
Ayah yang Salah Untuk Anakku
Bab 3
Aku membersihkan telapak tangan anakku, lalu meletakkannya kembali ke dalam peti mati. Akhirnya, tubuhnya utuh kembali. Tubuhku yang telah berusaha bertahan seharian, akhirnya tak mampu bertahan lagi dan aku jatuh pingsan.
Dalam mimpiku, anakku kembali. Dia menangis tersedu-sedu sambil bertanya, "Mama, kenapa Papa nggak suka sama aku?"
"Mama, Papa nggak cinta sama aku ya?"
Aku hanya bisa memeluk tubuh kecilnya erat-erat, air mata mengalir deras di wajahku.
Zayn, ini semua salah Mama. Kalau bukan karena Mama, Papa tidak akan memperlakukanmu seperti ini ....
Pernikahanku dengan Shawn berawal dari sebuah kebetulan. Di sebuah pesta dansa, dia dipengaruhi obat dan aku juga mabuk. Saat itu, aku merasa ini adalah takdir yang sudah digariskan. Namun sekarang, aku menyadari bahwa ini hanyalah sebuah hubungan yang penuh kemalangan.
Kami terlibat satu malam bersama dan setelah itu tidak pernah bertemu lagi. Siapa sangka aku mengandung anaknya? Demi memberikan keluarga yang utuh untuk anakku dan juga karena aku diam-diam menyukai Shawn, keluargaku mendatangi keluarganya untuk memberitahukan situasiku.
Setelah itu, kami menikah dan punya anak. Semuanya berjalan mulus. Shawn memang tidak pernah benar-benar menyukaiku, tetapi dia selalu bersikap sopan padaku.
Cukup lama aku mengira bahwa suatu hari aku akan bisa meluluhkan hatinya. Bagaimanapun, cinta bisa tumbuh seiring waktu.
Sampai akhirnya Christine kembali ke negara ini. Semuanya berubah.
Dia tak pernah punya waktu untuk liburan bersamaku dan anak kami, tetapi bisa meninggalkan pekerjaannya yang berat demi menemani Christine melukis di alam selama dua minggu.
Dia yang selalu merasa membeli hadiah itu tidak penting, malah membeli sebuah kristal yang sudah lama kuidamkan di pelelangan dengan harga sangat tinggi hanya untuk Christine.
Ketika anak kami demam tinggi, dia hanya berkata, "Christine sudah batuk beberapa hari dan belum sembuh."
"Zayn punya kamu yang merawatnya, jadi aku nggak khawatir. Tapi Christine cuma punya aku sebagai temannya di negara ini. Aku harus memastikan dia benar-benar membaik supaya aku bisa tenang."
Sejak saat itu, hatiku benar-benar hancur. Akhirnya aku sadar, tak peduli seberapa keras pun aku berusaha, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan hati Shawn. Namun mengingat pernikahan kami melibatkan dua keluarga besar, aku tetap tidak mengajukan cerai.
Tak disangka, keputusan itu justru mencelakai anakku ....
Aku terbangun dari mimpi dengan tangisan. Dengan wajah penuh air mata, ibuku menyerahkan sesuatu padaku. "Kayla, ini ditemukan di kamar Zayn."
Aku menerima gambar itu. Sebuah lukisan sederhana yang dibuat oleh tangan mungil anakku. Lukisan itu menggambarkan kami bertiga dan di atasnya tertulis sebuah kalimat.
[ Selamat ulang tahun, Papa. Aku akan selalu mencintai Papa. ]
Itu adalah hadiah ulang tahun yang dipersiapkan Zayn untuk Shawn. Namun, dia tak akan pernah bisa menyerahkan hadiah itu langsung ke tangan ayahnya.
Aku menangis hingga hampir kehilangan suara dan ibuku meletakkan surat cerai yang selalu kubawa di sisiku ke hadapanku. "Kalau mau pisah, lakukanlah. Nggak perlu mikirin perusahaan."
....
Surat cerai itu langsung dikirimkan ke perusahaan Shawn secepat mungkin. Shawn pun segera datang ke rumah sakit. Betapa ironisnya, sudah hampir seminggu sejak aku mengalami keguguran, dia bahkan tidak pernah menelepon sama sekali. Namun karena Christine terkena flu ringan, dia mampir ke kamarku di rumah sakit.
Christine membawa bunga, katanya untukku. Namun ketika matanya menangkap lukisan yang terletak di samping tempat tidur, dia tiba-tiba panik dan gemetaran "Gambar itu ... gambar itu ...."
Christine berlutut, lalu menutup kedua telinganya dengan kuat dan menangis terisak. "Shawn, tolong bakar gambar itu untukku!"
Shawn sangat khawatir dan tanpa berpikir panjang, dia melempar bingkai gambar itu ke lantai dan menyalakan korek api.
Mataku memerah, aku mencabut jarum infus dari tanganku dan berlari ke arahnya. Kakiku yang telanjang tertusuk pecahan kaca hingga meneteskan darah di lantai.
"Kembalikan! Itu punyaku!" Aku menarik ujung baju Shawn, "Itu lukisan Zayn, itu lukisan Zayn ...."
Mata Shawn menunjukkan sejenak keraguan, tetapi Christine menjerit, "Kak Shawn, aku takut sekali. Gimana kalau nanti aku nggak bisa pegang kuas lagi?"
Shawn mengernyitkan alisnya memandangku dari atas, "Ini cuma sebuah gambar, bukan berarti dia nggak bisa melukis lagi!"
"Lagian, ini semua karena kesalahan Zayn! Sebenarnya Christine akhir-akhir ini kehilangan inspirasi, jadi dia merasa agak terbebani untuk melukis. Tapi Zayn malah merusak tangannya, sekarang setiap kali melihat lukisan, dia gemetar ketakutan!"
"Ssshhh ...." Shawn menyalakan korek apinya.
"Kumohon ... anggap saja ini permohonanku. Jangan lakukan ini ...." Aku berlutut memohon padanya dengan memukul-mukulkan kepalaku ke lantai. Pecahan kaca menusuk dahiku hingga meneteskan darah.
Namun, api kecil itu tetap melahap habis lukisan Zayn. Aku berteriak keras sambil mengulurkan tangan untuk merebutnya, tapi sudah terlambat. Api terlalu besar dan lukisan itu telah berubah menjadi abu dalam sekejap.
Aku memeluk sisa-sisa abu itu sambil terduduk di atas pecahan kaca, merasakan setiap tusukan yang merobek kulitku.
"Nggak ada lagi ... semuanya sudah hilang .... Lukisan terakhir Zayn juga sudah hilang ...."
Zayn, ini semua salah Mama ....
Anda Mungkin Juga Suka





