APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bisikan Abu

Bisikan Abu

Menyamar sebagai gadis bisu di kuil Ezen, Asha menyembunyikan kemampuan terlarang membaca memori dari sisa abu. Di kekaisaran pemuja api ini, ia mengungkap sejarah perang masa lalu bersama Kael, seorang pejuang misterius. Saat konspirasi besar dan pemberontakan mulai pecah, benih cinta tumbuh di antara mereka. Melalui ritual kuno serta pelarian yang mengancam nyawa, kekuatan unik Asha kini menjadi penentu mutlak apakah dunia mereka akan bangkit atau lenyap selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Fajar di Dataran Tinggi Nareth tidak membawa harapan. Ia membawa asap.

Gunung-gunung terbakar tanpa suara di kejauhan, kobaran api abadi yang tak seorang pun coba padamkan. Itu adalah penghormatan kepada Api Besar, kata mereka. Tak seorang pun tahu kapan itu dimulai. Tak seorang pun ingat masa tanpa asap.

Asha berlutut di samping ranjang ibunya, yang desahannya serapuh abu yang dibawa angin melalui gubuk. Wajah wanita itu, yang layu karena demam dan usia, masih cantik bagi Asha, bukan karena apa yang ditunjukkannya, tetapi karena apa yang diingatnya: tawa yang kuat, tangan yang tahu cara menyembuhkan, suara yang bercerita di dekat api.

"Kau tidak harus melakukannya," bisik ibunya. Bibirnya nyaris tak bergerak.

"Ya, Ibu. Aku harus melakukannya." Asha memegang tangannya, menggigil dan lembap. Ia telah mengompresnya sepanjang malam, tetapi panasnya tidak kunjung reda. Bukan karena ramuan herbal. Bukan karena doa. Tidak ada yang cukup. "Itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan kami. Untuk menyelamatkanmu." Ibunya ingin menangis, tetapi dia tidak meneteskan air mata. Hanya abu di tenggorokannya, seperti semua orang di Nareth.

Di luar, terompet ritual mulai dibunyikan.

Asha menggigil.

"Mereka datang," gumam ibunya. Dia memejamkan mata. Matahari hampir tidak muncul di atas puncak-puncak gunung, tetapi asap mewarnainya dengan warna merah darah.

Dia berdiri dengan tangan yang teguh. Dia bukan anak-anak. Tetapi dia juga belum sempat menjadi wanita. Kemiskinan di Dataran Tinggi melahap tahun-tahun seperti bara api melahap kayu-kayu tua.

Dia mengambil jubah cokelat milik para penyembah. Itu tidak cantik. Itu tidak dimaksudkan untuk menjadi seperti itu. Jubah dimaksudkan untuk menutupi tubuh, menghapus bentuk, dan menghapus identitas. Api Besar tidak mengambil individu. Itu mengambil abu manusia.

Ibunya membuka matanya dengan susah payah. Dia mengangkat tangan kurusnya, dan di dalamnya dia memegang kepang rambut. Tua. Cokelat. Ditenun dengan kawat tembaga.

"Pita gadismu," katanya. Suaranya lebih seperti asap daripada suara.

Asha mengambilnya. Dia mengikatkannya di lehernya. Merasakan luka bakar yang tak terlihat. Beban yang tak terukur.

"Jangan lupa siapa dirimu. Bahkan jika mereka mengambil namamu."

Asha tidak menjawab. Dia mencium dahi yang panas itu dan pergi. Tidak ada waktu untuk menangis.

Di alun-alun, penduduk desa sudah berkumpul. Seratus orang muda, semuanya berusia tepat, semuanya diam. Anak-anak kelaparan, asap, ketakutan.

Setiap tahun, Kekaisaran mengirim salah satu Penjaganya untuk memilih upeti. Seorang pemuda. Atau seorang wanita muda. Tidak seorang pun tahu mengapa mereka diambil. Beberapa mengatakan mereka diubah menjadi pelayan api. Yang lain, bahwa mereka dibakar hidup-hidup sebagai persembahan untuk menyalakan api suci yang membuat dunia terus berputar. Asha tidak mempercayai semua cerita itu. Dia hanya percaya pada satu kebenaran: siapa pun yang pergi, tidak akan pernah kembali.

