APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Atlet Sekolah Menyebalkan Jadi Suamiku

Atlet Sekolah Menyebalkan Jadi Suamiku

Alina mendambakan kelulusan yang damai di Horizon International Academy. Namun, takdir justru mengikatnya dalam pernikahan rahasia dengan Arion Mahendra Kwon, atlet elit berkuasa yang dingin dan ditakuti. Meski status sosial mereka sangat kontras, kebencian di antara keduanya perlahan berubah menjadi benih cinta yang tak terduga. Kini, Alina terjebak dalam dilema besar: bertahan mendampingi Arion yang penuh risiko atau hancur terbakar oleh api asmara mereka sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Mulut Alina ternganga lebar. Jalanan di depan mereka dipenuhi mobil-mobil media dan wartawan yang sibuk banget, siap dengan kamera dan mikrofon. Sepertinya, semua berita lokal sampai nasional lagi ada di sini.

Alina langsung ngerasa gugup. Dia gak bisa berhenti memperhatikan sobekan di celananya yang makin gede aja, dan ia buru-buru mengambil jaket Arion buat menutupi pahanya supaya lebih tertutup.

"Makasi, ya... Gue gak bakal bisa tenang kalau lo gak ada di sini," kata Alina pelan, merasa malu tapi juga lega.

Di teras kantor sekolah, Direktur Eric udah berdiri bareng istri dan putrinya. Mereka semua senyum-senyum manis dan melambaikan tangan ke kamera. Arion yang mulai gandeng tangan Alina menuntun Alina menaiki tangga. Mereka langsung disambut hangat oleh Direktur Eric.

Salah satu wartawan yang lagi sibuk dengan kamera, tiba-tiba melihat mereka berdua dan mengikuti langkah mereka ke tangga.

"Nona Alina, apa betul ini Anda? Gadis yang sangat beruntung bisa masuk Horizon International Academy lewat jalur khusus?" tanya wartawan itu.

"Y-ya, benar," jawab Alina dengan suara pelan, merasa dadanya sesak banget.

Sebelum wartawan itu nanya yang lain, Alina udah lebih dulu bareng Direktur Eric yang lagi melirik Arion dengan tatapan penuh arti, kayaknya dia menyadari sesuatu.

Mata Direktur Eric langsung tertuju ke Alina, mukanya kelihatan kaget. "Alina? Saya kira kamu akan datang pakai kendaraan pribadi dan lewat pintu belakang seperti yang saya sarankan," gumamnya bingung.

Alina langsung menahan napas, merasa kayak ada yang salah. Dia sebenarnya bohong soal punya kendaraan. Dan lewat pintu belakang, itu artinya dia harus jalan lebih jauh dua kali lipat, yang dimana bikin dia tambah capek.

Direktur Eric sendiri sudah menawarkan Alina untuk tinggal di asrama sekolah, plus uang saku yang cukup besar, tapi Alina tolak karena gak mau tinggal satu kamar sama orang-orang yang gak se-level sama dia.

Alina juga merasa cukup berutang budi sama Direktur Eric, jadi dia gak mau bikin repot lagi sama masalah lain.

"Maaf, Pak. Ada sedikit perubahan rencana," kata Alina dengan suara rendah. "Saya cuma... mau ngerasain pengalaman baru aja."

Direktur Eric masih keliatan terkejut, tapi dia cuma balas, "Oh gitu ya, Alina. Baiklah, selamat datang, Arion. Kami senang sekali melihat kamu bawa teman baru."

Arion cuma senyum, tapi Alina sendiri sudah merasa pengin buru-buru kabur dari kerumunan itu. Makanya dia berharap banget Direktur Eric nggak nanya banyak soal dirinya.

Direktur Eric melanjutkan sambil merangkul istrinya, Suzenne, "Saya, istri saya, Suzenne, serta rekan saya yang terhormat, Pak Remi Mahendra Kwon yang tidak bisa hadir hari ini, kami telah memilih siswi ini jadi penerima beasiswa kami di HIA. Kami akan tanggung biaya sekolahnya, dan mendukung masa depannya. Ketika kami tahu dia bukan hanya kehilangan kedua orang tuanya, tapi juga memiliki cita-cita mulia menjadi seorang dokter, kami merasa terpanggil untuk membantu."

Suzenne yang senyum terus, langsung bilang, "Itu luar biasa, sayang," sambil menoleh ke suaminya.

Alina cuma bisa diam, merasa malu banget. Dia langsung menyesal karena menoleh ke arah Clarissa, yang berdiri di sisi Arion. Clarissa Clapton Wijaya adalah putri dari Direktur Eric. Dia sudah lama jadi model terkenal dan kelihatan jauh lebih cantik secara langsung dibandingkan di media sosialnya.

