
Ayah Si Preman Sekolah
Bab 2
Aku mendongak dengan panik, dia bukan hanya diam-diam mengintip, tetapi juga merekam video dan sekarang malah mau mengirimkannya ke guru.
"Om, jangan ... kumohon, jangan ... "
Seluruh tubuhku gemetar, aku reflek merapatkan kedua kakiku, air mataku menggenang di mata yang sudah memerah.
Walaupun dalam hati aku memang nakal, aku tidak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi kalau orang lain sampai tahu hal ini.
"Dasar gadis nakal, melihat ekspresi polos dan menyedihkanmu itu, om jadi nggak tahan ... "
Sambil berbicara, dia tiba-tiba menyelipkan tangan kasarnya yang penuh kapalan ke bawah rokku.
Sensasi geli yang luar biasa langsung membuatku lemas, sampai harus mencengkeram erat lengan orang agar tidak jatuh.
"Om, kumohon ... jangan ... lepaskan aku ... "
Om perlahan menarik tangannya keluar, lalu melirik jejak menggoda di tangannya, sambil tersenyum mengejek,
"Tapi, adik manis ... sepertinya tubuhmu lebih jujur daripada mulutmu, ya?"
Aku merasa malu setengah mati, buru-buru menyekanya dengan lengan seragam.
"Coba pikir baik-baik, kalau kamu nurut dan patuh, om janji nggak akan ada orang lain yang tahu. Tapi kalau nggak ... siap-siap saja jadi bahan omongan."
Aku hampir tidak percaya, om yang terlihat tinggi, berwibawa, seperti pria yang sopan dan jujur, ternyata bisa senakal ini.
"Om, aku sudah tahu salah. Aku nggak akan berani lagi, tolong lepaskan aku."
"Om paham, kamu stres belajar. Itu hal yang sangat wajar. Kalau om bisa membantumu, kenapa nggak?"
Meskipun dalam hati aku sering membayangkan berbagai skenario yang kelewat batas, tapi saat benar-benar kejadian, aku tetap merasa takut.
"Om, aku benar-benar bukan seperti itu ... "
Mataku berkaca-kaca dan akhirnya air mataku pun jatuh.
Om mulai kehilangan kesabaran, dia berkata, "Pura-pura apa, sih?"
"Aku lihat kamu terus melihat bagian bawahku daritadi, 'kan? Kamu juga sebenarnya mau aku perkosa, 'kan?"
Ternyata semua gerak-gerikku barusan tidak luput dari pandangannya.
Sejujurnya, aku memang sangat ingin tidur dengan om, bahkan ingin diperlakukan dengan kasar olehnya. Tapi sebenarnya rencanaku menunggu sampai aku lulus dan masuk universitas ternama, jadi orang yang lebih baik dulu, lalu baru menyatakan perasaanku ke om, seperti pasangan pada umumnya.
Aku tak mau jadi seperti perempuan murahan yang hanya dipakai om buat pelampiasan. Kalau sampai begitu, om pasti bakal menganggap aku perempuan yang bisa dimiliki siapa saja.
Melihatku hanya menangis tanpa berkata apa-apa, om pun menganggap aku sudah setuju.
"Aku ambil kondom di mobil dulu, kamu tunggu aku di sini. Kalau berani kabur, tanggung sendiri akibatnya!"
Ujar om dengan nada tak terbantahkan, lalu berbalik dan membuka pintu dan pergi begitu saja.
Aku jatuh terduduk di lantai, lemas dan mulai menangis.
Dalam hati aku menyesal, kenapa tadi harus begitu genit, sih? Kalau saja aku bisa menahan diri, semua ini pasti tak akan jadi seperti sekarang.
Aku tahu om bukan tipe yang hanya ngomong saja. Meskipun dalam hatiku liar dan tindakanku kadang nekat ...
Sebenarnya, aku ini perempuan perawan yang belum pernah punya pengalaman apapun.
Masa iya aku bakal menyerahkan hal paling berharga dalam hidupku dengan cara seperti ini?
Saat pikiranku masih kacau dan penuh pertanyaan, om pun kembali.
Melihatku tidak pergi, dia tampak puas dan berkata, "Pintar sekali, sayang! Ini baru namanya murid teladan."
Kemudian, dia menggendong dan mendudukkanku di atas meja, lalu dengan suara serak berkata, "Buka sedikit kakimu."
Jakun om bergerak naik turun dan tatapannya dipenuhi nafsu yang tak terkendali.
Dia tak sabar melepas kemejanya, memperlihatkan perut dan pinggangnya yang kencang dan menggoda.
Aku menunduk malu-malu, tapi malah melihat tonjolan besar di bawah perutnya. Celana panjangnya bahkan terlihat seakan robek saking tegangnya.
Om melepaskan ikat pinggangnya, lalu mengayunkannya dengan keras ke bagian tubuhku yang terbuka.
Tubuhku gemetar kesakitan, aku langsung menjerit dan menangis. Mata om memerah seperti akan menyemburkan api dan aku gemetar ketakutan seperti daun tertiup angin.
Namun, tubuhku bereaksi secara naluriah, gairah yang mengguncang terasa mengalir deras hingga ke otakku.
Terasa geli, kosong dan begitu ingin dipuaskan.
Seolah ada api yang menyala dalam tubuhku, aku sudah tak bisa mengendalikan diri lagi ...
Anda Mungkin Juga Suka