Dan jika dia mempersembahkan, keluarganya menerima roti. Rempah-rempah. Arang. Obat-obatan. Selama setahun penuh.

Itu bukan pengorbanan. Itu adalah sebuah tawaran.

Terompet berhenti berbunyi. Sebuah kolom api melintasi langit seperti luka yang menyala-nyala. Dan dari langit turunlah sosok Sang Penjaga.

Dia tinggi, mengesankan, mengenakan jubah hitam berhias tembaga. Wajahnya ditutupi oleh topeng obsidian. Tidak ada mulut. Tidak ada mata. Tidak ada jiwa.

Dia berjalan tanpa berbicara. Para tetua desa membungkuk hingga mereka menyentuh tanah. Sang Penjaga berhenti di hadapan pemuda itu. Udara menjadi pekat. Suhu meningkat seolah-olah matahari tiba-tiba terbenam.

Satu per satu, dia menatap mereka. Atau begitulah kelihatannya. Meskipun tidak seorang pun tahu apa yang ada di balik topeng itu. Beberapa orang mengatakan bahwa para Penjaga itu bukan lagi manusia. Bahwa mereka telah dikonsumsi oleh kenangan akan api.

Ketika dia mencapai tengah barisan, Asha melangkah maju.

"Aku menawarkan diriku," katanya. Suaranya membelah udara seperti pisau. Suaranya tidak bergetar. Dia tidak ragu-ragu.

Sang Penjaga berhenti. Perlahan, dia mengangkat tangan dan menunjuk ke arahnya. Orang-orang itu mengembuskan napas bersamaan. Bergumam. Hening. Desahan.

Asha terkesima.

Dia tidak tahu apakah dia merasa lega atau sedih. Dia hanya berjalan, mengikutinya. Batu-batu itu terasa panas di bawah kakinya yang telanjang. Dia tidak menoleh ke belakang. Jika dia menoleh, batu itu akan hancur.

Sang Penjaga mengulurkan bola api di hadapannya. Bola itu melayang. Bola itu bergetar. Dan tanpa sepatah kata pun, dia mendorongnya ke dalam.

Asha melewati ambang pintu yang berapi-api itu. Tidak ada rasa sakit. Hanya kilatan, dengungan dalam, dan kekosongan di perutnya.

Ketika dia membuka matanya lagi, dia tidak lagi berada di Nareth.

Dia berada di perut Kekaisaran.

Udara terasa berat, dipenuhi resin dan asap manis. Mereka berada di ruang bawah tanah, diterangi oleh urat magma yang mengalir di dinding seperti sungai yang hidup. Sel-sel obsidian melayang di udara, bergetar dengan bahasa yang tidak dia mengerti.

Sang Penjaga berjalan melintasi jembatan batu, dan dia mengikutinya. Tubuhnya mulai berkeringat, jantungnya berdebar kencang. Namun, dia tidak bisa bicara. Dia seharusnya tidak bertanya.

Di ujung jembatan, tiga sosok menunggunya. Dua wanita dengan wajah tertutup cadar merah tua, dan seorang pria tua dengan kulit terbakar, matanya seperti bara api yang padam.

"Ini dia yang menawarkan," kata salah satu wanita, seolah membaca sebuah syair kuno.

Sang Penjaga mengangguk dan pergi tanpa sepatah kata pun.

Asha berdiri sendirian di hadapan mereka.

"Nama," perintah pria tua itu.

Dia membuka mulutnya, tetapi teringat kata-kata ibunya. Dan dia menutup bibirnya.

"Diamlah," kata lelaki tua itu. "Kau akan digolongkan sebagai "F-921."

F. Untuk api. Atau untuk persembahan. Atau untuk dilupakan.

Asha tidak protes. Ia tidak gemetar. Ia kuat. Ia pasti kuat.

Para wanita menanggalkan tuniknya. Mereka membasuh tubuhnya dengan abu harum dan menandai punggungnya dengan simbol bercahaya yang tidak dapat dilihatnya. Sakit. Namun, ia tidak menangis.

Ia menerima pakaian baru: linen gelap, dan kerah besi. Tanpa perhiasan. Tanpa jiwa.

