuannya ke tingkat yang luar biasa. Di saat kejayaannya mulai menanjak, ia justru dihadapkan pada perebutan hati dari seorang janda, primadona desa, hingga putri konglomerat yang bersaing ketat untuk menjadi istrinya.
Sampul Novel I'm The Queen
8.2
Kehidupan Ratu Elea di Istana Landbird hancur setelah Raja Flynn berpaling kepada Beatrice, selir licik yang tengah hamil. Difitnah kejam dan diceraikan, Elea berada di ambang kehancuran. Di masa sulit ini, Raja Alaric dari Kerajaan Veridion datang mengulurkan bantuan. Kini, Elea harus menghadapi konspirasi politik dan pengkhianatan besar, memaksanya memilih antara merebut kembali takhtanya atau melangkah ke jalan baru yang berbahaya.
Sampul Novel Kaisar Muda, Jangan Menggodaku!
8.5
Nasib tragis menimpa calon ratu iblis, Yun Xiaowen, setelah bertemu Liuu Qiang Wen. Demi ambisi menguasai tujuh dunia, kaisar manusia kejam berjuluk The Cyanide King itu tega membantai orang tua Xiaowen. Pernikahan mereka pun terjadi tanpa cinta, di mana Xiaowen hanya dijadikan pion politik yang dimanfaatkan kelemahannya. Di tengah penderitaan tanpa akhir, Xiaowen meratapi hidupnya yang hancur sekaligus bimbang, apakah masih ada sedikit ketulusan di hati sang kaisar.
Sampul Novel Pedang Naga Siluman
9.5
Dibesarkan secara sederhana oleh Mbah Wiguna, Satya Wiguna tumbuh menjadi pemuda tangguh nan bersahaja. Bersama para sahabatnya, ia melakukan perjalanan lintas waktu ke masa lalu untuk menumpas kebatilan. Ketika kekuatannya berada di titik tertinggi, entitas alam gaib mengangkatnya sebagai panglima perang. Membawa kekuatan dahsyat Pedang Naga Siluman, Satya memikul tugas krusial demi menjaga dimensi moksa dan bumi dari ancaman invasi besar Raja Iblis yang haus kekuasaan.
Sampul Novel Sangkawang
8.6
Terbangun di kerajaan asing, Reyna Mahesa syok mendapati dirinya menjadi permaisuri yang sangat mirip dengannya. Di balik kemegahan istana, ia justru terjebak dalam pusaran kebencian dan intrik yang mengancam nyawa. Kenyataan pahit terungkap bahwa suaminya, sang raja, adalah sosok yang pernah menghukum mati permaisuri terdahulu. Kini, Reyna harus memilih: mencari celah untuk pulang ke era modern atau bertahan demi membongkar konspirasi pengkhianatan di tempat itu.