Alina terlihat lusuh jika dibandingkan sama Clarissa yang cantik, mirip seperti dewi. Clarissa pake gaun mini merah muda yang anggun, dan sepatu hak tinggi yang warnanya serasi dengan gaunnya.

Saat itu, tiba-tiba reporter tinggi paruh baya memanggilnya, "Eh... Nona."

Alina langsung kaget saat mendengar ada yang memanggil, sementara Direktur Eric menambahkan, "Namanya Nona Alina."

"Ah, ya. Terima kasih," kata reporter itu sambil mengangguk sedikit.

"Eh, Nona.. Alina, gimana rasanya bisa mendapatkan kesempatan luar biasa yang jadi impian seluruh siswa-siswi se-Indonesia?" tanya wartawan itu.

Pertanyaan itu langsung bikin Alina merasa kayak ditinju di perut. Dia narik napas panjang, mencoba untuk tetep tenang meskipun makin banyak perhatian yang fokus ke dia.

Dengan suara sedikit serak, Alina jawab, "Sebenarnya... ini seperti mimpi. Sejujurnya, saya gak pernah nyangka bisa lanjut sekolah setelah orang tua saya... meninggal."

Suaranya masih bergetar, meskipun dia berusaha tetap keliatan kuat, tapi rasa sakit itu nggak bisa ditutupi.

Reporter itu langsung minta maaf, "Maaf, Nona Alina, saya tidak bermaksud menyakiti perasaan Anda."

"Gak apa-apa," jawab Alina pelan. "Saya tahu Anda hanya melakukan pekerjaan Anda."

Direktur Eric menyentuh bahunya dengan lembut, "Alina sudah melewati banyak hal yang sulit. Tapi saya yakin dia tidak mau orang lain tahu. Orang tua dia pasti akan sangat bangga sama dia, kalau mereka masih hidup. Saya pun sangat mengerti rasanya kehilangan, dan proses menyembuhkan luka seperti itu pasti butuh waktu."

Air mata Alina mulai menetes, tapi dia langsung buru-buru menyeka dengan cepat. "Tapi... saya berterima kasih sekali sama Direktur Eric yang sudah memberikan kesempatan ini. Dan juga pada Pak Remi yang sudah mendukung saya," ucapnya pelan.

Semua orang di sekitar mereka langsung diam, fokus pada Alina.

"Ya ampun itu sangat memilukan," kata seorang reporter sambil memperhatikan Alina.

Dan kemudian, wartawan lain langsung nanya lagi, "Arion, gimana perasaanmu tentang keputusan ayahmu dan keluarga Wijaya?"

Arion yang dari tadi diam aja langsung tersenyum, dan melihatnya langsung bikin hati Alina berdebar.

"Menurut saya itu luar biasa," jawab Arion.

"Sayangnya, Ayah gak bisa hadir. Makanya saya di sini sebagai pengganti dia. Saya harap dia nonton, supaya dia tau betapa bangganya saya karena dia bisa bantu Direktur Eric melakukan ini."

Alina merasa terharu banget, apalagi dengan kata-kata Arion dan dukungan dari Direktur Eric. Rasanya dada Alina kayak mau meledak.

"Dan saya pengen Alina tahu, dia gak sendirian," lanjut Arion sambil meraba punggung Alina dengan lembut. Alina langsung bergidik.

"Oh, Alina," Clarissa tiba-tiba ngomong juga. Nada suaranya manis banget, tapi terasa berlebihan. "Menurut saya, Alina sudah mengalami hari yang berat. Pasti luar biasa bisa saling bantu di tengah situasi sulit seperti ini."

Tatapannya penuh simpati, tapi ada kesan sinis di balik senyumnya. Clarissa juga mengedipkan matanya, kayaknya dia senang melihat orang-orang kasihan sama Alina.

Alina langsung menarik napas panjang, berusaha sabar. Sementara Clarissa terus nempel manja pada Arion. "Kenapa kita gak jalan-jalan aja?" tanya Clarissa.

"Mungkin kita bisa bantuin dia cari seragam sama buku-buku. Biar dia siap-siap buat hari pertamanya di sekolah, kan?" lanjut Clarissa lagi.

Alina sempet melirik Direktur Eric, berharap dia mengerti dan kasih izin. Kebetulan juga, Alina pengin segera keluar dari kerumunan itu.

"Kedengarannya ide yang bagus, sayang," jawab Suzenne sambil memperhatikan Arion dan Clarissa. "Kalian bantuin dia, sementara aku dan ayah mu tunggu di sana."

