APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Baaridul Hubby (Cinta Si Dingin)

Baaridul Hubby (Cinta Si Dingin)

Di tengah riuh reformasi 1998 di Yogyakarta, Aruni memilih jalan hijrah yang mengubah hidupnya. Keputusan ini ditentang keras oleh sang ayah, memicu perselisihan sengit di dalam keluarga. Sembari menghadapi penolakan tersebut, Aruni juga harus menyembunyikan rasa cintanya pada pria yang ia dambakan dalam diam. Diangkat dari kisah nyata, novel ini mengisahkan perjuangan remaja dalam mempertahankan keyakinan dan mengejar restu orang tua.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Mbak, nggak papa?”

Suara khas seorang cowok terdengar menegurnya dari arah depan, Aruni mendongak....

“Elo?” ujar Aruni terlihat kesal setelah tahu orang yang ditabraknya.

Cowok aneh itu lagi yang beberapa hari lalu pernah dia tabrak di kantin.

‘Sial banget gue, kenapa ketemu cowok aneh lagi.’ batin Aruni kemudian berdiri sambil mengibaskan menepuk-nepuk baju hem dan celana panjangnya dengan kedua tangannya kemudian merapikan jilbab segi empatnya.

Cowok itupun berdiri, pandangannya mengarah ke tempat lain, “Jika mbaknya tidak terluka, saya permisi ... assalamu’alaikum.”

Cowok berkacamata minus itu kemudian berbalik arah hendak meninggalkan Aruni yang masih sibuk merapikan jilbabnya.

“Eh, minta maaf kek, lo kan udah nabrak gue!” tegur Aruni merasa kesal melihat cowok itu tak acuh dengannya.

Cowok itu menghentikan langkahnya, ”Lho, bukannya Mbak yang tadi nggak lihat-lihat saat berbelok?” ujar cowok itu membuat Aruni tersentak.

‘Ah iya, tadi karena buru-buru aku nggak melihat jalan saat berbelok malah fokus melihat jam tanganku,’ batin Aruni menyadari kesalahannya. Tapi ... gengsi lah kalau aku harus minta maaf, ‘Nggak!’ lanjutnya berseru dalam hati.

“Tapi tetep aja! Lo harus minta maaf, lo kan cowok!” ujar Aruni sengit.

“Bukan saya yang salah kenapa harus minta maaf, Mbak?”

“Eh, emangnya gue kakak lo, kita seumuran tahu! Harusnya tadi Lo bisa menghindar, kan? Atau jangan-jangan lo ngambil kesempatan biar bersentuhan dengan cewek, dasar sok suci!”

Cowok itu mendesah pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan, mungkin dia heran dengan sikap Aruni.

“Gimana saya bisa menghindar Mbak, orang tadi mbaknya muncul tiba-tiba sambil setengah berlari, ya nggak sempet saya menghindar,” ujarnya dengan tenang.

Amarah Aruni langsung meredam sedikit, begitu mendengar penuturan cowok itu, ‘Bener juga sih, Dia. Tapi, eh ya enggaklah, tengsin dong kalau gue harus ngakuin salah dan minta maaf, dia kan cowok harusnya ngalah,’ batin Aruni.

“Cowok aneh!” ujarnya kemudian berjalan mendekati buku diktatnya yang tadi terlempar agak jauh dan berlalu dari hadapan cowok berkacamata itu. Apa yang dilakukan Aruni berbaik dengan yang bergejolak di hatinya, sebenarnya dia tahu yang salah dirinya tetapi rasa gengsinya menutupi untuk tidak meminta maaf.

Cowok itu masih berdiri mematung yang justru merasa heran dengan sikap Aruni, “Cowok aneh, bukannya justru dia yang aneh? Tadi marah-marah eh tiba-tiba saja langsung berubah,” gumannya pelan tanpa sadar ada senyum tipis terkembang dari sudut bibirnya.

“Hanif!

Hanif menoleh ketika namanya di panggil, Doni mendekati dirinya dengan langkah cepatnya.

“Nglihatin apaan? Serius amat?”

“Enggak tadi ada cewek jatuh,”

“Mana? Cantik enggak, Nif?” tanya Doni sambil celingukan.

“Kamu tu ya denger cewek langsung aja mata jelalatan, jaga tuh pandangan.”

“Aku kan bukan kamu, Nif. Kan sayang cewek cantik dicuekin.”

