APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel BACK TOGETHER

BACK TOGETHER

Pernikahan paksa Gio dan Belinda diawali kepedihan. Demi berpisah, Gio tega menyiksa batin Belinda, yang tetap bertahan demi bayi di kandungannya. Namun, persalinan sang anak justru menyingkap tabir rahasia Belinda. Kini, saat musuh dari luar mulai mengancam dan berniat menghancurkan mereka, pasangan ini dipaksa bersatu dan saling menguatkan demi mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka yang rapuh.
Bab
Bagikan

Bab 1

Gio sedang merapikan dokumen di atas meja kerja yang hendak dibawa pulang, saat pintu ruang kerjanya terbuka dan muncullah Tasia, sang sekretaris.

“Jangan lupa, kamu harus segera bilang pada Linda untuk menceraikan dia jika anaknya perempuan. Aku yang akan memberikan anak laki-laki padamu. Ikhlaskan saja uang yang diberikan kakekmu padanya. Lagi pula, kamu punya lebih dari cukup. Sudah hampir lima tahun aku menunggumu, Gio,” ujar Tasia yang kemudian duduk di sofa.

Gio mendengkus seraya berkacak pinggang. Sebetulnya suasana hatinya saat ini sedang tidak baik. Ia sudah capek bersandiwara di depan wanita ini. Gio tidak ingin menipu perasaannya. Siapa pun akan dengan mudah jatuh cinta dengan Tasia. Semua juga didukung dengan kemolekan tubuh dan cara kerjanya yang kompeten. Hanya saja, wanita ini terlalu misterius dan Gio ingin membuka kedoknya. Namun, sudah empat tahun berlalu semuanya belum berhasil. Aneh, setiap ia ingin mendapatkan proyek di pulau seberang selalu tidak berhasil. Sekalinya berhasil, itu hanyalah sebagian kecil dan pencapaian terbesarnya tidak ada sangkut paut dengan keinginannya mendapatkan tanah idaman sang kakek yang berasal dari tanah lelang.

Gio tak ingin menduga-duga, tetapi wanita yang telah ia pacari cukup lama ini juga merupakan wanita yang penuh rahasia. Terlebih, adanya surat ancaman yang selalu ditujukan kepadanya untuk tidak melepaskan Tasia. Gio bukanlah orang bodoh, surat-surat berupa kertas fisik dan surel telah diperiksa kepolisian, tetapi selalu menemui jalan buntu. Gio belum bisa melepaskannya juga karena bahaya yang mengintai sang istri. Ia hanya perlu bertahan sebentar lagi, seperti yang dijanjikan orang-orang yang telah disewanya. Padahal jika mau, dirinya bisa turun tangan sendiri. Akan tetapi, jelas ia tidak bisa gegabah saat ini, Belinda sedang hamil dan ia tak ingin mengambil resiko tersebut.

“Aku sudah mendengarnya ribuan kali, dan masih sangat mengingatnya. Sabarlah sebentar lagi. Kontrak kami sampai tahun kelima dan itu tinggal menghitung bulan.”

“Kamu akan pulang?”

“Tentu.”

“Kalau begitu aku ikut denganmu.”

Ucapan Tasia membuat Gio menghentikan kegiatannya dan menatap tidak percaya pada wanita itu. “Aku harus di rumah sekarang. Kita bisa bertemu besok saat pergi ke luar kota.”

Gio rindu memeluk istrinya tersebut. Istri yang selama ini orang-orang tahu tidak pernah dipedulikan. Awalnya memang semuanya tanpa cinta, tetapi kesetiaan Belinda dan kepatuhan terhadap semua yang Gio lakukan membuat pria itu luluh dan sangat mencintainya. Hanya saja, ancaman demi ancaman ini harus ia bereskan dulu sebelum benar-benar bisa menunjukkan perasaannya kepada sang istri.

Tasia menggeleng manja. “Tidak. Aku tidak mau kamu hanya berdua dengannya. Lihat, sejak kamu mengembalikan para pembantu ke rumah orang tuamu dan kalian tinggal berdua, sekarang dia hamil anakmu.”

“Jangan konyol dan apa kamu pikir aku meniduri dia saat kami hanya berdua? Kami ini suami istri Tasia. Kalau-kalau kamu lupa.”

