APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Baaridul Hubby (Cinta Si Dingin)

Baaridul Hubby (Cinta Si Dingin)

Di tengah riuh reformasi 1998 di Yogyakarta, Aruni memilih jalan hijrah yang mengubah hidupnya. Keputusan ini ditentang keras oleh sang ayah, memicu perselisihan sengit di dalam keluarga. Sembari menghadapi penolakan tersebut, Aruni juga harus menyembunyikan rasa cintanya pada pria yang ia dambakan dalam diam. Diangkat dari kisah nyata, novel ini mengisahkan perjuangan remaja dalam mempertahankan keyakinan dan mengejar restu orang tua.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Eh, kalian udah saling kenal?”

Tiba-tiba suara teguran terdengar mengagetkan Aruni dan Hanif, keduanya menoleh sumber suara hampir bersamaan....

“Tio,” ujar Aruni dan Hanif bersamaan.

“Sampai barengan gitu negurnya,” ujar Tio sambil tertawa lirih.

“Yo, dia temen, Lo?” tanya Aruni kepada Tio temen satu jurusan dengannya.

“Tetangga gue, lo kenal?”

“Enggak!” tegas Aruni.

“Ketemu kebetulan saja,” sela Hanif.

“Iya, ketemu kebetulan dan tidak menyenangkan,” ujar Aruni sambil melirik sebel pada Hanif.

Tio tertawa, “Jangan judes-judes sama Hanif, Run ... ntar lama-lama suka, lho.”

“Rese, Lo,” ucap Aruni sambil mulutnya manyun pada Tio, kemudian menatap Hanif, “Jadi nama lo, Hanif?”

Hanif hanya mengangguk sambil garuk-garuk kepala dan terlihat tersipu.

“Sopan dikit, Run. Dia tu di atas kita satu tingkat,” ujar Tio.

“Aih beneran? Sory, kirain seangkatan. Lo juga manggil gue Mbak, sejak kapan kita bersaudara?”tanya Aruni mencibik kesal.

“Maaf kalau tersinggung, nggak mungkin juga kan aku panggil dik nanti dikira nganggep anak kecil dan lagi saya kan nggak kenal dengan anti.

“Nama gue Aruni, bukan Anti, sok tahu!” sela Aruni makin gemes.

“Lo yang sok tahu, Run. Anti itu bahasa arab artinya kamu perempuan,” sela Tio menjelaskan, “Gue juga baru belajar dari dia,” lanjut Tio sembari nyengir.

“Oo gitu, anti dari bahasa Arab,” tanggap Aruni sambil manggut-manggut kemudian, “Yo, gue cabut ya ... jagain tu temen lo, calon penghuni surga,” ujar Aruni sembari tertawa dan melajukan motor bebeknya meninggalkan halaman parkir.

“Woi, gue doain lo suka ma Hanif!” teriak Tio tertawa.

“Husstt,” protes Hanif sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Tio.

“Nif, Aruni tu manis, lho. Cuma emang tu cewek begitu, hmmm ... rada urakan, tapi pinter, kayaknya dapat beasiswa juga,” ujar Tio sambil memundurkan motornya.

“Terus apa hubungannya denganku?”

“Ya, gue cuma cerita aja, gue tahulah kriteria calon istri, Lo. Pastinya bukan Aruni cewek yang nggak asyik, kan?” ujar Tio sambil menaiki motornya.

“Pastinya bukanlah, cewek aneh gitu,” ujar Hanif pelan sembari membonceng motor Tio.

“Sebenarnya kalau Aruni santun dikit aja, gue juga mau jadi pacar dia,” ujar Tio tertawa sambil melajukan motornya.

“Dasar!”

***

Pagi harinya Aruni berangkat kuliah bareng dengan Sila, saat sampai di ruang kuliah keduanya terlihat keheranan karena temen-temennya sedang fokus membicarakan hal penting. Semuanya terpaku pada perkataan Alex sang ketua kelas.

Aruni mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kuliah, dan matanya tertuju pada sosok perempuan satu-satunya di jurusannya yang memakai penutup wajah. Azizah biasanya selalu mengambil tempat duduk di pojok dekat tembok dan dia selalu sibuk dengan kegiatannya sendiri seperti membaca buku atau sekedar menuliskan sesuatu di lembaran kertas. Aruni suka mengamati Azizah, entah mengapa dia terkadang penasaran dengan baju yang dipakai Azizah,

‘Apa tidak gerah dan panas? Kalau makan bagaimana?’ monolog Aruni dalam hatinya ketika memperhatikan penampilan Azizah yang sangat berbeda dengan teman-temannya termasuk juga dirinya.