Alina merasa lega banget, 'Yah, setidaknya sekarang gue bisa nafas dengan tenang,' pikirnya.

Saat Arion menarik tangannya, Alina mulai tenang. Tapi tiba-tiba Clarissa menyalipnya dengan cepat, menyambar tangan Arion dan melewati Alina.

Alina mengangkat alis, nggak terkejut dengan kelakuan Clarissa. Tapi cuaca yang makin panas mulai mengganggu. Dia mulai berkeringat dan kepalanya pusing.

"Hei, cewek baru. Lo gak apa-apa?" tanya Arion.

"Huh.. Dia baik-baik aja, Arion!" Clarissa langsung menarik lengan Arion lagi dan bilang, "Dia bukan satu-satunya cewek di sini kok."

"Gue cuma ngelakuin apa yang ayah kita suruh," jawab Arion sambil menepis tangan Clarissa.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Diabaikan Saat Setia
9.2
Bertahun-tahun Tisni mengabdi dalam sepi, diabaikan sang suami yang malah membiarkannya bersama lelaki lain. Sikap dingin itu perlahan mengikis kesetiaan yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah. Berada di titik jenuh akibat penderitaan yang tak berkesudahan, Tisni akhirnya bertekad untuk melangkah pergi. Namun, benarkah keputusan meninggalkan pernikahan ini adalah langkah yang tepat? Ikuti perjuangan batinnya dalam menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Sampul Novel Lima Tahun, Satu Kebohongan yang Menghancurkan
9.4
Pernikahan yang kukira sempurna selama lima tahun hancur begitu saja. Sebuah email pembaptisan di laptop suamiku mengungkap rahasia besar: dia menggendong bayi bersama influencer terkenal, Rania Adeline. Ternyata, alasan pekerjaan yang sering ia pakai hanyalah dusta demi menutupi keluarga barunya di luar sana. Setelah sekian lama mengorbankan mimpi demi dirinya, pengkhianatan ini menyadarkanku. Aku pun memilih pergi dan segera mengambil beasiswa arsitektur di Singapura.
Sampul Novel Merebut Hati Suamiku
8.4
Pernikahan di lingkungan pesantren antara Kayshilla Chandra dan Aaraf Ibrahim terjadi karena perjodohan orang tua. Namun, Aaraf berterus terang belum bisa mencintai Kayshilla sebab masih mengharapkan wanita lain. Kenyataan pahit ini memaksa Kayshilla berjuang menghadapi bayang-bayang masa lalu sang suami. Di tengah badai ujian rumah tangga, sanggupkah ketulusan dan kesabaran Kayshilla mencairkan sikap dingin Aaraf demi meraih cinta seutuhnya?
Sampul Novel Pelangi di Ujung Senja
9.5
Hubungan asmara Reza dan Arini dipenuhi rintangan dan jauh dari kata sempurna. Sebagai sosok pertama yang mengisi hati Arini, Reza menuntut sebuah pengorbanan besar darinya. Arini dipaksa belajar merelakan demi cinta yang terasa semu. Situasi kian rumit karena masa lalu Reza bersama Maya terus membayangi mereka. Kini, Arini harus memilih: terus bertahan untuk menjadi pelabuhan terakhir Reza, atau menyerah dan hanya menjadi penonton yang menyaksikan akhir kisah mereka.
Sampul Novel SAMSARA
9.3
Sejak menginjak umur tujuh belas tahun, hidup Larasati Sinta tidak lagi sama karena berbagai kejadian ganjil terus menerornya. Situasi kian rumit dengan munculnya Erland Altair Januar. Walau hubungan mereka diawali kejadian buruk yang menciptakan jarak, senior idola sekolah itu justru pantang menyerah mendekati Laras demi menjadikannya pacar. Kini, Laras terjepit di antara teka-teki misterius yang membayangi dan obsesi Erland yang membingungkan.
Sampul Novel Untuk Diriku yang Pernah Mencintaimu
9.2
Dilatih keras sejak kecil untuk menjadi pelindung sekaligus istri pewaris sindikat mafia Valerio, sang protagonis akhirnya menikah dengan Axel Valerio setelah rivalnya, Estella, tewas. Namun, setelah mengorbankan nyawa demi melindungi Axel dari tembakan, ia mendengar kenyataan pahit bahwa tempat di sisi Axel hanya untuk mendiang Estella. Saat terbangun dari kematiannya, ia secara misterius kembali ke masa lalu, tepat di hari penobatan Axel sebagai kepala keluarga baru, siap mengubah takdirnya.