“Otak kamu perlu di sekolahin, perempuan itu bukan barang pajangan yang bisa dilihat-lihat,” ujar Hanif sembari memukul pundak temennya itu dengan pelan.

Doni terkekeh, “Yuk ah, ntar telat bisa kena nasehat panjang kali lebar dengan Pak Hata.”

Hanif tersenyum kemudian merangkul Doni dan berjalan beriringan menuju ruang kuliah.

***

Runi membanting bahunya di sandaran kursi ruang kuliah, “Syukurlah, aku kira udah telat,” guman Runi menarik nafas lega.

“Lo, nggak bareng mbak Ari?”

“Eh, ini gara-gara lo tahu enggak? semalem gue bela-belain begadang sesuai petunjuk lo! Sampai ketiduran tuh di depan TV, bangun-bangun kenal omel Ibu, karena subuhku telat.”

“Jadi beneran lo nungguin tu bintang favorit, lo?” ujar Sila bernada pertanyaan sambil tertawa.

“Si*lan, lo ngerjain gue?” Kali ini Aruni mendelik tajam ke arah Sila, sedang Sila masih terkekeh.

“Enggak ngerjain, beneran ada tapi emang malem mulai jam 1. Lo mungkin udah tidur deh,”

“Rese lo, tahu ah ... di rumah kena omel ee tadi di depan udah dibikin kesel juga.”

“Emang kenapa?” Sila terlihat serius, tidak ada lagi kekeh tertawanya.

“Gue ketemu lagi tuh sama cowok aneh.”

“Seriusan? Anak TP yang ganteng itu?”

“Dih, elo ya ... gue lagi kesel sama dia, lo malah muji.

Sila terkikik, “Yang kesel kan elo, bukan gue. Suka-suka gue dong, lagian kalau lo cermati wajah dia pastinya lo juga suka, alisnya bikin nggak kuat hati, cakep,” ujar Sila sembari membuat isyarat jempol.

Aruni hanya mencibik, sebenarnya dia juga setuju sih dengan pendapat Sila, ‘Cowok anak TP tadi tu lumayan ganteng juga, uppssss. Apaan sih, Run? Lo kan lagi sebel sama dia ngapain muji, coba? monolog Aruni dalam hati.

“Eh, tumben udah jam segini Bu Vera belum datang, Sil?”

“Tahu tuh, semoga aja nggak dateng biar gue bisa kabur ke kantin, tadi nggak sempet sarapan khawatir telat.”

“Sama, gue juga belum minum kopi.”

“Lo diet? Badan udah kayak lidi aja pakai diet.”

“Sembarangan, enggak! Gue emang demen kopi.”

“Eh, kesukaan kamu yang ini gue belum tahu lho, Run. Sejak kapan lo hobi kopi?”

“Udah dari SMA, kenapa?”

“Hmmm, pantes aja gue nggak tahu. Kita SMAnya berbeda.”

“Sekarang kan tahu, Sil. Sesekali traktir gue kopi dong.”

“Yeee, modus cari gratisan.

Aruni tertawa, pandangannya mengarah ke pintu kelas kemudian, “Sil, kayaknya beneran deh, sekarang nggak ada kelas. Cabut yuk, kita ke kantin,” ajak Aruni kemudian berdiri tetapi sebentar kemudian kembali duduk ketika terdengar sapaan teman-temannya ketika dosen mereka datang.

Sila tertawa lirih, Aruni hanya menoleh sambil mengacungkan tinju kepada Sila yang kemudian menutup mulutnya agar tertawanya tidak lepas.

===

“Motor siapa, nih? Parkir sembarangan, nambahin kerjaan aja,” gerutu Aruni sambil berusaha meminggirkan motor modif, “Duh, ternyata berat juga, asem,” umpat Aruni.

“Biar saya saja, Mbak.”

Tiba-tiba terdengar suara teguran, Aruni menoleh....

“Elo lagi! Ini motor lo? Eh, lo kan anak TP ngapain parkir di sini?” sengit Aruni bertanya sembari menarik standar motor GL yang sudah di modif.

“Bukan, Mbak. Saya cuma pingin bantuin Mbak aja, kelihatan tadi kesusahan menggeser.”

“Buruan gih, gue buru-buru nih, dan ... makasih,” ujar Aruni agak melembut.

Hanif tersenyum kemudian dia menggeser motor GL itu agar motor Aruni bisa keluar.