Awal bertemu dengan Azizah, dia sempat kaget dan heran karena baru pertama kali Aruni melihat pakaian seperti itu, ‘Apa wajahnya jelek atau jerawatan hingga malu dan menutupinya dengan kain? Bagaimana nanti laki-laki akan menyukainya jika wajah ditutup begitu? Bukankah wajah menjadi salah satu daya tarik laki-laki?’

Beberapa pertanyaan penasaran itu hanya dia simpan dalam hati, Aruni tipe gadis yang sangat toleran, dia tidak mau menyinggung perasaan orang jika pertanyaan itu disampaikan, apalagi jika orang itu belum lama dia kenal. Tetapi setelah sekian bulan mengenal Azizah, pertanyaan Aruni terbantahkan. Nyatanya, wajah Azizah cukup cantik menurut penilaian Aruni dan itu tak sengaja Aruni ketahui ketika mereka satu ruangan di toilet. Azizah membuka kain penutup wajahnya ketika sedang mengaca di depan wastafel. Aruni saat itu baru keluar dari kamar mandi tentu saja bisa melihat wajah Azizah yang terpantul dari cermin.

“Azizah!” tegur Aruni.

Azizah menoleh dan tersenyum kemudian kembali disibukkan dengan membenahi jilbabnya.

“Kok, wajah Lo dibuka? Ternyata wajah Lo cukup menarik, lho. Tapi kenapa di tutup dengan kain ini?” tanya Aruni penasaran setelah mendekat pada Azizah dan memegang ujung kain yang menggantung di depan d*d*.

Azizah hanya tersenyum, “Nanti aku jelaskan jika sudah di luar, ya? Karena tidak adab membicarakan di kamar mandi,” ujar Azizah kemudian memakai kembali kain penutup wajah itu dan keluar kamar mandi, Aruni mengikutinya dari belakang.

Setelah sampai di luar kamar mandi Azizah menarik tangan Aruni dan mengajaknya duduk di bangku agak sedikit jauh dari ruang toilet. Entah mengapa Aruni menurut saja, tanpa protes seperti yang biasa dia lakukan jika dengan Sila sahabatnya. Mungkin karena rasa penasarannya itu yang membuat Aruni ingin segera mengetahui jawaban dari pertanyaannya.

“Tadi kamu tanya apa?” tanya Azizah setelah keduanya duduk.

“Iya, aku heran saja kenapa wajah kamu ditutup lalu kenapa di buka saat di kamar mandi? Kan ada aku di situ?”

“Kamu kan perempuan sama sepertiku, jadi tidak apa-apa jika kamu melihat wajahku, lain hal jika kamu laki-laki tentu aku selalu menutup wajahku dengan cadar.”

“Ca-dar?”

“Heem, ini namanya cadar dalam bahasa arab disebut niqab.”

“Oo,” Aruni melongo sedikit tahu, “Terus kenapa wajahmu ditutup jika ada laki-laki?”

“Karena mereka bukan mahramku,” ujar Azizah sambil tersenyum dibalik cadarnya.

“Mahram? Apaan itu?

“Mahram itu seseorang yang tidak boleh dinikahi selama-lamanya.”

“Oo ... muhrim? Kalau itu aku tahu, Zah.”

“Bukan, yang benar mahram. Kalau muhrim itu pakaian untuk ihrom.”

“Pakaian untuk haji maksud, Lo?”

Azizah mengangguk masih dengan wajah tersenyum karena matanya terlihat menyipit.

“Apa Lo nggak merasa panas dan gerah memakai pakaian seperti ini?”

Azizah menggeleng pelan, “Sudah terbiasa, gerah pastinya iya kalau suasana panas,” ujar Azizah sambil tertawa lirih.

Aruni nyengir sambil garuk-garuk kepalanya yang tertutup jilbab segi empat.

===

Beberapa hari kemudian, saat kelas tidak ada dosen, terlihat teman-teman Aruni sedang foukus mendengarkan penjelasan ketua kelas mereka.

"Run, gabung yuk dengan mereka sepertinya mereka sedang membahas rencana pekan kemarin,” ujar Sila membuyarkan lamunan Aruni tentang Azizah.

Aruni menoleh, “Enggak ah males, Lo aja deh ... aku tinggal tunggu info darimu aja,” ujar Aruni tersenyum.

“Maunya.” Sila manyun kemudian melangkah mendekati temen-temennya yang sedang fokus mendengarkan penuturan ketua kelas.

Aruni kemudian melangkahkan kaki mendekati Azizah. Sejak dia berbicara dengan Azizah di dekat toilet beberapa waktu lalu, dia semakin ingin tahu tentang sosok temennya itu.

“Zah, lo nggak ikut gabung?” tanya Aruni begitu di dekat Azizah.

“Wa’alaikumsalam,” Azizah justru menjawab salam yang membuat Aruni tersipu.