Tasia menggebrak meja di depannya dengan tatapan tajam. Dia membalas sorot mata Gio dengan alis memicing. Darahnya mendidih mendengar perkataan Gio yang frontal dan tidak memperdulikan perasaannya itu. Tasia tahu, ia menjalin hubungan dengan pria beristri. Akan tetapi, ia lebih dulu menjalin kasih dengan Gio sebelum wanita miskin itu masuk dan merebut perhatian keluarga besar Zaron serta Handari. Wanita licik, menjerat Gio dengan mendekati keluarganya terlebih dulu, hal itu juga membuat rencana yang telah disusun Tasia hancur berantakan. Apa ia ingin memulai dari nol kembali? Jelas tidak, Tasia sudah hampir kehabisan waktu, ia tak ingin hidup dalam kemelaratan.

“Aku kekasihmu, kalau kau lupa. Jangan main-main denganku, Gio! Dan, bisa-bisanya kamu mengataiku konyol lantas bercerita tentang kegiatan bercinta kalian! Kamu tidak peduli dengan perasaanku?!”

“Tentu saja tidak, Sayang. Jangan emosi, ingat dengan kesehatanmu,” rayu Gio.

Namun, jelas ia tidak akan meminta maaf dengan apa yang di katakan barusan. Peduli setan jika Tasia merasakan sesuatu yang tidak beres. Namun, rasanya tidak mungkin. Tasia terlalu mencintainya dan pasti akan memaafkan lidahnya yang tajam seperti halnya Belinda-nya. Sungguh, ia ingin mengenyahkan kekhawatiran sesekali.

“Aku bisa saja mati saat ini. Jantungku lemah dan itu semua karena kamu. Kamu harus ingat dengan pesan Hasan untuk selalu menjagaku, bukan?”

“Tentu saja aku ingat. Dia teman baik dan karenaku dia pergi.”

Gio bingung, sampai detik ini ia tidak bisa menemukan keberadaan Hasan yang dulu mengalami kecelakaan bersamanya. Jasadnya juga tidak ditemukan, hanya pesannya sebelum kecelakaan itu terjadi adalah jangan pernah meninggalkan Tasia apa pun yang terjadi.

“Aku akan ikut ke rumahmu. Menginap di sana,” ucap Tasia dengan mengusap punggung Gio dan mengecup pipi kanannya.

“Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang,” ajak Gio yang pasrah dengan keinginan kekasihnya.

Belinda sedang menikmati coklat hangat dan sebuah donat ukuran jumbo dengan taburan kacang almond cincang di atasnya, saat di depannya berdiri menjulang pria tampan yang sudah menghilang lebih dari empat tahun lamanya. Pria itu tersenyum ramah dan kemudian duduk di depannya tanpa permisi.

“Kamu semakin cantik saja.”

“Hasan, lama tidak bertemu. Ke mana saja?” tanya Belinda dengan tatapan terkejut yang tak bisa ditutupi.

Hasan terkekeh sambil merapikan jaket kulitnya. “Aku baik. Kamu sepertinya keheranan bertemu kembali denganku?”

“Kamu menghilang begitu saja sejak kecelakaan itu, jadi aku sangat terkejut,” ucap Belinda jujur. Ia sendiri bingung dengan apa yang harus dikatakan kepada pria ini. “Dan, melewatkan pernikahanku dan Gio.”

Wajah Hasan berubah serius. Kini, dengan tatapan intens ia berkata, “Seharusnya kamu tidak menikah dengan Gio, Linda. Itu merupakan kesalahan besar. Lagi pula, itu bukanlah kecelakaan pertamaku dan bukan sekali ini aku menghilang dari hadapanmu.”

“Kenapa begitu?” tanya Belinda dengan suara tercekat. Detak jantungnya bergemuruh. Ia sampai takut, jika Hasan bisa mendengar suara degup jantungnya. Seperti dirinya yang bisa mendengarnya, sampai ke gendang telinga.

“Dengar, suamimu tidak akan pernah bisa berpaling dari Tasia karena keberadaanmu sedari awal adalah sebuah kesalahan. Kamu itu hanya menjadi batu sandungan dalam kehidupan percintaan mereka. Apa kamu tidak merasa heran atau memang tidak peduli? Bertahan dalam ketidakpastian hanya hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Pergilah, tinggalkan Gio! Gapai bahagiamu dan jika kamu perlu pertolongan, aku bisa membantumu,” ucap Hasan yang kini mencondongkan tubuh merapat kepada Belinda, tetapi wanita itu beringsut menjauh.

