APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bisikan Abu

Bisikan Abu

Menyamar sebagai gadis bisu di kuil Ezen, Asha menyembunyikan kemampuan terlarang membaca memori dari sisa abu. Di kekaisaran pemuja api ini, ia mengungkap sejarah perang masa lalu bersama Kael, seorang pejuang misterius. Saat konspirasi besar dan pemberontakan mulai pecah, benih cinta tumbuh di antara mereka. Melalui ritual kuno serta pelarian yang mengancam nyawa, kekuatan unik Asha kini menjadi penentu mutlak apakah dunia mereka akan bangkit atau lenyap selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Perjalanan dimulai saat fajar, saat sinar matahari pertama menyinari siluet para penjaga berkulit hitam di atas bukit. Asha, tangannya terikat rantai tembaga tipis, berjalan tanpa alas kaki di belakang kereta tribun kekaisaran. Setiap langkah di tanah yang gersang seakan menuntut keputusannya. Di belakangnya, abu perapian masih berterbangan tertiup angin seperti debu suci tanpa altar.

Keheningan menguasai para peserta lainnya. Ada lima orang: dua pria, seorang wanita tua, seorang anak, dan Asha. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang menangis. Di Kekaisaran Ezen, bahkan keputusasaan pun harus dibungkam.

Bentang alam berubah saat mereka maju: dari bukit-bukit rendah dan reruntuhan tanah liat menjadi tanah tandus, dan lebih jauh di depan, suara bangunan obsidian besar menjulang di cakrawala seperti belati yang tertancap di kulit dunia.

"Apakah itu Benteng?" tanya anak laki-laki itu lembut.

Seorang penjaga menjawabnya dengan punggung tombaknya, menghantam pagar kereta.

"Budak tidak bertanya. Mereka hanya menurut." Asha tidak menatapnya, tetapi dia mendengar erangan pelannya. Dia bukan saudaranya, tetapi sesuatu di dalam dirinya hancur seolah-olah dia adalah saudaranya.

Beberapa jam kemudian, mereka melewati gerbang Kekaisaran.

Mereka terbuat dari tulang hangus, dijalin dengan untaian besi hitam. Itu bukan struktur ornamen: mereka nyata. Penjaga Kuno, musuh yang dikalahkan, pengkhianat, dan nabi yang terlupakan. Mereka semua ada di sana. Nama mereka diukir dalam bahasa mati yang terbakar hanya dengan sekali sentuh.

Mereka dibawa ke halaman marshal, tempat para Mark menunggu. Perbudakan dimulai bukan dengan belenggu, tetapi dengan api yang menyegel identitas.

Sesosok mendekat. Dia mengenakan jubah abu-abu, tanpa wajah, dan membawa batang besi dengan simbol Mata Abu.

"Nama," katanya.

"Asha dari Kareth," jawab Penjaga tanpa ragu.

"Dia tidak lagi 'dari' tempat mana pun. Di sini, itu akan menjadi apa yang diputuskan oleh api." Pria itu menusukkan tongkat itu ke tungku api yang menyala hingga tanda itu bersinar jingga. Asha menelan ludah. ​​Tidak ada yang mempersiapkannya untuk momen ini, meskipun seluruh hidupnya menariknya ke arah itu.

"Lutut."

Dia berlutut. Dia mengulurkan lengan kirinya tanpa diminta.

Logam yang terbakar menyentuh tulang selangkanya, dengan desisan yang bukan hanya desisan daging yang terbakar, tetapi sesuatu yang lebih dalam: seolah-olah abu bereaksi terhadap sentuhan itu.

Dia menjerit, tetapi bukan karena rasa sakit. Melainkan karena pemandangan itu.

Untuk sesaat, pikirannya tidak ada di sana. Dia melihat ladang yang terbakar. Orang-orang berlarian. Sosok bersayap dengan mata seperti bara api terulur... ke arahnya.

Ketika tanda itu menjauh, dia gemetar.