“Sori lupa salam, assalamu’alaikum,” ujar Aruni nyengir kuda.

“Wa’alaikumsalam,” balas Azizah dengan mata yang menyipit menandakan dia sedang tersenyum.

“Lo, nggak ikut nimbrung? Lagi pada bahas rencana pekan kemarin, ya?” tanya Aruni kemudian menarik bangku kuliah kemudian duduk di depan Azizah.

Mendengar pertanyaan Aruni, Azizah hanya mengangkat bahunya kemudian menggeleng pelan....

“Hmmm, Zah?”

“Ya, ada apa?”

“Anu....

Aruni menghentikan bicaranya sedikit bingung, sedang Azizah terlihat mengerutkan dahinya merasa heran dengan sikap Aruni.

“Anu apaan? Jangan aneh-aneh ya, kamu wanita normal, kan?”

“Hah!”

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich
8.9
Hans, penerus takhta Adalrich yang terlihat sempurna, sebenarnya memendam trauma mendalam terhadap wanita. Untuk menyembunyikan rasa jijiknya, ia selalu berlagak sombong dan dingin. Namun, dinding pertahanannya runtuh sejak berjumpa Sashenka, anak dari musuh bebuyutan bisnisnya. Sosok gadis tersebut rupanya sanggup menyalakan kembali gairah Hans yang telah lama padam. Di tengah sengitnya konflik keluarga, Hans kini harus berjuang keras demi mendapatkan cinta Sashenka.
Sampul Novel BUKAN KISAH SEMPURNA
8.8
Adinda terpaksa menikahi Alvin demi membiayai pengobatan Alvaro yang sedang koma. Namun, masalah rumit muncul saat ia mengetahui bahwa Alvin sebenarnya belum melajang. Tugas Adinda adalah membuat pria itu melupakan istrinya. Ketika ia berhasil memikat hati Alvin, Alvaro justru terbangun dari komanya. Adinda pun terjebak dilema besar: bertahan menjadi yang kedua bagi Alvin, atau kembali kepada Alvaro namun menghadapi penolakan keras dari pihak keluarganya.
Sampul Novel Cinta Terlarang Sang Janda
8.7
CEO muda sukses, Rio Darmawan, merasa jenuh dengan tekanan perjodohan dari keluarganya yang terus-menerus. Ia selalu menolak calon pilihan orang tuanya karena tidak ada yang cocok. Namun, segalanya berubah saat ia terpikat oleh Denanda Kusuma, seorang ibu tunggal yang mandiri. Walau hubungan mereka ditentang keras oleh keluarga besar, Rio bertekad kuat memperjuangkan cintanya. Kini ia menghadapi pilihan sulit antara mengikuti kata hati atau tunduk pada tuntutan keluarga.
Sampul Novel Dikhianati Di Hari Pernikahan
9.2
Hari tenang Aurelia Callista hancur seketika saat dipaksa menikahi Kaelan Castor. Mengira hanya menjadi tamu biasa, Rhea syok mendengar namanya disebut sang direktur muda dalam akad nikah. Dia baru menyadari dirinya dijadikan pengantin pengganti demi menutupi kelicikan keluarga Kaelan. Kini, Rhea terperangkap dalam pernikahan megah tanpa landasan cinta, sekaligus harus bertahan menghadapi berbagai konspirasi dan rahasia kelam di balik status barunya.
Sampul Novel Dinodai Kakak Angkat
8.9
Yugo melakukan tindakan keji terhadap adik angkatnya, Maheswari, saat kehilangan kendali. Begitu tahu Maheswari hamil, Yugo yang angkuh justru kabur dari tanggung jawab. Demi menutupi kesalahannya, ia dengan kejam menjebak Junior sebagai kambing hitam. Di tengah situasi penuh ancaman dan kekerasan, Maheswari kini didera dilema besar mengenai kelanjutan masa depannya bersama Junior yang ikut terseret.
Sampul Novel Hitungan Mundur Di Atas Kepala
9.0
Sejak kecil, kemampuanku melihat angka kematian di atas kepala orang terdekat membuatku dicap sebagai pembawa petaka. Setelah kakek, ayah, dan ibu tewas tragis dalam sehari sesuai ramalanku, ketiga kakak laki-lakiku menaruh dendam mendalam padaku. Sebaliknya, adik perempuan kami yang kelahirannya merenggut nyawa ibu justru dipuja sebagai pembawa keberuntungan. Kini, tepat di usia kedelapan belas, cermin memperlihatkan hitungan mundur kematianku sendiri. Usai membeli kotak abu dan menyiapkan jamuan terakhir untuk kakak-kakakku yang tak kunjung datang, aku hanya bisa menunggu ajal menjemput dalam keheningan yang dingin.