“Kamu seolah-olah tahu tentang kehidupan pernikahanku,” ujar Belinda seraya tersenyum masam. Belinda tidak habis pikir, pria ini baru saja muncul setelah bertahun-tahun menghilang dan sekarang berbicara seolah selama ini ia ada dan terlibat dalam hidup Belinda. Namun, dirinya tak ingin mengakui dengan begitu mudah terlebih kepada orang yang sudah lama tidak ia lihat batang hidungnya.

“Kamu tampaknya sedang tidak baik-baik saja.” Perkataan Hasan jelas sekali terlihat sebagai pernyataan bukan pertanyaan yang diucapkan dengan penuh percaya diri.

“Bukan urusanmu. Aku rasa sungguh tidak sopan kamu berkata seperti itu. Dia temanmu dulu, sahabatmu. Bagaimana bisa kamu berbuat seperti ini?” balas Belinda yang mulai merasa tidak nyaman dengan keberadaan pria ini.

Belinda menyandarkan punggung pada sofa dan menghembuskan napas lelah. Semua yang dikatakan Hasan terasa benar di telinganya. Seandainya semua itu, dikatakan jauh sebelum ia menerima pernikahan yang dirancang oleh Jendra Handari, semuanya tentu tidak seperti saat ini. Menghadapi kehamilan seorang diri bukanlah perkara mudah. Memiliki suami, tetapi tetap hidup dalam kesendirian atau sebatang kara sudah biasa Belinda rasakan. Jangankan suami yang tidak mencintainya, ibu yang melahirkan dirinya dan selalu berbuat kasar saja selama ini, bisa dihadapi. Kepasrahan, itu yang membuat Belinda bisa bertahan. Toh, pernikahan ini terjadi demi sang ayah yang terbaring lemah tidak berdaya, sementara saudaranya yang lain tidak bisa membantu. Syukur-syukur mereka masih bisa memberikan bantuan untuk makan sehari-hari.

Lahir dari keluarga sederhana tidak membuat Belinda meratapi nasib. Hanya saja, kadang kala timbul rasa penyesalan di dalam diri jika mengingat semua. Sifat tidak tega dan janjinya pada pria tua itu, membuat dirinya terseret dalam arus hubungan tanpa cinta dengan Gio Zaron, cucu dari pria baik hati yang sudah membantunya untuk meneruskan pendidikan dan bahkan memberikan dirinya pekerjaan, hanya karena Belinda pernah menolong Jendra saat akan terserempet sebuah mobil.

“Semuanya sudah terlambat sekarang,” jawab Belinda seraya menunduk, kepercayaan dirinya sedang terguncang saat ini. Ia baru menyadari sangat membutuhkan teman bicara. Namun, untuk bercerita pada seseorang seperti Hasan yang muncul entah dari mana, sangat tidak mungkin. Apalagi, pria itu tampak memusuhi suaminya. Sungguh aneh, karena jika dirinya tak salah ingat Hasan yang meminta Gio untuk tidak meninggalkan Tasia. Sekarang, pria itu meminta dirinya untuk meninggalkan Gio dan meminta bantuan kepadanya? Ini lebih tidak masuk akal.

“Semua belum terlambat. Setelah melahirkan, bercerailah dari Gio dan carilah aku.”

“Kenapa kamu kembali? Bukankah, kamu sudah pergi jauh? Kamu teman Mbak Tasia dan Gio. Kenapa kamu ingin membantuku?”

“Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan di kota ini.”

“Itu tidak menjawab pertanyaanku. Baiklah aku harus pergi sekarang. Aku tidak mau Gio pulang dan tidak mendapati aku di rumah.”

Pria bernama Hasan itu mendengkus lalu tertawa lirih meremehkan. “Apa kamu pikir suamimu peduli dengan hal itu?”

“Tentu saja dia akan peduli,” balas Belinda yang tidak ingin orang lain terlalu ikut campur urusan rumah tangganya, termasuk pria tampan di depannya saat ini yang setahu Belinda merupakan sahabat sang suami dan juga kenalan dari Tasia, calon madunya jika sang suami benar-benar akan menikahi wanita itu.

