
Ayah yang Salah Untuk Anakku
Bab 2
Zayn terdiam sejenak. Namun, yang muncul kemudian adalah kemarahan yang lebih hebat. Dengan cepat, dia menamparku.
Dadaku terasa sesak dan darahku seakan bergejolak. Tubuhku terhantam pada sudut meja dan rasa sakit yang hebat langsung menyerangku.
"Demi melindunginya, kamu bahkan berani mengarang kebohongan begini?" Shawn menatapku dengan sinis. "Kayla, seandainya saja kamu bisa selembut dan sebaik Christine, kita juga nggak akan sampai di tahap seperti ini."
"Kamu terus memanjakan Zayn, apa nggak takut dia akan jadi pembunuh ke depannya?"
Setiap kata dari Shawn bagaikan jarum yang menusukku. Tubuhku gemetar tak terkendali, keringat ingin membasahi kulit kepalaku. Bau anyir darah terasa di udara dan darah merah mengalir di antara kakiku.
Shawn malah hanya menggenggam erat tangan Christine. "Christine, tenang saja. Aku akan carikan dokter terbaik untukmu. Aku nggak akan biarkan ada bekas luka di tanganmu."
Aku terkulai lemas di lantai. Namun, Shawn hanya peduli pada lepuhan kecil di tangan Christine.
"Astaga!" Christine melirik ke arahku dan tiba-tiba berteriak kaget. "Kak Shawn, lihat .... Ada apa dengan Kak Kayla? Darah ... darahnya banyak sekali!"
Di bawahku, bercak darah menyebar. Tanganku perlahan menyentuh perutku dan aku bisa merasakan ada kehidupan kecil yang sedang memudar di sana.
Shawn tertegun, "Kamu hamil?" Dia tanpa sadar melangkah maju dan mengulurkan tangannya padaku.
Christine segera mendekat, "Kak Kayla, kamu nggak tahu kamu hamil? Sudah berapa bulan? Kenapa seceroboh itu ...." Dalam sekejap, ekspresi Shawn berubah drastis.
Dia menyunggingkan senyuman sinis. "Kayla, dari mana kamu dapat kantong darah ini? Beberapa waktu ini kita bahkan jarang ketemu, bukan? Apa mungkin, anak ini bukan milikku?!"
Kata-katanya seperti petir yang menggelegar di benakku. Aku menatapnya dengan tidak percaya, "Shawn, kenapa kamu bilang begitu? Apa kamu sudah lupa, waktu ulang tahun pernikahan kita yang lalu ...."
"Kak Shawn, perkataanmu ini sudah keterlaluan!" Christine memotong ucapanku dengan wajah tidak senang, "Mau marah sampai gimana pun, jangan sampai menodai nama baik Kak Kayla!"
"Sudahlah, jangan ribut lagi. Kita harus segera bawa dia ke rumah sakit." Christine berjongkok, mencoba untuk membantuku berdiri.
Aku langsung mengulurkan tangan dan mendorongnya menjauh. Christine jatuh ke genangan darahku dengan telapak tangannya yang menekan lantai. Dia mengernyit dengan kesal, "Aduh, sakit ...."
Shawn merasa sangat cemas. Dia segera menggendong Christine dengan hati-hati dan berkata dengan wajah muram, "Nggak usah pura-pura! Kamu cuma mau ngambil telapak tangan anakmu, bukan?"
Aku menggertakkan gigi dengan kesal. "Kalau kamu tahu, cepat berikan padaku!"
Shawn menendang setengah telapak tangan itu ke arahku.
"Masalah Christine ini nggak akan berakhir begitu saja. Zayn berbuat salah, dia harus berlutut dan minta maaf sama Christine!"
Telapak tangan yang kecil itu menggelinding di lantai dengan berlumuran darah dan lumpur. Warnanya gelap, terlihat begitu mengerikan. Aku pun berjuang meraih benda itu, memeluknya erat seakan menemukan harta karun yang tak ternilai harganya.
Anda Mungkin Juga Suka