"Apakah kau melihatnya?" tanya pria berjubah itu, matanya bersinar di balik tudungnya.

"Apa?" kata yang lain.

"Api itu tidak berbohong. Kau telah menyentuh sebuah kenangan."

Tetapi Asha tidak menjawab. Matanya terpaku pada simbol membara yang kini menandai kulitnya: tiga garis yang saling terkait, seperti akar yang terbakar. Ia bukan lagi seorang putri. Ia tidak lagi bebas.

Sekarang ia menjadi budak ingatan.

Beberapa hari kemudian, Asha ditugaskan ke Kuil Batu Sunyi, salah satu situs tertua di Kekaisaran. Perannya: menjaga lorong abu, membersihkan altar, dan menghafal nama-nama orang mati yang tertulis di marmer.

Perbudakan di Kekaisaran tidak selalu brutal bagi tubuh. Terkadang, brutal bagi jiwa. Setiap hari, ia diminta melafalkan seribu nama dengan suara rendah sementara bara api yang padam mendengarkannya.

"Menghafal berarti mengingat, dan mengingat berarti mengabdi," kata Matriark Kuil, seorang wanita yang tampak terbuat dari debu dan asap.

Asha menurut. Namun, ia tidak lupa.

Pada malam hari, ia memimpikan sosok bersayap. Terkadang ia melihatnya menangis di atas abu. Di waktu lain, sosok itu tampak memanggil namanya. Kael. Kadang-kadang dia mendengar nama itu berbisik melalui api.

Suatu malam, ketika dia sendirian membersihkan koridor selatan, batu di bawah kakinya menyala. Bukan dengan cahaya, tetapi dengan ingatan.

Sebuah gambar muncul dari abu: pertempuran. Prajurit api. Seorang Penjaga menyeret tombak yang terbuat dari kata-kata kuno. Dan tiba-tiba, sebuah wajah. Seorang pria. Atau seorang pemuda. Atau api.

"Kael," bisiknya, tidak tahu mengapa.

Gambar itu menghilang. Tetapi dia tetap lumpuh. Bukan karena takut, tetapi karena suatu kepastian.

Abu telah memilihnya.

Seminggu kemudian, Matriarch mengirimnya ke lubang resonansi: ruang melingkar tempat fragmen ingatan kuno disimpan, ditangkap dalam batu hitam yang tergantung di atas bara api yang menyala. Pekerjaannya sederhana: membersihkan obsidian dengan minyak resin, tanpa melihat terlalu dekat.

Tetapi Asha melihat.

Dan ketika dia melakukannya, dia melihat ladang yang berbeda. Dia melihat seorang budak yang mirip dengan dirinya, berabad-abad sebelumnya, bangkit melawan tuannya. Dia melihat api menari-nari di langit. Dia melihat nama pemberontakan yang tertulis dalam asap. Dia merasakan abu merayapi kulitnya. "Kau tidak seperti yang lain," kata sebuah suara dari ambang pintu. Itu dia.

Tinggi, mengenakan baju zirah seremonial seorang Penjaga Kecil, meskipun tanpa simbol. Wajahnya muda, tetapi matanya tua. Bekas luka melintasi pipi kanannya, seolah-olah api telah menyentuhnya tetapi tidak membakarnya.

"Siapa kau?" tanya Asha. Tanpa bicara, hanya dengan tanda-tanda.

"Aku hanya kenangan... masih hidup," katanya.

Dan dia menghilang.

Malam itu, dia tidak tidur.

Dia merasakan tanda di tulang selangkanya bergetar, seolah-olah ada sesuatu di dalam dirinya yang terbangun. Dia tahu saat itu bahwa perbudakannya tidak total. Bahwa di suatu tempat di dalam dirinya, kebebasan masih menyala.

Dia ingat ibunya. Suaranya. Matanya. Bisikan sebelum dia pergi: "Jangan pernah terbakar sepenuhnya."

Sekarang dia mengerti.