Malam itu, ia tidur di sel batu. Bersama tiga wanita muda lainnya. Tak seorang pun berbicara. Semua gemetar.

Tidak Asha.

Ia memikirkan ibunya. Tentang roti yang akan tiba di gubuk. Tentang ramuan yang akan meredakan demamnya.

Ia pikir penderitaan ini ada artinya.

Di luar, api abadi menyala di atas Kuil Kenangan.

Dan Asha, putri asap, mulai memahami apa artinya menjadi kenangan yang hidup.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menjadi Luna Orang Lain
9.5
Tujuh tahun pengabdian Sylvie hancur seketika saat Ethan Hudson mengkhianatinya demi serigala yang lebih muda. Tanpa ragu, Sylvie membuang simbol hubungan mereka dan pergi. Ethan dan teman-temannya yakin Sylvie akan memohon kembali dalam tiga hari. Namun dugaan itu salah. Saat Ethan yang panik mencoba menghubunginya, telepon itu justru dijawab oleh Victor Wilson, rivalnya. Kini, Sylvie telah memulai lembaran baru di pelukan Victor, meninggalkan Ethan yang hanya bisa meraung menyesali segalanya.
Sampul Novel Aku, Musuhku dan Para Pemburu
9.0
Kehidupan tenang Jamie hancur total sejak ia berumur lima belas tahun. Kini, gadis penakut itu mampu melihat makhluk-makhluk gaib yang mengerikan. Di tengah ketakutannya, ia malah diganggu oleh Josh, seorang penyihir yang selalu menaruh curiga dan terus membuntutinya. Namun, ancaman yang jauh lebih mengerikan datang saat sesosok misterius mulai memburu Josh dan mengintai setiap gerak-gerik Jamie. Takdir misterius apakah yang sebenarnya menghubungkan mereka berdua?
Sampul Novel Dia Memilih Kakak Angkatnya
9.4
Alpha Carl mendadak menghentikan operasi saat pisau bedahnya telah merobek kulitku. Demi menyelamatkan Bianca, adik angkatnya yang berniat bunuh diri, ia tega meninggalkanku di meja operasi dalam kondisi perut terbuka. Carl menyerahkan hidupku kepada Alpha Arthur sebelum pergi. Di tengah keputusasaan dan rasa sakit yang hebat, Arthur mengambil alih tindakan medis tersebut dengan dingin, sambil menegaskan bahwa ia tidak akan membiarkanku mati.
Sampul Novel IPRIT
7.9
Di Kampung Keris yang kental akan dunia persilatan dan mistis, Wisaka bertekad mengungkap misteri kematian tragis para pengantin baru. Para suami tewas setelah malam pertama, sedangkan para istri diperkosa hingga bungkam. Demi mencari kebenaran, Wisaka pun mempelajari ilmu kanuragan. Namun, ia harus menghadapi hadangan bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar sebagai manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?
Sampul Novel Pengabdian dan Cinta
9.7
Dua polisi tangguh, Ardi dan Bara, berjuang keras merubuhkan sindikat mafia yang kebal hukum. Namun, misi mereka gagal total setelah Bara tertembak dalam aksi pengintaian. Di tengah situasi kacau itu, Ardi menemukan kenyataan pahit bahwa gembong kriminal yang mereka incar, Arkana, adalah ayah kandungnya. Kini, ia terjebak di antara ikatan darah dan kewajibannya sebagai aparat. Demi hukum dan pengabdian, Ardi akhirnya terpaksa melepaskan tembakan fatal.
Sampul Novel Phoenix Reincarnation
8.8
Lia, mahasiswi hukum berusia 23 tahun, bereinkarnasi sebagai putri Jenderal Besar setelah tewas tenggelam. Di kehidupan barunya, ia harus menghadapi reputasi yang buruk. Namun, berbekal kecerdasan luar biasa, Lia bertekad mengubah pandangan orang lain terhadap dirinya. Konflik pun tak terhindarkan saat ia terjebak dalam perseteruan sengit antara keluarganya dan kaum bangsawan. Dengan taktik cerdas dan keberanian, ia siap menumpas siapa saja yang mengusik kehormatan orang-orang tercintanya.