‘Eh, senyumannya manis juga,’ batin Aruni yang tadi sempat melihat Hanif tersenyum, ‘Dih, mikirin apa sih, Run? Sadar oiyy.’ lanjut hati Aruni sambil menepuk pipinya pelan.

“Sudah Mbak, silahkan,” ujar Hanif mengangetkan lamunan Aruni.

“Oh iya, terima kasih.

Aruni kemudian mengeluarkan motor bebek keluaran tahun 91.

“Eh, kalian udah saling kenal?

Tiba-tiba suara teguran terdengar mengagetkan Aruni dan Hanif, keduanya menoleh sumber suara hampir bersamaan....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich
8.9
Hans, penerus takhta Adalrich yang terlihat sempurna, sebenarnya memendam trauma mendalam terhadap wanita. Untuk menyembunyikan rasa jijiknya, ia selalu berlagak sombong dan dingin. Namun, dinding pertahanannya runtuh sejak berjumpa Sashenka, anak dari musuh bebuyutan bisnisnya. Sosok gadis tersebut rupanya sanggup menyalakan kembali gairah Hans yang telah lama padam. Di tengah sengitnya konflik keluarga, Hans kini harus berjuang keras demi mendapatkan cinta Sashenka.
Sampul Novel BUKAN KISAH SEMPURNA
8.8
Adinda terpaksa menikahi Alvin demi membiayai pengobatan Alvaro yang sedang koma. Namun, masalah rumit muncul saat ia mengetahui bahwa Alvin sebenarnya belum melajang. Tugas Adinda adalah membuat pria itu melupakan istrinya. Ketika ia berhasil memikat hati Alvin, Alvaro justru terbangun dari komanya. Adinda pun terjebak dilema besar: bertahan menjadi yang kedua bagi Alvin, atau kembali kepada Alvaro namun menghadapi penolakan keras dari pihak keluarganya.
Sampul Novel Cinta Terlarang Sang Janda
8.7
CEO muda sukses, Rio Darmawan, merasa jenuh dengan tekanan perjodohan dari keluarganya yang terus-menerus. Ia selalu menolak calon pilihan orang tuanya karena tidak ada yang cocok. Namun, segalanya berubah saat ia terpikat oleh Denanda Kusuma, seorang ibu tunggal yang mandiri. Walau hubungan mereka ditentang keras oleh keluarga besar, Rio bertekad kuat memperjuangkan cintanya. Kini ia menghadapi pilihan sulit antara mengikuti kata hati atau tunduk pada tuntutan keluarga.
Sampul Novel Dikhianati Di Hari Pernikahan
9.2
Hari tenang Aurelia Callista hancur seketika saat dipaksa menikahi Kaelan Castor. Mengira hanya menjadi tamu biasa, Rhea syok mendengar namanya disebut sang direktur muda dalam akad nikah. Dia baru menyadari dirinya dijadikan pengantin pengganti demi menutupi kelicikan keluarga Kaelan. Kini, Rhea terperangkap dalam pernikahan megah tanpa landasan cinta, sekaligus harus bertahan menghadapi berbagai konspirasi dan rahasia kelam di balik status barunya.
Sampul Novel Dinodai Kakak Angkat
8.9
Yugo melakukan tindakan keji terhadap adik angkatnya, Maheswari, saat kehilangan kendali. Begitu tahu Maheswari hamil, Yugo yang angkuh justru kabur dari tanggung jawab. Demi menutupi kesalahannya, ia dengan kejam menjebak Junior sebagai kambing hitam. Di tengah situasi penuh ancaman dan kekerasan, Maheswari kini didera dilema besar mengenai kelanjutan masa depannya bersama Junior yang ikut terseret.
Sampul Novel Hitungan Mundur Di Atas Kepala
9.0
Sejak kecil, kemampuanku melihat angka kematian di atas kepala orang terdekat membuatku dicap sebagai pembawa petaka. Setelah kakek, ayah, dan ibu tewas tragis dalam sehari sesuai ramalanku, ketiga kakak laki-lakiku menaruh dendam mendalam padaku. Sebaliknya, adik perempuan kami yang kelahirannya merenggut nyawa ibu justru dipuja sebagai pembawa keberuntungan. Kini, tepat di usia kedelapan belas, cermin memperlihatkan hitungan mundur kematianku sendiri. Usai membeli kotak abu dan menyiapkan jamuan terakhir untuk kakak-kakakku yang tak kunjung datang, aku hanya bisa menunggu ajal menjemput dalam keheningan yang dingin.