Di Kekaisaran Ezen, api tidak hanya membakar tubuh. Mereka membakar sejarah. Memori. Jiwa. Tetapi sesuatu telah berubah.

Abu mulai berbicara padanya.

Dan Asha, putri abu, tidak mau tinggal diam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menjadi Luna Orang Lain
9.5
Tujuh tahun pengabdian Sylvie hancur seketika saat Ethan Hudson mengkhianatinya demi serigala yang lebih muda. Tanpa ragu, Sylvie membuang simbol hubungan mereka dan pergi. Ethan dan teman-temannya yakin Sylvie akan memohon kembali dalam tiga hari. Namun dugaan itu salah. Saat Ethan yang panik mencoba menghubunginya, telepon itu justru dijawab oleh Victor Wilson, rivalnya. Kini, Sylvie telah memulai lembaran baru di pelukan Victor, meninggalkan Ethan yang hanya bisa meraung menyesali segalanya.
Sampul Novel Aku, Musuhku dan Para Pemburu
9.0
Kehidupan tenang Jamie hancur total sejak ia berumur lima belas tahun. Kini, gadis penakut itu mampu melihat makhluk-makhluk gaib yang mengerikan. Di tengah ketakutannya, ia malah diganggu oleh Josh, seorang penyihir yang selalu menaruh curiga dan terus membuntutinya. Namun, ancaman yang jauh lebih mengerikan datang saat sesosok misterius mulai memburu Josh dan mengintai setiap gerak-gerik Jamie. Takdir misterius apakah yang sebenarnya menghubungkan mereka berdua?
Sampul Novel Dia Memilih Kakak Angkatnya
9.4
Alpha Carl mendadak menghentikan operasi saat pisau bedahnya telah merobek kulitku. Demi menyelamatkan Bianca, adik angkatnya yang berniat bunuh diri, ia tega meninggalkanku di meja operasi dalam kondisi perut terbuka. Carl menyerahkan hidupku kepada Alpha Arthur sebelum pergi. Di tengah keputusasaan dan rasa sakit yang hebat, Arthur mengambil alih tindakan medis tersebut dengan dingin, sambil menegaskan bahwa ia tidak akan membiarkanku mati.
Sampul Novel IPRIT
7.9
Di Kampung Keris yang kental akan dunia persilatan dan mistis, Wisaka bertekad mengungkap misteri kematian tragis para pengantin baru. Para suami tewas setelah malam pertama, sedangkan para istri diperkosa hingga bungkam. Demi mencari kebenaran, Wisaka pun mempelajari ilmu kanuragan. Namun, ia harus menghadapi hadangan bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar sebagai manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?
Sampul Novel Pengabdian dan Cinta
9.7
Dua polisi tangguh, Ardi dan Bara, berjuang keras merubuhkan sindikat mafia yang kebal hukum. Namun, misi mereka gagal total setelah Bara tertembak dalam aksi pengintaian. Di tengah situasi kacau itu, Ardi menemukan kenyataan pahit bahwa gembong kriminal yang mereka incar, Arkana, adalah ayah kandungnya. Kini, ia terjebak di antara ikatan darah dan kewajibannya sebagai aparat. Demi hukum dan pengabdian, Ardi akhirnya terpaksa melepaskan tembakan fatal.
Sampul Novel Phoenix Reincarnation
8.8
Lia, mahasiswi hukum berusia 23 tahun, bereinkarnasi sebagai putri Jenderal Besar setelah tewas tenggelam. Di kehidupan barunya, ia harus menghadapi reputasi yang buruk. Namun, berbekal kecerdasan luar biasa, Lia bertekad mengubah pandangan orang lain terhadap dirinya. Konflik pun tak terhindarkan saat ia terjebak dalam perseteruan sengit antara keluarganya dan kaum bangsawan. Dengan taktik cerdas dan keberanian, ia siap menumpas siapa saja yang mengusik kehormatan orang-orang tercintanya.