
Ayah yang Salah Untuk Anakku
Bab 4
Shawn menatapku dengan ketidakpedulian saat melihat penderitaanku, malah terlihat sangat tidak sabar, "Cukup, jangan berpura-pura lagi! Hanya sebuah gambar."
Hanya sebuah gambar ....
Itu adalah harapan terindah Zayn, satu-satunya kenangan terakhir yang dia tinggalkan untukku. Namun sekarang, semuanya lenyap ....
Shawn tidak peduli dan malah melemparkan surat cerai ke wajahku, "Bicarakan hal yang penting."
Aku menatapnya dengan putus asa, "Kamu mau apa sebenarnya?"
Dia mengernyit dan tersenyum sinis, "Kenapa? Sudah ketemu orang baru? Jadi sekarang kamu mau bicara soal perceraian?"
Tanpa ekspresi, aku menjawab, "Shawn, jangan asal bicara."
Dia menatapku dengan penuh ejekan, "Kupikir kamu cuma pura-pura pendarahan, ternyata benar-benar keguguran! Anak itu bukan anakku, 'kan?"
Mataku membelalak tak percaya, "Shawn, kamu keterlaluan!"
Dengan tawa dingin, dia membuka surat cerai itu dengan nada bicara yang jengkel, "Siapa yang akan mengasuh Zayn? Operasinya sudah selesai, 'kan? Hanya penyambungan telapak tangan, seharusnya mudah."
"Kamu nggak beri tahu dia kalau aku datang hari ini? Kalau dia berniat mengelola Grup Tanuwijaya, hal mendasar seperti ini saja dia nggak bisa? Bahkan nggak datang untuk menemuiku?"
Rasa sakit yang luar biasa menghantam dadaku dan rasa mual menyebar di tenggorokanku. Dalam keputusasaan, aku berkata, "Dia nggak bisa datang ... dan nggak akan pernah bisa memanggilmu Ayah lagi."
Dahi Shawn mengerut dalam. Aku mengucapkan dengan tegas, "Dia sudah meninggal."
"Dia ... sudah ... meninggal!"
Keheningan yang mencekam melanda ruang rumah sakit. Shawn berdiri di sana, raut wajahnya mulai menunjukkan tanda kebingungan.
Namun, Christine tiba-tiba menuding, "Kak Kayla, aku mengerti kalau kamu nggak rela menyerahkan hak asuh, tapi nggak perlu membuat kebohongan seperti ini dan mengutuk anakmu sendiri, 'kan? Itu anak kandungmu juga!" Dia sengaja menekankan kata "anak kandung".
Seketika, ekspresi Shawn tampak bingung dan muram. "Kayla!" Dalam kemarahannya, dia mengangkat tangan dan menamparku keras.
"Kamu nggak rela membiarkan Zayn bersamaku karena takut rahasiamu akan terbongkar, bukan?!"
"Apa maksudmu?" Wajahku memucat dan tampak bingung, "Terbongkar apanya?"
"Zayn bukan anakku!"
Kata-katanya menghantam pikiranku. Aku terperangah sesaat. Amarahku membeludak dan berteriak, "Apa katamu?!"
"Kamu sudah mengandung anak sialan itu saat menikah denganku! Entah anak siapa dia sebenarnya! Aku hanya jadi korban Keluarga Tanaka yang mencari kambing hitam!"
Dengan pandangan penuh kebencian, Shawn menatapku dan menekankan setiap katanya, "Terus terang saja, andai dia benar-benar sudah mati, aku hanya merasa lega! Garis keturunan Keluarga Tanuwijaya nggak perlu dikotori darah anak nggak jelas seperti itu!"
Aku merasakan sakit yang luar biasa di dadaku, lalu tertawa dengan putus asa, "Jadi selama ini, kamu nggak pernah menganggap Zayn anakmu ...."
Aku kehilangan kendali dan menerjang ke depan. Setelah memungut jarum infus yang tergeletak di lantai, aku menancapkannya ke punggung tangan Christine. "Christine, dasar perempuan jalang! Kubunuh kamu!"
Emosiku telah hancur sepenuhnya. Jarum itu kutusukkan lagi dan lagi ke tubuh Christine, membuatnya menjerit kesakitan, sampai aku merasakan dorongan kuat yang melemparkanku ke belakang.
"Buk!" Tubuhku menghantam ujung ranjang hingga kesakitan.
"Kamu gila!" Shawn berdiri di depan Christine, menatapku dengan ekspresi tak percaya. "Kayla, percaya nggak aku nggak akan segan-segan melapor polisi sekarang juga?!"
"Laporkan saja!" Aku tertawa sinis, "Kamu sudah bunuh anakmu sendiri tapi masih belum puas juga. Sekarang, kamu mau bunuh aku juga, 'kan?! Apa kamu pikir, dengaan membunuhku dan anakmu bisa membuatmu menikah dengan Christine, ya?!"
Melihat kondisiku yang kehilangan kendali, dia terus menggeleng. "Kamu benar-benar sudah gila!"
Tanpa ragu, aku menerjang ke arahnya dan menggigit lehernya dengan kuat sambil menggumamkan kata-kata yang nyaris tak terdengar, "Kamu bilang aku gila? Kalau begitu, biarkan aku jadi gila! Orang gila yang membunuh nggak perlu dipenjara!"
Shawn berusaha melepaskan diri, tapi aku tetap menancapkan gigiku hingga merobek sepotong daging dari lehernya! Aku meludahkannya hingga darah membasahi bibirku saat aku tertawa pedih.
Sambil menahan rasa sakit yang membuatnya berkeringat dingin, Shawn memegangi lehernya. Aku tertawa dan berteriak, "Sakit, ya? Rasa sakit itu nggak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit Zayn saat telapak tangannya dipotong hidup-hidup!"
"Rasa sakit itu bahkan nggak mendekati bagaimana Zayn yang meregang nyawa saat tenggelam dan kehabisan napas."
Wajah Shawn menjadi muram. Secepat mungkin, dia mengangkat telepon dan menekan nomor dengan tergesa-gesa. "Aku akan panggil Zayn sekarang juga. Biar dia lihat sendiri betapa gilanya ibunya ini!"
Telepon hanya berdering dua kali sebelum dijawab.
"Bawa Zayn ke sini sekarang!" perintah Shawn pada asistennya dengan nada dingin. "Cepat!"
Suara asisten itu terdengar gemetar, "Pak Shawn ... ini ... agak sulit ...."
"Kenapa? Apa operasinya belum selesai atau efek anestesinya belum hilang?" Shawn marah besar, "Nggak peduli dia sudah sadar atau belum, seret dia ke sini! Sekarang juga!"
"Bukan begitu ...." Asisten itu tertawa getir, "Tuan Muda ... dia sudah meninggal."
"Apa?!" Wajah Shawn yang penuh kemarahan tiba-tiba membeku, terpaku dalam keterkejutan.
Anda Mungkin Juga Suka