“Suatu hari kita akan bertemu kembali dan kamu akan meminta bantuan dariku. Aku cinta kamu, Linda.”

Belinda tidak menyahuti ucapan pria yang memiliki rasa percaya diri sangat tinggi itu. Dengan perutnya yang besar, wanita itu segera bangkit dari sofa, lalu pergi dari sana. Ia bisa melihat pintu gerbang rumahnya dari kafe ini yang letaknya juga berdekatan dengan kios salah satu ekspedisi langganannya untuk mengirim hasil kerjanya. Ia tidak ingin selalu dianggap sebagai parasit, walau kenyataan sebenarnya jelas tidak bisa dikatakan demikian. Bukankah sudah menjadi tugas seorang suami untuk menafkahi istrinya?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Force Skadron7
7.9
Yudi Juliansyah, pemuda Bandung berdarah Prancis, memilih mengejar cita-citanya menjadi tentara meski didepak dari rumah oleh orang tuanya yang menentang keras. Demi bertahan hidup dan membiayai studinya di AAU Yogyakarta, ia rela bertahan dengan berjualan gorengan. Perjuangan itu membawanya meraih predikat lulusan terbaik peraih Adi Makayasa. Kini Yudi kembali pulang demi membuktikan baktinya. Akankah restu dan pengakuan orang tua akhirnya ia dapatkan?
Sampul Novel (Bukan) Istri Kontrak Pria Impoten
8.0
Hancur akibat rumor impoten yang membuat kekasihnya pergi, Liam Benjamin menyelamatkan Sheeta, wanita hamil mantan PSK yang berniat mengakhiri hidup di laut. Di tengah keputusasaan, Liam justru menawarkan pernikahan kontrak padanya. Padahal, Liam sebenarnya pria perkasa yang hanya terbelenggu kutukan masa lalu. Di balik ikatan perjanjian penuh misteri dan rahasia ini, mampukah benih-benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Dinikahi Mas Pandu
7.8
Zita memulai hidup baru di kota tempat Pandu bekerja setelah lamaran kilat dan pernikahan kilat dalam empat jam. Meski sering dibuat kesal, Zita bertekad mengabaikan godaan sang suami yang masih sabar menanti malam pertama mereka. Namun, prinsipnya goyah saat melihat Pandu bersikap kelewat ramah pada orang lain. Cemburu mulai membakar hatinya. Akankah pertahanan Zita runtuh oleh rasa cemburu, atau ia sanggup bertahan?
Sampul Novel DOKTER FORENSIK
7.9
Akibat penyakitnya, Randa, seorang dokter forensik, kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan hingga merasa bisa bicara dengan mayat. Di tengah kondisi ini, ia bimbang memilih antara Evlyn dan Avita. Setelah menjatuhkan pilihan pada Evlyn, Randa tersadar bahwa wanita itu rupanya sudah meninggal tujuh bulan lalu. Kini, saat Avita berjuang menyadarkannya, Randa dihadapkan pada pilihan sulit: tetap terbuai dalam halusinasi atau bangkit menghadapi realitas yang menyakitkan.
Sampul Novel Gadis Jaminan Tuan Max
7.8
Hera mengira hidupnya tak bisa lebih buruk lagi, sampai sang ibu terjerat utang pada Max, rentenir yang dikenal sangat kejam. Akibatnya, Hera disandera sebagai jaminan pelunasan utang tersebut. Batas waktu yang terus berjalan membuat posisinya kian terdesak. Jika ibunya gagal melunasi kewajiban itu tepat waktu, nasib mengerikan telah menanti Hera. Mampukah ia bertahan hidup dalam cengkeraman kekuasaan penuh Max yang dingin?
Sampul Novel IBU SUSU UNTUK BOSKU
9.1
Sonia, seorang ibu berumur 23 tahun, harus mencari uang demi mengobati anaknya yang mengidap Thalassemia. Saat terlilit utang, ia bertemu Mr. Wei, CEO berusia 45 tahun yang menjadi tempatnya bersandar. Hubungan tersembunyi ini menjadi pelarian Sonia dari pernikahan yang dingin. Namun, kecurigaan sang suami mulai mengancamnya. Terjebak dilema moral dan pengkhianatan, ia harus memilih cinta barunya atau hancur dalam kepedihan.